Natalie terpaksa bekerja pada Ares demi memenuhi kebutuhan ekonominya, termasuk bekerja di club malam dan kemudian menjadi asisten pribadinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Cahaya Neon dan Mata yang Mengintai
Jam 01:15 Dini Hari, Club Malam 'Eclipse'
Natalie menarik napas dalam-dalam, aroma campuran alkohol mahal, asap rokok elektrik, dan parfum berkelas mengisi paru-parunya. Dentuman musik elektronik yang memekakkan telinga bergetar di tulang dadanya. Malam itu adalah shift keduanya sebagai pelayan koktail di Eclipse, klub malam paling eksklusif, atau lebih tepatnya paling terlarang, di jantung kota metropolitan.
Seragamnya—gaun hitam mini yang ketat dan sepatu hak 10 cm—terasa seperti kostum untuk sebuah peran yang tidak ingin ia mainkan. Tugas Natalie malam ini adalah melayani zona 'Aether', lantai mezzanine yang dikhususkan bagi tamu-tamu VIP dengan dompet setebal novel tebal dan—biasanya—moral setipis kertas tisu.
Ia membawa baki perak berisi tiga gelas sampanye Dom Pérignon 2008 yang dibeli dengan harga yang bisa membayar sewa apartemennya selama tiga bulan. Tujuannya: Boks No. 3, area tersembunyi yang ditutup tirai beludru merah marun, dikenal sebagai sarang para 'Hiu'.
Saat ia menyelip di antara kerumunan yang menari, matanya menyapu ruangan. Sebuah insting yang ia pelajari sejak remaja di jalanan: selalu waspada. Ia harus. Di tempat seperti Eclipse, satu pandangan yang salah bisa berarti masalah besar.
Natalie mengetuk ringan bingkai tirai Boks No. 3. Sebuah suara serak menyambutnya, "Masuk, manis."
Di dalam, udara lebih pekat, dan lampu sorot track light hanya memfokuskan pada meja kaca melingkar. Empat pria duduk mengelilingi meja, usia berkisar antara 30-an akhir hingga 50-an awal, mengenakan setelan jas yang harganya pasti melampaui gaji tahunannya. Tiga di antaranya adalah wajah biasa—para pengembang properti dan pengacara terkenal.
Pria keempat—yang baru ia temui malam ini—adalah sumber kegelisahannya. Tuan Adrian.
Ia meletakkan baki dengan hati-hati. Tuan Adrian, seorang pria gemuk dengan cincin batu akik besar di setiap jari dan seringai basah, mengambil gelas pertamanya sebelum Natalie sempat menarik tangannya.
"Terima kasih, Natalie," ucapnya, suaranya licin seperti minyak zaitun. Ia membaca nama di name tag kecil di dada Natalie, matanya tidak beranjak dari sana.
"Sama-sama, Tuan," jawab Natalie, menjaga suaranya tetap profesional dan tanpa emosi. "Ada lagi yang dibutuhkan?"
Tuan Adrian mengangguk perlahan. "Ya. Tentu saja ada."
Ia menjentikkan jarinya, dan salah satu temannya dengan sigap mengambil segepok uang tunai—mungkin sepuluh juta Rupiah—dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan gelas sampanye kosong Tuan Adrian.
"Ini tipmu," kata Tuan Adrian, senyumnya melebar hingga matanya menyipit, "dan ini pembukaan."
Natalie merasakan alarm berbunyi di kepalanya. Di Eclipse, tip tunai di meja tidak pernah sekadar tip untuk pelayanan. Itu selalu berarti lebih.
"Saya menghargai kemurahan hati Anda, Tuan," Natalie menjaga tangan dan nada suaranya tetap stabil. "Namun, saya tidak diperbolehkan menerima hadiah di atas gaji. Saya harus kembali bertugas."
Ia berbalik untuk pergi, tetapi Tuan Adrian cukup cepat. Dalam gerakan yang mengejutkan lincah untuk ukurannya, ia meraih pergelangan tangan Natalie. Cengkeramannya kuat dan berminyak.
