Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 15
RAMALAN DAN KELUARGA
Selama perjalanan. Myra tak membuka suara, ia hanya diam menatap ke arah jendela yang terbuka. Dan karena sekarang dia bersama Myra, maka Silas juga membuka jendela mobilnya meski dia harus terus waspada terhadap musuh yang pasti terus mengintai.
Hingga mobil mereka memasuki sebuah gerbang mansion yang lebih gemerlap lampu daripada mansion Silas.
Tidak ada pesta ramai seperti yang Myra pikirkan. Namun di ambang pintu besar itu, beberapa orang dengan pakaian elegan sudah berdiri di sana dengan tatapan interogasi.
“Kita di mana? Siapa mereka?” tanya Myra menoleh ke suaminya yang baru saja menghentikan mobilnya.
“Keluarga. Tapi musuh.” jawab Silas dengan nada santai. Sementara Myra nampak gugup sampai pria itu menatapnya kembali. “Balas saja perkataan mereka sesuai apa yang kau pikirkan.” ujar Silas.
Pria itu mulai turun bersama Myra. Saat mereka sejajar, Silas menuntun tangan kiri Myra menggenggam tangannya.
Dengan mata terbuka lebar, Myra menarik nafas dalam-dalam saat melihat mereka yang berdiri di ambang pintu.
Pedro menyeringai kecil sembari merokok santai menyambut kedatangan Silas setelah 1 tahun lebih mereka lost contact. Sementara Silas hanya menatap datar dan tegas seperti biasanya.
“Kau masih sama.” kata seorang wanita paruh baya dengan rambut pirang pendek, Amber Bianco. Wanita itu tersenyum miring beralih menatap ke Myra yang hanya tersenyum tipis mencoba ramah, karena dia tak tahu, bahwa mereka bukan benar-benar keluarga.
“Sangat polos. Kau mendapatkannya dari Asia?” kata Amber sedikit menyindir sehingga Myra mulai berkerut alis.
“Ya.” jawab singkat Silas.
“Aku pikir kau tidak serius dengan ucapan mu, Tuan Silas!” ujar seorang wanita muda bernama Oona Bianco (28th). Anak ke2 Amber setelah Pedro.
Wanita cantik kulit cokelat dan mata yang indah itu menatap remeh ke Silas seperti biasa. Sementara Pedro membuang rokoknya sembari sesekali mengamati Myra dari atas sampai bawah.
“Apa yang aku ucapkan maka itu akan terjadi. Termasuk tentang kepalamu.”
Oona langsung diam menatap tajam dan melirik kesal. Sementara Amber masih menyeringai kecil.
“Masuklah. Fernando sudah menunggumu sejak tadi, aku yakin dia sangat senang melihatmu membawa seorang istri.” kata Amber melirik sinis ke Myra.
Myra menoleh ke Pedro dan menatap tak suka sembari melangkah melewati pria itu.
“Aku tidak menyukai pria itu.” kata Myra pelan seolah berbisik ke Silas.
Mendengar itu, Silas hanya menoleh. “Pecahkan telurnya jika kau bisa.”
“Apa?” Myra menoleh penuh tanya sehingga keduanya saling menatap beberapa detik sebelum senyum kecil terukir di bibir Silas.
Senyuman yang langkah dan membuat Myra berpaling saat itu juga. Genggaman tangan Silas juga masih tak dilepaskan oleh pria itu meski Myra mencoba melepaskannya.
-‘Ke mana dia membawaku sekarang? Siapa mereka semua? Yang benar saja.’ batin Myra mengamati mansion bergaya Victoria.
Hingga di Amber mempersilahkan Silas masuk ke ruangan pribadi.
“Sebaiknya kau tinggalkan istrimu di sini. Kami akan menjaganya.”
Silas menoleh ke Myra dengan tatapan santai. “Kau mau menunggu di sini bersama mereka?”
“No.” jawab Myra yang langsung menolak sembari menatap suaminya dengan lekat.
“Kau sudah mendengarnya.” ujar Silas.
Amber menatap sinis, menyeringai tak percaya hingga membiarkan mereka berdua masuk ke ruangan itu.
Saat pintu tertutup. “Shit.” umpat Amber yang masih menyeringai dan berjalan ke arah sofa, lalu duduk.
“Silas benar-benar tidak main-main. Dia memang ingin berperang.” kata Oona meneguk wine nya perlahan dan bertahap.
“Kalau begitu kita ladeni saja.” kata Pedro menoleh sembari membawa gelas kristal berisi beer. “Sejak kematian ibu angkatnya, Lynda Wolfe, dia semakin tamak ingin menguasai semuanya.”
