Dinikahi oleh seorang pria yang menjanjikan kebebasan dan perceraian. "Hmm, ini tidak buruk. Setidaknya aku bisa bebas dari keluarga ini dan berhenti merepotkan mereka."
Ava Ashalina.
Seorang gadis yatim piatu yang diasuh oleh paman-bibinya sebagai orang tua angkat, ia dipaksa untuk mengorbankan dirinya sebagai penyelamat bisnis keluarga dengan cara menikah dengan seorang pria berdarah biru bernama, Elang.
"Setelah menikah kita tidak akan tinggal serumah, kau bisa hidup bebas dari keluarga yang selama ini menyiksamu. Hiduplah sesuka hatimu, kau akan mendapat uang yang banyak dariku untuk menyokong kehidupanmu," janji Elang pada Ava sebelum pernikahan.
Semudah itukah?
Apa benat tidak ada hal lain yang Elang inginkan dari pernikahan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Ulsyah Musyarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang
Lubang di hati gadis itu semakin melebar, seakan ada sebuah kehilangan yang menyapa di depan matanya. Ava mendengar bisikan halus dan kecupan singkat namun hangat itu. Sayangnya, matanya akan terlalu sulit untuk tidak menangis, ia memilih untuk tetap terpejam dan pura-pura tak menyadari kepergian Elang.
Cklek brak
Ava mendengar suara pintu yang dibuka dan kemudian ditutup lagi, diiringi dengan suara langkah kaki yang semakin menjauh. Gadis itu segera terbangun dari tidurnya, dia turun dari ranjangnya. Namun ia ragu untuk keluar kamar dan menyusul pria itu.
Ava pun memilih kembali dan menuju ke arah jendelanya. Kamar Ava terletak di lantai dua, jendelanya mengarah ke depan. Sehingga itu dapat memudahkan Ava untuk melihat siapa yang keluar dan masuk ke rumahnya.
Ava melihat Elang baru saja keluar dari pintu rumahnya. Pria itu ternyata telah ditunggu oleh beberapa orang pengawal dan juga seorang asisten yang selalu setia di sampingnya, yaitu asisten Choi.
Saat keluar dari gerbang, Elang menoleh ke arah jendela kamar Ava di lantai dua. Ava pun dengan segera bersembunyi agar ia tidak ketahuan sedang mengintip Elang. Pria itu menatap ke arah jendela cukup lama, seakan ada rasa berat untuk meninggalkan seseorang yang berada di dalam sana.
Tepat setelah Elang mengalihkan pandangannya dan mulai masuk ke dalam mobil, Ava kembali muncul dan mengintip rombongan itu.
Namun tanpa Ava duga, ternyata asisten Choi sudah mengetahui keberadaan Ava yang sedang mengintip mereka. Ketika asisten Choi hendak masuk dalam mobil, ia menatap ke arah Ava di jendela lantai dua, asisten itu tersenyum sambil menundukkan kepala seakan memberi hormat.
Ava pun balas tersenyum dari kejauhan. "Seandainya itu pak Elang, tentu aku tidak akan kuat dan pasti aku mengejarnya," gumam Ava lirih.
***
Malam harinya, Ava menonton tivi untuk mencoba menghilangkan rasa sepi. Dia membawa semangkuk besar sereal dan susu di pangkuannya, gadis ini bersila di atas sofa.
"Hahaha," tawanya sambil mengunyah makanan.
Ting Tong
Bel pintu rumah Ava berbunyi. "Sebentar ...!" Ava berteriak dan mencoba keluar rumah untuk melihat tamunya.
Ting Tong Ting Tong Ting Tong
"Bar bar sekali tamu ini. Tidak tau etika bertamu, apalagi ini sudah malam." Ava sedikit kesal dan menjadi berhati-hati pada orang yang sedang bertamu.
Ava mengintip sejenak pada tirai sebelum membuka, dengan tatapan was-was dan curiga ia pun melihat bayangan seseorang ada di depan pintunya. Seseorang dengan menggunakan hand bag yang tergantung di pundaknya. Setelan rok selutut dan kaos pendek.
Ava mengembangkan senyumnya begitu ia melihat wanita berambut pendek sebahu yang datang ke rumahnya.
"Lenaaaa ...!" Ava berteriak dan membuka pintunya. Gadis itu langsung memeluk seseorang yang menjadi tamunya.
"Uuuugh! Lepas!" Gadis berambut sebahu itu menolak pelukan Ava. "Ava, aku bisa mati kau peluk dengan cara seperti itu." Lena pun tersenyum dan kembali merangkul sahabatnya dengan pelukan yang lebih longgar.
"Maafkan aku, aku sangat merindukanmu." Ava menepuk-nepuk punggung temannya.
Lena pun melepaskan pelukannya, ia memberi kode pada orang yang di luar gerbang. Kemudian orang di luar gerbang itu pun langsung pergi.
"Siapa orang itu?" tanya Ava.
"Sekretaris papaku," jawab Lena santai.
"Tumben kau diantar, ayo masuk!" ajak Ava pada rekannya. Setelah mereka berdua masuk, Ava pun menutup dan mengunci kembali pintunya.
***
Bersambung ...
baru kali ini aku baca novel full sampai habis, gak pakai kata 'capek...
ceritanya ku nikmati thorr...
mantaff la pokoknya....
sukses selalu ya KK author....💕💕💕