Reynard Sutanto.
CEO termuda Sutanto Group. Konglomerat paling berkuasa se-Indonesia. Dijuluki "Dewa Bisnis" oleh seluruh dunia usaha.
Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak: tiga tahun lalu, dia divonis mandul. Selamanya.
Akibat racun yang diberikan seorang wanita dari keluarga Goh, Reynard kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Pewaris tunggal Sutanto Group... tanpa pewaris. Dia memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu selama tiga tahun, menyerah pada takdir.
Sampai suatu hari, di sebuah pesta biasa di BSD City, matanya jatuh pada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Wajah anak itu... persis seperti dirinya.
Alis tegas. Tatapan tajam. Garis rahang yang sama. Seolah seseorang mengecilkan Reynard Sutanto dan menaruhnya di tubuh balita.
Anak itu bernama **Bobo**. Dan ibunya? **Meilan Mulyadi** -- seorang single mother yang tinggal di kontrakan sempit di Serpong, berjuang mati-matian menghidupi anak kembarnya: si kecil Bobo yang jenius dan Lala yang menggemaskan.
Meilan bukan wanita biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersembunyi kecerdasan luar biasa dan keberanian yang membuat tujuh preman keok dalam satu malam. Dari nol, dia membangun kerajaan bisnis -- mulai dari resep restoran sampai brand fashion "Cantika" -- semua dengan otaknya sendiri.
Tapi masa lalunya menyimpan luka yang tak pernah sembuh: sebuah gudang tua di Jakarta Timur, satu malam yang mengubah segalanya, dan seorang pria yang wajahnya tak pernah bisa dia ingat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15: Anak-anak Masuk Sekolah
Cantika membuat uang datang lebih cepat, tetapi bagi Meilan, hal pertama yang harus berubah tetap pendidikan anak-anak.
Harmony Academy berdiri di kawasan BSD yang tenang, dengan pagar putih, halaman luas, dan ruang kelas yang tidak berbau lembap. Ketika Meilan membawa Bobo, Lala, Yan, dan Hugo ke sana, Lala menggenggam tangan Sari erat-erat.
"Lala sekolah?"
"Iya. Sekolah yang aman."
Hugo yang masih memakai plester kecil di tangan langsung mengangkat dagu. "Aku sudah pernah belajar dengan guru privat."
Yan menatapnya. "Tapi kamu belum bisa diam."
"Kamu juga terlalu diam."
Bobo berjalan di depan mereka, memegang map kecil berisi dokumen. Meilan melihat punggungnya dan menahan senyum. Anak itu tampak seperti hendak menghadiri rapat.
Hugo masih memakai topi kecil untuk menutupi rambut yang sedikit terpangkas setelah kebakaran. Ia berusaha berjalan paling depan, tetapi setiap beberapa langkah matanya mencari Lala. Yan melihat itu dan sengaja berjalan di sisi Lala yang lain.
"Aku bisa jaga diri," bisik Hugo.
"Bagus," jawab Yan. "Jaga dari sebelah sana."
Lala tidak mengerti perang dingin kecil itu. Ia hanya menggenggam tangan mereka berdua dan berkata, "Sekolah besar. Jangan hilang."
Meilan pura-pura tidak melihat Patrick yang menahan tawa di belakang.
Kepala sekolah, Pak Qiu, adalah pria tua dari Surabaya dengan kacamata tipis dan suara tenang. Ia menyambut mereka di ruang baca.
"Saya dengar Bu Meilan ingin anak-anak masuk kelas campuran usia?"
"Mereka punya kebutuhan berbeda. Saya ingin mereka diuji dulu."
Pak Qiu mengangguk. Ia memberi Bobo satu lembar bacaan panjang. "Baca pelan-pelan. Nanti Bapak tanya."
Bobo membaca sekali. Matanya bergerak cepat, tetapi tidak terburu-buru. Setelah selesai, ia meletakkan kertas.
"Sudah."
Pak Qiu tersenyum. "Coba ceritakan kembali."
Bobo mengulang hampir seluruh isi bacaan, termasuk urutan contoh dan dua kata sulit yang bahkan Dedi mungkin tidak paham. Ruangan menjadi sunyi.
Pak Qiu melepas kacamatanya.
"Berapa umurmu?"
"Tiga."
"Tiga tahun berapa bulan?"
Bobo menoleh ke Meilan.
Meilan menjawab, "Hampir empat."
Pak Qiu menatap Bobo lagi, kali ini bukan seperti melihat calon murid biasa. "Kamu suka membaca?"
Bobo berpikir. "Kalau Mama bilang penting."
"Kalau Mama tidak bilang?"
"Bobo tetap baca. Biar bisa jaga Lala."
Meilan merasakan dada kirinya menghangat dan sakit bersamaan.
