Mati kemudian hidup kembali namun bangun di tubuh seseorang yang berbeda.
Clarissa hidup sebagai seorang ratu bernama Meira.
"Skandal konyol macam apa ini" Gumam Clarissa.
"Yang Mulia, anda berubah sepenuhnya. Anda tidak seperti yang dulu. Terlihat dari kekejaman yang anda buat sekarang!" Ucap Rodiah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asyera Kesita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penginapan
Setelah mereka lama berkuda mencari penginapan, Akhirnya mereka menemukannya juga. Penginapan yang sangat mewah. Tapi, tunggu! Mengapa ada penginapan mewah di tengah hutan yang membara?
Tanpa berpikir lagi, Meira memutuskan untuk masuk saja. Karena, sudah 5 jam mereka mengembara. Rodiah dan para pengikut lainnya ikut masuk setelah perintah Meira.
"Disana ada kamar yang Mewah, Yang Mulia. Apa kau mau beristirahat disana?" Tanya Rodiah
"Aku dikamar biasa saja. Kita disini bukan untuk berlibur. Kamar kalian harus ada disebelahku. Aku hanya ingin menghindari bahaya buruk yang akan mengenaiku,"
"Rodiah, kau satu kamar denganku! bukankah kita sahabat?"
Dengan tak enak hati, Rodiah akhirnya menuruti saja kemauan Meira. Daripada kepalanya yang menjadi sasaran?
"Oh, ya. Rombongan Naomi dan dayang lainnya bagaimana?" Tanya Meira sebelum ia melanjutkan perjalanannya memesan kamar.
"Mereka menyusul, Yang Mulia. Merrka akan membawa tambahan barang yang kurang." ucap pengawal.
Meira pun melanjutkan langkahnya untuk memesan kamar. Pemilik penginapan ino adalah seorang pak tua dengan istri 3. Kepalanya botak dan badannya kurus. Bayangkan dia dengan jas dan dompet tebalnya! Para remaja di masa depa sangat mengidamkan ini, hihi...menjijikan.
Daripada Meira berfikir yang tidak tidak. Lebih baik ia memesan saja langsung kamarnya. Walaupun, pak tua itu menatapnya genit tetap saja Meira memaksakan dirinya untuk membayar.
"Kau banyak memesan kamar, Manis. Kira kira untuk siapa?" Tanya pak tua itu. Ia sedang digerayangi oleh ketiga istrinya. Ralat 5. Oh god....2 istrinya datang lagi dengan perhiasan yang begitu bergelimang.
"Untuk teman temanku!" Meira mengubah nadanya menjadi agak sinis. Kode kalau ia tak suka basa basi pak tua itu.
"Kau sangat murah hati. Ingin sekali aku jadi temanmu." Ucap pak tua itu setelah Meira sudah selesai membayar semua pembayaran yang ada. Meira hanya berdiam saja. Raut wajahnyalah yang berubah. Menjadi lucifer.
"Kau sangat menggemaskan ketika marah~" ucapan pak tua itu terpotong karena Meira sudah meninggalkannya.
Meira yang telah pergi. Berkesal dalam hatinya. Apakah pak tau itu tak mengenal Meira sebagai ratu? Apa ia tak takut di penggal kepalanya? sungguh menyebalkan! lihat saja besok akan Meira tunjukan! ****** kau pak tua.
***
"Kenapa dikamar ini ada ikan sih!" kesal Meira. Ia sudah memprediksikan bahwa tidurnya tak akan tenang.
"Ikan ikan. Kalian harus tenang ya. Aku snagat lelah, jadi mau tidur. Bisa minta tolongkah?" Mohon Meira pada ikan itu.
"Wah, kau bisa berbicara pada kami! sungguh hebat! kau snagat cantik dan berwibawa! tenang saja kami tak akan ribut,"
"Tapi kami akan membawakan lagu surga"
ikan ikan itu mulai bernyanyi. Merdu sekali. Membuat kantuknya datang. Sekali lagi, hanya Meira yang dapat mendengarkan nyanyian ikan ikan itu sedangkan Rodiah tidak.
"Kalian ikan ikan yang berbakat. Aku ingin membawa kalian pulang!" Dalam tidurnya Meira menggumamkan hal tersebut, sehingga Rodiah yang ada di sebelahnya Mengira bahwa ratunya sedang mimpi berenang di laut.
***
Akhirnya pagi juga. Meira sudah tak sabar ingin pergi. Namun sebelum itu, ia ingin mengambil ikan ikan itu untuk di bawa ke istana. Supaya ia bisa sering mendengar nayanyian.
"Kalian akan kubawa ketempat dimana kalian akan bertemu teman teman kalian yang sangat banyak!" Meira ingat bahwa di dekat istana ada sebuah danau buatan. walaupun buatan tapi sangat luas dan dalam.
"Aku sudah tak sabar. Terimakasih Nona" ucap ikan ikan itu serantak.
"Imbalan padaku adalah kalian harus bernyanyi setiap aku minta!" Ikan ikan itu pun terlihat senang.
"Yang Mulia, berbicara pada siapa?" Tanya Rodiah ketakutan.
"Sama hantu" Meira pun lekas pergi diikuti Rodiah yang ketakutan.
***
Meira pun pergi tanpa basa basi pada Pak tua itu. Entahlah, ia sedang malas. Padahal niatnya adalah ia ingin memberi pelajaran pada pak tua itu. Ketika ia melewati lorong yang ke 4, ia melihat sepasang kekasih yang tidak senonoh. Namun, yang membuat ia menghentikan jalannya adalah ia melihat sosok yang ia kenal.
"Kenapa disini ada Vartan!" Tanya Meira.
"Juga ada...Sarah,"
"Dasar lelaki! katanya suka, cinta, dan sampai mengejar dan mencari ketika aku pergi. Toh, ternyata dia sama saja dengan mantanku yang dulu. Bullshit.." Gumam Meira dan melanjutkan langkahnya.
Vartan yang sadar akan itu mendorong Sarah. Ia benar benar akan kehilangan kesempatan mendapatkan Meira.
"Kenapa aku begini! Meira datang disaat yang tidak tepat!" Vartan mengerang kesal. Ia menjambak rambutnya. Lalu menunjuk Sarah.
"Kalau saja kau tak menggodaku! tak akan jadi seperti ini!" Tunjuk Vartan.
"Kau saja yang tergoda. Lagipula Meora tak akan peduli!" Ucap Sarah membuat Vartan semakin emosi.
"Tutup mulutmu, ******!" Sarah yang mendengar itu matanya berkaca kaca. setelah itu Sarah pergi meninggalkan Vartan.
"Aku akan membuat Meira semakin membencimu!"
***
Bagaimana?
lumayan panjang bukan.
ini part kutulis jam 12 malam.
Vote sama likenya dong.
jangan lupa komennn
kurang menghargai karyanya sendiri dan pembacanya ..hmm..chayoooo..