➦➣ISTRI RASA DEPKOLEKTOR 2↻
☔︎︎_FAV, LIKE, COMMENT_☔︎︎
🧨NO BOOM LIKE!🗡
Mencintaimu adalah kebahagiaan sederhana, tetapi memilikimu tuk jadi duniaku. ~Reyhan Aditya.
Rasa ini seperti baru bagiku, rindu yang membelenggu tak tau tuk siapa. Dia atau seseorang yang tak mampu ku ingat. ~ Asma.
Kamu hanya milikku, tataplah disisiku hingga akhir napasku. ~ Kendrick Al Zafran.
Antara rindu dan belenggu dalam cinta semu, kisah lalu merajut asa dalam penantian—perjuangan sang suami menyadarkan rembulan malamnya.
Bak kupu-kupu tak menemukan jalan pulang, langkahnya tertatih mengharapkan dekapan hangat sang kekasih halal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30#Hotel Pertemuan
Kesepakatan telah dilakukan, baik Rey maupun Bagas akan melakukan tugas masing-masing. Kedua pria itu tahu bahwa perjuangan kali ini pasti lebih berat sehingga tidak mungkin untuk berjalan sendirian dalam arti sebenarnya. Kenyataan yang tidak akan berubah yaitu saling support satu sama lain.
Waktu berlalu begitu cepat hingga tak terasa dua hari telah berlalu. Sinar mentari pagi menerobos celah tirai nan panjang menjuntai. Cahaya keemasan yang mengusik ketenangan dalam buaian mimpi semalam. Perlahan mengerjap seraya mengangkat tangan menutupi wajah menghalau sinar yang menyilaukan mata.
"Kenapa sudah pagi? Baru juga tidur." gumamnya enggan beranjak dari posisi ternyamannya tetapi ia ingat akan janji yang sudah dibuat sehingga melakukan peregangan tangan dan kaki. "Butuh pijat kali, ya. Pegel pake banget."
Bagaimana badannya tidak sakit? Jika perjalanan selama beberapa jam diterjang tanpa istirahat. Padahal jadwal tugas menumpuk tapi masih menerjang kesibukan demi memenuhi janji yang sudah diucapkan. Bukan soal janji saja karena alasan ia di tempat asing sebagai seorang pendukung tanpa berpangku tangan.
Tak ingin berlama-lama sibuk menggeliat ke kanan, lalu ke kiri. Pemuda itu loncat dari atas ranjang, langkah kaki memasuki kamar mandi yang memang ada di dalam kamar. Namanya juga hotel, jadi fasilitas bisa dijamin memadai tanpa harus bersusah payah. Suara gemericik air di dalam sana terus mengalir, sedangkan di depan pintu seorang gadis cantik dengan pakaian tertutup tengah berbincang bersama salah satu bellboy.
"Baik, ini sudah cukup. Terimakasih, silahkan Nona masuk." Si Bellboy membukakan pintu kamar pelanggannya yang baru masuk pukul tiga pagi, kemudian membiarkan si gadis yang menyuap ia dengan beberapa lembar uang masuk ke kamar tersebut.
Tentu saja setelah memastikan kondisi aman. Terlebih lagi, ia tahu bahwa CCTV di lorong tersebut baru saja rusak seminggu yang lalu. Jadi semua aman terkendali. Bellboy bergegas pergi meninggalkan lorong kamar hotel lantai dua dengan senyuman lebar yang bersuka ria mendapatkan uang tambahan untuk modal kencan nanti malam.
Sementara di dalam kamar, gadis itu melepaskan mantel, topi, kacamata dan juga tas jinjing yang sangat mencolok. Agak gimana dengan penampilan nona sosialita yang sengaja ia kenakan demi melakukan penyamaran sempurna. Ribet sih tapi hanya itu yang bisa dilakukan agar terbebas dari pengawasan sang kekasih bayangan.
"Kamarnya cukup nyaman tapi di mana orangnya?" tanyanya pada diri sendiri seraya menajamkan pendengaran.
Suara gemericik air dari dalam kamar mandi mengalihkan perhatiannya. "Oh lagi mandi, ya udah mendingan aku coba cari hiburan dulu."
Menunggu itu paling membosankan tetapi ia juga tidak Ingin mengeluh. Lagi pula sekarang sudah bersama jadi semua pasti akan baik-baik saja. Penantian selama selama belas menit hanya dihabiskan dengan sibuk memainkan ponsel meski hanya sekedar melihat apa yang sudah lama tidak pernah dia lihat.
Ia juga memeriksa beberapa hal yang menurutnya cukup penting untuk kembali diamati hingga terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Kemunculan seorang pemuda yang hanya mengenakan handuk di bagian bawah dengan rambutnya yang basah meneteskan sisa air.
Pemuda itu masih belum menyadari keberadaan si gadis yang duduk di sofa. Gadis yang melirik ke arah si pemuda tetapi kembali fokus memainkan gawai. Ia tak mempermasalahkan apapun tapi ketika tak sengaja melihat handuk itu siap dilepaskan ...
"Nau, ganti di kamar mandi, bukan disini." ucap si Nona dengan nada suara sedikit dikeraskan, membuat si pemuda menoleh ke arahnya. "Gak perlu melotot juga kali, buruan deh, aku laper tau."
"Kok elo udah di sini? Gimana bisa masuk? Pintunya gue kunci loh." Naufal yang merasa bingung justru menghentikan pergerakannya. Ia penasaran kenapa sang kakak sepupu sudah duduk manis bermain ponsel di dalam kamarnya.
