A Mystery Thriller Novel
Hansel hanyalah biang onar di sekolah lamanya. Predikat cowok tampan yang suka menebar cinta sana-sini melekat kuat. Namun saat terpaksa pindah sekolah, semuanya berubah. Hansel dihadapkan pada perkara sulit. Tepatnya saat seorang gadis misterius dengan tatapan kosong mengatakan, "Aku bisa membuat hidupmu lebih menarik dibanding kisah dari novel thriller."
Anehnya, gadis itu benar. Kasus-kasus bunuh diri marak terjadi di SMA Gajah Mada. Yang mengherankan: kenapa si gadis misterius ikut menjadi korban?
Teror tak berhenti sampai di situ. Setelah kasus bunuh diri, dilaporkan ada seorang gadis yang menginjak mata manusia di depan gerbang.
Hansel tentu tak tinggal diam, mendadak ia berubah menjadi Detektif Holmes-Poirot. Dibantu dengan rekan sejawat, Ali dan Grisel, ia akan mengungkap siapa dalang di balik semua ini. Namun yang tidak Hansel tahu, akan ada luka besar yang menunggunya di akhir permainan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minnie Harissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Sembilan: Hanselio Kaban
Sore...
Tengku tak lagi menanyakan apa-apa setelah aku menolak untuk menjelaskan semuanya. Bukannya aku tidak mau memberi tahu dia. Tapi omongan cewek tadi benar-benar mengacaukan kepercayaanku pada mereka berdua. Kata-katanya terus terbayang-bayang di kepalaku, meski berkali-kali kucoba untuk mengabaikannya. Aku tahu, bahkan sangat tahu, bisa saja dia mengatakan hal itu untuk memecah belah kami. Dan kalau benar, dia benar-benar berhasil melakukannya. Tapi, jika dia yang benar, maka aku adalah orang paling goblok di dunia. Sekarang aku harus bagaimana?
Ponselku tiba-tiba berbunyi di sampingku yang tengah berbaring dengan satu tangan menutupi wajah. Dengan malas aku bergerak mengambil benda itu, dan mengeluh begitu melihat chat Tengku dan Grisel di grup "Deterjen".
Ah, nama grup itu benar-benar jelek.
Bos!
Bos!
Hansel kamu gak mau cerita tentang apa yang terjadi tadi?
Bos kayaknya banyak pikiran deh.
Aku jadi makin penasaran sebenarnya ada apa.
Sama, Sel. Bos ayo dong jawab.
Aku melempar benda itu kembali ke atas kasur. Namun tak lama kemudian mengambilnya kembali. Nomor tadi. King of Remi. Mungkin aku harus mencoba menghubunginya.
Aku mencoba menelepon nomor tersebut. Namun tak diangkat. Kucoba lagi, dan hasilnya pun sama. Sampai empat kali mencoba, tetap sama saja. Apa dia langsung mengganti nomornya begitu ketahuan? Kalau memang seperti itu, buat apa dari awal dia menaruh benda tersebut di mading. Bukannya lebih baik tidak usah, sebab karena ulahnya itu kini dia sendiri yang repot.
Saat akan menyerah, sebuah pesan masuk. Tepatnya sebuah SMS. Jadul sekali. Sama seperti jika kami ingin berkomunikasi dengan Tengku dulu. Tapi mungkin ini cara paling aman jika ingin meneror seseorang.
Aku membukanya. Kumohon jangan bandar judi (jujur aku masih cemas aku salah paham).
King of Remi: Hanselio Kaban, apa kabar?
Jantungku berdebar kencang. Rasanya ada godam raksasa yang memukul-mukul semua yang ada di dadaku.
Pesan lain masuk kembali.
King of Remi: Ada perlu apa, ha? Penasaran akan sesuatu?
Ini siapa?
King of Remi: Aku rasa kau bisa membaca. Jelas-jelas di sticky note yang kau lepas aku membubuhkan nama. Aku ini King of Remi.
Lo si cewek aneh ber-hoodie hitam itu?
King of Remi: Bukannya gadis itu sudah bilang. Kau bodoh kalau percaya itu dia.
Damn.
Jadi lo siapa?
King of Remi: Aduh, bukannya aku sudah bilang aku ini siapa. Tapi tak apalah kalau kau tak percaya. Itu hakmu, kan.
Jadi lo pembunuhnya?
Aku benar-benar bodoh. Bagaimana bisa aku menanyakan hal begitu.
King of Remi: Hahaha. Kau benar-benar bodoh.
Tuh kan. Aku harus menanyakan hal lain yang sekiranya berguna.
Dari mana lo tahu gue yang mencabut sticky note itu?
Itu pertanyaan yang cukup berguna tidak sih?
King of Remi: Aku bisa tahu karena aku tidak sebodoh dirimu dalam mencari tahu.
Damn it.
Sejak tadi lo terus ngatain gue bodoh mulu. Emangnya elo sepintar apa sih?
King of Remi: Mau tahu aku sepintar apa. Kalau gitu ayo ikuti permainanku.
Lo bener-bener ngira gue goblok, mau-mau aja ngikutin lo!
King of Remi: Iya.
Aku pernah dengar tentang santet online. Kira-kira bisa digunakan untuk orang ini tidak, ya.
Gue gak mau.
King of Remi: Kau pasti mau. Aku pastikan hal itu.
Kenapa lo bisa seyakin itu?
King of Remi: Karena kalau kau berhasil memenangkannya, aku akan menunjukkan diriku padamu. Kau sangat penasaran tentang identitasku, kan? Ditambah, aku juga akan memberitahumu semua yang ingin kau ketahui. Semua yang saat ini tengah kau bingungkan. Semuanya.
Gimana bisa gue percaya sama lo.
King of Remi: Bisa. Pasti bisa. Tinggal percaya saja kok susah.
Sebenarnya siapa yang goblok sih sekarang. Apa maksud pesannya barusan. Itu terkesan seperti lawakan, tapi dia tidak mungkin begitu, kan. Atau aku salah.
Gue gak mau.
King of Remi: Oh, ya. Bagaimana jika kukatakan bahwa aku adalah orang yang selama ini memberimu petunjuk.
Lo yang ngirim surat dan naruh semua kartu-kartu itu? Buat apa? Kenapa lo lakuin semua itu?
King of Remi: Jawab saja. Kau mau atau tidak. Aku tidak akan mengulangi lagi. Jika kau menolak kali ini, maka kau akan kehilangan penawaran dariku. Dan aku tak akan memberi kesempatan yang sama lagi lain kali.
Aku tercenung cukup lama membaca pesan terakhirnya. Bagaimana ini? Apa bisa aku percaya pada orang yang bahkan tak kutahu bagaimana wujud aslinya. Tapi jika dia yang memberi petunjuk, mungkin ini kesempatan yang baik untukku. Dan selama ini dari petunjuk-petunjuknya sama sekali tak ada yang menyesatkan. Meski belum tahu dia melakukan semua itu untuk apa, dan apakah ia baik atau tidaknya, sepertinya tak ada salahnya untukku menyetujuinya.
Oke, gue mau. Apa yang harus gue lakukan?
***
Sincerely,
Dark Pappermint
puas juga gk apa"x dia mati😏
apa mungkin Gisel, Seno dan si mantannya Gisel arghh... bingung aku