NovelToon NovelToon
Dendam Atlana

Dendam Atlana

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Teen School/College / Bullying di Tempat Kerja / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romansa / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:507.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aquilaliza

Dibully bukan hal yang baru bagi Atlana. Hidupnya dipenuhi kejadian buruk. Hingga suatu saat, Atlana dibully sampai nyawanya hampir melayang. Namun, Tuhan masih berbaik hati padanya. Dia diberi kesempatan hidup setelah melawati jurang maut. Dan dia berjanji, akan membalaskan semua penderitaan yang dialaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquilaliza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketahuan Delon

Atlana dan Yolan berjalan bersamaan melewati lorong kelas. Beberapa pasang mata siswa siswi terus menatap ke arah mereka. Terdengar bisik-bisik, namun Atlana maupun Yolan mengabaikan.

Atlana tahu, pasti mereka sedang membicarakan dirinya yang tiba-tiba bisa seakrab itu dengan wanita yang memiliki pengaruh di sekolah mereka. Terlebih lagi, dia ibunya Regan, cowok dengan segala daya tarik.

"Makasih ya, Ma. Mama udah nyempatin waktu buat—"

"Mama?"

Langkah santai Atlana dan Yolan seketika terhenti mendengar suara seseorang. Keduanya berbalik dan mendapati Delon berdiri menatap mereka.

"Mama?" Delon kembali mengulang pertanyaannya sambil berjalan mendekati Atlana. "Kamu panggil Mama Regan, Mama?"

Atlana menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis. "Iya. Memangnya kenapa?"

Delon mengerutkan keningnya. Atlana terlihat berbeda. "Gak. Tapi, bukannya Regan sering jahatin kamu? Kenapa kamu dekat sama Mamanya?"

Atlana terkekeh kecil. "Sejak kapan Regan jahatin gue?"

"Gue?" ulang Delon bingung. Kenapa Atlana menyebut dirinya gue? Apa gadis ini sudah dipengaruhi Regan? Delon menggeleng pelan. Tidak. Atlana tidak mungkin dengan mudah dipengaruhi. "Kamu kenapa sih? Kamu berubah."

"Gak ada yang berubah. Gue, masih Atlana yang sama."

"Sayang, Atlana. Kamu kayak gini karena marah sama aku kan? Kamu belum maafin aku soal kejadian semalam? Aku benar-benar —"

"Bukan soal semalam," potong Atlana. "Ayo, Ma. Gak perlu dengerin dia." Atlana meraih tangan Yolan, hendak membawa wanita itu pergi. Tapi, Delon dengan cepat menahan tangannya. Namun, Atlana dengan cepat menepis tangan tersebut.

"Jangan pernah sentuh gue!" tegas Atlana dengan sorot dingin tak suka.

"Kamu kenapa sih, Atlana? Kenapa kamu berubah gini? Kamu bilang kamu cinta sama aku. Kenapa sekarang berubah?"

"Kapan aku bilang cinta? Saking banyaknya cewek yang bareng sama lo buat lo lupa, mana yang bilang cinta dan mana yang enggak."

Delon terdiam. Ya, sejak Atlana sadar dari komanya, dia tidak pernah dengar lagi kata-kata cinta dan sayang yang terucap dari mulut Atlana untuknya. Tapi dia tidak rela Atlana berubah seperti ini.

Delon hendak mengatakan sesuatu. Tapi, niatnya ia urungkan ketika melihat Regan berjalan ke arah Atlana dan sang Mama. Cowok itu berhenti tepat di sebelah Atlana. Menatap Mamanya sejenak, kemudian menatap Atlana. Tangannya terulur, merangkul posesif pinggang Atlana. Tak lupa pula ia membubuhkan satu kecupan di puncak kepala Atlana. Membuat mata Delon melotot tak percaya.

"Lo berdua...." Cowok itu tak mampu melanjutkan ucapannya ketika melihat seringaian tipis di bibir Atlana. Terlebih lagi, di sebelah gadis itu terdapat Regan yang menatapnya tajam dengan raut dinginnya.

