Seorang gadis dari keluarga kaya jatuh cinta pada pria biasa. Dia memalsukan identitas dan menikah dengan pria itu. Tidak hanya itu, karena dia secara diam-diam meminta bantuan keluarga untuk membantu karir suaminya.
Sayangnya, setelah sang suami sukses, wanita itu di selingkuhi dan bahkan di ceraikan.
Untuk membalas dendam, dia kembali ke keluarganya dan menjadi putri salah satu dari 10 keluarga terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dava hanafisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Yasmin masih melanjutkan pekerjaan nya diiringi derai air mata yang terus mengalir. "Alisha, maaf kan atas sikap ku dulu kepada mu. Ternyata sesakit ini rasanya dihina mertua sendiri. Kini aku merasakan seperti yang kamu rasakan dulu Sha." gumam nya dalam hati, perlahan iya menusap air mata nya.
Usai menyapu iya merapikan dapur. "Non, duduk saja biar saya yang mengerjakan nya. Nanti saya gak enak dengan mas Arkana."
"Gak apa-apa mbak, nanti kalau saya terlihat duduk-duduk saja mama bisa semakin marah dengan ku. Biarkan saja aku mengikuti mau nya mama." lirih Yasmin.
Sore hari nya Yasmin masih disibukkan didapur. "Yasmin, kamu tau gak ini sudah jam berapa? Dekil sekali kamu masih berpenampilan seperti pembantu. Harusnya itu kamu sudah memantaskan diri dan menyambut kepulangan Arkana dari kantor."
"Tapi ma, aku belum selesai merapikan dapurnya."
"Sudah kamu tinggal saja, biarkan mbak Nana yang melanjutkan. Lama sekali pekerjaan kamu."
Yasmin langsung meninggalkan dapur dan menuju kamarnya untuk mandi.
"Dasar jadi menantu gak ada guna nya, melakukan pekerjaan rumah saja lama sekali selesai nya." tutur Sinta kesal.
Beberapa saat kemudian Arkana sudah tiba dirumah nya.
"Ma, Yasmin dimana?." tanya Arkana.
"Ya dikamar lah, mau kemana lagi dia. Kamu tau dari pagi saat kamu berangkat kekantor dia hanya dikamar, sudah macam bos saja." ucap Sinta dengan nada nyinyir.
Yasmin yang mendengarnya hanya bisa menangis. "Jahat sekali mama mertua ku, tega sekali dia berbicara seperti itu. Padahal jelas-jelas aku dari pagi disibukkan dengan pekerjaan rumah, sampai aku harus berbohong dengan kakak dan suami ku."
Arkana tak menggubris ucapan mama nya itu, karena yang iya tau, istrinya pagi tadi memberi kabar kalau iya sedang tak enak badan makanya tidak berangkat ke butik.
Sesampainya Arkana dianak tangga terakhir menuju ke lantai 2, iya mendapati istri nya yang sedang duduk diatas sofa sambil menangis.
"Yasmin..." sapa Arkana, menghampiri istri nya.
Yasmin langsung kaget ketika mendengar suara Arkana. Iya dengan cepat menghapus air matanya itu supaya suami nya tak mengetahui kalau iya sedang menangis.
"Kamu ngapain disini, kenapa menangis?." tanya Arkana lembut.
"Aku nungguin kamu pulang, aku pusing banget makanya aku nangis aj." jawab nya berbohong.
"Kalau kamu masih sakit, istirahat saja dikamar dari pada kamu disini. Ya sudah yu kita kekamar." ucap Reno, menggandeng istrinya.
"Tapi kamu sudah makan? Apa kita kedokter saja?." tanya Arkana.
Dengan cepat Yasmin menggelengkan kepalanya. "Seperti nya aku hanya kurang tidur, bagaimana kalau aku tidur saja."
"Tapi makan dulu, baru setelah nya kamu istirahat. Aku bersih-bersih dulu ya sebentar."
Beberapa menit kemudian selesai Arkana mandi, mereka langsung menuju ke ruang makan. Disana sudah ada mama Sinta yang menunggu mereka untuk makan malam bersama.
"Kamu kenapa Yasmin, kelihatan nya lemas sekali?." tanya Sinta dengan tatapan sinis yang mengarah kepadanya.
"Gak apa-apa ma, aku baik-baik saja." jawab nya pelan.
"Yasmin lagi gak enak badan ma dari pagi, makanya tadi dia gak sempat ke butiknya." jawab Arkana.
Sinta hanya diam saja tak menjawab kembali. "Bagus, jadi Arkana tau nya kalau Yasmin gak pergi kebutik karena sakit. Pintar juga Yasmin memberikan alasan kepada suaminya itu. Aku kira dia akan jujur kepada Arkana kalau seharian ini, dia aku jadi kan pembantu!." gumam Sinta dalam hati, sambil melirik kearah Yasmin.
*****
"Ren, aku mau pergi ke toko baju anak, untuk membeli perlengakapan bayi kita. Apa kamu mau ikut?." tanya Winda lembut.
Tak ada jawaban dari Reno, iya malah asik memainkan ponselnya diruang tv.
Akhirnya Winda menghampiri Reno. "Ren, aku tadi bicara lho sama kamu. Kenapa sih kamu selalu bersikap dingin kepadaku?." tanya Winda lirih.
"Winda kenapa sih kamu selalu mengganggu kenyamanan aku! Kamu pergi saja sendiri, aku cape mau istirahat." bentak Reno.
