Dikhianati oleh sahabatnya sendiri dalam misi rahasia, Xiao Su tewas dengan satu pertanyaan yang tak pernah terjawab.
“Kenapa…?”
“Karena kau menghalangi jalanku.”
Ia mengira kematian adalah akhir.
Namun saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis bangsawan yang dihina semua orang — Xiao Mei.
Wajah buruk rupa. Tubuh lemah. Keluarga penuh kepalsuan.
Saudari tiri yang menginginkan kematiannya. Tunangan yang memandangnya dengan jijik. Dunia kuno yang kejam dan penuh intrik.
Tapi mereka tidak tahu…
Jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi Xiao Mei yang lemah.
Ia adalah Xiao Su. Seorang wanita modern yang tak akan membiarkan dirinya diinjak dua kali.
Kali ini, ia tidak hanya akan bertahan hidup — Ia akan mengubah takdir. Menghancurkan mereka yang meremehkannya.
Dan membuktikan bahwa bahkan wanita yang disebut “buruk rupa” pun bisa menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya.
Karena untuk kedua kalinya… Ia tidak akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cute women, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30 Dalang terungkap
“Setiap bayangan akhirnya akan tersingkap—dan kebenaran akan menuntut pertanggungjawaban.”
Happy reading>.<........
----
Fajar belum menembus kabut pagi ketika Xiao Mei dan Duke Wang tiba di tepi sungai utama wilayah Timur. Kota yang semalam tampak tenang kini mulai menggeliat. Rakyat sudah tahu bahwa distribusi berjalan lebih lancar, namun ketidakpercayaan masih melekat di wajah-wajah yang cemas.
“Xiao Mei,” kata Duke pelan sambil menatap lorong-lorong kota, “jejak mata-mata semalam membawa kita lebih dekat ke pusat operasi mereka. Aku bisa merasakan bahwa hari ini akan menjadi penentu.”
Xiao Mei mengangguk, matanya menelusuri setiap gerakan warga. “Setiap langkah kita diawasi. Tapi kalau kita ingin menghentikan kekacauan ini… kita harus berani bergerak sekarang.”
Mereka bergerak menuju sebuah bangunan tua di tepi kota, yang sebelumnya tercatat sebagai gudang kosong. Dari catatan mata-mata semalam, bangunan itu sering digunakan sebagai titik koordinasi.
Saat mereka mendekat, Duke menepuk pelan bahu Xiao Mei. “Siap?”
Xiao Mei mengangguk. “Setiap detik terasa berharga.”
Dari balik pintu kayu, terdengar suara-suara samar. Beberapa langkah kaki tergesa. Bayangan bergerak di antara tumpukan karung dan kendi air. Duke memberi isyarat dengan tangan. Mereka masuk diam-diam.
Di tengah ruangan, seorang pria berdiri dengan dokumen-dokumen dan peta tersebar di lantai. Matanya terkejut saat melihat Xiao Mei dan Duke Wang.
“Yang… Yang Mulia?” suara pria itu gemetar. “Aku—aku hanya mengikuti perintah!”
Xiao Mei menatap tajam. “Perintah siapa? Siapa dalang di balik semua sabotase ini?”
Pria itu menelan ludah. “Aku… aku hanya diperintahkan oleh pejabat distrik. Mereka… mereka bilang ini demi keuntungan wilayah mereka sendiri. Mereka ingin distribusi air dikontrol agar rakyat bergantung pada mereka.”
Duke Wang mencondongkan tubuh, matanya menyapu seluruh ruangan. “Nama mereka. Sekarang.”
Pria itu gemetar, lalu perlahan menyebutkan beberapa nama pejabat yang terlibat, termasuk beberapa yang sebelumnya tampak loyal. Setiap nama menimbulkan ketegangan di ruangan.
