Gwiyomi Allura, wanita yang kesuciannya harus terenggut oleh pria yang tidak dikenal dan meninggalkannya begitu saja. Ia hancur dan kehilangan seluruh masa depannya saat dirinya dinyatakan positif hamil sebelum menikah.
Hingga uluran tangan Hazel datang dengan sukarela mau menikahinya meski tahu dirinya sudah ternoda.
Lantas, siapakah yang sebenarnya telah menghamili Gwiyomi?
******
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN SUBSCRIBE YA KAK UNTUK MENDUKUNG KARYA AUTHOR!
Follow Ig : putriaayu_98
FB : Putria R.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelahiran Sang Pewaris.
Rasa sakit kontraksi yang dialami Gwiyomi semakin lama semakin menjadi-jadi. Semakin bertambahnya bukaan jalan lahir, semakin sering pula rasa sakit itu menyerang. Gwiyomi terus berusaha sadar meski sejatinya ia sudah tidak kuat lagi.
"Gwi, hei ... aku bersamamu, Gwi." Hazel mendekati Gwiyomi, ia menggenggam tangan wanita itu dengan lembut.
Gwiyomi spontan membuka matanya, rasa sakit kontraksi itu semakin bertambah sakit saja saat ia melihat wajah ba ji ngan ini. Pria yang sudah menghancurkan kehidupannya, kini justru dengan penuh percaya diri berdiri di hadapannya.
"Pergi! Aku tidak mau melihatmu disini! Aduh ... Suster, usir pria ini suster. Mama ..." Gwiyomi berteriak keras memanggil siapapun yang bisa mengusir Hazel dari hadapannya, ia menangis semakin kencang karena teringat akan apa yang sudah dilakukan Hazel.
"Gwi, aku mohon ..." Hazel memandang Gwiyomi dengan tatapan memelas nya.
"Tidak! Suster, aku mohon usir pria ini dari sini!" Gwiyomi kian histeris ia mendorong Hazel dengan keras agar menjauh darinya.
"Nona, Nona tolong jangan seperti ini." Suster yang ada disana pun ikut menenangkan Gwiyomi yang terus menjerit histeris.
"Aku mau pria ini pergi!" Gwiyomi tetap kekeh dengan pendiriannya, ia benar-benar tidak mau melihat wajah Hazel karena pria itu mengingatkannya pada malam menyakitkan itu.
Karena Gwiyomi terus histeris, akhirnya Hazel memutuskan untuk keluar dari ruang bersalin dan digantikan oleh Bella. Wajah Hazel sangat lesu, semuanya sudah benar-benar hancur tidak tersisa. Rahasia yang ia simpan dalam-dalam akhirnya terbongkar dan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
Hazel mengingat semua kejadian malam itu, dimana ia dengan sangat sadar telah menodai Gwiyomi hanya karena nafsu be jat yang tengah menguasai dirinya.
Flashback On.
"Hazel, lu mau kemana sih? Katanya kita mau nyewa kamar?" Viona yang malam itu menjadi teman kencan Hazel terlihat sangat kesal karena Hazel membatalkan rencananya, padahal saat itu dia sudah terpancing karena ciuman panasnya dengan Hazel.
"Next time aja ya Babe, Mama aku nelpon, katanya aku di suruh pulang," ucap Hazel mencari-cari alasan untuk membuat Viona mengerti.
Hazel dan Viona sudah menjalin hubungan cukup lama, tapi karena Hazel berada di Surabaya, mereka jarang bertemu dan biasanya akan menghabiskan waktu diakhir pekan saja. Hazel waktu itu masih menjadikan Viona wanita pemuas nafsunya jika sedang berada di Jakarta, jika di Surabaya akan lain ceritanya. Banyak wanita yang suka rela membuka kakinya untuk Hazel dengan cuma-cuma, sedangkan Viona adalah wanita yang pertama kali Hazel renggut kesuciannya.
Oh ralat, bukan pertama kalinya bagi Hazel. Sudah banyak wanita yang suka rela menyerahkan tubuhnya untuk Hazel dengan modal rayuan cinta dan status hubungan pacaran.
Ya, Hazel memang sudah terbiasa dengan kehidupan yang bebas. Ia menganggap wanita hanya sebagai alat untuk kepuasannya, tidak ada cinta atau perasaan lebih, yang ada hanya nafsu semata diusia muda yang begitu menggelora.
Malam itu Hazel menggagalkan rencananya dengan Viona bukan tanpa alasan, ia tidak sengaja melihat Gwiyomi ditarik oleh seorang pria. Hazel tentu langsung waspada dan berniat membantu wanita itu. Apalagi hubungannya dengan Gwiyomi sangat dekat sudah seperti saudara.
Namun, entah setan apa yang merasuki Hazel malam itu. Melihat tubuh tidak berdaya Gwiyomi yang tergeletak di lantai kamar mandi, justru memancing nafsunya hingga ia memperkosa Gwiyomi dalam keadaan tidak sadar.
"Apa yang sudah aku lakukan?" Hazel sangat panik saat tahu jika Gwiyomi masih perawan.
"Jika semua keluarga tahu, aku pasti mati, aku tidak boleh membiarkan hal itu terjadi."
Rasa takut yang teramat dalam membuat ia cepat-cepat memakaikan baju kembali kepada Gwiyomi. Ketika wanita itu terbangun, ia bersikap seolah tidak terjadi apapun.
Flashback Off.
Hazel mengusap wajahnya kasar, matanya berkaca-kaca mengingat bagaimana sikapnya yang sangat menjijikan itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kalian bertengkar?"