"Jangan bodoh, Sayang. Semua orang tahu kenapa gadis secantik dan seksi dirimu bekerja di Aether. Jangan jual mahal. Aku minta kau temani aku di sini, sepuluh menit. Setelah itu, kita bicara tentang layanan yang lebih privat." Ia menarik Natalie lebih dekat ke kursinya. "Aku bayar tiga kali lipat. Berapa tarifmu untuk satu malam?"
Rasa jijik membanjiri Natalie, bercampur dengan ketakutan dingin yang familiar. Ia berjuang melepaskan diri. "Lepaskan saya, Tuan Adrian! Ini bukan bagian dari layanan klub!"
"Oh, ya, ini bagian dari layanan. Tanya saja manajermu. Aku adalah Tuan Adrian, aku adalah investor terbesar di Eclipse! Aku bisa memecatmu hanya dengan satu isyarat."
Dua teman Tuan Adrian tertawa, terhibur oleh pemandangan itu. Itu adalah momen terburuk: ketika seorang wanita dilecehkan, dan orang lain menganggapnya sebagai hiburan.
Natalie menendang lutut Tuan Adrian dengan tumitnya. Pria itu menggerang dan terpaksa melonggarkan cengkeramannya sejenak. Natalie menarik tangannya dengan keras dan melangkah mundur, menabrak tirai beludru.
"Saya peringatkan Anda," kata Natalie, suaranya bergetar tetapi tegas. "Jangan sentuh saya lagi."
Tuan Adrian bangkit dari kursinya, wajahnya merah padam karena amarah dan rasa malu.
"Dasar jalang kurang ajar! Kau pikir kau siapa? Kau akan menyesal melakukan itu padaku!" Ia melangkah maju, tangannya terangkat—bukan untuk menyentuh, tapi untuk menghukum.
Detik-Detik yang Membeku
Saat Tuan Adrian mengangkat tangannya, sebelum ia sempat memukul, seluruh Boks No. 3 tiba-tiba menjadi gelap. Semua lampu di klub, termasuk spotlight Tuan Adrian, meredup, hanya menyisakan lampu darurat merah yang suram. Musik berhenti di tengah bass drop.
Keheningan yang tiba-tiba, setelah dentuman musik yang memekakkan, terasa mematikan.
"Apa-apaan ini?" gumam Tuan Adrian, panik.
Saat itulah Natalie melihatnya.
Di ambang tirai yang ia tabrak—di mana seharusnya ada dinding—berdiri siluet seorang pria. Ia tidak masuk; ia hanya berdiri di sana.
Meskipun pencahayaan hampir tidak ada, Natalie bisa merasakan intensitas matanya. Pria itu tinggi, berpakaian serba hitam, dengan jas yang tampak lebih mahal dan lebih tajam daripada gabungan seluruh jas para 'Hiu' di ruangan itu. Wajahnya adalah studi tentang ketenangan yang mengerikan: tulang pipi yang tajam, rahang yang kuat, dan rambut hitam yang tersisir rapi.
Ia memegang gelas whiskey di tangan kirinya, dan cahaya merah darurat memantul sebentar pada permukaannya yang keruh. Ia tidak melakukan gerakan apa pun.
Ia hanya menatap. Pertama-tama pada Natalie, sebuah tatapan yang dingin, mengukur, dan sejenak—melindungi. Kemudian, tatapannya beralih sepenuhnya pada Tuan Adrian.
Tuan Adrian, yang tadi sangat marah, kini tampak seperti ikan yang terkejut. Tubuhnya yang besar menciut. Ia mengenali pria itu.
"T-Tuan Ares," Tuan Adrian tergagap, suaranya sangat kecil. Ia menjatuhkan tangannya ke samping dan kembali ke kursinya.
Pria bernama Ares itu tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya menarik napas, perlahan, seolah-olah bau Tuan Adrian adalah polusi yang harus ia hirup.
