Kaina Chandrina terpaksa harus menikah dengan seorang CEO perusahaan besar. Ia harus menjadi tumbal akibat perbuatan orang tua, yang tega menukar dirinya dengan saham perusahaan.
Kini ia harus terjebak dalam sebuah pernikahan kontrak dengan Haikal Kusumanegara, CEO yang begitu berkuasa dan juga kejam.
Keluar dari kandang singa, masuk ke kandang harimau. Bagitulah ungkapan kata yang cocok untuk gadis malang itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bucin fi sabilillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membelanya
Pagi menjelang, pasangan pengantin baru itu masih terlelap sambil berpelukan satu sama lain. Rasa nyaman yang menyelimuti membuat mereka enggan untuk membuka mata.
Jam sarapan juga sudah terlewati, namun masih belum terlihat tanda-tanda jika mereka akan terbangun.
Hingga dering ponsel memaksa Haikal untuk membuka mata dan segera mematikannya agar Kaina tidak terganggu.
Begitu banyak pesan masuk yang belum ia baca. Termasuk laporan Along yang sudah memeriksa keadaan apartemen dan beberapa orang tukang juga sudah siap untuk mendekor kamar itu.
Ia menghela nafas dan mengucek mata yang terlihat masih mengantuk. Sementara Kaina masih terlelap, dan ia tidak ingin mengganggu gadis itu.
Ia memperhatikan wajah sang istri dan tersenyum gemas. Masih terlihat sembab dan juga pucat. Ia merasa, jika suhu tubuh Kaina sedikit lebih panas dari biasanya.
Begitu lemah fisik kamu, Sayang. Sedikit saja menangis sudah demam, sedikit kelelahan jantungmu juga kambuh. Batin Haikal.
Tok, tok, tok.
Dari arah luar terdengar suara salah seorang pelayan yang memanggil Haikal, sebab mereka belum juga turun padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10 siang.
Haikal meraih telepon dan mengatakan kepada kepala pelayan Marsoni untuk tidak mengganggunya hingga makan siang nanti.
Karena mendengar suara Haikal, Kaina mengerjabkan mata dan menggesekkan hidungnya di dada bidang sang suami yang terpampang tanpa sekat.
"Morning, Sayang," ucap Haikal tersenyum manis.
"Hmm, morning to, sayang. Jam berapa sekarang?" tanya Kaina dengan suara seraknya.
"Sudah jam 10 pagi. Ayo tidur lagi!" ucap Haikal memeluk Kaina dengan gemas.
Kaina menggeleng. "Tidak. Aku sudah tidak mengantuk," ucapnya lirih.
Haikal tersenyum dan mengecup bibir Kaina dengan lembut. Memainkan bibir kecil yang begitu menggoda pagi ini.
"Hmph!" Kaina berusaha untuk melepaskan pagutan mereka.
Haikal mengernyit ketika ia menatap wajah cemberut Kaina. "Kenapa, hem?" tanya pria tampan itu.
"Aku belum gosok gigi. Kelasku juga sudah terlewat pagi ini," ucap Kaina lirih.
"Besok saja kuliahnya. Ayo kita kembali ke apartemen. Kamar ini akan aku renovasi, jadi kamu bisa nyaman dan tidak cemberut lagi nanti!" ucap Haikal.
"Tidak apa, Sayang. Aku tidak masalah dengan suasana kamar yang seperti ini," ucapan Kaina masih mengantuk.
Haikal hanya menggeleng dan tersenyum menatap Kaina yang kembali memejamkan matanya.
Dengan usil, ia menyentuh beberapa titik sensitif Kaina dan membuat gadis itu kembali terbangun. Ia menahan tangan Haikal agar tidak berbuat lebih jauh lagi.
"Sayang!" Rengeknya dengan manja.
Haikal terkekeh dan langsung menggendong Kaina menuju kamar mandi. Gadis itu hanya cemberut ketika tau seperti apa akhirnya jika Haikal mengajak untuk mandi bersama.
Benar saja, adegan dia satu plus terjadi di sana. Kaina keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang gemetaran karena kedinginan. Ia mendelik kesal kearah Haikal yang sedang tersenyum puas karena telah mengerjainya.
"Ayo kita ke apartemen, aku sepertinya mulai ngidam hari ini," ucap Haikal mengusap perut Kaina.
Gadis itu melotot dan membeku. Apakah benar aku hamil? Kenapa secepat ini?, Batinnya dengan air mata yang menetes.
"Hei, kenapa menangis?" ucap Haikal tersentak ketika air mata Kaina jatuh mengenai tangannya.
"Aku belum mau hamil!" ucap Kaina tercekat.
