Elin dan Evan adalah dua sahabat karib. Mereka berdua bersahabat saat mereka berdua masih kecil hingga dewasa.
Dan pada akhirnya Elin menaruh suka terhadap Evan. Dan tanpa di sangka Evan pun juga menaruh perasaan lebih terhadap Elin. Saat mengetahui Elin suka pada Evan, Evan pun menyatakan perasaannya pada Elin. Tapi Elin menolak lantaran Evan cowok playboy. Elin tidak ingin persahabatan mereka berdua hancur saat mereka putus di kemudian hari.
Diantara persahabatan mereka hadir pula Susanti dan Rio diantara kisah mereka berdua. Siapakah Susanti itu? dan siapakah Rio itu?...
Penasaran dengan cerita persahabatan dan cinta mereka berdua?... Ayo baca cerita kisah mereka berdua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akiva Az-Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih menunggu Evan di rumah sakit
Untuk beberapa hari lagi ke depan Evan masih harus di rawat di rumah sakit karena luka Evan belum sembuh dan Evan belum boleh terlalu bergerak.
" Gimana dok, kira-kira kapan Evan boleh pulang?" tanya mami Evan.
" Dua hari lagi baru pasien boleh pulang. Untuk sementara pasien tidak boleh terlalu banyak bergerak agar lukanya cepet sembuh." Jelas dokter Ridwan spesialis bedah.
" Baik dok," kata mami Evan.
" Baik, kalau begitu saya tinggal dulu. Agar lukanya cepet kering beri minum air putih yang banyak." Kata dokter Ridwan. Kemudian dokter Ridwan pun pergi meninggalkan ruangan Evan setelah memeriksa Evan.
" Tuh, dengerin apa kata dokter Ridwan biar luka lo cepet kering jangan banyak gerak dan jangan banyak ulah." Kata Elin ikut menasehati Evan.
" Apa yang dibilang Elin benar. Kamu jangan banyak bergerak dan jangan bikin ulah lagi. Mami tahu semua apa yang sedang kalian lakukan jika tidak ada orang." Kata mami ya Evan sambil terkekeh.
Evan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara Elin pura-pura memainkan menaikkan ponselnya.
" Sialan nih emak-emak. Tahu aja ulah anaknya kaya apa?"kata Evan dalam hati.
Tiba-tiba jitakan kecil melayang di kepalanya Evan." Jangan berpikir yang tidak-tidak. Mami tahu apa yang sedang kamu pikirkan." Kata maminya sambil melotot.
" Gila nih nyokap gue?! Seperti punya Indra ke enam. Hancur Jum, musuh emak-emak. Hahahaha..." Kata Evan sambil tertawa dalam hati. "
" Maaf mi?" kata Evan memelas.
" Enggak mempan." Kata maminya cuek.
Evan sedikit kesal. Sementara Elin tersenyum melihatnya.
" Elin Ko' Lo nggak bantuin gue malah di pihak mami sih?."
Elin merangkul tante Melly. " Nggak, gue maunya di pihak tante Melly, soalnya lo nggak bisa di bilangin."
" Jahat lo." Kata Evan sedikit kesel.
Malahan dua mahluk cantik ini tersenyum melihatnya.
" Cup cup anak ku sayang, udah jangan ngambek. Kita cuma bercandaan ko'. Ya kan Lin?" kata tante Melly sambil mendekati putranya.
Evan pun memeluk maminya.
" Tapi awas kalian berdua jangan macam-macam!. Kalian belum sah dan belum bertunangan. Jadi awas kalau kalian berdua macam-macam." Kata Tante Melly sambil memperingatkan pada Elin dan Evan.
" ini Batakan puding buah kesukaan kamu van.sini mami suapi." Kata mami Evan sambil membuka bungkusan yang di bawanya. " ini tante juga bawa makanan kesukaan kamu Elin. Dan ini juga ada suwir daging kesukaan kamu kiriman dari mami kamu." Tambahnya sambil membuka bungkusan yang di bawanya satu persatu.
" Iya tante. Tapi Elin pergi keluar dulu ya mau cari sesuatu di kantin."
" Kamu mau beli apa Elin?.Tante nitip dong."
"Nitip apa Tante?."
Sebelum menjawab tante Melly menyuruh Elin mendekat dan kemudian membisikkan sesuatu. Setelah berbisik Elin mengangguk.
" Kalian lagi berbisik apaan sih?"tanya Evan pada dua wanita cantik ini.
" Kepo..." jawab kedua wanita ini bersamaan.
Evan memiringkan bibirnya cuek.
" Anak cowok nggak boleh tahu Teteng urusan wanita." Kata maminya Evan sambil terkekeh melihat putranya. " Kamu cepet berangkat Elin." Katanya lagi sambil menyuruh Elin untuk segera berangkat.
" Iya tante." Jawab Elin lalu pergi menuju kantin rumah sakit.
Elin berjalan menyusuri koridor rumah sakit lalu Elin berhenti di kantin yang berada di ujung rumah sakit dekat dengan musholla.