"Tuan Adrian," suara Ares dalam, seperti gerusan pasir basah di batu. Suaranya tidak keras, tetapi terdengar jelas di tengah keheningan yang mati. "Aku yakin kau tahu aturan Eclipse. Dan aku juga yakin kau tahu siapa yang membangun Eclipse."
Ia mengambil tegukan dari whiskey-nya.
"Pelecehan terhadap staf dilarang. Keributan—apalagi menaikkan tangan di area pribadiku—adalah pelanggaran keamanan." Ares meletakkan gelasnya di ambang pintu. Sebuah suara klik pelan yang terdengar seperti tembakan pistol.
"Kau melanggar kedua aturan itu."
Tuan Adrian mulai berkeringat. "Tuan Ares, saya mohon maaf. Saya hanya—saya sedang mabuk. Saya hanya bercanda. Saya jamin, itu tidak akan terjadi lagi."
Ares mengabaikannya. Ia melangkah satu langkah ke dalam boks. Satu langkah itu sudah cukup untuk mendominasi seluruh ruangan.
"Dengar baik-baik, Adrian," kata Ares, suaranya kini tanpa emosi, murni hukuman. "Aku menjual ketenangan, privasi, dan kesenangan di tempat ini. Dan kau, Adrian, baru saja menghancurkan ketenangan, privasi, dan kesenangan milikku. Dan juga milik karyawanku."
Ia menoleh ke arah dua pria lainnya. "Kalian, pergi. Sekarang."
Kedua pria itu melompat dari tempat duduk mereka tanpa sepatah kata pun, bahkan tidak berani menatap Ares, dan meluncur keluar dari boks, meninggalkan Tuan Adrian sendirian di meja.
Ares kembali menatap Tuan Adrian.
"Natalie tidak melayani lebih dari yang tertera di menu," ujar Ares. "Kau tahu, dia adalah yang terbaik di antara staf. Aku akan pastikan dia tetap yang terbaik dan tidak ternoda oleh tangan kotor siapa pun."
Natalie, masih berdiri di sudut, terpaku. Ia tidak pernah melihat bos klub—siapa pun dia—secara langsung membela stafnya seperti ini. Tuan Adrian adalah seekor Hiu, dan Ares baru saja memamerkan dirinya sebagai Paus.
"Aku tidak ingin melihatmu di Eclipse lagi," kata Ares. "Tidak malam ini. Tidak pernah lagi. Tagihanmu sudah dibayar. Jangan coba-coba menghubungiku, atau manajerku. Dan yang terpenting: Jangan pernah mencoba menghubungi Natalie."
Ancaman itu jelas. Itu bukan saran. Itu adalah perintah mati.
Tuan Adrian mengangguk, pucat pasi. Ia meraih mantel jasnya, meninggalkan setumpuk uang di meja, dan bergegas keluar dari boks, bahkan tidak berani menoleh ke belakang.
Lampu klub kembali menyala, musik dance kembali menghentak, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Namun, di dalam Boks No. 3, dunia Natalie baru saja berputar.
Ia sendirian dengan Ares. Pria misterius, bos besar yang baru saja melindungi dan menyelamatkannya dari predator terburuk di klub itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ares, suaranya kembali netral, kini sedikit lebih lembut.
Natalie hanya bisa mengangguk, tenggorokannya tercekat.
Ares mengambil gelas whiskey-nya. "Pulanglah, Natalie. Shift-mu selesai. Mulai besok, kau akan ditempatkan di bagian yang tidak berhubungan dengan tamu VIP. Aku akan memastikan hal ini tidak terulang."
Ia tidak menunggu jawaban Natalie, berbalik, dan menghilang ke dalam kerumunan, meninggalkan Natalie terengah-engah. Ia tidak tahu apakah ia baru saja diselamatkan oleh seorang malaikat atau diakuisisi oleh predator yang lebih besar.
Natalie menatap baki kosong di tangannya, kemudian ke setumpuk uang yang ditinggalkan Tuan Adrian, dan akhirnya ke tempat Ares berdiri.
Siapa dia sebenarnya?