*******! Banyak ****** ****** bertebaran jadi ***** ***** memilih bacaan.
Perasaan cintanya untuk seseorang yang begitu besar membuat luka yang mendalam bagi seorang Kanaya.
Kanaya Tsabita menerima pertunangan dari Arslan Khairul Azam karena percaya akan kesungguhan cinta Arslan yang diberikan padanya. Tapi siapa tahu diantara perjalanan cinta mereka hadirlah Rindu Anjani sang sekretaris yang berhasil mengalihkan perhatian Arslan hingga akhirnya melukai perasaan Kanaya.
Diantara gempuran luka dan mempertahankan sebuah harga diri, sosok Baratha hadir untuk menjadi tameng dan luapan rasa kecewa Kanaya pada sebuah cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Putri761, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memiliki Kanaya
Tolong yang belum cukup umur di mohon menyingkir...
"Nay... ayo naik, mau hujan ini.!" panggil Bara dengan mengiringi Kanaya yang berjalan dengan menghentak-hentakkan kaki.
Wanita yang masih kesal itu terus berjalan dengan setengah berlari. Bara terus saja membujuk istrinya dari atas motor yang melaju pelan karena suara gemuruh suara geledek sudah mulai terdengar dari kejauhan.
"Nay, nanti aku belikan bakso. Tapi kita pulang dulu!" bujuk Bara.
Suasana kota juga sudah mulai sepi. Sementara mereka masih di jalanan yang ditumbuhi pohon-pohon yang tertanam untuk penghijauan.
"Aku sudah tidak mau! Kenapa tadi tidak mau makan di tempat yang aku minta?" kesal Kanaya. Dirinya sudah mendambakan makan bakso di tempat langganannya tapi Bara malah membelokkan motornya di warung mie ayam bakso yang lebih dekat dengan rumah.
Bakso yang sudah habis dan terpaksa Kanaya memesan mie ayam, hal itulah yang membuat Kanaya kesal. Mereka sudah telanjur masuk dan duduk, oleh sebab itu tidak mungkin mereka pergi tanpa memesan makanan.
"Ayo Nay, ini sudah gerimis." kalimat Bara membuat langkah Kanaya berhenti. Dia mencari tetesan air yang beberapa saat kemudian mengenai kulit tangannya.
"Coba saja tadi kita datang ke warung bakso langgananku. Pasti kita makan bakso bukan mie ayam, Mas." Kanaya kini benar-benar merajuk hingga membuat Bara mematikan mesin motornya dan menghampiri Kanaya yang masih berdiri dengan bibir manyun.
"Coba..." kalimat Kanaya terhenti saat suara gemuruh air menghampiri.
Seketika hujan turun dengan lebat, hingga akhirnya Bara menarik lengan Kanaya agar segera naik ke atas motor.
Tubuh mereka memang langsung basah kuyup saat Bara kembali menghidupkan motornya. Tak lupa pria itu menarik tangan kecil Kanaya agar melingkar diperutnya.
Tak hanya hujan lebat, petir dan angin kencang pun membuat Bara berhati-hati mengendarai motornya. Pria itu hanya memikirkan Kanaya yang tidak tahan dengan hawa dingin.
"Nay..." panggil Bara mencemaskan keadaan Kanaya.
"Coba Mas Bara tidak menemui teman Mas dulu, kita bisa langsung ke warung Bakso dan tidak terjebak hujan seperti ini!" omel Kanaya dengan suara berteriak karena bersaing dengan suara air hujan.
"Iya-ya, Mas minta maaf." ucap Bara, kali ini dia akan membiarkan istrinya meluapkan emosi.
Tak butuh waktu lama hanya lima belas menit mereka sampai di depan rumah. Kanya turun untuk membuka gerbang. Tubuhnya sudah terlihat gemetar dengan wajah pucat.
Setelah meletakkan motornya, Bara langsung mengejar langkah lemah Kanaya yang akan masuk ke dalam rumah.
"Langsung ganti baju basahmu!" ujar Bara langsung mencarikan Kanaya handuk.
Terlihat Bara langsung melepas Kaosnya sambil mencari handuk yang sering dijemur dekat kamar mandi.
Sementara itu, Kanaya melepaskan jilbabnya dan melepas celana dan hanya menyisakan blues panjangnya.
"Mas Bara!" sentak Kanaya saat di akan berjalan menuju lemari, Bara langsung menyelenong masuk ke dalam kamar dengan membawa handuk pun tak kalah kaget saat melihat Kanaya dengan kaki putihnya.
"Hmmm a-aku akan ganti baju!" ucap Kanaya dengan suara bergetar menahan dingin. Selain itu dia juga salah tingkah karena tatapan Baratha.
Bara pun keluar kamar setelah menyerahkan handuk pada Kanaya. Entah kenapa melihat Kanaya seperti itu seolah ada yang membangunkan hasratnya.
Bara pun memilih untuk mandi agar bisa melupakan gejolak aneh dalam jiwanya. Tapi, setiap guyuran air justru bayangan Kanaya berada dipelupuk sedang bermain di peluk matanya.
"Sial, kenapa dia begitu sensual?" gumamnya dalam hati dengan mengguyur tubuhnya terus menerus.
