Pernikahan akan terasa indah selagi masih ada cinta dari seorang suami.
Namun hal itu tidak berlaku pada seorang wanita muda. Pernikahannya hancur karena campur tangan keluarga suaminya. Apalagi sang suami tak lagi berpihak pada dirinya.
Nama wanita itu adalah Amara.
Di tengah-tengah keputusasaannya, ia bertemu dengan cinta pertamanya.
Apakah yang akan terjadi pada kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Flashback (masa-masa SMA Amara—Reza) part-1
...ΩΩΩ...
"Kau sudah dengar rumor terbaru?" seorang siswi perempuan tampak berbicara serius pada teman sekelompoknya di kelas.
"Rumor apa?" yang lain mulai tertarik mendengarkan.
"Reza punya seorang kekasih dari kelas kita." ucapnya menggantung, membuat teman-temannya yang lain semakin penasaran.
"Benarkah? Siapa yang kau maksud?"
"Siapa namanya?"
"Jangan membuat kami penasaran."
Pertanyaan-pertanyaan itu mulai muncul dari siswi lainnya.
"Kalian mungkin tidak akan percaya jika aku menyebutkan namanya."
"Cepatlah sedikit! Jangan membuat kami mati penasaran. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi." yang lain mendesaknya dengan tidak sabaran.
"Kau tahu si "anak tukang pecal" itu." jelasnya.
Seketika suasana menjadi hening. Semua orang menatap tajam ke satu arah. Pintu masuk kelas. Seorang siswi lainnya tiba-tiba masuk ke kelas dan duduk di mejanya — meja paling belakang.
Gadis itu tampaknya tidak perduli dengan tatapan mata di sekitarnya. Tatapan-tatapan itu bermacam-macam. Ada yang menatap sinis — terheran-heran, tidak percaya bahkan ada yang tidak perduli.
Gadis itu bernama Amara Raysa — nama yang tertera di nametag kemejanya.
Dia adalah salah satu murid berprestasi di sekolah yang menerima beasiswa penuh. Sekolah itu merupakan salah satu sekolah unggulan di kota J. Amara sejak dulu memang bercita-cita untuk sekolah di sana.
Bersyukur ia akhirnya berhasil diterima dan mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di sana. Walaupun sebagian besar siswa-siswi di sekolah itu berasal dari kalangan menengah-ke atas, ia tak pernah berkecil hati. Ia tetap semangat untuk belajar dengan tekun agar bisa melanjutkan pendidikannya ke sekolah kedokteran sesuai dengan harapannya.
Apalagi ibunya telah berjuang keras untuk memasukkannya ke sekolah ini dengan menyisihkan sebagian penghasilannya. Ia harus menjadi orang sukses suatu hari nanti agar bisa mengangkat derajat ibunya.
Namun selalu saja ada orang-orang yang membenci kehadirannya. Apalagi karena status sosialnya yang dianggap "rendah" karena tidak setara dengan mereka. Bagi mereka mungkin dia hanyalah "hama" yang seharusnya dibasmi agar tidak membawa dampak buruk bagi citra sekolah mereka.
Padahal semua orang punya hak yang sama untuk menempuh pendidikan di sekolah manapun yang mereka inginkan. Untuk itulah program beasiswa di adakan.
Sejauh ini Amara bersyukur karena ia tidak pernah mendapatkan kekerasan fisik di sekolah. Mereka hanya menyindirnya sesekali. Ataupun mengabaikan keberadaannya.
Tetapi karena beredarnya sebuah rumor di sekolah, mungkin kedepannya hidupnya akan jauh lebih sulit.
Iya, semua ini bermula dari satu nama populer di sekolah — Reza Aditya Chandrawinata. Seorang kakak kelas yang tiba-tiba mengusik kedamaiannya.
Entah angin apa yang membawanya menemui seorang siswi yang bahkan keberadaannya tidak diketahui oleh sebagian besar siswa di sekolahnya.
Ia tiba-tiba menyatakan perasaannya pada Amara, di halaman parkir sekolah.
"Aku suka padamu. Jadilah kekasihku!" kalimat itu bahkan lebih terdengar seperti perintah di telinga Amara.
Amara hanya diam dan tak bereaksi terhadap kata-katanya.