Hazel tersentak saat mendengar suara Axel, ia lupa kalau Papa mertuanya itu masih berada disampingnya. Hazel melirik kearah lain, sudah tidak ada Rain disana menandakan jika pria itu sudah pergi.
"Hanya terjadi kesalahpahaman kecil Pa," sahut Hazel tidak berani untuk mengakui kesalahannya.
Axel mengerutkan dahinya, ia tidak percaya jika tidak terjadi apapun. Ia sangat kenal putrinya, Gwiyomi tidak akan sangat marah jika orang itu tidak memancingnya sampai ke ambang batas kemarahan. Axel lalu mengambil ponselnya, ia mengetikan pesan pada Bram untuk menyelidiki apa yang sudah terjadi.
Hampir satu jam Hazel dan Axel diam saja menunggu Gwiyomi melahirkan, karena Ayah dan Ibu Hazel masih berada di Singapura, Jofan sebagai Paman yang mewakilkan untuk menemani Hazel.
"Apa yang terjadi? Kenapa Gwi lahirannya lebih cepat? Bukannya belum waktunya?" Jofan langsung bertanya dengan wajah herannya.
Axel hanya mengangkat bahunya acuh, ia membuka ponselnya karena ada notifikasi masuk dari Bram. Sebuah video yang menampilkan saat Hazel dan Gwiyomi bertengkar. Ternyata tadi ada orang yang sengaja merekam kejadian itu.
Axel ingin langsung memutarnya, namun tiba-tiba terdengar suara lengkingan tangis bayi yang pecah di dalam ruangan.
"Syukurlah, bayinya sudah lahir. Selamat Haz, kamu sudah menjadi Ayah." Jofan langsung memberikan pelukan hangat pada keponakannya.
Hazel hanya bisa mematung saat mendengar tangis bayi itu. Tubuhnya seperti bergetar karena tidak percaya jika semua ini nyata.
Tidak lama kemudian, Bella keluar dan wajah yang lega namun juga terharu. Bella langsung memeluk Axel dengan menangis haru.
"Kenapa menangis? Gwi baik-baik saja kan?" Tanya Axel mengelus punggung Bella dengan lembut.
"Dia baik-baik saja, dia sudah menjadi Ibu dari seorang anak laki-laki yang sangat tampan," ucap Bella masih dengan tangis harunya.
"Anak aku laki-laki, Ma?" Hazel bertanya dengan wajah berbinarnya.
"Iya Sayang, anak kalian laki-laki, selamat ya," ucap Bella mengulas senyum disela tangisnya.
Hazel tak henti mengucap syukur dalam hatinya, sekarang ia sudah resmi menyandang predikat baru, yaitu seorang Ayah dari anak laki-laki.
******
Gwiyomi sudah dipindahkan ke ruang perawatan setelah Dokter membersihkan dirinya. Wanita itu hanya berbaring dengan tatapan kosongnya meski disekitarnya orang-orang sangat antusias menyambut bayinya yang lahir dengan sehat tanpa kekurangan suatu apapun.
"Gwi, kau tidak ingin menggendong anak kita? Lihatlah, matanya mirip sekali denganmu." Hazel membawa putranya kesamping Gwiyomi.
"Dia bukan anakku," ucap Gwiyomi memberikan lirikan tajamnya pada Hazel.
Semua orang terkejut dengan ucapan Gwiyomi itu, apalagi Bella yang langsung mendekati putrinya.
"Gwi, kenapa berbicara seperti itu? Kamu tidak boleh seperti itu, Nak." Bella menasehati Gwiyomi seraya mengusap rambutnya pelan.
"Kenapa tidak bisa? Gara-gara anak ini masa depanku hancur! Aku tidak mau menerimanya! Aku membencinya!" Gwiyomi seperti bukan dirinya sendiri, ia berteriak keras hingga membuat bayi kecil itu menangis.
"Astaga Gwi, kenapa kamu jadi seperti ini?" Bella sampai kaget melihat sikap putrinya.
"Gwi, jangan seperti itu, dia anakmu juga, tolong maafkan aku," kata Hazel seolah ikut sakit melihat anaknya menangis.
"Anak itu ada gara-gara kau! Dia ada karena kau ba ji ngan! Pergi kau darisini, jangan menemuiku lagi, aku benci kalian berdua!" Gwiyomi menjadi kembali histeris, ia bahkan melempar bantal miliknya kearah Hazel.
Bella saja sampai kewalahan menghadapi sikap putrinya yang seperti ini. Gwiyomi sepertinya sangat trauma hingga tidak bisa menerima anaknya. Wanita itu baru bisa tenang setelah Dokter memberikan suntikan penenang yang membuat Gwiyomi langsung pingsan.
Hazel ikut menangis melihat kondisi Gwiyomi yang sangat tertekan itu. Semua ini adalah salahnya, ia memang orang yang sangat jahat karena bukan hanya merusak masa depan Gwiyomi, tapi ia juga membuat wanita itu trauma.
"Hazel?"
Hazel mengusap air matanya, ia melirik Axel yang terlihat mendatanginya. "Ada apa Pa?" Tanya Hazel.
"Bisa kita bicara sebentar?" Ujar Axel dengan wajah dingin dan auranya yang cukup tidak enak.
Hazel hanya mengangguk pasrah, sepetinya Axel sudah mengetahui semuanya, setelah ini mungkin akan menjadi hari kiamat baginya.
Happy Reading.
TBC.
eyank kasih mawar cantik buat Gwi yaa