Ada seorang wanita sedang menangis di dalam sujudnya. Dia adalah Nasya Fahriza Putri, wanita yang sudah menginjak usia 25 tahun itu menangis saat mendengar bahwa seseorang yang ada di dalam hatinya sebentar lagi akan menikah. Sudah sejak usia 20 tahun Nasya berdoa di dalam sujudnya agar yang Maha Kuasa mengabulkan permintaannya untuk di jodohkan dengan Atasannya. Pria itu bernama Aditya Zayn Alfarizi yang berstatus sebagai CEO di salah satu perusahaan ternama di Jakarta.
Lalu bagaimana nasib Nasya? Apakah doanya selama ini akan terkabul, atau justru harus melihat pria yang ia cintai dalam diam menikah dengan kekasihnya?
Kita simak kisahnya yuk di cerita Novel => Cinta Di Atas Sajadah
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDAS 30
Selesai meeting jam 12 siang, Zayn didampingi seorang wanita memasuki ruangannya. Wanita itu tidak lain adalah rekan kerja CEO dari perusahaan lain yang bernama Jelita. Saat akan membuka pintu ruangannya, langkah Zayn terhenti karena tidak melihat istrinya duduk di kursi kerjanya.
"Ran, di mana Nasya?" Rani yang namanya dipanggil oleh Zayn pun menoleh dan segera berdiri.
"Dia sedang makan siang di kantin, Pak," sahutnya tersenyum ramah.
Zayn terdiam, dia melirik meja Nasya lalu mengangguk. "Ya sudah, lanjutkan kerjamu!" ujar Zayn kemudian masuk diikuti oleh Jelita.
Rani yang sudah melihat atasannya masuk lalu kembali duduk di kursi kerjanya. Sedangkan Nasya yang masih duduk di kantin menghabiskan makanannya sendiri tanpa ditemani sang suami.
Hatinya sedang tidak baik-baik saja. Mencintai seseorang sendirian itu rasanya sakit sekali. Tapi ini kemauan dirinya, yang selalu berdoa di atas sajadah. Konsekuensinya, dia juga harus menanggungnya seorang diri.
"Nasya! Sendirian saja?"
Wanita berhijab itu mendongakkan kepalanya menatap seseorang yang tiba-tiba datang.
"Iya, sebentar lagi selesai. Setelah ini mau salat Zuhur dulu," sahutnya.
"Temani aku makan dulu, lah. Masa aku baru datang sudah ditinggal pergi?" Orang itu adalah Yuda. Dia kemudian duduk di hadapan Nasya.
Nasya tidak mau temannya itu menelisik mencari informasi tentang hubungannya dengan Zayn. Jadi, dia pikir menghindar itu lebih baik.
"Aku sudah makan sejak tadi. Kenapa kau baru datang?" balas Nasya.
"Hmm... Jadi kau benar-benar pergi meninggalkan aku? Kejam sekali temanku ini," ucapnya seraya bersandar di kursi dan bersedekap dada.
Nasya menatap Yuda lalu menghembuskan napasnya kasar. "Bukan kejam, Yuda. Aku sudah punya suami, tidak baik berduaan di meja dengan pria lain. Sudah mengerti maksudku?" jelas Nasya membuat Yuda terdiam.
"Ternyata, salihah sekali istri sahabatku ini. Ya sudah kalau gitu, maaf, aku sudah salah paham padamu."
Nasya tersenyum lalu berdiri. "Aku mau salat dulu, ya? Daaah..." balas Nasya kemudian pergi meninggalkan Yuda di sana sendirian.
---
Di ruangan Zayn, saat ini dia sedang makan siang bersama Jelita. Keduanya mengobrol di sofa sembari menyantap makan siang mereka yang sudah dipesan saat baru selesai meeting.
"Jadi, gimana menurutmu? Apa kita harus bekerja sama dengan investor itu?" ucap Jelita masih membicarakan soal pekerjaan.
"Sebaiknya tidak perlu, karena itu akan mempengaruhi kinerja perusahaan," balas Zayn.
Tok... Tok... Tok...
"Selamat siang, Pak. Ini ada berkas yang harus Anda tanda tangani."
Zayn menatap diam seseorang yang datang dengan wajah datar tanpa ekspresi. Dia adalah Nasya. Selesai salat, Nasya segera mengerjakan pekerjaannya yang belum sempat dia selesaikan.
"Hem! Kemarilah..." sahut Zayn.
Nasya lalu melangkah mendekati Zayn di sofa. Tanpa melirik Jelita, Nasya berdiri menyodorkan berkas itu pada Zayn. Bukannya mengambil berkas itu, Zayn justru berdiri menghampiri Nasya dan memeluk pinggangnya di hadapan Jelita.
"Lita, kenalin. Dia istriku, Nasya namanya. Dia sekretarisku di sini."
Mendengar ucapan Zayn, Jelita pun tersenyum ramah lalu berdiri mengulurkan tangannya pada Nasya.