"Kau siapa?" ia menatapnya dengan bingung karena merasa tidak mengenalnya.
Reza tampak tertawa masam ketika mendengarnya. Memangnya ada yang tidak mengenalku di sekolah ini? Apa dia murid baru? Atau dia baru saja pindah dari planet lain?
"Kau benar-benar tidak mengenalku?" tanya Reza memastikan.
Amara hanya menggeleng.
"Haa .. Baiklah!" ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Namaku Reza Aditya Chandrawinata. Kau bisa memanggilku Reza atau kak Reza. Aku siswa kelas tiga. Aku kakak kelasmu." ucapnya memperkenalkan dirinya pada Amara.
Hening. Amara hanya menatapnya tajam dan terkesan enggan menyambut uluran tangannya.
Reza mengerutkan keningnya dan menatapnya bingung.
"Hmm... Baiklah!" ia menarik tangannya kembali. Merasa canggung seperti orang bodoh.
"Apa kau tahu siapa namaku?" tanya Amara.
"Namamu Amara 'kan?" tanyanya memastikan.
"Iya." jawabnya.
"Kenapa kau tiba-tiba memintaku jadi kekasihmu? Padahal kita tidak pernah kenal atau bicara sebelumnya." lanjutnya.
"Hmm... karena aku suka padamu." jawab Reza terdengar ragu.
Amara tersenyum masam mendengarnya. Ia melihat ke arah pohon besar yang berada tepat di belakang Reza. Di sana beberapa orang siswa pria tampak menatap mereka dengan pandangan cemas. Satu diantaranya bahkan dengan bodohnya terlihat memegang tumpukan seikat uang berwarna merah di tangannya.
Amara sepertinya bisa menebak apa yang sedang terjadi. Mereka menjadikan dirinya barang taruhan.
"Berapa banyak yang akan kau dapatkan jika aku menerimamu?" tanya Amara.
"Apa yang kau bicarakan? Aku sama sekali tidak paham maksud perkataan mu." Reza pura-pura terlihat bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Teman-teman mu sedang mengintip kita sekarang. Apa kau mau tetap berpura-pura tidak mengerti?" tanyanya sambil melihat ke arah mereka yang saat ini buru-buru lari dari sana.
Reza menoleh ke belakang, dan melihat para teman-teman bodohnya itu sedang berlarian.
Dasar bodoh! Umpatnya kesal.
"Hmm.... Hehe!" Reza tampak cengengesan.
"Sepertinya kau harus merelakan uangmu." ucap Amara lalu berbalik dan pergi.
Reza tampak menyunggingkan senyumnya. Ia tidak terlihat marah. Tetapi justru terlihat senang. Penolakan gadis itu justru membuatnya merasa terhibur. Selama ini tidak pernah ada seorangpun yang menolaknya. Siswi-siswi di sekolah ini bahkan secara terang-terangan menyatakan cinta padanya. Kemanapun dia pergi gadis-gadis itu selalu berusaha untuk menarik perhatiannya.
Tetapi gadis ini malah menolak jadi kekasihnya. Ia bahkan tidak mengenalnya. Hal itu sungguh membuatnya penasaran. Ia menarik sudut bibirnya.
"Gadis yang menarik."
...****************...
Setelah penolakan itu, Reza terus menerus mengikutinya di sekolah. Kemanapun Amara pergi, pria itu selalu ada di sana. Baik saat ke kantin, maupun ke perpustakaan. Ia selalu tersenyum dan berusaha untuk menyapanya. Walaupun Amara tidak memperdulikannya, ia tetap saja mengganggunya setiap hari.
Hal itu membuat Amara menjadi risih. Ia merasa tidak nyaman karena diganggu terus menerus olehnya.
Kehidupan sekolahnya yang damai berubah menjadi bencana. Seluruh sekolah menjadi gempar. Sebagian besar menganggapnya sebagai gadis yang tidak tahu diri karena menolak Reza. Sebagian lagi tampak iri padanya karena tidak mendapatkan perhatian dari Reza seperti dirinya. Sebagian lagi bersikap tidak perduli.
Kini Amara mulai terbiasa dengan tatapan-tatapan sinis yang ditujukan kepadanya.
