"Jika uang bisa membeli segalanya maka aku akan membeli cinta. Agar aku bisa merasakan apa namanya cinta." Rayasi Stevaya.
Rich women yang selalu saja gagal dan hal percintaan.
Raya bahkan sudah gagal menjalani percintaan dengan beberapa pria, hingga membuat dirinya trauma menjalani sebuah hubungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RW 30
Dua tahun berlalu.
"Mami...." Teriak anak kecil yang sekarang umurnya sudah setahun lebih. Anak perempuan yang memiliki wajah yang begitu cubby, garis alis yang tebal dan tersusun dengan rapi.
"Sudah mami katakan. Jangan berlari." Kata Raya sambil menghampiri sang anak. "Zena, suka mami katakan berapa kali, jika jangan terus berlari."
"Susu." Jawab Zena sambil tersenyum. Membuat Raya tentu hanya bisa tersenyum dan bahagia melihat tingkah laku sang anak.
"Baiklah, sekarang ikut mami."
...🥀🥀🥀🥀🥀...
"Tuan." Sapa Cican saat masuk ke dalam ruangan Derald. Dan Derald hanya diam sambil tersenyum menatap layar ponselnya.
"Tuan, hari ini ada rapat dengan perusahaan xx.."
"Batalkan, hari ini aku akan mengunjungi putri kecilku." Jawab Derald dengan tegas.
"Siapkan hadiah yang sudah aku kirim barusan di ponselmu. Bawa dalam tiga puluh menit. Aku sudah rindu dengan putriku." Kata Derald, tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali dari layar ponselnya.
"Dengan Zena atau nyonya Raya." Gumam Cican yang masih dapat di dengar oleh Derald.
"Dua duanya." Jawab Derald.
Setelah semua barang telah siap di atas mobil, kini Derald mengendarai mobilnya menuju tempat tinggal Raya. Tidak butuh waktu yang lama, mobil Derald kini telah tiba. Dengan perasaan yang bahagia, Derald keluar dari mobil sambil membawa hadiah yang telah ia siapkan.
"Tuan." Sapa salah satu asisten rumah tangga.
"Nyonya Raya sedang di kamar bersama..."
"Aku tahu." Jawabnya, dan langsung berjalan menuju kamar Zena.
Perlahan Derald membuka pintu. Ia langsung melihat Raya yang saat ini sedang duduk di kursi sambil memperhatikan Zena yang tengah bermain.
"Halo sayang." Panggil Derald membuat dua perempuan yang ada di dalam sana langsung menoleh ke arah sumber suara.
Satu perempuan langsung tersenyum bahagia, berdiri dan langsung berlarih ke arah pintu.
"Papi." Panggilnya dengan suara cadelnya.
Sedangkan yang satunya, tetap duduk di tempat dengan senyum tipis yang terukir di wajah cantiknya.
"Bagaimana kabarmu sayangku? Papi membawa hadiah baru untukmu."
Zena tentu bahagia. Dan memeluk erat tubuh Derald yang sudah begitu sangat di rindukannya.
"Baiklah kalau begitu papi akan bermain bersama Zena." Derald melangkah menuju tempat Zena pertama bermain. Lalu Raya berdiri dan ingin keluar dari kamar Zena, namun dengan cepat Derald meraih tangan Raya hingga Raya menghentikan langkah kakinya.
"Tetaplah disini. Bersamaku, dan putri kita." Ucap Derald dengan penuh harapan agar Raya tidak keluar.
"Baiklah." Raya kembali memilih duduk di tempat semula sambil memperhatikan Derald dan juga Zena yang bermain. Baik Zena dan juga Derald, keduanya terus tertawa. Derald begitu terlihat sangat bahagia bermain bersama dengan putri tercintanya.
"Mami." Panggil Zena, membuat Raya tersadar dari lamunannya.
"Ada apa sayang?"
Tanpa menjawab, Zena langsung meraih tangan Raya hingga membuat Raya berdiri dan mengikuti sang anak.
"Cini." Zena menepuk tempat di samping Derald. Dan Raya pun duduk.
Kini mereka bertiga bermain bersama.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
"Dia sangat mirip denganmu." Kata Derald saat melihat Raya yang membaringkan Zena di atas tempat tidur.
"Tentu! Dia putriku, aku yang mengandungnya selama sembilan bulan."
"Ya, aku tahu itu."
Hening sesaat...
"Apa kita bisa memulai semuanya dari awal lagi?" Tanya Derald sehingga membuat Raya menoleh ke arahnya. "Tidak usah di jawab."
"Derald. Maaf." Kata Raya lalu menghampiri Derald. Raya lalu merapikan dasi Derald yang berantakan sehabis bermain bersama putrinya.
"Maafkan aku." Lirih Raya, lalu kemudian Raya memeluk tubuh Derald dengan sangat erat. "Maaf."
FLASHBACK...
Raya yang begitu bahagia mengetahui tentang kehamilannya, langsung memutuskan untuk memperiksakan kandungannya. Dan Derald pun tahu, langsung ikut menyusul ke rumah sakit tempat Raya berada saat ini.
"Selamat anda positif hamil." Ucap dokter yang membuat Raya tentu sangat bahagia.
Pintu terbuka lebar.
"Dokter, katakan sekali lagi jika apa yang aku dengar itu nyata." Kata Derald dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tuan Derald, selamat sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah."
Karena bahagianya. Derald langsung memeluk tubuh Raya.
Dan saat pemeriksaan selesai. Derald langsung meminta kepada Raya untuk kembali ke tempat mereka.
"Derald stop! Jangan paksa aku." Kata Raya dengan tegas.
"Bagaimana dengan bayi kita? Raya, aku mencintaimu, sungguh. Ayo kita pulang."
Raya langsung melepaskan genggaman tangan Derald.
"Raya."
"Bagaimana aku bisa tinggal bersamamu? Bagaimana aku bisa bahagia bersamamu? Bagaimana? Jika aku tahu akulah penyebab daddy mu meninggal, bagaimana?" Tanya Raya dan Derald pun hanya berdiri tepat di depan Raya..
"Katakan! Jawab! Bagaimana aku bisa bahagia?"
Derald langsung memeluk tubuh Raya.
"Lupakan semuanya. Fokuslah pada keluarga baru kita."
Raya menangis di dalam pelukan Derald.
"Tapi bagimana? Bayangan itu selalu datang. Bagaimana bisa aku bahagia denganmu. Sedangkan aku adalah pembunuh daddymu."
"Raya tenangkan dirimu. Lupakan semuanya, itu adalah takdir." Kata Derald
"Ya, aku adalah takdir yang di gariskan untuk menjadi pem*bunuh."
Raya melepaskan pelukannya.
"Raya."
"Maafkan aku Derald, aku tidak bisa hidup dengan bayang bayangan ini."
padahal ku masih ingin trz ikutin raya n derald
terimakasih Thor🙏
semoga bersatu lagi..kalo saling cinta ya pertahankan dan lupakan masa lalu
semangatt up nya💪🥰🥰