Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Voice note Vani berakhir, tetapi suara napasnya masih tertinggal di telinga Kiana.
Sepupu kayaknya cedera pas tugas.
Mobil yang baru keluar dari gerbang Vila Lim langsung melambat. Sopir menoleh lewat kaca tengah. "Bu Kiana?"
"Ke supermarket terdekat dulu."
"Baik."
Kiana membuka chat Hans. Pesan terakhir masih balasan pendeknya beberapa malam lalu: Bukan sifku. Aku di rumah. Habiskan jerukmu.
Ia mengetik: Kamu terluka?
Belum sempat dikirim, ia menghapusnya.
Kalau Hans ingin menjawab, ia sudah menjawab sejak tadi. Kalau tidak, pesan seperti itu hanya akan memberinya kesempatan berkata: luka kecil.
Sepuluh menit kemudian, Kiana masuk ke supermarket di lantai dasar kompleks apartemennya. Udara dingin dari pendingin ruangan menyambut wajahnya, tetapi telapak tangannya tetap panas. Ia mengambil keranjang dan berjalan cepat ke rak obat: burn gel, kasa steril, plester medis, cairan antiseptik, sarung tangan sekali pakai.
Lalu ia menambahkan mie telur, sayur, daging iris, dan satu paket iga asam manis siap masak.
Di kasir, saat ia sedang meletakkan barang, seseorang di antrean sebelah mengambil dua bungkus Indomie, sebotol air mineral, dan telur.
Kiana menoleh.
Hans berdiri di sana.
Rambutnya masih sedikit berbau asap. Kaos hitamnya bersih, tetapi bagian lengan kiri digulung sampai siku. Di bawah cahaya putih supermarket, kulit lengannya terlihat merah, dengan beberapa lepuh kecil di dekat pergelangan.
Ia melihat keranjang Kiana.
Kiana melihat lengannya.
Selama dua detik, tidak ada yang bicara.
Kasir bertanya, "Pakai kantong, Bu?"
Kiana tidak menjawab.
Hans lebih dulu mengambil belanjaannya. "Kia."
"Kamu terluka."
"Luka kecil."
Kiana meraih pergelangan tangannya sebelum ia sempat menjauh. Gerakannya tidak keras, tetapi cukup tegas untuk membuat Hans berhenti.
Kulit di bawah jarinya panas.
"Ini yang kamu sebut kecil?"
Hans menatap tangannya yang memegang pergelangan. "Tidak mengganggu kerja."
"Aku tidak tanya mengganggu kerja atau tidak. Aku tanya kenapa kamu tidak bilang."
Orang di belakang mereka mulai memperlambat gerakan. Hans melirik sekitar. "Kita bayar dulu."
"Jawab."
"Kia."
Suara itu rendah. Bukan marah. Lebih seperti meminta ia tidak mempermalukan dirinya sendiri di depan kasir.
Kiana menarik napas, melepaskan tangannya, lalu membayar semua belanjaan tanpa bicara. Hans juga membayar Indomie dan telur, seolah rencana makan malam seorang pria dewasa memang sesedih itu.
Di luar supermarket, Kiana berhenti di depan lift.
"Naik ke apartemenmu."
"Tidak perlu."
"Kalau kamu bilang tidak perlu sekali lagi, aku telepon Vani dan minta dia kirim foto lukamu ke grup keluarga Kei."
Hans diam.
Kiana menekan tombol lift. "Bagus. Kamu masih punya akal sehat."
Lift naik tanpa suara. Pantulan mereka di pintu logam terlihat aneh: Kiana dengan blazer kerja dan keranjang penuh obat, Hans dengan kantong Indomie dan lengan terbakar, berdiri seperti pasangan yang baru saja kalah perang melawan kehidupan sehari-hari.
Di depan pintu apartemen Hans, ia sempat berkata, "Tunggu sebentar."
Lima menit kemudian, pintu terbuka.
Kiana hampir lupa apa yang ingin ia katakan.
Hans hanya memakai celana training hitam dan handuk gelap yang tergantung rendah di pinggangnya. Rambutnya basah, bahunya lebar, dada dan perutnya masih menyimpan sisa air. Di bawah cahaya apartemen yang putih dingin, bekas luka kecil di kulitnya tampak seperti peta yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun.