Kemudian Xiao Mei mencatat semua. “Ini bukan sekadar sabotase lokal. Ini konspirasi yang lebih luas, dengan strategi terencana. Mereka bukan hanya ingin menghambat distribusi, tapi juga memanipulasi opini rakyat.”
Duke Wang mengangguk pelan. “Dan setiap langkah mereka harus kita hancurkan. Mulai dari pusatnya.”
Di luar, suara kerumunan mulai terdengar. Beberapa warga sudah mencurigai adanya kegiatan mencurigakan, tapi masih belum tahu kebenarannya. Xiao Mei menatap ke luar jendela. “Kita harus bertindak cepat. Jika rakyat mengetahui sebagian fakta maka mereka bisa meragukan kekaisaran dan… bisa berbalik menjadi bencana.”
Duke Wang memberi isyarat kepada pasukan. Mereka mengepung bangunan, menutup setiap jalur keluar. Mata-mata dan pejabat setempat yang terlibat terperangkap.
Xiao Mei menatap pria di tengah ruangan. “Setiap kata yang kau ucapkan sekarang akan menentukan nasib banyak orang. Jika kau jujur, kita bisa meminimalkan kerusakan.”
Pria itu mengangguk, ketakutannya jelas. “Aku akan bilang semuanya. Semuanya yang aku tahu.”
lalu mengalir lah cerita dari mulut si pria yang di tangkap oleh Duke Wang dan Xiao mei.
Langkah demi langkah, jaringan konspirasi mulai terungkap. Setiap dokumen, setiap catatan manipulasi, setiap laporan palsu… semuanya kini ada di tangan Xiao Mei dan Duke Wang.
Duke Wang menepuk pundak Xiao Mei. “Ini baru awal. Kita sudah mematahkan pusat operasi mereka, tapi masih ada langkah-langkah yang harus diambil untuk memastikan rakyat tidak kehilangan kepercayaan lagi.”
Xiao Mei menarik napas panjang, matanya menatap kota yang mulai bangkit. “Ini lebih dari sekadar distribusi air. Ini soal kepercayaan, stabilitas, dan keamanan rakyat. Dan hari ini, kita memastikan mereka aman dari manipulasi.”
Di luar, matahari perlahan menembus kabut. Cahaya pagi memantul di atap rumah-rumah, menyinari jalanan yang sebelumnya gelap. Warga yang menonton dari kejauhan mulai tersenyum lega. Beberapa perempuan menangis, anak-anak berlari ke arah pasukan yang membagikan air.
Xiao Mei menoleh pada Duke Wang. “Kita berhasil… setidaknya untuk saat ini.”
Duke Wang menatap horizon. “Tapi jangan lengah. Dalang lain bisa muncul. Jaringan ini terlalu luas untuk dihapus sekaligus. Namun hari ini, kita menang. Rakyat Timur akan ingat siapa yang melindungi mereka.”
Xiao Mei menghela napas, merasakan beban yang selama ini menempel perlahan berkurang. “Dan kita telah menegakkan keadilan… dari bayang-bayang ke terang.”
Mereka berdiri di tengah kota, menyaksikan aliran air kembali normal, wajah rakyat kembali cerah, dan kepercayaan perlahan kembali pulih. Tapi bayangan ancaman tetap ada—sebuah pengingat bahwa setiap kemenangan bersifat sementara, dan kewaspadaan selalu diperlukan.
Di dalam hati, Xiao Mei tahu satu hal pasti: setiap permainan bayangan akan selalu ada yang mencoba memainkannya. Dan hari ini, mereka telah menyingkap dalang yang berani menentang kekaisaran.
Namun satu pesan tetap jelas di benaknya:
“Setiap bayangan pasti tersingkap. Dan kebenaran, sekecil apa pun, akan menuntut pertanggungjawaban.”
Langit Timur kini cerah. Tapi misi mereka belum selesai. Mereka hanya berhasil mematahkan satu langkah dari permainan yang lebih besar.