"Aku gak nyangka kamu sama Regan. Kamu bohongin aku, Atlana."

"Gue cuman ingetin lo soal perlakuan lo dulu ke gue. Kita imbang."

Delon mengeraskan rahangnya. Atlana mempermainkannya. Dia benar-benar sangat kecewa. Dia rela melepas Dara dan Yura demi Atlana. Tapi, apa yang dia dapatkan sekarang? Atlana malah menghianatinya. Lebih tepatnya sudah menyusun rencana dengan matang untuk menghancurkannya.

Emosi Delon semakin naik ketika ia ingat sudah menceritakan banyak hal tentang dirinya pada Atlana. Dia menatap nyalang Atlana, seolah ingin membunuh gadis itu.

"Gue bisa keluarin bola mata lo sekarang!" ucap Regan.

Delon mengalihkan tatapannya ke arah Regan, kemudian mendengus. Masih teringat jelas bagaimana dirinya terkapar lemah di rumah sakit setelah dihajar habis-habisan oleh Regan. Dia tidak mungkin melawan cowok itu sekarang.

Dia berdecih, lalu kembali mengalihkan tatapannya pada Atlana. "Kalau sampai apapun yang lo tau soal gue bocor ke orang-orang, gue gak akan segan hancurin lo! Sekalipun keluarga Regan berdiri di pihak lo!" ancam Delon lalu berbalik meninggalkan mereka.

Atlana dan Yolan terdiam. Sementara Regan, cowok itu menarik sudut bibirnya membentuk seringai tipis yang tak disadari oleh siapa pun. Detik berikutnya, dia menghitung mundur dengan suara yang begitu pelan, namun terdengar oleh dua perempuan disampingnya.

"Tiga, dua, satu."

Drtt.... Drrtt.... Drrtt....

Bunyi handphone Delon bersamaan dengan berakhirnya hitungan Regan. Langkah Delon terhenti membuat Atlana dan Yolan yang sempat menatap Regan mengalihkan tatapan mereka ke arah Delon.

Pembicaraan Delon dan si penelpon memang tak terdengar. Tapi, dari reaksi Delon yang langsung berlari cepat setelah menerima panggilan telpon tersebut membuat mereka yakin, terjadi sesuatu pada cowok itu.

"Regan?" Yolan menatap putranya menyelidik. Entah kenapa, dia merasa ini ada hubungannya dengan sang putra.

"Regan sama Nana antar Mama ke depan," ucapnya, tak ingin menanggapi kecurigaan sang Mama. Melepas rangkulannya di pinggang Atlana, Regan berpindah ke tengah dan beralih merangkul pundak sang Mama. Dan sebelah tangannya yang bebas ia gunakan untuk menggenggam tangan Atlana. Membuat gadis itu tersenyum, begitu juga sang Mama, Yolan.

***

Setelah mengantar sang mama ke parkiran sekolah, Regan dan Atlana langsung menuju rooftop sekolah. Keduanya duduk bersama dengan Atlana yang memakan coklat yang dibelikan Regan untuknya.

"Menurut kamu, siapa yang nelpon Delon sam—"

"Jangan sebut nama dia," potong Regan. Dia duduk bersandar sambil memainkan rambut Atlana yang terurai.

Atlana terkekeh pelan lalu berbalik. "Kamu cemburu?" tanyanya dengan senyuman yang tak memudar.

"Hm," balas Regan. Matanya tak lepas menatap gadis di depannya. Regan menegakkan tubuhnya, sementara tangannya beralih menyentuh pinggang Atlana.

Melihat Regan yang tak henti menatap dirinya yang terus memakan coklat, membuatnya berinisiatif menawarkannya pada Regan.

"Kamu mau?" Atlana menyodorkan batang coklat yang belum sama sekali dimakannya ke arah Regan.

"Aku mau dari mulut kamu," ucap Regan yang langsung menarik tengkuk Atlana, menempelkan bibirnya ke bibir Atlana, lalu bergerak memindahkan coklat dari mulut Atlana ke mulutnya.