"Waaah... Senang sekali bisa berkenalan dengan Anda, Bu Nasya. Saya Jelita, rekan bisnis Zayn."
Nasya menerima uluran tangan Jelita dan membalas senyumannya. "Sama-sama, Bu Jelita," sahut Nasya.
"Kau sudah makan siang, Sayang?"
Mendengar Zayn memanggilnya "Sayang", seketika Nasya menoleh menatap Zayn dengan tatapan penuh tanya.
"Sudah... Aku kembali ke mejaku dulu. Nanti aku kembali setelah berkas selesai ditandatangani. Permisi, maaf mengganggu makan siang kalian." Nasya memberi senyum paksa lalu pergi meninggalkan mereka berdua di sana.
Jelita yang melihat sikap Nasya meminta jawaban pada Zayn melalui tatapannya.
"Dia memang seperti itu, datar dan sedikit cuek," ucap Zayn tersenyum lalu kembali duduk. "Ayo, lanjutkan makan siangnya. Setelah itu, kita lanjutkan meetingnya," lanjut Zayn berusaha menutupi pertengkarannya dengan sang istri.
Jelita akhirnya duduk melanjutkan makan siangnya. Tiga puluh menit selesai, keduanya kembali ke ruang meeting untuk melanjutkan rapat yang tertunda. Setelah keluar dari ruangan, Zayn kembali tidak melihat Nasya dan Rani. Meja kedua sekretarisnya kosong, tidak ada penghuni di sana. Tak mau ambil pusing, Zayn kembali melangkah menuju ruang meeting.
Setelah kepergian Zayn, Nasya dan Rani tiba di mejanya. Keduanya duduk sambil bercerita, sesekali bercanda.
"Serius, Sya? Lalu, apa jawabanmu untuknya?" kata Rani.
"Ya jelas aku tolak lah, aku kan sudah punya suami," balas Nasya tersenyum.
Entah apa yang mereka obrolkan sampai membuat Nasya lupa akan masalahnya dengan Zayn. Meski hanya sesaat, bisa sedikit membuatnya terhibur.
"Permisi, Bu Nasya, Bu Rani, kalian dipanggil Pak Zayn di ruang meeting."
Obrolan mereka terhenti saat ada seorang OB datang memberitahukan informasi untuk mereka. Nasya dan Rani yang mendengar ucapan OB tersebut saling pandang lalu beralih kembali menatap OB.
"Ya, terima kasih informasinya. Kami akan segera ke ruang meeting," sahut Nasya, dan OB itu mengangguk kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kenapa kita dipanggil ya? Apa ada berkas yang salah?" tanya Rani pada Nasya.
"Entahlah, sebaiknya kita ke ruang meeting dulu. Ayo!" Nasya sembari membawa berkas penting berdiri dan melangkah menuju ruang meeting, disusul Rani di belakangnya.
Tak lama, keduanya telah sampai di depan pintu ruang meeting. Rani mengetuk pintu itu sebelum masuk.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk!"
Pintu terbuka, muncullah Rani dan Nasya setelah dipersilakan memasuki ruangan. Zayn lalu memberi kode pada Nasya untuk mendekatinya.
"Jelaskan persentase tentang gabungan antara proyek A dan proyek B," ujarnya dengan wajah serius pada Nasya.
Wanita berhijab itu yang memang sangat pandai pun mengangguk menyanggupi perintah dari atasan sekaligus suaminya. Dia meletakkan berkas itu di samping Zayn kemudian melangkah mendekati layar untuk melakukan persentase.
"Selamat siang, semuanya. Baik, pertama-tama saya akan menjelaskan tentang kinerja proyek A yang menyangkut tentang....."
Nasya menjelaskan semuanya dengan sangat lihai, seperti sudah sangat profesional. Mereka yang ada di sana mendengarkan Nasya dengan sangat serius, mereka juga memahami apa yang sudah disampaikan olehnya.
Hingga akhirnya persentase tersebut selesai, dan semua berdiri, bersorak, dan bertepuk tangan dengan penjelasan yang Nasya berikan.
"Wah... Wah... Wah... Sekretaris Anda sangat hebat dan luar biasa, Tuan Zayn. Kalau begitu, kami akan dengan segera mengurus kontrak kerja dan akan membawa berkasnya besok pagi," ujar seorang pria yang akan bekerja sama dengan Zayn.
"Terima kasih, Tuan Edward. Kami juga sangat senang melihat Anda puas dengan kinerja kami," balas Zayn dengan senyuman.
Kedua pria itu bersalaman dan menyambut tepukan tangan dari yang lain. Rani yang melihat Nasya menjelaskan sedetail itu pun hanya bisa melebarkan mulutnya. Dia tidak menyangka sahabatnya itu sangat pandai memberikan persentase di ruang meeting.
"Keren banget, Sya. Aku kagum banget lihat kamu tadi," puji Rani dan membuat Nasya tersenyum simpul.
"Terima kasih. Kau juga pasti bisa lebih baik dariku," balasnya.
...****************...