Benar kata orang, tidak ada hal yang lebih menyakitkan kecuali tumbuh tanpa sosok ibu. Risa Ayunina atau kerap disapa Risa tumbuh tanpa sosok ibu membuatnya menjadi pribadi yang keras.
Awalnya hidup Risa baik baik saja meskipun tidak ada sosok ibu di sampingnya. Karena Wijaya—bapak Risa mampu memberikan kasih sayang penuh terhadapnya. Namun, di usianya yang menginjak 5 tahun sikap bapak berubah drastis. Bapak yang awalnya selalu berbicara lembut kini berubah menjadi sosok yang keras, berbicara kasar pada Risa dan bahkan melakukan kekerasan fisik.
“Bapak benci sama kamu, Risa.”
Risa yang belum terlalu mengerti kenapa bapaknya tiba tiba berubah, hanya bisa berdiam diri dan bersabar. Berharap, bapak akan kembali seperti dulu.
“Risa sayang bapak.”
Apakah Bapak akan berubah? Apa yang menyebabkan bapak menjadi seperti itu pada Risa? Ikuti terus kisah Risa dan jangan lupa untuk memberikan feedback positif jika kalian membaca cerita ini. Thank you, all💐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hyeon', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 29
“Kamu mau beli apa sih, Yo? Udah hampir sejam kita muter muter.” Gerutu Jeff yang kesal melihat adiknya tak selesai selesai memilih barang. Entah barang apa yang akan ia beli.
“Aduh, bang, sabar napa. Ini untuk orang spesial jadi barangnya harus spesial.” Dahi Jeff mengerut kala mendengar jawaban Dio. Untuk orang spesial? Apa adiknya ini sudah memiliki pacar?
“Emang buat siapa sih? Kamu udah punya pacar emang?”
“Sembarangan, ini itu untuk kak Risa.” Jeff pun ber oh ria. Namun, dengan cepat ia sadar ketika mendengar nama Risa disebut.
“Kak Risa? Dia ulang tahun?”
“Iya, besok ulang tahunnya.” Jawab Dio dengan santai yang lalu melanjutkan memilih hadiah untuk Risa. Ia tidak menyadari raut wajah abangnya yang sudah berubah panik.
“Kenapa kamu nggak bilang dari tadi sih? Kalau gini kan abang juga harus cari hadiah.”
“Ya Dio kira abang udah tahu. Gimana sih, katanya deket tapi nggak tahu ulang tahunnya kak Risa.” Andai Dio tahu bagaimana hubungannya dengan Risa sekarang. Ingin rasanya Jeff menjitak mulut adiknya itu.
“Abang cari hadiah dulu, nanti kita ketemu lagi di sini.” Dio hanya berdehem sebagai jawaban. Matanya terlalu fokus memilih hadiah yang cocok untuk Risa.
Sekarang ganti Jeff yang dibuat pusing dengan pilihannya. Ternyata benar, mencari hadiah untuk orang spesial sangatlah butuh waktu. Jeff tidak yakin Risa menyukai boneka. Tapi, ia harus memberikan hadiah apa?
Bukan hanya Jeff dan Dio yang tengah pusing memilih hadiah. Di sisi lain, ada bapak dan Alex yang juga memilah milah hadiah. Sudah hampir satu jam juga mereka belum selesai dengan barang yang akan dibeli.
“Wijaya, kau mau beli apa lagi?”
“Sebentar Alex, aku bingung hadiah apa lagi yang harus aku kasih ke Risa selain boneka ini.” Alex menepuk jidatnya pelan. Sungguh, sahabat satunya ini benar benar menguji kesabarannya.
“Kau sudah membeli banyak barang, Wijaya. Belum lagi dengan roti ulang tahun yang kau custom itu.”
“kau yakin hanya ini saja? Risa tidak akan marah?” Alex benar benar ingin menerkam bapak. Kesabarannya yang setebal isi dompetnya dibuat habis oleh bapak.
“Kau lihat beberapa paperbag yang ku bawa ini? Apa ini kurang?” Bapak hanya menyengir kuda menunjukkan giginya yang rapi.
“Hehe, ya sudah, ayo pulang.” Putus bapak yang membuat Alex menghela napasnya lega.
“Uangmu masih tersisa, Wijaya?”
“Masih, terima kasih sudah memberi gajiku sebelum tanggalnya.” Alex mengangguk seraya menyunggingkan senyumnya. Senang bisa membantu sahabatnya itu.
“Minggu depan aku akan pulang ke Aussie.” Ucap Alex di sela sela perjalanan mereka. Bapak pun sedikit terkejut akan ucapan Alex yang tiba tiba.
“Tiba tiba sekali?”
“Elle meminta ku untuk pulang, dan aku rasa masalah di sini mulai membaik.” Bapak hanya mengangguk tanda paham. Ia juga tahu bahwa ada keluarga yang merindukan sahabatnya itu.
