NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib

Status: tamat
Genre:Romansa-Teen school / Cintapertama / Spiritual / Tamat
Popularitas:4.8M
Nilai: 4.8
Nama Author: Lili Hernawati

Aisha Rumaisha membenci Ibu tiri dan Ayahnya karena telah menyebabkan Mamanya jatuh depresi. Dan dia bahkan lebih membenci adik yang lahir dari rahim Ibu tirinya karena menjadi faktor utama Mamanya meninggal. Karena kebenciannya inilah dia membuat kesalahan, menjebak adiknya minum obat terlarang hingga dilarikan ke rumah sakit.

Kesalahan ini akhirnya menyebabkan Aish dikirim ke pondok pesantren, tempat udik dengan berbagai macam aturannya yang sok ketat dan menjengkelkan.

Berbagai macam cara dia lakukan agar bisa keluar dari pondok pesantren hingga akhirnya dia kembali bertemu dengan Muhammad Thalib Al Khalid. Seorang habib yang telah mencuri hatinya. Namun apa jadinya bila orang yang dia sukai ternyata telah memiliki tunangan seorang Sarifah?

Akankah dia melupakannya dan memilih tetap kabur dari pondok pesantren atau justru sebaliknya,

Dia memilih tinggal di pondok pesantren untuk memperjuangkan cintanya.

Jawabannya ada di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Hernawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5.1

Hampir pukul 2 dini hari Aish masih belum bisa memejamkan matanya ketika semua orang telah memasuki alam mimpi. Ruangan yang sebelumnya sedikit berisik perlahan kehilangan suaranya hingga suara nafas teratur saja yang terdengar. Lucunya, ada juga beberapa orang yang mengorok. Suaranya lumayan besar seperti barak-barak. Pada awalnya Aish kesulitan tidur karena suaranya tapi lama-lama dia menerima kesulitan ini dan mulai beradaptasi mengabaikan suaranya.

Menghela nafas panjang. Aish bangun dari acara berbaring nya dan duduk di atas ranjang menghadap ke arah jendela kamar asramanya. Aish memang tidur di samping tembok sekaligus jendela yang mempertemukannya dengan pemandangan sawah luas di luar sana.

Mencari posisi senyaman mungkin, matanya lalu menangkap perubahan posisi bulan. Tadinya bulan tepat di depan jendelanya, bersinar terang dan menampilkannya keindahan penuhnya. Tapi sekarang bulan sudah berjalan jauh, agak jauh dari kamar asramanya. Namun sinarnya tidak pernah meredup sekalipun jarak kami telah meningkat banyak.

"Eh?" Aish terperanjat kaget melihat seseorang berjalan di pinggir sawah.

Dia pikir itu penampakan dari mahluk tak kasat mata namun nyatanya itu adalah seorang laki-laki yang sedang melakukan patroli. Sebenarnya Aish melihat dua atau tiga orang, tapi dua orang lainnya berjalan ke tengah sawah sedangkan satu lainnya berjalan di pinggir sawah sambil memegang senter di tangan kirinya.

"Duh, kenapa sih aku halu terus. Masa semua orang di samain sama kak Khalid?!" Celetuknya kesal ketika melihat sosok laki-laki itu.

Entah kenapa dia merasa bila laki-laki itu agak mirip dengan habib Khalid, orang yang dia sukai tapi kini tengah berusaha untuk dilupakan.

"Enggak mungkin lah. Lagipula kebetulan enggak sebanyak itu di dunia ini." Gumamnya lemah tapi masih melihat ke arah laki-laki itu.

Aish mendesah ringan. Dia menatap laki-laki kosong seolah-olah sedang membayangkan bahwa orang yang tengah berdiri di sana adalah habib Khalid. Seakan sedang merasakan kerinduan hatinya, laki-laki itu menoleh ke arah tempatnya duduk. Aish terkejut. Dia hampir saja memekik kaget karena pergerakan tiba-tiba dari laki-laki itu.

"Lebay, ah. Jelas-jelas dia tidak melihat ke arah ku. Em.. enggak mungkin kan orang itu melihat ku?" Gumamnya panas dingin.

Biar bagaimanapun juga kamar asramanya gelap sehingga orang luar mana mungkin bisa melihatnya di sini.

Dia berusaha berpikir positif tapi pergerakan selanjutnya laki-laki kembali membuatnya terperanjat kaget. Laki-laki itu mengambil langkah besar mendekati jendela tempatnya sedang duduk. Perlahan sosok yang sempat dia ragukan tadi sebagai habib Khalid mulai memperjelas penampilannya. Di bawah sinar bulan Aish termangu menatap tak percaya pada wajah tampan nan meneduhkan itu. Dia berjalan langkah demi langkah dengan kakinya yang jenjang hingga akhirnya habib Khalid berdiri tepat di depan jendela, berhadapan langsung dengan Aish.

Habib Khalid melihat Aish di dalam diam tak bergerak menatapnya dengan mata terbuka lebar. Melihatnya seperti ini, habib Khalid tanpa sadar menggelengkan kepalanya agak tidak berdaya. Dia lalu mengetuk sisi kaca untuk menyapa Aish.

Tuk

Tuk

Tuk

"Ah.." Aish tersadar.

Dia mengerjap panik melihat habib Khalid kini tengah menatapnya. Duh, Aish langsung salah tingkah ditatap sedekat ini oleh habib Khalid sekalipun mereka dihalangi oleh kaca. Dia tetap merasa malu.

"Ish, jangan norak gini, ah." Gumamnya seraya menyentuh pipinya yang panas.