Dan untuk Xiao Mei dan Duke Wang… ini adalah kemenangan yang harus dijaga dengan hati-hati, karena ancaman baru selalu mengintai di balik cahaya yang paling terang sekalipun.
Kerumunan perlahan mendekat. Wajah-wajah yang tadi dipenuhi kecemasan kini tampak berbeda—lebih ringan, lebih berani.
Seorang lelaki paruh baya melangkah maju lebih dulu. Pakaian kerjanya masih basah, tangannya kasar oleh kerja seharian. Ia menunduk dalam-dalam.
“Terima kasih, Yang Mulia,” katanya dengan suara bergetar. “Kalau bukan karena kalian… kami mungkin masih berebut air hari ini.”
Seorang perempuan ikut maju, menggendong anak kecil di lengannya. Mata perempuan itu berkaca-kaca.
“Anak-anak kami akhirnya bisa minum tanpa takut,” ucapnya lirih. “Kami tidak tahu harus membalas dengan apa.”
Beberapa warga lain menyusul. Ada yang menunduk, ada yang hanya mengatupkan tangan di dada, menahan emosi yang terlalu penuh.
Xiao Mei mengangkat tangannya pelan. “Kami hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan,” katanya. “Air itu hak kalian.”
Duke Wang menambahkan dengan suara tenang, “Wilayah Timur tidak sendiri. Selama kami masih berdiri, tidak akan ada yang berani mempermainkan kebutuhan rakyat.”
Sejenak, tak ada yang bicara. Lalu seorang anak kecil berlari mendekat, membawa kendi kecil berisi air jernih. Ia menatap ragu, lalu menyodorkannya ke arah mereka.
“Ini… air yang hari ini mengalir lagi,” katanya polos.
Xiao Mei terdiam sejenak, lalu menerima
kendi itu dengan senyum tipis. “Terima kasih.”
Kerumunan itu pun perlahan tersenyum.
Bukan sorak sorai, bukan teriakan kemenangan—hanya kelegaan yang akhirnya menemukan tempatnya.
Keesokan harinya
Kereta bergerak perlahan meninggalkan wilayah Timur.
Jalanan yang tadi dipenuhi kerumunan kini mulai lengang, seolah kota itu akhirnya bisa bernapas kembali.
Xiao Mei duduk diam di dalam kereta. Tangannya bertumpu di pangkuan, matanya menatap keluar jendela tanpa benar-benar fokus pada pemandangan.
Semua telah berjalan sesuai rencana.
Terlalu sesuai, bahkan.
Duke Wang memecah keheningan.
“Kau memikirkan sesuatu.”
Xiao Mei menghela napas pelan. “Aku hanya berpikir… kemenangan hari ini terasa ringan. Seperti belum selesai.”
Duke Wang tidak langsung menjawab. Kereta terus melaju, roda-roda kayu berderak pelan.
“Karena memang belum,” katanya akhirnya. “Kita hanya memotong satu cabang. Akarnya masih tertanam.”
Xiao Mei mengangguk. Perasaan itu kembali menguat—tenang di permukaan, tapi ada sesuatu yang bergerak di bawahnya.
Di kejauhan, langit tampak cerah.
Terlalu cerah untuk hari yang baru saja diwarnai konspirasi.
Diperjalanan menuju ke ibu kota rombongan Duke Wang bergerak dengan pelan tenang
Kereta meluncur pelan melalui perbukitan hijau, sungai berkelok, dan hamparan sawah yang mulai menguning. Angin menembus jendela, membawa aroma tanah basah dan dedaunan."
"Xiao Mei menatap keluar jendela, tapi matanya kosong. Pikirannya masih tersisa pada senyum warga tadi. Duke Wang duduk di seberangnya, menatap tajam ke depan, tapi sorot matanya lembut."
Didalam kereta Duke Wang dan Xiao mei berbincang
Duke Wang: "Kau memikirkan sesuatu."