Bukannya menjawab, Fay hanya tersenyum lalu tak mempedulikan sang adik sepupu. Gadis itu tak ingin bicara lebih lanjut dengan pemandangan yang memang ia sendiri sudah terbiasa tapi setelah menjalin hubungan dengan Bagas, maka ia harus menjaga pandangannya. Meski itu dengan saudara sendiri.
Bukan hal yang aneh, seperti kebiasaan Nau yang suka tidak kontrol di saat sudah di kamar sendiri. Pemuda itu terlalu santai yang membuat bunda seringkali mengingatkan untuk mengunci pintu kamar. Sayangnya Nau hanya mengiyakan tanpa melakukan. Gemas sih tapi ya adanya begitu.
"Oke, gue ganti dulu. Fay tunggu di sini tapi sekalian pesenin gue sarapan ya." tukas Nau yang mengerti bagaimana Fay, lalu bergegas mengambil pakaian ganti dari dalam tas. Kemudian berlari kembali memasuki kamar mandi.
Sementara Fay terkekeh setiap kali melihat tingkah Nau yang seperti anak kecil. Ia juga tak ingin sang adik sepupu yang baru datang untuknya kelaparan. Sehingga dia sengaja sudah menyiapkan bekal untuk sarapan bersama. Dikeluarkannya dua kotak makan dari dalam tas jinjing.
Fay sengaja menyiapkan makanan yang bisa tahan lama yaitu nasi goreng. Meskipun ia sendiri kesulitan untuk menikmati makanan tersebut, setidaknya itu lebih baik dibandingkan ia harus menyiapkan masakan yang rumit. Penantian selama lima menit pun berakhir.
Nau ikut duduk di sofa, keduanya duduk saling berhadapan tetapi bukan mengobrol hal yang memang menjadi tujuan mereka. Kedua saudara itu memilih menikmati sarapan terlebih dahulu agar bisa memikirkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Sesi sarapan dengan ketenangan tanpa ada obrolan meskipun itu sekedar basa-basi.
"Fay, elo, belum jawab pertanyaan gue. Gimana critanya, elo bisa masuk ke sini." Nau menatap sang kakak sepupu serius tetapi tangannya sendiri sibuk menutup kotak makan yang baru saja dihabiskan.
Fay juga melakukan hal sama tetapi isi makanannya masih tinggal separuh. "Gampang saja, Nau. Asal kamu tau, hotel ini rekomendasi yang baik kalau cuma buat semalem tapi sayang sekali para penghuninya bisa mudah disuap."
"Jadi, maksud elo, tadi bayar salah satu pelayan cuman buat masuk ke kamar ini?" tanya Nau memastikan pernyataan jawaban sang kakak sepupu.
Fay yang tidak ingin menutupi apapun hanya mengangguk tanpa ragu membuat Naufal merasa heran dan hanya bisa geleng-geleng kepala. Sejak kapan kakak sepupunya bisa bertindak seperti itu? Dunia baru mengubah atau justru memperbaiki? Padahal dulu selalu bertindak mencerminkan dewasa tetapi kini sudah ada taktik yang menurut ia sendiri baik tetapi ada buruknya juga.
Gelengan kepala Nau pasti memiliki pertanyaan yang tersimpan tapi tidak diungkapkan. Pemuda itu pasti mengira perbuatannya sudah tidak etis tapi situasi mengharuskan ia berbuat hal di luar kebiasaan normal. Apalagi saat ini setiap langkah pasti diawasi.
"Nau, elo nggak usah mikir aneh-aneh deh." Fay menatap adik sepupunya serius. "Apa yang aku lakukan cuma biar bisa kesini ketemu elo, please nggak usah ceramah dulu. Aku cuma mau kita selesaikan masalah ini secepat mungkin."
"Situasinya semakin buruk ya? Gue ambil laptop dulu." Pemuda itu beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri ranjang. Dimana tasnya ada di ujung kanan tempat tidur.
Pertemuan kali ini, membuat Nau dan Fay duduk bersama mengobrol panjang kali lebar tanpa mengingat waktu. Dimana mereka mendiskusikan semua aspek dari clue pencarian sang kakak online. Sementara di tempat lain, tepatnya di sebuah kediaman nan megah sedang berlangsung sebuah persiapan acara akbar.
Persiapan baru mencapai tahap tiga puluh persen sehingga masih belum terlihat akan jadi apa. Di antara warna bunga yang indah, tatapan mata seseorang menginginkan semua itu segera berakhir. Ia mengharapkan semua akan berjalan sesuai rencana, meski saat ini hatinya semakin gelisah menentu.
Tiba-tiba ada tangan yang menepuk pundaknya membuat dia menoleh ke belakang. Tatapan mata tegas, tajam, perlahan meredup tak kuasa menutupi rasa takut yang kian menyerang hati dan pikirannya. Jangankan untuk berkata kebohongan, bibir bahkan kelu tak ingin digerakkan.
"Jika hatimu saja ragu, lalu untuk apa meneruskan semua ini? Kita memiliki hati untuk menunjukkan jalan bukan menuntut jalan. Pikirkan sekali lagi sebelum semuanya terlambat." ucap seseorang yang sangat ia hormati dan sayangi tetapi ia enggan untuk menerima nasehat itu.
"Aku tidak akan melepaskannya." Hati selalu berkata cinta itu hanya untuk dirinya saja. "Apalagi membiarkan dia pergi dari hidupku. Bagaimana aku memisahkan detak jantung yang hidup di dalam jiwaku? Aku hanya ingin memiliki dengan cara yang benar dengan pernikahan."
Aku tahu suatu saat nanti dia bisa menganggap cintaku hanya kekejaman tapi hubungan baru akan membawanya pada ikatan yang pasti menjadi pertimbangan.~lanjutnya berkata dalam hati.
.
.
.