Nina, ia gadis muda berusia 19 tahun. Dalam usianya yang masih muda, gadis berparas cantik itu harus memikirkan nasib keluarganya yang terombang-ambing di tengah kesulitan ekonomi.
Nina, ia terpaksa harus pergi ke negara tetangga untuk menjadi asisten rumah tangga. Siapa sangka, kalau anak majikannya itu menaruh hati dan melamar Nina.
Dengan segala kebaikan dan kelembutan dari pria itu, sudah sepantasnya Nina menyimpan perasaan padanya, Nina yang memiliki perasaan sama itu menerima lamaran tersebut dan pernikahan pun terjadi.
Perjalanan rumah tangga Nina tidaklah muda, sampai ketika, Nina harus pergi dari hidup suaminya, membawa benih yang tanpa suaminya ketahui.
Apa yang membuat Nina pergi dari hidup pria yang sangat ia cintai?
Terus simak kisah Nina yang akan melahirkan 'Bintang Dari Surga'.
Jangan lupa like dan komen ya, all.
Dukung dengan gift/votenya, terima kasih 💙
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon It's Me MalMal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesedihan Evan Yang Malang
"Kamu sudah tau tujuanku datang kemari, tidakkah kamu akan memaafkanku?" tanya Sean seraya menatap Nina dan Nina yang juga menatapnya itu tersenyum tipis.
"Aku sudah lama memaafkan kamu dan aku tau kalau semua yang terjadi bukan sepenuhnya salahmu, salahmu hanya satu yaitu tidak mempercayaiku."
Setelah itu, Nina menutup pagar dan Evan yang masih berdiri di depan pagar itu mengulurkan tangan, ia ingin meraih mantan istrinya kembali, tetapi, apakah Nina akan mau?
Nina yang berbalik badan itu melihat Bintang sudah berdiri di pintu utama dan Bintang tidak bertanya apapun.
Bintang tersenyum pada Nina dan setelah itu, keduanya masuk ke rumah.
Lalu, Evan yang dapat melihat itu dari celah pagar harus pergi setelah asisten rumah tangga Nina datang.
"Maaf, anda siapa berdiri di depan rumah majikan saya?" tanyanya seraya menatap Evan curiga.
Dan Evan pergi tanpa menjawab apapun.
Di perjalanan, Evan yang sedang mengemudi itu tak berhenti menangis. Tak habis pikir kalau yang ia lihat di masa lalunya itu adalah rencana jahat ibunya.
Evan yang frustasi itu tak memperhatikan lampu lalulintas dan Evan menerobos lampu merah, seketika mobil Evan terbalik guling-guling karena terseruduk oleh truk pasir.
Darah mengalir dari kepala Evan dan apakah Evan akan selamat?
Evan yang mengalami kecelakaan itu segera mendapatkan pertolongan karena Sean.
Ya, Sean tidak mengantar Binar sampai ke ke sekolah, tetapi, pria bule yang merasa kalau Evan akan menemui istrinya itu menitipkan Binar pada gurunya yang bernama Felicia, masih satu komplek dengannya.
Sean juga melihat saat Evan dan Nina berbicara berdua dan Sean merasa lega karena Nina terlihat sangat menjaga hatinya. Setelah itu, Sean pun pergi setelah Evan pergi.
Dan Sean yang ada di jalan yang sama itu segera memanggil ambulan dan Sean juga yang mengurus administrasi.
Tetapi, untuk tanda tangan kemungkinan terburuk, Sean tidak mau, ia menghubungi Dante dan Dante segera datang ke rumah sakit.
Dante mengucapkan terima kasih pada Sean dan Sean mengangguk.
Dan karena kehilangan banyak darah, Evan membutuhkannya segera dan persediaan di rumah sakit sedang habis. Lalu, Dante mengatakan kalau akan mendonorkan darahnya.
Sayangnya, darah Dante tidak cocok. Dan Dante meminta pada Sean untuk membawa Bintang ke rumah sakit.
"Untuk apa?" tanya Sean seraya menatap Dante.
"Ayahku membutuhkan darah dan aku rasa darahnya akan cocok dengan Bintang," ujar Dante.
Sean sedikit tersenyum.
"Bintang, dia anak yang terbuang, untuk apa dibutuhkan kembali?" tanya Sean dan Dante memohon di kakinya.
Lalu, Sean menemui suster dan menanyakan golongan darah Evan. Entah kebetulan atau takdir, darah keduanya sama dan Sean mendonorkan darahnya.
"Keluarga kami banyak berhutang pada anda, Tuan" kata Dante dan Sean tidak menjawab apapun.
Sean pergi dari rumah sakit dan Sean berpapasan dengan Kinan, keduanya saling menatap dan karena sedang terburu-buru, Kinan pun berlalu.
****
Evan yang sedang terbaring itu membayangkan masa lalunya saat bersama dengan Nina dan itu membuat air matanya menetes.
Dua hari berlalu dan selama itu juga Bintang tak melihat Dante, ya, Dante sibuk mengurus Evan dan tokonya.