“Aku masih penasaran dengan cinta pertama mu. Yang pasti bukan Chloe kan?” Alex tersenyum tipis mendengar pertanyaan bapak.
“Kenapa tiba tiba membahas itu?”
“Aku hanya tiba tiba teringat, tapi benar kan?”
“Chloe memang bukan cinta pertama ku. Tapi, dia berhasil membuatku merasa hidup lagi dan lagi.” Keduanya hanyut dalam keheningan. Alex sibuk dengan pikirannya sendiri, pun dengan bapak.
Pikiran Alex melayang pada masa lalunya. Tentang pertemuan pertamanya dengan Chloe, wanita yang berhasil membuat Alex keluar dari jeratan cinta pertamanya. Ya, seperti kata orang-orang, hidup terus berjalan.
“Aku bangga padamu, Alex. Kau berhasil membangun keluarga yang cemara kalau kata orang.”
“Haha, kau juga bisa sepertiku, Wijaya. Kau bisa membahagiakan putrimu.” Keduanya tersenyum hangat lalu memeluk satu sama lain. Diakhiri dengan sebuah tos dan tertawa bersama sama.
*****
Di sini Risa sekarang. Tempat makan pinggir jalan menjadi tujuannya setelah selesai mengajar anak anak bela diri. Makanan yang ia pesan belum ia sentuh sama sekali. Tangannya bergerak membuka layar ponselnya.
Matanya melirik pada tulisan hari minggu, 8 juni 2025. Dan besok, tanggal di mana ia dilahirkan. Hari di mana membuat sebagian orang merasa spesial dan bahagia. Karena, sebagian ada yang dirayakan.
Namun Risa? Jangankan dirayakan, diucapkan saja ia tidak pernah. Terakhir hari ulang tahunnya yang di umur 4 tahun. Setelahnya, tidak ada yang spesial baginya. Bukan hadiah yang ia dapat, tapi luka.
Risa tersenyum getir membayangkan betapa miris hidupnya. Fokusnya teralihkan kala mendengar perbincangan orang di depannya.
“Besok kamu mau kado apa?”
“Em, apa ya?” Jawab orang itu seraya berpikir keras. Perbincangan yang hangat seputar ulang tahun. Risa meremat kuat jari jemarinya.
“Orang itu asik banget ya bahas ulang tahunnya.” Batinnya yang sedikit iri pada orang di depannya. Ia memilih untuk memakan makanannya guna mengurangi rasa kesalnya. Ia melahap habis makanannya tanpa sisa.
Selesainya, ia segera membayar dan meninggalkan tempat makan itu. Namun, Risa bingung harus ke mana. Ingin pulang tapi rasanya masih malas. Hingga, Risa mengayuh sepedanya tanpa tujuan.
Sepanjang ia mengayuh sepeda, pikirannya terus melayang pada pembicaraan orang tadi. Bagaimana rasanya dirayakan? Bagaimana rasanya mendapatkan kado spesial? Dan, bagaimana rasanya bahagia tanpa luka yang datang bersamaan?
Risa selalu menyambut hari ulang tahunnya. Ia selalu antusias dengan hari di mana ia dilahirkan. Namun, di saat itu juga ia selalu teringat akan mendiang ibunya. Hari di mana ibunya meninggalkan dunia. Risa ingin dirayakan tapi ia selalu merasa bahwa itu sama saja merayakan kepergian ibunya.
Risa menghentikan sepedanya tepat di pinggir danau. Ia lantas turun dan melangkah mendekati danau itu. Mungkin, duduk di pinggiran danau bisa sedikit mengurangi rasa sedihnya.
“Ibu, maaf.” Gumamnya singkat seraya menahan air matanya untuk tidak jatuh. Tapi, itu gagal. Sekuat apapun ia menahan, air matanya akan tetap luruh begitu saja. Risa meringkuk memeluk lututnya. Membenamkan wajahnya ke dalam ringkukkan tubuhnya.
Cukup lama ia menangis meluapkan semua emosinya. Entah berapa lama Risa menangis sampai sampai hidungnya memerah dengan mata yang sedikit bengkak.
Risa mendongak menatap sekeliling. Dilihatnya hari yang berubah menjadi sore. Risa menghapus sisa air matanya. Ia pun berdiri dengan rasa pusing akibat terlalu lama menangis.
“Ke makam ibu habis itu pulang.” Risa segera beranjak dari tempatnya dan mengayuh sepedanya melenggang pergi menuju makam ibu.
Setelah puas menangis, hatinya sedikit lega. Memang, menangis adalah cara paling ampuh untuk meluapkan emosi. Tidak ada yang salah dengan menangis. Menangis adalah suatu hal yang manusia. Jangan pernah merasa bahwa di umur yang beranjak dewasa itu tidak boleh menangis.
Menangis adalah hal yang wajar. Tidak ada larangan kita tidak boleh menangis karena sudah dewasa. Malah, semakin dewasa semakin merasa bahwa menangis bisa tiga kali atau dua kali dalam sehari.
*****
HAPPY READING