Kiana memaksa matanya naik ke wajahnya.
"Baju."
Hans menunduk melihat dirinya sendiri, lalu berkata datar, "Basah."
"Ambil yang kering."
"Lukanya di lengan. Baju menggesek."
Kiana menggigit bagian dalam pipi. "Kalau begitu duduk. Jangan berdiri seperti poster fitness."
Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Hans bergerak sedikit.
Apartemennya lebih dingin dari yang Kiana bayangkan. Hitam, putih, abu-abu. Sofa lurus tanpa bantal tambahan. Meja kosong. Rak sepatu rapi tapi hanya berisi tiga pasang. Tidak ada foto keluarga, tidak ada tanaman, tidak ada cangkir lucu, tidak ada tanda bahwa orang yang tinggal di sini pernah merasa perlu membuat ruang ini menjadi rumah.
Hanya dapur yang bersih dan terlalu lengkap untuk seseorang yang baru saja membeli Indomie.
Kiana meletakkan belanjaan di meja. "Kamu makan apa malam ini?"
Hans mengangkat kantong Indomie.
Kiana menatapnya.
Ia menurunkan kantong itu.
"Duduk," kata Kiana. "Aku masak dulu. Setelah makan, luka diobati."
"Obati dulu."
"Kalau perutmu kosong, obat pereda nyeri bikin lambung protes. Aku masih ingat kamu selalu sok kuat tapi panik kalau aku sakit maag."
Hans tidak menjawab.
Itu tanda ia kalah.
Kiana memakai dapurnya seperti mengambil alih wilayah musuh. Iga asam manis dipanaskan, daging iris ditumis cepat dengan cabai dan bawang putih, mie telur direbus dengan sayur supaya tidak semua makanan terlihat seperti keputusan orang yang mau menyerah pada hidup. Dalam dua puluh menit, meja makan yang dingin itu punya aroma bawang putih, jahe, dan saus asam manis.
Hans makan tanpa banyak komentar.
Tetapi ia menghabiskan semuanya.
"Enak?" tanya Kiana.
"Hm."
"Itu bukan jawaban."
"Enak."
"Lain kali jangan beli Indomie kalau ada luka bakar."
"Tidak ada hubungan."
"Ada. Orang terluka butuh protein, bukan bumbu bubuk."
"Kamu terdengar seperti dokter."
"Aku terdengar seperti orang yang tidak ingin suaminya makan mie instan sambil lengannya melepuh."
Kata suami jatuh di antara mereka.
Kiana pura-pura sibuk membuka kotak obat. Hans tidak mengulanginya, tetapi matanya tetap tinggal di wajahnya sedikit lebih lama.
Ia duduk di sofa. Kiana menarik kursi kecil ke depannya, memakai sarung tangan, lalu menyalakan lampu meja agar luka terlihat jelas.
Dari dekat, lepuh itu lebih buruk. Tidak besar, tetapi ada garis merah memanjang, bekas panas menyambar kulit. Kiana mengambil napas pelan.
"Sakit?"
"Tidak."
"Aku belum sentuh."
"Nanti juga tidak."
"Kamu menyebalkan."
"Hm."
Kiana membersihkan area sekitar luka dengan hati-hati. Ia tidak menusuk lepuh, hanya mengusap kulit di sekitarnya dengan kasa lembap dan antiseptik ringan. Setelah itu, ia mengoleskan burn gel tipis-tipis di bagian merah, lalu menutupnya dengan kasa steril.
Hans duduk diam.
Terlalu diam.
Biasanya diamnya seperti dinding. Malam ini diamnya seperti seseorang yang tidak tahu harus meletakkan napas di mana.
"Kamu sering terluka seperti ini?" tanya Kiana.
"Kadang."
"Kadang itu berapa kali?"
"Tidak dihitung."
"Siapa yang biasanya mengobati?"
"Sendiri."
Kiana mengangkat mata.
Hans sedang menatap kasa di lengannya, bukan wajahnya. Rahangnya tegang, tetapi matanya aneh. Bukan sakit. Bukan malu.
Lebih seperti bingung.
