Jika menikah hanya dijadikan sebuah alat pertukaran yang saling menguntungkan satu sama lain tanpa didasari rasa cinta, akankah kebahagiaan itu tercipta?
Kinara seorang gadis yang selalu pesimis dengan masa depannya. Ia memutuskan menikah dengan Gema Putra Mahardika laki-laki yang sudah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Hal tersebut rela ia lakukan demi kelangsungan hidup seorang gadis kecil yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit yang menggantungkan hidupnya hanya pada Kinara.
Akankah cinta hadir di antara mereka meski semua bermula dari terpaksa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Rela Melepaskan
Nara tersenyum ramah tapi juga semakin bingung melihat kedua dokter tersebut. Biasanya hanya satu dokter yang menangani adiknya, tapi kali ini ada dua.
"Ada apa dengan adik saya, Dok?" tanya Nara dengan wajah tegang pada dokter wanita yang duduk di sofa ruangannya.
"Tidak ada hal yang seperti kau pikirkan, silahkan duduk. Perkenalkan, beliau dokter Efran kepala bagian penyakit dalam di sini."
Nara bisa sedikit bernapas lega mendengar ucapan dokter wanita tersebut. Dia menundukkan memberi hormat pada dokter Efran.
"Begini, Mbak Nara, kita sudah menemukan donor yang cocok untuk adik Anda. Dia juga setuju untuk melakukan pencangkokan secepatnya dan tanpa meminta imbalan apapun," jelas dokter Efran pada Nara yang terlihat masih tidak percaya.
"Be—benarkah? Si—siapa dia, Dokter?" tanya Kinara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Dia orang yang tidak ingin disebutkan namanya, Mbak. Tapi saya yakin dia orang baik yang benar-benar peduli dengan adik Anda," kata Dokter Efran meyakinkan Nara.
"Tapi ... saya belum ada biayanya, Dokter," ucap Nara dengan menundukkan wajahnya sedih.
Dia tidak bisa menyembunyikan lara hatinya. Kesempatan yang sangat langka ini, bagaimana mungkin bisa dia lewatkan begitu saja. Namun, tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini. Nara merasa menjadi seorang kakak yang tidak berguna, hati gadis itu terasa sakit menghadapi situasi ini.
"Anda tidak perlu khawatir, Mbak. Rumah sakit akan melakukan tindakan operasi, Anda cukup menyetujui persyaratan yang diajukan oleh pihak pendonor saja," ucap Dokter Efran yang membuat mata Nara membeliak tidak percaya.
"A—apa saya tidak salah dengar, Dok"? tanyanya dengan terbata.
Orang seperti apa pendonor itu hingga dia memiliki hati yang sangat baik, pikir Nara. Gadis cantik itu masih belum percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dia masih menatap tidak percaya pada Dokter Efran yang sedang menunggu keputusan dari Nara.
"Kami tidak mungkin bercanda dengan hal seperti ini, Mbak Nara. Ini surat pernyataan dari rumah sakit, silahkan Anda tanda tangani jika setuju." Dokter wanita yang ada di hadapan Nara ikut membuka suara.
Tangan Nara yang samar-samar bergetar itu mengambil kertas yang disodorkan oleh dokter tersebut dengan perlahan. Jantung Nara serasa hampir berhenti berdetak, mata gadis itu berbinar sekaligus berkaca-kaca membaca surat yang ada di tangannya itu.
"I—ini, apakah benar?" Nara menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Benar, Mbak. Melihat kondisi adik Anda kita harus segera melakukan pencangkokan ginjal secepat mungkin, dan untuk mendapatkan donor yang cocok seperti ini sangat sulit. Jadi sebaiknya kita lakukan hari ini. Kita juga tidak bisa menjadwalkan ulang dalam waktu dekat jika Anda menolak prosedur operasi hari ini," jawab dokter wanita.
"Sa—saya ..." Nara menggigit-gigit kecil bibir bawahnya memainkan jari jemari yang ada di atas pahanya.