Lala tidak menunjukkan kemampuan seperti Bobo, tetapi ia cepat membuat orang tersenyum. Ketika seorang anak perempuan bernama Qiara menangis karena pensil warnanya patah, Lala memberikan pensil kuning miliknya.
"Pakai punya Lala dulu."
Qiara berhenti menangis. "Nanti aku balikin."
"Tidak usah. Kuning cocok buat matahari."
Sejak saat itu, Qiara duduk di sebelah Lala.
Hugo tidak seberuntung itu. Dua anak laki-laki menertawakan tubuhnya yang bulat saat jam istirahat.
"Lihat, bola jalan."
Hugo membeku. Wajahnya merah, tetapi sebelum ia sempat membalas, Lala berdiri di depannya.
"Hugo bukan bola. Hugo teman Lala."
Yan juga berdiri, diam tetapi menatap dua anak itu sampai mereka mundur. Bobo menambahkan pendek, "Minta maaf."
Anak-anak itu akhirnya bergumam meminta maaf.
Hugo menatap Lala dengan mata berbinar. "Kamu membelaku."
"Teman harus dibela."
Yan melihat Hugo terlalu lama menatap Lala, lalu mengambil buku dan duduk di antara mereka.
Meilan melihat dari kejauhan bersama Pak Qiu.
"Anak-anak Ibu menarik," kata Pak Qiu.
"Mereka terlalu banyak melewati hal yang tidak seharusnya dilewati anak-anak."
"Tapi mereka masih bisa berbagi pensil. Itu tanda baik."
Meilan menatap halaman. "Saya tidak ingin kemampuan Bobo menjadi tontonan."
Pak Qiu memasang kembali kacamatanya. "Saya mengerti. Di sini, anak pintar tetap anak. Kami akan menyesuaikan bahan belajar tanpa mendorongnya ke depan publik."
"Dan Hugo?"
"Anak yang baru kehilangan rumah tidak perlu dipaksa terlihat ceria. Guru kelasnya akan diberi tahu seperlunya, tanpa menyebarkan detail."
Kali ini Meilan benar-benar menoleh. "Terima kasih."
"Sekolah bukan hanya tempat membaca. Kadang tempat anak belajar bahwa dunia belum sepenuhnya jahat."
Kalimat itu tinggal di hati Meilan.
Sore hari, setelah pulang sekolah, ia duduk di ruang kecil rumah sambil melihat anak-anak tertidur kelelahan. Di meja, ada formulir sekolah, tagihan, dan catatan pelatihan Cantika.
Ingatan tentang kehidupan sebelumnya tiba-tiba muncul.
Maya.
Nama itu datang seperti serpihan kaca. Sahabat terbaiknya, partner yang tahu semua kebiasaannya, orang yang ia percaya menutup punggungnya dalam operasi terakhir. Maya jatuh cinta pada pria yang salah, lalu menjual informasi Meilan demi hidup baru yang dijanjikan.
Pengkhianatan tidak selalu datang dari musuh.
Kadang datang dari orang yang pernah tahu cara membuatmu tertawa.
Meilan menutup mata sebentar.
Di dunia ini, ia tidak boleh membangun hidup hanya dengan kekuatan. Ia butuh sistem, orang yang bisa dipercaya, dan batas yang jelas. Untuk anak-anak, ia tidak boleh mati sekali lagi karena percaya buta.
Saat itu Bobo keluar dari kamar, mengucek mata.
"Mama sedih?"
"Sedikit."
"Karena sekolah mahal?"
Meilan tertawa pelan. "Bukan."
Bobo naik ke kursi di sebelahnya. "Bobo belajar cepat. Biar uang sekolah tidak rugi."
"Sekolah bukan soal rugi atau untung, Nak."
"Tapi Mama bayar."
"Mama bayar supaya Bobo bisa memilih hidup yang lebih luas."
Bobo memikirkan kalimat itu lama. "Kalau begitu Bobo belajar."
Ia turun lagi dan kembali ke kamar, meninggalkan Meilan dengan rasa hangat yang sulit dijelaskan.
Besoknya, saat menjemput anak-anak, Bobo berjalan cepat ke arahnya.
"Mama."
"Ada apa?"
"Hari ini ada anak baru."
"Lalu?"
Bobo mengerutkan kening kecilnya. "Dia terus lihat Bobo. Seperti kenal."
Meilan menatap wajah anaknya, wajah yang semakin hari semakin mengganggu pikirannya.
"Siapa namanya?"
Bobo menggeleng. "Belum tahu."
Di balik pagar sekolah, seorang anak perempuan yang tidak dikenalnya berdiri memegang tas mahal. Anak itu melihat Bobo lagi, lalu berbalik ketika pengasuhnya memanggil.
Meilan menggenggam tangan Bobo sedikit lebih erat.
Siapa yang bisa mengenali Bobo?