Namun suatu ketika ia di hadang oleh empat orang gadis saat hendak pergi ke perpustakaan. Gadis-gadis itu menatapnya dengan sinis.
"Jadi ini orangnya?" tanyanya sinis sambil memperhatikan Amara dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
"Astaga! Apa kak Reza itu sudah buta? Gadis seperti apa yang sedang dikencaninya? Dia anak penjual pecel itu, 'kan? Kenapa seleranya berubah drastis seperti ini?" segala hinaan terlontar mulus dari bibirnya.
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu hampir setiap hari di dengar oleh Amara. Tetapi Amara tidak pernah menghiraukannya.
"Apa kalian bisa tolong geser sedikit? Aku mau lewat." pintanya sopan.
"Apa katamu?" tanyanya tidak percaya karena Amara terkesan meremehkan keberadaan mereka.
"Aku bilang tolong geser sedikit." Amara mengulang perkataannya sambil berusaha menerobos lewat.
Tetapi tenaganya kalah kuat, dua orang gadis yang bertubuh lebih besar dan lebih tinggi darinya mendorongnya keras hingga ia terjerembab ke lantai. Bagian belakangnya seketika terasa berdenyut.
Mereka lalu tertawa terbahak-bahak ketika melihat Amara jatuh. Salah satu gadis itu lalu berjongkok sambil menatapnya dengan tajam.
"Kau seharusnya tahu diri. Jauhi kak Reza! Atau kau akan menyesal." desisnya pelan namun penuh ancaman.
Amara membaca nametag di dadanya — Azalea Larasati.
Azalea berdiri dan berjalan pergi, diikuti ketiga gadis lainnya dari belakang. Mereka meninggalkan Amara yang tampak kebingungan sendirian.
"Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa duduk di lantai seperti itu?" tanya Reza yang tiba-tiba saja datang setelah beberapa saat kepergian para gadis-gadis itu.
Ia tampak mengulurkan tangan, berniat untuk membantunya berdiri. Tapi dengan cepat ditepis oleh Amara. Ia berdiri sendiri dan menatapnya kesal.
"Tolong jauhi aku!" pintanya lalu segera berlalu dari hadapannya.
Reza hanya terdiam di tempatnya. Ia tak mengerti mengapa tiba-tiba Amara berkata seperti itu padanya.
Sejak hari itu, Amara selalu berusaha untuk menghindari Reza setiap kali mereka bertemu. Tetapi bukannya menyerah, Reza malah semakin giat mendekatinya.
Ia bahkan memaksa mengantarkannya pulang dengan sepeda motornya.
Amara tentu saja menolak. Hari-hari yang dilaluinya sudah cukup berat. Ia mendapatkan banyak kesulitan akhir-akhir ini. Tatapan sinis dari teman sekelasnya, perlakuan buruk, dan banyak lagi hal lainnya yang tak dapat ia jabarkan satu persatu.
Amara memilih untuk berlalu dari hadapannya. Tetapi Reza terus mengikutinya. Bahkan setelah ia naik angkutan umum, Reza terus mengikutinya dari belakang.
Dasar laki-laki tidak waras. Amara menggerutu dalam hatinya.
Angkutan umum itu berhenti di depan gang kecil tempat Amara tinggal. Ia dan ibunya menyewa sebuah kontrakan kecil di dalam gang tersebut.
"Amara! Tunggu sebentar!" seru Reza dari atas sepeda motornya.
"Kenapa kau tidak mau mendengar perkataan ku? Aku sudah mengatakan berkali-kali padamu untuk segera menjauhiku. Aku hanya ingin bersekolah dengan tenang. Apa kau tidak mengerti perkataan ku?" pintanya dengan putus asa.
Reza terkesiap. Ia melihat tatapan Amara yang berkaca-kaca. Ia tampak lelah. Sebenarnya apa yang sedang terjadi padanya.
"Sebenarnya kau kenapa? Katakan padaku jika ada orang yang mengganggumu." tanya Reza seketika mencemaskan dirinya.
"Aku....." kalimat itu menggantung di udara. Amara memilih untuk pergi daripada menjelaskan apa yang sedang terjadi padanya.
Reza hanya diam menatap kepergiannya.
...****************...
Kita akan masuk ke bagian flashback masa lalu Amara dan Reza.
Jangan lupa ikuti terus ya ..