“Lynda Wolfe mati?” Amber menyeringai kecil menatap lurus sehingga kedua anaknya tadi menatap ke ibunya dengan penuh tanya.
Wanita itu masih diam, seolah-olah dia meyakini satu hal bahwa adiknya itu belum benar-benar mati.
“Silas yang menghabisinya setelah dia berhasil membunuh putra bibi Lynda kan.” kata Oona.
“Ya. Tapi ibu tidak percaya jika Lynda benar-benar tewas. Ini hanya permainan Silas.”
Pedro terkekeh kecil. “Persetan dengan semua itu.”
.
.
.
Di dalam ruangan dengan beberapa kepala rusa sebagai hiasan dinding. Seorang wanita cantik bermata silver rambut hitam menatap penuh ancaman ke Silas saat wanita itu duduk di sofa panjang sementara pria tua duduk di sofa singel.
“Apa yang kau urus hingga tidak berkunjung ke sini, Silas?” tanya suara tua itu mengalun serak.
Asap cerutu mengepul di udara. Tatapan Fernando mengarah lurus karena dia buta.
Myra mengamatinya. Dan Silas masih berdiri bersanding dengan istrinya.
“Ada banyak hal yang harus kuurus.” kata Silas. “Membutuhkan kekuasaan lebih agar aku bisa menyingkirkan para musuhku, Mr. Bianco.”
Pria tua itu terdiam. Begitu juga dengan wanita yang duduk di sofa panjang.
Mata Silas melirik ke wanita angkuh itu. “Kau tidak bertanya soal kedua anakmu?”
Seketika Myra menoleh ke Silas dengan wajah terkejut penuh tebakan, lalu kembali menatap ke wanita mata silver yang saat ini saling beradu pandang dengan Silas.
Tak lama wanita itu menatap ke arah Myra.
Ia menyeringai kecil. “Mereka sudah memiliki seorang ibu baru darimu. Untuk apa aku bertanya soal mereka.”
Tatapan Silas begitu datar, namun menahan amarah yang begitu mendalam. Berbeda dengan Myra yang merasa seperti orang bodoh tak tahu apa-apa selain diam mendengarkan dan melihat.
“Kau masih memegang milik Wolfe— ”
“Aku hanya memegang namanya saja.” potong Silas dengan tegas. “Wolfe sudah hancur sampai aku membangun milikku sendiri dan semua itu karena tindakan putrimu, Lynda Wolfe yang membentukku seperti ini.”
“Dan semua itu sudah kau rencanakan, Silas. Jika tidak, maka kau tidak perlu menghabisi Cassian saat itu.” tegas Markie wanita yang kini menatap marah bak ingin meluapkan semuanya.
Tak ada yang perlu diperpanjang karena berdebat bukan gaya Silas.
Pria itu mengabaikannya dan kembali menatap ke Fernando Bianco, ayah dari ibu angkatnya, Lynda Wolfe.
“Kemarilah.”
“Dia tidak membutuhkan ramalanmu.” tolak Silas.
“Aku tahu kau tidak percaya dengan ramalan. Aku hanya ingin melihatnya saja.” kata Fernando sembari mengulurkan tangannya.
Silas melepaskan genggaman tangannya sehingga Myra nampak kebingungan lalu menatap ke Silas yang juga menatapnya.
Tanpa memberi isyarat apapun, Myra faham dan dia melangkah maju tanpa ragu. Menyentuh tangan Fernando dan pria tua itu menggenggamnya.
Ia menggenggam cukup lama seolah tengah membaca sesuatu di pikirannya.
Markie hanya diam menatap Fernando dan Myra. Begitu juga Silas yang menatap dengan kerutan alis hingga rahangnya mengeras.
“Blood. (Darah).”
Pria itu melepaskannya sehingga Myra menarik tangannya dan masih menatap diam.
“Seberapa banyak kesedihan ku?” tanya Myra dengan rendom karena dia juga masih kesal dengan tindakan Silas.
“Sebanyak yang kau rasakan. Tapi darah lebih kental.”
“Artinya. Kau akan melihat banyak darah, orang-orang yang akan mati.” Markie melirik ke Silas. “Dan tidak tahu, siapa yang akan melakukan perbuatan itu.”
Kedua wanita tadi saling beradu pandang. Hingga Myra menoleh ke suaminya yang masih diam menatap tanpa rasa takut. Namun itu semua hanya ramalan semata.
...°°°...
Hai guysss!!!!! Jika kalian masih bingung, tanyakan saja, aku akan menjawabnya dengan setulus dan sejujur mungkin karena aku baik hati dan tidak sombong ( ˶ ❛ ꁞ ❛ ˶ )
Semoga kalian suka dengan alur ceritanya ya uyyyyyyy!!!!
Thanks and See Ya ^•^