Apakah pria itu yang sudah membayar semua biaya untuk operasi Yana? Apa dia juga yang mencarikan pendonor? Ya, aku yakin pasti dia orangnya, dia punya uang dan kekuasaan, melakukan hal ini tidaklah sulit. Aku senang, tapi ... itu artinya aku harus mencabut tuntutanku, batin Nara sambil tersenyum miris.
Dia sangat sadar akan konsekuensi yang harus dilakukan jika sampai menyetujui tawaran tersebut. Namun ... nyawa adiknya tetaplah menjadi pertimbangan pertama. Gadis cantik itu sangat bahagia karena akhirnya hal yang selama ini dia usahakan bersama orangtuanya bisa terwujud, tapi dia juga tidak rela melepaskan orang yang sudah menabrak orangtuanya bebas begitu saja.
"Bagaimana, Mbak Kinara?" Suara besar dokter laki-laki itu membuyarkan lamunan Kinara.
"I—iya, Dokter. Saya setuju, saya akan menandatanganinya," jawab Kinara dan dengan segera membubuhkan tandatangannya di atas selembar kertas yang sangat berharga tersebut.
Baiklah, jika memang pria itu yang sudah melakukannya, aku akan mencabut laporanku besok. Yang terpenting saat ini Kiyana bisa menjalani operasi dengan lancar, batin Nara berusaha meyakinkan dirinya.
Dokter Efran mengambil berkas tersebut dan segera berpamitan pada Nara. Dia harus segera melaporkan hal ini pada Gema dan mempersiapkan tindakan operasi sesuai permintaan Gema. Kinara hanya bisa mengangguk pasrah, ingin sekali dia bertemu dengan orang yang sudah dengan sukarela memberikan satu ginjalnya pada Kiyana, apalah daya dokter melarangnya.
"Mbak Nara, kami akan segera menyiapkan operasi untuk Yana. Dia akan segera dipindahkan ke ruang operasi, Anda bisa menemuinya sebentar sebelum kami pindahkan," kata dokter wanita yang sudah berdiri di hadapan Nara.
Mata Kinara berbinar, ini adalah waktu yang sudah dinantikannya. "Baik, Dokter. Terima kasih banyak," jawab Nara dan bergegas melenggang menuju ruangan Yana.
Mata Nara menatap sayu wajah Kiyana yang sudah tersenyum menyambut kedatangannya. Gadis kecil itu masih terlihat sangat lemah, tapi kesadarannya sudah kembali.
"Dek, maafin Kakak ya, kemarin kakak ninggalin kamu." Nara menggenggam erat tangan mungil Kiyana dan memberikan ciuman bertubi-tubi di keningnya.
Kiyana hanya tersenyum menanggapi ucapan kakaknya. Gadis itu ingin sekali berbicara banyak pada kakaknya, tapi rasanya mulut mungil itu sangat sulit untuk terbuka seolah tenaganya akan habis hanya dengan membuka mulut saja. Dia terus saja menyunggingkan senyum manis pada Nara.
"Dokter bilang kau bisa mendapatkan obat yang sangat bagus. Setelah ini dokter akan memberikan Yana obatnya, Yana yang kuat ya. Kakak akan nungguin Yana terus sampe dokter selesai ngasih obat ke Yana. Kakak sayang banget sama Yana," ucap Nara dengan nada bergetar menahan tangisnya.
...Bersambung .......
...----------------...
Jangan lupa dukung karya Author dengan cara Like, Komen, Vote, dan Rating bintang 5 yaa.
Simi tunggu komentar kalian di bawah.
Kalian tau kan, cinta itu ada karena terbiasa.
berani tidak author buat scen kayak gini
aku paling sebel kalo BAB kepanjangan. selain itu, kalo mau beralih ke cerita baru pun, aku akan cari episode yg tidak terlalu panjang, kalo bisa di bawah 100 chapters.
Jadi, episodenya pendek, cerita per BAB/chapter nya juga pendek. setelah itu baru deh berharap cerita nya bagus.