"Ck, Aku hanya bercanda. Kalaupun iya, bukankah itu lebih bagus!" ucap Haikal mendelik.
Kaina mulai berpikiran aneh-aneh. Bagaimana dirinya akan dibully jika nanti ia hamil. Pasti semua orang akan semakin berbuat jahat dan akan mengucilkannya.
"Jangan berpikiran macam-macam! Ayo kita ke apartemen!" ucap Haikal menggeleng.
Ia segera menggenggam tangan Kaina dan membawa gadis itu keluar dari kamar. Mereka melihat Muzi tengah duduk di ruang keluarga dengan wajah khawatir. Sebab, tidak biasanya Haikal keluar saat matahari sudah berada di atas kepala.
"Haikal? Kamu tidak apa-apa, Nak?" ucap Muzi langsung menghampiri Haikal dan melihat kondisi tubuh sang putra.
"Aku baik-baik saja, Mom. Semalam, kerjaan sangat banyak dan membuatku begitu lelah," ucap Haikal sambil tersenyum dan mengusap wajah sang ibu.
"Hih, syukurlah. Mommy khawatir, jika kamu kembali terpuruk, nak!" ucap Muzi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tidak, Mom. Sudah ada Kaina yang menemaniku saat ini!" ucap Haikal tersenyum menatap sang istri.
Muzi tidak menghiraukan ucapan Haikal. Ia langsung menarik tangan pria tampan itu dan sengaja melepaskan genggaman tangan Kaina.
Gadis itu hanya terdiam dan menghela nafasnya. Ia memilih duduk di atas sofa single dan tidak menghiraukan apa yang terjadi saat ini.
"Kamu sudah lama tidak pulang, sekali pulang malah membawa beban. Tinggal di sini saja ya, Nak! Mommy gak tenang kalau kamu tidak pulang!" ucap Muzi dengan wajah yang sedih.
"Iya, Mom. Tapi untuk beberapa hari ini, aku akan tinggal di apartemen. Karena kamarku akan direnovasi," ucap Haikal.
"Ck, pasti dia yang mempengaruhi kamu. Apa kamu lupa berapa besar biaya yang kamu keluarkan tahun lalu hanya untuk merombak kamar itu?" ucap Muzi kesal.
"Mom, jangan ungkit itu lagi! Sekarang aku hanya ingin Kaina nyaman berada di sini. Jadi, Mom dan Kaina harus belajar untuk saling menerima!" ucap Haikal malas, namun perkataannya terdengar cukup tegas.
Muzi hanya mendelik dan menatap Kaina dengan tajam. Ia tidak menyukai kehadiran gadis ini, karena ia yakin akan mempersulit calon menantu idamannya untuk masuk dan mendekati Haikal.
"Mom tidak akan pernah menganggap dia sebagai menantu! Dia tidak akan pernah pantas menjadi pendamping kamu!" ucap Muzi memandang rendah ke arah Kaina.
"Mom, aku tidak suka jika Mommy berkata seperti itu. Bagaimanapun juga, Kaina sudah menjadi pilihanku. Mom, aku tau kebutuhan sosialita Mommy harus dipenuhi. Tapi kali ini, biarkan aku memilih siapa yang akan menjadi istriku. Jika sudah berada di tangaku, pasti dia akan terlihat pantas seiring berjalannya waktu!" ucap Haikal.
"Tidak, Mom tidak akan pernah menerima dia, Haikal! Kamu jangan keras kepala!" ucap Muzi mulai berbicara tegas.
"Aku tidak ingin berdebat, Mom. Aku pastikan, Mommy akan malu dengan apa yang Mommy katakan barusan!" ucap Haikal berdiri.
Ia berjalan mendekati Kaina dan menggenggam tangan sang istri dengan erat.
"Jika Mommy tidak bisa menerima Kaina, tidak masalah. Tapi jika aku boleh memberikan saran, lebih baik Mommy melihat dari segi bagaimana calon menantu Mommy mengurusku dan melakukan kewajibannya sebagai seorang istri! Jika ada yang lebih baik dari Kaina, aku tetap tidak akan memilih dia! Karena istriku adalah perempuan yang tepat dan pilihanku tidak pernah salah!" ucap Haikal tegas.
Muzi hanya terdiam sambil mengepalkan tangannya. Ia merasa Haikal tengah memberikan tantangan untuk mencari calon menantu yang lebih baik dari Kaina.
Seberapa hebat gadis kumuh itu, sampai Haikal mau membela hingga dia berani menentangku? Lihat saja, akan ku buat kau keluar dari rumah ini dengan segera. Batin Muzi dengan wajah yang penuh dengan amarah.
Sayang bgt lho gak dilanjutin mana ceritanya bagus bgt..
Ayo kk semangat buat lanjutin lg ceritanya