NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pak AL

Istri Kontrak Pak AL

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Pernikahan Kilat / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:19.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asni Diyanti

Ketika hidup tak lagi memberi ruang bernapas—diusir dari kos, ditolak pekerjaan, dan janji keluarga di kampung tak kunjung ditepati—Cika memilih langkah paling nekat: menawarkan pernikahan kontrak.

Al, CEO muda dan dingin, tak mencari cinta. Tapi ia butuh istri, cepat dan tanpa drama. Tawaran Cika datang di saat yang tepat—meski ia yang menentukan semua syarat dan batasannya.

Mereka hanya sepakat satu hal: tak melibatkan perasaan.

Namun, siapa yang bisa mengatur hati?
Ketika peran pura-pura perlahan terasa nyata, dan rumah yang dingin mulai hangat oleh tawa, benarkah mereka masih bisa berpura-pura?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah yang Ramai

Sejak kepergian Syifa ke tempat baru dan memulai hidupnya dari nol, rumah Cika dan Al terasa sedikit sepi. Tapi kesepian itu tak berlangsung lama.

Cika mulai memanfaatkan ruang tamu rumah kecil mereka sebagai tempat kelas literasi mini setiap Sabtu pagi. Kegiatan ini awalnya hanya diikuti lima anak dari sekitar rumah. Namun dalam dua minggu, jumlahnya bertambah dua kali lipat. Anak-anak datang dengan semangat, membawa buku bekas, pensil warna, dan rasa ingin tahu yang luar biasa. Mereka duduk di lantai beralaskan karpet tipis, mendengarkan Cika membacakan cerita sambil sesekali berebut menjawab pertanyaan.

“Siapa tahu burung kecil itu akhirnya bisa terbang?” tanya Cika sambil menunjukkan ilustrasi.

“Aku tahu! Aku tahu!” jawab seorang anak laki-laki sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi.

Al awalnya tak banyak bicara tentang kegiatan ini. Ia mengamati dari balik pintu kamar atau menyesap kopinya di dapur sambil mendengar tawa anak-anak dan suara Cika yang antusias membacakan cerita. Tapi hari itu, ia duduk di tangga dan menyimak dari jauh. Cika membacakan buku tentang seekor burung kecil yang belajar terbang meski terluka. Al tak menyangka, cerita sederhana itu bisa membuat ruangan kecil mereka penuh makna.

Di akhir sesi, salah satu anak berbisik pada Cika, “Tante Cika, rumah tante kayak taman. Aku suka ke sini.”

Kalimat itu menghantam lembut di hati Cika. Ia memeluk anak itu sebentar sebelum mengajaknya merapikan buku bersama-sama.

---

Namun tidak semua merespons positif. Beberapa tetangga mulai berbisik. Mereka heran rumah yang dulunya tenang kini setiap Sabtu penuh anak-anak berlarian. Seorang ibu sempat mendekati Al saat ia sedang menyapu halaman.

“Maaf ya, Mas Al. Bukan nggak senang anak-anak baca buku, tapi... apa nggak sebaiknya diadakan di taman RW saja? Soalnya agak ramai.”

Al tersenyum sopan. “Terima kasih masukannya, Bu. Kami sedang pikirkan alternatif. Tapi selama masih bisa diatur, saya rasa tidak masalah.”

Ia masuk ke rumah dengan sedikit beban di bahunya. Malamnya, ia dan Cika bicara panjang.

“Aku nggak mau kamu berhenti, Cik. Tapi aku juga ngerti, rumah ini tadinya tempat istirahat kita. Sekarang... kayak berubah fungsi.”

Cika menatap suaminya. “Aku juga merasa begitu. Tapi melihat anak-anak itu semangat baca, rasanya... ini bukan cuma hobi. Ini misi. Ini yang aku impikan sejak lama.”

“Aku tahu. Dan kamu luar biasa. Tapi aku cuma... takut kita kehilangan ruang pribadi kita.”

Mereka akhirnya sepakat untuk menata ulang ruang tamu jadi lebih fungsional—dengan rak buku khusus anak-anak, karpet mainan yang bisa digulung, dan jadwal ketat soal waktu penggunaan ruang. Mereka juga mulai menjalin kerja sama dengan pihak RW untuk memperluas kegiatan ke balai warga jika pesertanya terus bertambah.

---

Pada minggu ketiga, Al ikut membacakan buku. Anak-anak menyambutnya dengan tepuk tangan riuh. Al sempat gugup, tapi saat melihat antusiasme anak-anak, ia tersenyum lebar dan mulai membaca.

"Kura-kura itu berjalan pelan. Tapi dia tidak menyerah..."

Anak-anak menyimak dengan mata berbinar.

Setelah sesi selesai, Al duduk di samping Cika, wajahnya lega. “Aku baru sadar, rumah ini memang ramai sekarang. Tapi aku suka ramainya. Bukan bising. Tapi hidup.”

Cika menyandarkan kepala di bahunya. “Aku senang kita punya rumah yang bisa jadi tempat tumbuh. Bukan cuma buat kita. Tapi buat siapa pun yang datang dengan hati.”

Malamnya, mereka membereskan ruangan bersama. Cika menyalakan lilin aromaterapi, Al menggulung karpet. Di sela-sela kesibukan kecil itu, Cika sempat menatap suaminya dan berkata pelan,

“Terima kasih udah membiarkan rumah ini jadi lebih dari sekadar tempat tinggal.”

Al menatapnya. “Rumah ini kamu yang hidupkan. Aku cuma ikut belajar di dalamnya.”

---

Dan di luar, langit Jakarta mendung tapi teduh. Tawa anak-anak masih terngiang, dan rumah kecil itu... perlahan tumbuh menjadi taman kecil bagi cinta, harapan, dan pembelajaran. Bukan lagi rumah pasangan muda biasa. Tapi rumah yang memberi ruang. Rumah yang memilih untuk membuka pintu, bahkan saat sedikit ribut.

Karena kadang, cinta juga berarti memberi ruang untuk hal-hal yang lebih besar dari diri sendiri.

bersambung....

1
Kevin Wowor
Author, chapter baru kapan? Saya ketagihan nih!
Asni Diyanti: terimakasih! wait tidak lama lagi.
total 1 replies
<|^BeLly^|>
Nggak bisa bayangkan hidup tanpa cerita dan karakter dalam karya ini!
Asni Diyanti: eh gimana maksudnya kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!