Semuanya telah selesai, selamat melewati kehidupan baru
WANT YOU
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SILAN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bonus part 3
"Fera ayo bangun sarapan" Teriak Justin, lelaki itu masuk ke kamar Fera di mana si pemilik nya masih tenang di balik selimut memejamkan mata.
"Dasar anak gadis pemalas. Ayo bangun mama papa udah nungguin di bawah" Justin menarik selimut Fera. Rambut acak acakan dan wajah berantakan khas orang bangun tidur.
"Astaga ini anak. Mentang mentang hari minggu malah malas-malasan kayak gini. Ayo bangun cepetan"
"Lima menit lagi kak. Aku masih ngantuk" Fera kembali tidur. Justin mendengus menarik paksa adiknya untuk bangun.
"Lima menit apanya. Ini udah jam delapan loh cepat buruan mandi kita akan sarapan bareng"
Fera mengucek matanya menatap justin dengan mata menyipit. Akhirnya dengan terpaksa Fera harus bangun untuk bergabung di meja makan bersama kedua orang tua mereka.
Justin sendiri langsung menghampiri orang tuanya lalu duduk di salah satu kursi.
"Fera udah bangun?" Tanya Derulo.
"Iya udah. Biasalah kalau anak sekolah tiap hari minggu pasti di buat kesempatan buat malas malasan"
"Aku gak malas tau. Dasar kakak gak ada akhlak" Sahut Fera.
"Ih jorok pasti kamu gak mandi kan" Justin mendorong kepala Fera di mana rambutnya hanya di ikat cepol.
Fera hanya nyengir kuda "Libur sekolah libur mandi dong" sahutnya dengan bangga.
Kedua orang tua mereka hanya menggeleng pelan. Kemudian mama Justin menatap putranya. Justin sudah sudah hampir dua luluh enam tahun. Dan sejak Luisa meninggal Justin sama sekali tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Lelaki itu hanya sibuk dengan urusan kedokterannya.
"Justin mama kira ini sudah saatnya kamu cari pengganti Luisa"
"Uhukk..." Seketika Justin tersedak oleh makanannya sendiri. Fera yang duduk di sampingnya langsung mengulurkan segelas air.
Justin menatap mama nya "Maksud mama?"
"Usiamu makin lama bukan berkurang tapi makin bertambah. Jika bukan sekarang kamu mencari pengganti Luisa mama takut kamu akan jomblo terus"
Fera langsung tertawa terbahak bahak di samping Justin. Justin meliriknya tidak suka.
"Mah gimana kalau Fera jodohin kak Justin sama kakak temennya Fera. Cantik loh orangnya baik lagi" sahut Fera.
"Shhtt.. Fera gak boleh motong ucapan orang tua" Tegur Justin.
"Ah iya maaf" jawabnya kemudian melanjutkan sarapannya.
"Gimana Justin mau nyari mah kesempatan lenggang justin itu gak banyak" jawab Justin.
"Setidaknya kan dalam seminggu pasti ada hari libur. Mama harap kamu segera memberikan cucu, mama sangat ingin menimang cucu di usia yang tidak lagi muda ini"
Justin menunduk bingung harus jawab apa sedangkan Fera di sampingnya hanya cengar cengir seperti menahan sesuatu.
"Aku akan berusaha yang terbaik tapi untuk saat ini aku tidak bisa buru-buru. Aku takut kesalahan yang kedua kalinya kembali"
"Sudah sekarang kita sarapan dulu hal ini kita bicarakan setelah sarapan" Tegur Derulo. Mama Justin ingin memprotes tapi ujungnya hanya ia tahan kemudian dengan tenang melanjutkan makanan mereka.
Selesai sarapan Justin duduk di teras belakang rumah tak lama Fera ikut duduk di sampingnya bersikap manja dengan memeluk sebelah lengan Justin.
"Nanti sore kakak ada tugas di rumah sakit tidak?" tanya Fera.
"Jika rumah sakit tidak menghubungi artinya tidak" jawab Justin.
Fera tersenyum menatap kakaknya "Kalau seumpama ada cewek yang suka sama kakak apa kakak juga bakalan mau sama dia?"
"Ih kamu omong apa sih masih kecil gak boleh ngomong kayak gitu mendingan kamu belajar yang pinter terus masuk universitas terbaik"
"Kak"
"Hmm?"