Seolah ia tidak terbiasa ada orang yang duduk sedekat ini hanya untuk memastikan lukanya tidak infeksi.
Kiana baru menyadari kotak P3K di rak bawah meja. Ia menariknya sedikit dengan ujung kaki. Isinya rapi, terlalu rapi. Kasa tersusun berdasarkan ukuran, salep luka bakar tinggal setengah, perban elastis digulung ulang dengan presisi, dan ada gunting medis kecil yang warnanya sudah pudar.
Ini bukan kotak orang yang sesekali terluka.
Ini kotak orang yang sudah terlalu sering pulang sendirian dengan darah, panas, atau nyeri, lalu memperbaiki tubuhnya seperti memperbaiki alat kerja.
"Teman-teman pos tidak tahu?" tanya Kiana.
"Kadang tahu."
"Kalau tahu, kenapa tidak minta tolong?"
Hans menggerakkan bahu, sangat pelan. "Mereka punya keluarga. Shift berikutnya juga butuh orang."
"Jadi kamu memilih tidak merepotkan siapa pun?"
"Lebih mudah."
Kiana menekan napas. Ada sesuatu dalam dua kata itu yang membuat dadanya sakit. Lebih mudah, katanya, seolah tubuh sendiri yang terbakar memang urusan administrasi kecil.
"Hans," katanya, kali ini tanpa nada bercanda. "Kamu bukan beban."
Jari Hans yang terletak di lututnya berhenti.
Ia akhirnya melihat Kiana.
Untuk sesaat, semua kekerasan di wajahnya retak sangat halus. Retakan kecil, nyaris tidak cukup untuk disebut ekspresi. Tapi Kiana melihatnya, dan justru karena melihatnya, ia menunduk lagi agar Hans tidak perlu merasa tertangkap.
Kiana menunduk lagi. Suaranya lebih pelan saat berkata, "Kalau tugas, hati-hati sedikit. Aku tahu pekerjaanmu memang berbahaya. Tapi setidaknya kasih tahu kalau kamu terluka."
"Untuk apa?"
"Untuk apa?" Kiana menekan plester lebih keras sedikit, cukup untuk membuat Hans menatapnya. "Supaya aku tidak dengar dari Vani. Supaya aku tidak harus menebak-nebak apakah kamu sedang di rumah atau di rumah sakit. Supaya makanan yang kubuat tidak menunggu orang yang ternyata diam-diam kesakitan."
Kalimat terakhir keluar lebih jujur daripada yang ia rencanakan.
Jari Hans bergerak.
Sebelum Kiana sempat menarik tangan, ia sudah menggenggam pergelangan tangannya.
Hangat.
Kuat.
Tidak menyakitkan, tetapi tidak membiarkannya pergi.
"Kia."
Kiana mengangkat kepala.
Hans menariknya sedikit. Kursi kecil bergeser di lantai. Jarak mereka menyempit tiba-tiba, sampai lutut Kiana hampir menyentuh sofa, sampai ia bisa merasakan panas tubuh Hans bercampur aroma sabun dan sisa asap yang belum hilang sepenuhnya.
Dada Hans naik turun perlahan.
Di ruang yang terlalu rapi dan terlalu dingin itu, suara detak jantungnya terasa dekat.
"Kenapa kamu khawatir begitu?" tanyanya.
Kiana seharusnya punya jawaban tajam.
Karena kita menikah demi syarat warisan.
Karena kamu pernah menyelamatkanku.
Karena aku bukan orang tidak tahu terima kasih.
Tetapi semua jawaban itu mendadak terlihat terlalu tipis ketika pergelangan tangannya masih berada dalam genggaman Hans, dan matanya menatapnya seolah ia benar-benar menunggu.
Kiana memalingkan wajah lebih dulu.
"Karena kamu suami sahku di Catatan Sipil," katanya, mencoba terdengar dingin. "Secara nama, setidaknya. Aku tidak mungkin membiarkan lenganmu membusuk."
Hans tidak langsung melepaskan.
Ibu jarinya berhenti di sisi pergelangan Kiana, tepat di atas denyut nadi yang berkhianat karena berdetak terlalu cepat.
"Yang setidaknya itu," katanya rendah, "kapan bisa dihapus?"