Di kampus, Luna dan Mawar berjalan di belakang Bintang, keduanya merasa ada yang berbeda, lalu, Bintang yang merasakan kalau dua temannya tertinggal itu berbalik badan.
"Kalian ngapain? Gosipin aku?" tanya Bintang.
"Tidak, kami hanya merasa kalau ada yang kamu sembunyikan dari kami," jawab Luna yang sedang melingkarkan lengannya di lengan Mawar.
"Tidak biasanya, Bintang yang kita kenal menyembunyikan sesuatu, apa karena sekarang sudah ada Dante?" tanya Mawar dan Bintang yang hatinya sedang tidak baik-baik saja itu menggeleng, ia melanjutkan langkah kakinya.
Bintang yang ceria, bahkan sering kali terlihat bar-bar di mata temannya kini menjadi pendiam setelah mengetahui siapa dirinya.
Dan jawaban Mawar yang pernah menanyakan kemiripannya dengan Sean pun terjawab sudah, tetapi, Bintang belum bisa menceritakannya pada sahabatnya.
Di kelas, Mawar dan Luna sama-sama memperhatikan Bintang yang sekarang terlihat serius dalam belajarnya.
Mawar yah duduk di samping Luna itu melirik. "Apa yang salah sama Bintang?"
Luna hanya mengedikkan bahu.
Dan karena sikap Bintang yang tidak seperti biasa itu membuat Mawar merasa kesal, karena tidak ada lagi teman bertengkar. Mawar yang kesal mencoba meledek Bintang saat melihat Dante yang berdiri di depan Bintang.
"Cie, di samperin," kata Mawar dan Bintang yang ada di depannya itu tak menghiraukan, Bintang juga mengabaikan Dante.
"Bintang, ada yang ingin ku sampaikan," kata Dante dan Bintang sama sekali tidak perduli.
Hatinya teramat sakit setelah mengetahui masa lalu Nina yang diabaikan, dicampakkan, dibuang disaat hamil.
Bintang menitikkan air mata dan segera berjalan cepat. Bintang yang melihat Sean sudah menjemput itu segera menyembunyikan kesedihannya dan Bintang yang sekarang sudah berada di mobil itu mengatakan kalau dirinya masih ada kelas.
Sean mengusap pucuk kepala Bintang dan Bintang memeluk Sean.
"Terima kasih, Dad," ucap Bintang.
"Untuk?" tanya Sean seraya melepaskan pelukan putrinya.
"Untuk semua, tetaplah jadi Dady yang baik untuk kami, jadi suami yang baik untuk Ibu," kata Bintang dan Sean tersenyum.
"Itu pasti, sayang!" jawab Sean. Setelah itu, Bintang keluar dari mobil dan melambaikan tangan padanya, Sean pun mulai melajukan mobilnya dan dua sahabatnya itu mendekat.
Mawar yang sudah tidak tahan lagi itu menarik lengan Bintang. "Ada apa, kenapa kamu seperti ini?"
Bukannya menjawab, justru Bintang memeluk Mawar. Bintang menangis dan tentu saja, Mawar juga Luna menanyakannya.
"Aku akan mentraktir kalian, ayo ikut," kata Luna seraya menarik lengan dua sahabatnya.
Luna membawa Bintang dan Mawar ke kafe yang tidak jauh dari kampus.
Di sana, Mawar yang sudah tidak sabar itu bertanya, "Ada apa? Kenapa kamu tidak menceritakan apapun?"
"Sebenarnya, aku sudah tau kenapa aku tidak mirip Dady atau Binar."
"Maksud kamu, kamu bukan anak Dady Sean?" tanya Mawar dan Luna yang duduk di samping Mawar itu mencubit pinggangnya.
"Tidak apa, Luna. Memang itu kenyataannya," kata Bintang, ia mencoba tersenyum pada dua temannya, tetapi, air mata menetes dari mata indahnya.
Luna menghapus air mata itu. "Tidak apa yang penting, Dady kamu sangat menyayangimu!"
Bintang pun mengangguk.
****
Sepulang kuliah, Dante menjenguk Evan dan di sana ada Kinan yang sedang menunggu.
Lalu, Kinan meminta pada Dante untuk menjaga toko dan dirinya yang menjaga Evan.
"Tidak apa, Omah?" tanya Dante yang belum sama sekali duduk.
"Iya, kita harus tetap menjalankan usaha ayahmu, toko kita baru saja buka, Nak. Pelanggan tidak boleh pergi dari toko kita," kata Kinan.
Dante pun menurut.
Singkat cerita, Dante sudah di toko dan sedang merapikan rak, ia yang tak berhenti memikirkan Bintang itu bertanya dalam hati, "Salah aku apa, Bintang?" tanya Dante dalam hati.
Bersambung.
Di rumah, Nina sudah
benci tapi nafsu juga kamu zack😏😏😏😏😏
lagian mengambil keputusan di saat terburu buru itu ga baik akhirnya kamu merasakan akibatnya kasian ntar Dante mendapatkan jandanya🙄🙄🙄