Merasa lebih baik, Bara pun keluar kamar mandi dengan mengenakan handuk.
"Nay, aku masuk!" Bara merasa aneh saja saat dirinya harus memberi kode ketika akan masuk ke dalam rumah.
"Astaga..." Bara terlonjak kaget saat melihat Kanaya menggigil dengan memeluk lututnya didepan lemari.
Bara langsung mengendong Kanaya membawanya ke tempat tidur, membuka blusnya dengan gesit dan menyelimuti seluruh tubuh kecil itu dan langsung memeluknya erat untuk memberi kehangatan.
"Kamu sakit?" tanya Bara saat tubuh Kanaya berhenti menggigil. Kanaya pun menggeleng, meskipun tak lagi menggigil tapi dia merasa tubuhnya kaku, dan kemudian sedikit lemas.
"Satu minggu sebelum mens biasanya aku sensitif dengan suhu dingin." jelas Kanaya dengan menatap Bara.
Bara pun mengalihkan pandangannya, mata indah dengan sorot sendu itu menimbulkan gelayar aneh dalam dirinya. Tak bisa dipungkiri oleh Bara, jika dirinya menginginkan Kanaya lebih dari biasanya.
"Mas, jangan keluar lagi ya!" Kanaya menarik lengan Bara dari sela selimut. Dia susah hafal Bara yang suka keluyuran saat malam.
"Sepertinya gerimis di luar bakalan awet." lanjut Kanaya dengan wajah memelas saat Bara akan beranjak mengambil kaos.
Sekolah Bara melirik genggaman tangan kecil Kanaya di lengannya. Sentuhan itu terasa lembut di kulitnya.
Tanpa menjawab lagi, Bara menatap tajam Kanaya dan mengangguk samar. Tapi, berlahan tubuh yang memperlihatkan otot-otot di tubuhnya itu berlahan mendekat, menunduk hingga bibirnya menempel pada bibir ranum Kanaya.
Kanaya hanya mematung, jantungnya hampir meledak saat Baratha melumat bibirnya, dia juga bisa merasakan jika pria itu menarik selimut yang membungkus tubuhnya dan membuangnya.
Saat mendengar Bara membaca doa disela-sela ciuman ditengkuknya, Kanaya tak lagi bisa mengelak. Dia tahu doa apa yang di ucapkan suaminya.
Bahkan, sentuhan dan remasan lembut tangan Bara disetiap inci tubuhnya membuat Kanaya tak bisa menahan untuk tidak mendesah. Ini benar-benar sensasi pertama kali yang sangat luar biasa pada tubuhnya.
Baratha si irit bicara yang membuat orang tak menyangka jika dirinya segarang itu. Bahkan, setiap sentuhan pria itu mampu membuat Kanaya tak bisa mengendalikan dirinya.
Sentuhan Bara dan rangsangan disetiap inci tubuhnya membuat perasaan malu-malu Kanaya pun tersisihkan. Gadis itu mulai mengeluarkan ekspresinya hingga membuat Bara semakin bersemangat menyentuhnya.
"Akhhh..." desah Kanaya saat Barataha menciumi kulit perutnya dan meremas kedua gunung kembarnya dengan gemas.
"Aku masuk sekarang,ya!" Izin Baratha. Dia tahu jika ini pengalaman pertama istrinya.
Saat mendapat anggukan Kanaya, pria itu kembali bringas saat melancarkan aksinya, dia kembali memberi rangsangan pada tubuh bagian bawah yang terus saja menggeliat karena sensasi yang diberikan pria yang sudah dikuasai gairahnya.
Tak lama kemudian teriakan tertahan Kanaya membuat Bara menghentikan miliknya yang baru setengah masuk.
"Sakit." keluh Kanaya masih dengan mencengkeram punggung Bara dengan kedua tangannya.
"Tahan sebentar ya!" bisik Bara kemudian kembali mendorong miliknya hingga masuk sepenuhnya.
Bara menghentikan gerakannya sebentar saat melihat sudut mata istrinya meneteskan air mata. Kemudian dia kembali memberinya rangsangan hingga keduanya kembali terlena dalam kenikmatan.
Suara desahan memenuhi kamar mereka. Kegiatan panas itu mampu membuat keduanya melayang hingga lupa jika waktu terus berjalan.
saja Kanaya yang tak terlihat lelah, dia tetap saja menggempur tubuh indah istrinya. Kanaya seperti candu untuk Bara, wanita itu begitu sempurna untuk dipuja.
"Istirahatlah, aku akan membersihkan diri dulu!" ucap Bara dengan meninggalkan ciuman di kening istrinya. Ada perasaan bahagia saat dia memiliki Kanaya sepenuhnya.
"Sayang, ayo mandi! Kamu belum Salat Isya." titah Bara membuat Kanaya membuka matanya, melihat jam didinding yang sudah menunjukkan pukul dua pagi.
"Mas, sakit!" rintih Kanaya saat tubuhnya bergerak.
Bara pun langsung menggendong tubuh Kanaya menuju kamar mandi. Sementara Kanaya mandi, dia mengganti seprei yang sudah kotor dengan berbagai cairan.