Pertemuan yang tidak terduga membuat gadis tersebut menatapnya. getara-getaran cinta tumbuh di hati Davira. meski susah tapi dia berjalan terus kearahnya.
Arka tidak mudah untuk di dekati. dia menghindari semua wanita. memandang wanita sebagai masalah yang harus hilang dari hidupnya. tapi hanya untuk sekarang dia berusaha untuk fokus untuk studynya.
perbedaan umur itu tidak masalah. cinta, sedikit demi sedikit akan berkembang.
[Novel Ongoing 106420 Kata]
•••
Cerita ini murni karya sendiri dan semua karakter serta latar yang digunakan berasal dari imajinasi author sendiri dan tidak ada dalam sejarah manapun.
Jika ada kesamaan nama tokoh atau alur cerita itu hanyalah suatu kebetulan semata.
(Kalau ada yang aneh dari perbabnya, karena ada perbaikan kata dan kalimat dalam novelnya. Jadi mohon pengertiannya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ornies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Story Flashback 1 [Pertemuan pertama]
PEMBERITAHUAN
Tidak ada pembaharuan chapter The pursuit of love. Hanya merubah susunan chapter, yang awal chapter 1 sampai chapter 27. Sekarang dari chapter 1 sampai chapter 35.
***
Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Mendekorasi setiap sudut ruangan. Tante Nita memilih busana yang akan di gunakan oleh Davira.
Davira duduk di kasur sambil memandang mamahnya yang sibuk memilih baju buat dipakai Davira.
"Hem ... Bagaimana kalau pakai baju ini. Terlihat bagus." Ia menunjukan gaun merah ke arah anak kecil yang masih berusia enam tahun.
"Tidak, Vira tidak suka warnanya terlalu mencolok," ia berbicara sambil memegang buku bergambar.
"Pakai baju ini ... Baju ini." Ia menunjukan semua baju. Tapi tidak ada yang dipilih.
"Sayang kamu harus patuh sama mamah ya. Pilih salah satu gaun yang kamu suka," Tante Nita memandang anaknya yang masih duduk di kasur.
"Aku mau pakai baju biasa aja. Tidak mau pakai gaun." Ia turun dari kasur.
"Sayang, sayangnya mamah. Putri cantiknya mamah. Satu hari saja pakai gaun. Mamah sudah menyiapkan banyak gaun buat Vira masa tidak dipakai." Ia berlutut menyesuaikan tinggi tubuh anaknya dan melihat ke arah Davira.
"Sayang kalau tidak dipakai." Ia memandang anaknya dengan wajah memohon.
"Tidak." Davira dengan tegas menjawab tidak.
"Nanti mamah beli kue yang besar buat Vira. Tapi harus pakai gaun ini ya." Tante Nita menunjuk semua gaun yang ada di lemari baju Davira.
"Tapi warna gaunnya Vira sendiri yang pilih." Davira berbicara dengan wajah yang imut.
"Anak mamah yang cantik. imutnya, Coba pilih mau pakai gaun yang mana." Ia melihat anaknya yang masih memegang buku gambar di dadanya.
"Mamah jangan ingkar janji. Beli kue untuk vira."
"Iya mamah tidak bakal ingkar janji," mengelus rambut Davira.
"Janji kelingking," Ia menjulurkan tangannya ke arah mamah.
Mereka berdua mengaitkan kelingkingnya "Mamah janji."
"Hem ..." Davira mengangguk senang. Akhir-akhir ini dia dilarang makan kue. karena giginya gampang sakit. semua makanan manis dilarang oleh mamahnya.
Mamahnya melarang Davira memakan kue terlalu banyak tidak bagus buat giginya.
"Yang itu aja," ia menunjuk gaun dengan warna biru laut. Tidak terlalu mencolok dengan warna gaun yang lainnya.
"Besok anak mamah pakai gaun ini ya ... buat pesta perusahaan papah." Tante Nita memisahkan gaun yang sudah dipilih Davira.
"Iya mamah," Ia memandang mamahnya, "sudah mah aku mau main dulu sama miki." Davira berlari keluar kamar mencari kucing ke sayangannya.
Tante Nita tersenyum melihat anaknya.
Ia berhasil membujuk Davira untuk memakai gaun. Dia anaknya tidak terlalu suka memakai pakaian yang berbau feminim. Davira anaknya tomboy tidak bisa diam dan juga cerewet.
***
Ke esok harinya tepat di mana hari ini di laksanakannya pertemuan rekan kerja papa Davira. Semua orang sudah menyelesaikan dekorasi ruangan pesta. Pesta tersebut di mulai dari jam tiga sore sampai jam delapan malam.
"Makanan semua sudah siapkan?" Tante Nita memandang kepala pelayan. Kepala pelayan tersebut memeriksa semua persiapan pesta.