"Anjing! Mata gue ternodai!" Yudha yang baru saja tiba di rooftop mengumpat keras dan langsung membalikkan tubuhnya.

Hal yang sama terjadi pada Jovan. Bedanya, cowok itu tak mengumpat dan langsung berbalik.

"Kalau mau cup-cupan jangan disini, Gan! Kasian gue sama Yudha," ujar Jovan tanpa berbalik.

Namun Regan tak peduli. Dia baru berhenti setelah merasa cukup. Sementara Atlana, pipinya sudah semerah tomat akibat dipergoki seperti ini. Dengan cepat dia memeluk Regan dan menyusupkan wajahnya di dada bidang lelaki itu.

Regan sedikit tersenyum. Dia meraih hoodienya lalu menutup kepala Atlana. Seolah membantu Atlana menyembunyikan wajahnya yang memerah malu.

"Udah belum sih, Gan?" tanya Jovan. Dia sangat ingin berbalik, tapi takut Regan belum selesai.

"Iya, Gan. Lo yang lakuin, gue yang malu njir!" sahut Yudha.

"Apa?" Suara rendah Regan terdengar, membuat Jovan dan Yudha bernafas lega. Kedua cowok itu berbalik dan fokus mereka langsung tertuju pada Atlana yang berada di pelukan Regan, dengan kepala yang tertutup hoodie milik Regan.

Hingga tiba-tiba, terbesit ide jail di otak mereka untuk menggoda Atlana.

"Ekhm! Bu bos kenapa? Sakit?" tanya Yudha, membuat tatapan tajam Regan tertuju padanya. Namun, Yudha mengabaikannya.

"Lo gak tau, Yud? Bu bos sakit gara-gara teman lo, Regan," ucap Jovan.

"Gue gak tau, Van. Ayo Bu bos, sama gue aja. Dijamin sehat wal af—"

Plak!

Jovan langsung menggeplak lengan Yudha. Tatapan Regan sudah tak biasa. Dia harus menghentikan Yudha segera.

"Lo mau mati?!" Suara rendah Regan kembali menyapa indra pendengaran Yudha dan Jovan. Berani-beraninya cowok itu mengajak gadisnya.

"Hehehe.... Canda gue, Gan. Galak bener!" ujar Yudha cengengesan. Setelah itu, dia meraih lengan seragam Jovan. "Ayo Van, balik. Gak baik ganggu orang yang lagi berduaan. Nanti lo dikira setan."

"Anjing setan! Lo setannya!" kesal Jovan lalu pergi meninggalkan sahabatnya itu, yang kemudian langsung bergegas mengikuti Jovan.

1
Indra Wati
saya suka karya anda, sangat bagus bagus, di tunggu karya baru2nya😍
Night Watcher
semakin bikin kesal.. mending left aja drpd bikin erosi
Riyani Yahya
sedihx,mataku terkena bawang 🤣🤣🤣
Anonim
Benci dgn karya bukan happy ending
gian 305
cowok lebay... 🤣
Nana Niez
emang si leo nulis apa?
Nana Niez
males sm Atlanta jdi songong,,, hrsnya konfirmasi dl am regan kl mau bls Delon,, jgn mutusi sdri,,
SSDY
bagus alur ceritabya
BukanPenulis_-
/Smile/
Erwin Ervianti
thor bikin ceritanya ghea dan erteza dong😊
Siti Masitah
tak pikir baju2nya foto2 di bakar cuma gitu doang..ciiih
Saya Sayekti
masih blm Badas,msh lemot... udah tau tu mobil ppnya kok ya d biarin aja
Casudin Udin
Luar biasa
Mama Nakal
hmm ..makin. seru nih
Erni Fitriana
mampir thor
Tok Ummi
Jalan ceritanya benaran menarik. Aku jadi ingin baca lagi dan lagi...ngak sabar menunggu apa kisah selanjutnya.👍
Fayra
luar biasa
Fayra
mampir baca thor🙏
Sumarti Marti
kadal buntung juga si melon
Night Watcher
gaya sok dingin, tp bertele2..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!