"Kak justin cinta banget ya sama almarhum kak Luisa?"
"Tentu saja karena dia tidak akan tergantikan"
"Apa sih yang buat kak Justin gak bisa lupain kak Luisa?"
Justin menatap lurus kedepan membayangkan masa mereka saat di bangku sekolah sambil tersenyum.
"Dia berbeda. Senyumnya itu lain dari yang lain dan sifatnya yang ramah membuat siapa saja mau dekat dengannya. Dia orang pertama yang akan menangis ketika aku terluka. Semua yang ada di dalam dirinya tidak akan bisa tergantikan oleh siapapun"
Fera menatap Justin yang terlihat serius dan terlihat sangat menyayangi mantan pacarnya yang kini sudah bahagia di sisi yang maha kuasa. Kenapa takdir begitu kejam pada kakaknya yang satu ini. Padahal dulu justin terkenal dengan kenakalan nya yang super tapi saat kehadiran Luisa semua perlahan berubah.
Rasa cinta yang awalnya hanya sebuah permainan justru menjadi sebuah cinta keabadian yang nyata terpendam di dalam hati yang paling dalam. Sulit tuk di lupakan tapi sakit ketika di ingat kembali.
Fera terdiam, semoga saja kehadiran perempuan baru ini Justin juga dapat berubah dia harus sadar jika yang sudah tidak ada tidak akan bisa kembali tapi bukan berarti tidak bisa tergantikan.
"Apa kak Justin tidak berniat untuk mencari penggantinya?"
Justin menoleh menatap Fera memberikan senyuman tipis di bibirnya.
"Untuk saat ini belum"
"Lalu kapan?" sahut Fera tak sabaran. Justin terkekeh pelan.
"Gak tau kapan"
"Ih gak seru tapi kalau nanti kak justin dapat cewek pastikan dia harus jadi kakak ipar Fera yang baik"
Justin memeluk Fera, adik kesayangan satu satunya yang dia punya. Jika kembaran Fera tidak meninggal pasti rumah ini akan terasa lebih ramai.
"Iya kakak akan usaha buat dapatkan kakak ipar buat kamu"
Fera tersenyum membalas pelukan Justin.
"Nanti habis magrib temenin fera ya kak"
"Kemana?"
"Fera ada tugas sekolah buat bikin karya seni miniatur tapi bahannya belum lengkap"
"Nanti kalau memang tidak ada panggilan kakak pasti akan temenin"
Fera menarik diri kemudian memberikan kecupan ringan di pipi Justin.
"Aku sayang kak justin" katanya sebelum pergi melarikan diri ke kamar untuk menghubungi Nadia jika rencana mereka akan di mulai hari ini.
______
"Kak justin dandan yang keren dong masa kayak gitu!" teriak Fera memprotes penampilan Justin.
"Emang kenapa? Kan cuman nemenin kamu buat beli bahan tugas kan?"
"Ya tapi masa kayak gitu. Yang keren dong"
Justin malah tertawa "Kakakmu ini udah ganteng dari lahir, mau gak mandi seminggu pun tetep ganteng" sahut Justin sambil menarik tangan Fera untuk segera bergegas.
Fera memang akui jika kakaknya ini tampan. Hanya berpakaian celana jeans dan kapan belel pun tetep terlihat tampan. Tapi ini kan hari di mana akan ada pertemuan penting.
Tapi Fera tidak bisa protes lebih jauh saat mobil sudah melaju. Semoga saja kakak Nadia tidak ilfil melihat tampilan Justin yang biasa biasa saja. Pasti orang yang melihatnya tidak akan percaya jika Justin ini adalah seorang dokter.
Sudahlah membuat lelaki ini ikut saja sudah untung. Semoga hari ini berjalan dengan lancar.
Tiba di salah satu pusat pertokoan bahan yang Fera perlukan gadis itu membeli seperlunya. Dia tidak bohong dengan tugasnya karena habis dari sini baru rencananya di mulai.
Fera tak henti-hentinya berkirim pesan degan Nadia saat mobil melaju.
"Kak berhenti sebentar di kafe biasa ya" ucap Fera yang pasti akan di setujui oleh Justin tanpa curiga sedikitpun.
Namun setibanya di kafe Fera menyuruh Kakaknya untuk masuk duluan sedangkan dirinya menunggu kehadiran Nadia.