"Sudah Nyonya. Semua hidangan sudah siap." Ia memandang dengan hormat ke arah Tante Nita.
"Bagus." Tante Nita mengangguk sambil sesekali melihat ke sekeliling. Untuk memeriksa persiapan.
"Saya undur diri dulu Nyonya." Ia menunduk ke arah Tante Nita. Kepala pelayan tersebut pergi.
Dari arah halaman Davira sedang main dengan Miki. Ia mengelus bulu halusnya. Kucing tersebut hanya diam saat dielus oleh Davira.
Ia mengendong miki dikedua tangannya. Davira berjalan menuju ayunan yang ada di taman rumahnya.
"Miki ..." Ia bergumam sambil mengelus bulunya, "meong ..." Kucing tersebut menyaut.
Setiap hari dia hanya bisa bermain dengan Miki. Tidak ada teman untuk bermain. Mamahnya tidak mengizinkan dia berteman dengan sembarangan orang.
Davira hanya bisa bermain di sekolah. Di rumah dia hanya bisa bermain sama miki. sesekali teman sekolahnya datang untuk bermain tetapi itupun jarang.
Padahal dia kesepian. Selama ini dia hanya bisa bermain di halaman sendiri maupun dengan Miki.
"Miki aku bosan," ia berbicara. Kucing tersebut hanya memejamkan matanya sambil merasakan elusan Davira.
"Miki ..." Ia memanggilnya kembali. Tidak ada jawaban kucing tersebut tertidur.
Ia menaruh Miki ke dalam kandang, "tidur yang nyenyak Miki." Ia hanya merasa sedih.
Ia berjalan menuju ruangan yang sudah dipenuhi dengan dekorasi. Bau bunga di sekitar ruangan pesta. Ia memandang bunga yang ada di depannya 'Indah' kata itu yang terlintas dipandangan anak kecil berusia empat tahun.
Davira memandang bunga mawar merah yang ada di vas. Ia memandang ke atas. Mejanya terlalu tinggi buat seusia Davira. Ia hanya memandang takjub.
Pelayan yang sudah berjalan ke arah Davira, "Nona Muda, dipanggil Nyonya buat memakai gaun yang sudah disiapkan."
Pandangannya teralihkan ke arah pelayan yang berdiri di sampingnya. Ia melihat ke atas memandang wajah pelayan tersebut.
"Baik, aku akan pergi sendiri." Ia berjalan ke kamarnya.
Tepat di depan pintu mamahnya sedang duduk di atas kasur. Sambil memegang gaun biru yang ada di tangannya.
"Vira pakai gaunnya," ia memandang Davira dengan mata yang antusias.
Davira hanya berdiri di depan pintu. Tidak bergerak sama sekali. Kalau dia melangkah matilah sudah. Harga dirinya, dia tidak suka memakai gaun tersebut. Tapi dia sudah berjanji. Jadi, serba salah.
Ia hanya mengelak napas, "Mah ... Hanya hari ini aku memakai gaun ini. Tidak ada hari selanjutnya," Ia menegaskan.
"Iya sayang." Tante Nita hanya tertawa melihat kepolosan anaknya.
"Sini mamah bantu memakai bajunya."
Ia hanya bisa menurut. Semua dari atas kepala sampai bawah diubah sedemikian rupa.
Davira memakai gaun berwarna biru. Rambut digerai dan menutupi bahunya. Dengan sepatu flat yang sesuai dengan gaun yang ia pakai.
"Lihat cantik anak Mamah." Tante Nita menuntun Davira untuk berdiri di depan kaca.
Saat itu juga Davira kaget setengah mati. Dari atas sampai bawah berubah ini bukan seperti dirinya. Yang suka memakai baju tomboy. Biasanya rambutnya di ikat sekarang tergerai melewati bahunya.
"Ini bukan aku," ia bergumam kecil sambil menunduk kepalanya.
"Jangan menunduk sayang. Nanti di depan rekan bisnis Papa Vira harus senyum ya," ia mengingatkan.
"Iya Mah," dia hanya pasrah.
"Sudah waktunya ayo kita turun." Tante Nita memegang tangan mungilnya. Ia berjalan beriringan menuruni tangga. Semua orang sudah berkumpul.
Tidak hanya orang dewasa saja yang datang. Mereka membawa bersama anak-anaknya. Anak-anak juga berbaur satu sama lain.
Saat Davira dan mamahnya turun semua orang memandang mereka. Pipi Davira tersipu malu. Ini pertama kalinya dia menjadi, pusat perhatian. Dia hanya bocah berusia empat tau yang tidak tau cara bergaul dengan orang lain.
Ia hanya mengikuti mamahnya melangkah. Mamahnya mendekati papa yang sedang berbincang dengan rekan bisnisnya.
"Sayang" Tante Nita memanggil suaminya.
Obsessive Love Disorder
by: farayakaaulia