Setelah Elin membeli sesuatu untuk dirinya ia juga tak lupa membelikan pembalut wanita yang dipesan oleh tante Melly. Setelah membayarnya Elin pun segera pergi dan kembali ke ruangan Evan. Sat menuju ruangan Evan Elin bertemu dengan Rania.
" Kamu dari mana Elin?" tanya Rania sambil mendorong seorang nenek yang umurnya sudah sangat lanjut. Dan Rania tidak memakai serangan suster.
" Gue dari kantin." Jawab Elin. Lalu matanya tertuju pada nenek-nenek yang berada di kursi roda yang di dorong oleh Rania. " Apa ini nenek kamu Rania?. Tanya Elin.
Rania mengangguk.
" Halo nek... Aku Elin, temanya Rania." Sapa Elin pada nenek tua itu.
Nenek tua itu tersenyum ramah sekali.
Elin pun bersalaman sambil mencium punggung tangan neneknya Rania.
" Ini Elin nek. Elin ini temen Rania saat masih SMA nek." Jelas Rania pada ceweknya.
" Iya nek."
Nenek Rania hanya mengangguk sambil meraba-raba tangan Elin. Karena penglihatannya sudah kabur, tapi telinganya masih bisa mendengar.
" Ayo nek kita jalan-jalan ke taman untuk melihat-lihat." Ajak Rania pada neneknya sambil mendorong kursi rodanya.
Elin pun ikut berjalan bersama disamping Rania.
" Kamu hari ini libur Rania?" tanya Elin.
" Iya. Dan kebetulan banget hari ini nenek cek up kesehatannya jadi aku bisa sekalian menjenguk Evan kamu." Ujar Rania sambil tersenyum pada Elin.
Elin membalas senyumannya.
" Evan sama siap ko' kamu tinggal. Sama maminya. Lagian ini aku keluar juga di suruh sama tante Melly," jelas Elin.
Kemudian mereka berdua menuju ke taman rumah sakit.
" Sambil menunggu pak Aryo supir saya kita berbincang-bincang dulu di taman ya Lin, temen aku. Nanti kalau nenek pulang biar di anter dulu sama pak Aryo. Jadi, aku bisa jenguk Evan." Jelas Rania.
" Apa nggak papa nenek kamu di antar sama supir kamu?."
" Enggak apa-apa Elin. Nanti sesampainya di rumah mama sudah siap menjemput nenek di depan pintu dan di bantu pak Aryo." Jelas Rania.
Elin mengangguk.
" Aku hubungi mama aku dulu ya Lin?."
Elin kembali mengangguk.
Lalu Rania pun menelpon mamanya dan memberi tahu kalau neneknya pulang bersama pak Aryo karena Rania mau menjenguk Evan.
Tiba-tiba datang seorang lelaki dengan tubuh tegap berbadan besar dengan memakai baju setelan warna hitam dengan atasan lengan pendek terlihat seperti seorang supir pribadi menghampiri Rania.
" Ini non obatnya." Kata pria itu dengan tegas sambil memberikan sekantong kresek kecil yang berisi obat-obatan.
Rania pun mengecek jenis obat apa saja yang di berikan oleh dokter.
" Terimakasih pak Aryo." Ucap Rania pada sopirnya.
" Iya non," jawab pak Aryo dengan menunduk sebentar.
" Pak Aryo sekarang anak nenek pulang seperti biasa soalnya aku harus jenguk temen saya, dan tadi saya sudah menghubungi mama seperti biasa pak." Kata Rania memberi perintah untuk mengajak neneknya pulang bersama sopir pribadinya.
" Baik nona," kata pak Aryo dan memberi hormat pada atasannya ini.
Kemudian pak Aryo pun mengajak nenek Rania pulang sambil mendorong kursi roda yang di duduki oleh nenek Rania.
" Ayo Lin, kita jenguk Evan." Ajak Rania.
Elin pun berjalan bersama dengan Rania.
Disaat mereka berjalan banyak sekali hal yang mereka bicarakan dari mulai masalah pribadi bahkan masalah pengalaman Rania jadi suster bahkan juga tentang keseharian Elin dan Evan dan juga tentang hubungan Elin dan Evan. Sedangkan Rania di bercerita kalau dia masih belum punya pacar. Dengan kesibukan Rania sebagai suster ia tidak punya banyak waktu untuk mengenal teman laki-laki. Kalau pun kenal ya temen sama-sama suster atau Dokter dan kebanyakan dari mereka juga sudah punya pasangan sendiri-sendiri.
***************
Salam dari INSEPARABLE🌻
salam dari ....
#Rindu With Me
#Suamiku kakak sahabatku
jgn lupa mampir di novelku juga berjudul:
"My Annoying Wife" 🍃🍃🍃
kisah cewe bar bar yang jatuh cinta sama cowok polos 🍊🍊🍊
ku tunggu like and comment nya ya 🙏🙏☺️
maaf nih baru mampir lagi🤧🤧🤧