Terlihat motor scoopy berhenti Nadia turun dari motor bersama kakaknya. Naura.
"Kakakmu cantik banget" bisik Fera pada Nadia. Nadia hanya terkekeh pelan.
"Siapa dulu dong adeknya" Jawab Nadia "Oh ya kakakmu di mana?"
"Sudah di dalam. Kamu bilangin sama kakakmu tunggu kita di kursi yang dekat sama lukisan bunga ya. Soalnya kakak ku biasa duduk di sana"
"Oke" sahut Nadia sebelum menghampiri Naura, keduanya terlihat mengobrol sebentar lalu nadia menunjukkan jempolnya ke arah Fera.
_____
Naura gadis 23 tahun dan telah menjomblo selama hidupnya. Pekerjaannya menjadi arsitek sekaligus karyawan di salah satu restoran.
Hari ini dengan paksaan adiknya dia sekarang masuk ke dalam sebuah kafe. Nadia tidak biasanya seperti ini dan hal itu membuatnya jadi penasaran.
Kata Nadia ada orang penting yang menunggunya di sini entah siapa.
Mata Naura melihat sekeliling mencari lukisan yang Nadia maksud hingga menemukan sebuah meja dengan seorang pria duduk membelakanginya.
'Apa itu yang Nadia maksud?' batin Naura.
Naura berusaha menormalkan jantungnya yang tiba-tiba berdisko ria, rasanya sangat gugup sekaligus penasaran. Bagaimana dia akan memulainya? Menyapa dengan kalimat seperti apa?
Nadia sukses membuatnya bingung seperti ini.
"Ah dia kenapa malah berdiri saja" geram Fera yang hanya mengamatinya dari jauh.
"Sepertinya kita harus bertindak lebih ekstra" sahut Nadia.
Fera berdecih lalu mengirim pesan untuk kakaknya.
"Kak justin lihatlah ke belakang sekarang karena ada seseorang yang ingin menemuimu" Send.
"Kakakmu pemalu sekali" ejek Fera pada Nadia setelah sukses mengirim pesan untuk justin.
Beberapa detik kemudian Justin terlihat membaca pesan dari Fera, secepat dia membaca secepat itu dia berbalik hingga matanya saling bertemu dengan sepasang mata kaget dari seorang wanita yang sama saat di taman bermain kemarin.
"Kamu"
"Kamu"
Ucap mereka bersamaan dengan spontan.
Tak lama pesan Fera masuk kembali di ponsel Justin.
"Aku harap kalian bisa lebih dekat" pesan Fera saat di baca oleh justin, tidak lupa emoji cengiran dan jempol.
Tatapan Justin kembali pada wanita di depannya. Justin tersenyum ramah kemudian berdiri dan menarik salah satu kursi yang ada di sampingnya.
"Silahkan duduk" Katanya mempersilahkan "Ku pikir seseorang sedang berusaha untuk mempertemukan kita" lanjut Justin.
Sepertinya Fera sudah berusaha menjodohkan nya dengan wanita ini. Justin tersenyum geli dalam hati tapi tidak ada salahnya kan dia mengikuti permainan dari adik manisnya itu sendiri.
Sedangkan Naura bertambah gugup melihat senyuman yang Justin berikan. Biasanya dia akan biasa biasa saja tapi kenapa kali ini berbeda?
Dari awal pertemuan mereka saja Naura sudah langsung jatuh hati lalu sekarang apa ini?
Apakah yang di namakan jodoh tidak kemana itu adalah lelaki yang kini duduk di depannya?
Jika iya maka dirinya harus berterima kasih pada adik nakalnya.
"Kakakmu cepat sekali merespon" Gumam Nadia. Fera tersenyum senang.
"Sementara mereka berkencan ayo kita pulang" ajak nya yang di angguki oleh Nadia. Jika mereka berhasil menjodohkan justin dan Naura maka Fera dan Nadia akan benar-benar menjadi keluarga.
Atau gelarnya akan berubah menjadi makcomblang.
Meskipun apa yang kita inginkan belum tentu benar benar apa yang kita butuhkan.
WANT YOU
_________
Tamat Loh ya gak ada lagi tambahan. Terimakasih udah mau baca ceritaku sampai di sini.
Salam Hangat Dari
SILAN