Xiao Mei: "Aku cuma… merasa kemenangan ini ringan, tapi rasanya belum selesai."
Duke Wang: "Karena memang belum. Kita hanya memotong satu cabang. Akar masalahnya masih dalam tanah."
Xiao Mei: "Aku tahu… tapi rasanya ada sesuatu yang bergerak di bawah permukaan."
Tidak terasa perjalanan menuju ibukota sudah sampai kini mereka sudah mulai
memasuki gerbang ibukota kekaisaran wang
Kereta mereka melintasi gerbang ibukota Wang, tinggi menjulang dan dihiasi bendera emas yang berkibar pelan tertiup angin.
Barisan penjaga dengan tombak dan panah berdiri tegap, menundukkan kepala sekadar hormat. Jalanan lebar di kedua sisi dipenuhi rakyat yang menatap rombongan dengan rasa ingin tahu, sebagian menunduk hormat, sebagian lagi membisikkan pujian.
“Suasana… lebih megah dari yang kubayangkan,” bisik Xiao Mei pada Duke Wang. Matanya menelusuri lentera-lentera yang tergantung rapi, suara genderang upacara yang samar terdengar dari kejauhan.
Duke Wang menatap jalan yang mereka lalui.
“Ibukota selalu menunjukkan kemegahannya, tapi jangan sampai terlena. Banyak mata yang mengamati kita—beberapa ramah, beberapa ingin mencari celah.”
Kereta berhenti di halaman depan istana. Di hadapan mereka, para menteri dan bangsawan berdiri berjajar rapi, wajah serius namun penuh rasa hormat. Di singgasana emas, Kaisar Wang duduk tegak, menatap langsung rombongan.
"salam yang mulia kaisar"ucap Duke Wang dan Xiao mei begitu mereka tiba dihadapan kaisar, para menteri dan bangsawan
“Duke Wang, Xiao Mei,” suara Kaisar bergema di luar pintu aula, “kami mendengar keberanian dan keteguhan kalian di Timur. Kota itu kini aman, dan rakyat kembali percaya.”
Seorang menteri menambahkan, “Kaisar, langkah mereka memastikan kesejahteraan wilayah tetap terjaga. Ini adalah jasa yang patut dihargai.”
Xiao Mei menunduk sopan. “Kami hanya menjalankan kewajiban, Yang Mulia. Kesejahteraan rakyat adalah tanggung jawab kita bersama.”
Kaisar mengangguk, matanya tajam menilai, seolah menimbang apa yang belum terlihat.
“Namun ingat… ancaman selalu muncul dari bayangan. Kalian telah memotong satu cabang, tapi akar yang lain masih tersembunyi, dan kalian harus berhati hati.”
Duke Wang mengangkat bahu, menatap Xiao Mei sejenak. “Kami mengerti, Yang Mulia. Dan kami akan tetap waspada.”
Di balik senyum ringan Kaisar, beberapa bangsawan menukar pandang, bisik-bisik tipis terdengar. Xiao Mei merasakan ketegangan yang tak terlihat—bukan semua wajah menunjukkan persetujuan sepenuhnya.
Meski begitu, momen ini adalah kemenangan yang patut dihargai
Setelah sambutan itu, rombongan perlahan bubar. Langit senja memantul di atap istana, sementara Xiao Mei dan Duke Wang berjalan terpisah menuju kediaman masing-masing, pikiran mereka tetap sibuk merajut langkah-langkah berikutnya.
Untuk pesta nanti malam.
----
Bersambung…
----
✦ Teaser Bab 31 ✦
Pesta itu berlangsung meriah.
Lampu-lampu menyala, musik terdengar, semua tampak baik-baik saja.
Tapi di balik keramaian,
ada sesuatu yang berjalan ke arah yang berbeda.
Tak ada yang langsung terasa.
Tak ada yang benar-benar mencurigakan.
Sampai akhirnya,
pesta itu tak lagi sekadar pesta.
_____________________