"Sebentar saja Ren, setelah nya kamu boleh istirahat. Mungkin kamu juga ingin memilihkan baju untuk anak kita ini." ajak Winda sekali lagi.
"Kamu tidak mendengar ucapan aku tadi, aku mau istirahat! Kamu banyak mau nya ya, aku sudah mengikuti mau kamu untuk bertanggung jawab, sudah mau tinggal disini bersama kamu. Sekarang ada lagi permintaan kamu."
"Tapi Ren, aku juga ingin seperti istri-istri yang lain. Pergi bersama dengan suami nya, membeli kan baju untuk anaknya. Apa itu permintaan yang salah dan berat untuk kamu ikuti?."
"Winda, mereka itu saling mencintai tidak dijebak seperti aku dan mereka itu menikah resmi bukan seperti kita ini. Aku hanya mengikuti keinginan kamu untuk bertanggung jawab. Lagi pula aku juga tidak tau itu anak siapa yang kamu kandung." jawab Reno kesal.
Deg...
Seketika hati winda hancur mendengar ucapan suami nya itu. Karena lagi dan lagi Reno selalu meragukan anak yang Winda kandung. Hati nya begitu sakit bagaikan disayat oleh belati tajam. "Ren, andaikan ini memang bukan anak kamu, untuk apa juga aku meminta pertanggung jawaban kamu. Jahat sekali Ren, ucapan kamu terhadap ku. Aku ingin sekali dengan cepat membuktikan kalau anak yang aku kandung ini memang anak kamu. Aku mau lihat bagaimana reaksi kamu, apa kamu akan menepati janji kamu atau kamu malah akan terus seperti ini? Bahkan lebih parah kejam dari yang kamu lakukan kepada ku sekarang." tutur Winda kesal dalam hati nya.
Dengan cepat Winda langsung meninggalkan Reno dan bersiap-siap untuk pergi membeli perlengkapan untuk anak nya itu.
Dua bulan kemudian...
"Nyonya dan Tuan terimakasih atas kebaikan nya selama ini kepada saya dan juga kedua anak saya. Saya tidak tau harus membalas nya dengan cara apa. Saya juga memohon maaf atas kesalahan saya dan kedua anak saya terhadap non Alisha. Kalian memang keluarga yang berhati mulia. Mungkin kalau memang tuan dan nyonya nanti nya membutuhkan saya, dengan senang hati saya akan membantu tuan dan nyonya." ucap bi Rizka berpamitan.
"Iya bi, terimakasih banyak juga ya, bibi sudah mau membantu saya dirumah ini. Saya juga minta maaf kalau memang saya dan suami saya ada salah. Pintu rumah saya selalu terbuka untuk bi Rizka dan keluarga kapan pun kalau mau kadang kesini." jawab Mama Fenny ramah.
"Non Alisha saya juga...."
"Ssstttt... Sudah bi tidak usah dilanjutkan." tutur Alisha tersenyu. Karena iya sudah tau apa yang ingin bi Rizka ucapkan kepadanya. Iya tak ingin lagi bi Rizka selalu memohon maaf atas kesalahan dimasa lalu nya. Sebab Alisha dan keluarga nya sudah memaafkan kesalahan Elenoa dan keluarga nya sejak lama.
"Non apa bibi boleh peluk." ucap nya lirih.
Dengan cepat Alisha langsung membentangkan kedua tangan nya dan memeluk mantan ibu mertua nya itu. "Sudah ya bi, jangan bicara apa pun, disini saya sudah memaafkan sejak lama. Jadi bibi jangan terus meminta maaf ya." ucap Alisha sambil mengusap punggung bi Rizka.
Elenoa yang juga berada disana hanya bisa melihatnya dengan sedih. Sebab ini juga atas kesalahan nya dimasa lalu. Sehingga rumah tangga nya dengan Alisha harus diakhiri dengan perceraian.
"Ya sudah saya pamit ya nyonya, tuan dan non Alisha."
"Saya antar ya bi, gak mungkin kan bibi bawa barang-barang ini dengan menaikki motor?." tanya Alisha.
"Tapi Sha..." ucap Elenoa. Ucapan nya langsung dipatahkan dengan Alisha.
"Sudah El, kasihan ibu kamu membawa semua barang ini. Ya sudah kalau gitu, kita masukkan barang-barang ini ke dalam mobil nya."
Elenoa hanya bisa kembali diam, karena permintaan Alisha tak mungkin iya bisa menolaknya.
Dalam perjalanan menuju kerumah nya, bi Rizka hanya terdiam sambil sesekali memandang ke arah Alisha. "Ya Allah, betapa bodohnya kami dulu sudah menyia-nyiakan wanita sebaik Alisha. Kami terlalu egois dan sombong Ya Allah dengan harta yang sudah engkau berikan kepada kami dulu nya, sehingga kami tidak melihat sedikit pun kebaikkan orang lain yang sudah menolong kami." lirih bi Rizka dalam hati nya.
"El, Yasmin gimana kabarnya ya? hari ini dia ada dibutik, Nak?."
"Engga bu, sudah beberapa hari ini dia sakit, makanya tidak bisa ke butik."
"Sakit? Ya Allah, Nak kamu sakit apa, kangen sekali ibu kepada kamu. Apa kamu baik-baik saja disana dengan mertua kamu. Apa dia sudah bisa menerima kamu sekarang ini?." bi Rizka terus memikirkan kondisi anak perempuan nya itu.