Baru ditatap seperti ini saja reaksinya sangat heboh apalagi jika dia suatu hari bisa memegang-

Ugh, apa sih yang aku pikirkan?! Batin Aish malu.

Dia menggelengkan kepalanya menolak ide-ide gila.

Tuk

Tuk

Tuk

Habib Khalid kembali mengetuk jendela untuk menarik perhatian Aish. Ketika Aish melihatnya lagi, habib Khalid mengangkat tangan kanannya untuk meminta Aish membuka jendela. Eits, jangan salah paham. Semua jendela asrama menggunakan besi teralis yang kokoh agar tidak ada santri ataupun santriwati yang bolos ditengah malam atau melakukan hal-hal yang berbahaya.

Cklack

Aish tidak bisa mengendalikan tangannya untuk tidak membuka jendela.

"Ha...habib Thalib." Sapa Aish sopan dengan mata menghindar.

Habib Khalid tersenyum.

"Kenapa belum tidur?" Tanyanya kepada Aish. Suaranya begitu lembut hingga membuat hati Aish segera melunak. Berbicara dengan habib Khalid membuat Aish menjadi sesat. Sebab dia selalu merasa bila habib Khalid memperlakukannya berbeda dengan gadis lain. Ah, bagaimana mungkin itu terjadi? Dia pasti hanya ke geeran saja.

"Itu...aku tidak bisa tidur." Akui Aish tidak berbohong.

Habib Khalid mengernyit namun tidak pernah kehilangan senyum di sudut bibirnya.

"Mengapa? Apa karena kamu masih belum bisa beradaptasi dengan pondok pesantren?" Tanyanya masih dengan nada yang lembut juga hangat.

Aish menggelengkan kepalanya tapi sedetik kemudian dia menganggukkan kepalanya.

"Aku tidak tahu." Jawab Aish dilema.

Sejak dia tahu ada habib Khalid di sini, keinginannya untuk melarikan diri dari tempat ini segera berkurang atau katakan saja dia sudah tidak berambisi untuk pergi lagi.

"Alhamdulillah, kamu akhirnya nyaman tinggal di sini." Ucap habib Khalid tiba-tiba.

Aish bingung. Dia tidak pernah mengatakan bahwa dia nyaman tinggal di sini tapi mengapa habib Khalid tiba-tiba mengatakannya seolah dia nyaman saja.

"Aku tidak pernah mengatakannya." Tepis Aish tidak mau mengakui.

Bagaimana pun dia masih kesal dengan habib Khalid karena telah mengabaikan dan memberikannya hukuman kemarin.

Habib Khalid tersenyum lembut. Di bawah cahaya bulan yang terang, pesona sang habib berkali-kali lipat lebih baik daripada sebelumnya. Entahlah, Aish hanya merasa malam ini habib Khalid sedikit berbeda. Senyumannya lebih lembut dan terasa nyata, bahkan nada suara yang digunakan pun jauh lebih halus dari terakhir kali. Memberikan Aish ilusi bahwa habib Khalid kini tengah berbicara dengan seorang wanita yang disukainya.

"Kamu bilang bahwa kamu tidak tahu karena kamu pasti sudah nyaman di sini tapi menolak gagasan ini. Aish, aku senang kamu akhirnya telah menetapkan pilihan mu pada tempat ini karena ketahuilah, tempat ini jauh lebih baik daripada tempat yang pernah kamu datangi sebelum-sebelumnya." Kata habib Khalid melihat pengelakkan Aish di matanya.

Aish gadis yang keras kepala namun sejatinya berhati lembut. Jika tidak, dia tidak akan mudah dengan sahabat yang telah mengkhianatinya, jika tidak, dia tidak akan bersabar pada keluarga yang telah menghancurkan kehidupan Mamanya, dan jika tidak, maka mana mungkin Aish masih memberlakukan Ayahnya dengan baik setelah semua yang pernah dilakukan. Dia memang selembut dan sebaik itu, hanya saja tertutupi topeng keras kepala juga penampilannya yang jutek serta acuh tak acuh.

Aish menundukkan kepalanya memilih untuk diam. Sesungguhnya apa yang habib Khalid katakan memang lah benar. Tempat ini jauh lebih baik daripada tempat yang pernah dia datangi dalam hidupnya. Namun Aish masih tidak suka karena orang-orang yang katanya bermandikan ilmu agama ternyata tidak berbeda jauh dengan orang-orang di luar sana. Mereka memiliki hati yang bias terhadap orang asing yang tidak berasal dari golongan yang sama dengan mereka.

"Aku minta maaf." Ucap habib Khalid tiba-tiba.

1
Anggita Gita
thor season 2 nya🥺
Anggita Gita
Plis kak adain part 2 secepetnya🥺
Anggita Gita
part 2 nya gada kak🥺
kuro
mantul
kuro
aku dah baca 2 x Thor, cerita nya keren
kuro
cerita nya bagus tapi yg like sedikit.
kuro
kaya nya mereka udah nikah ka. cuma ais belum tau
Siti Kusniawati
Alhamdulillah ditunggu lanjutannya cerita Aisah tpi cerita Gisel juga ditunggu lanjutannya ya . trimakasih banyak ya 🙏
Rani
Good
minasri narsi
Thor mn season 2nya ??
Arya Al-Qomari@AJK
sangat puas n mengagumkan 🥰🥰🥰🌹🌹🌹👍👍👍
Arya Al-Qomari@AJK
yang Syarifah aja ditolak sama habib Khalid apalagi si Aira betina munafik Yo gk bakalan lah.
Arya Al-Qomari@AJK
mungkinkah Sina bukan anak Walid? soalnya kata2 Walid ambigu sekali"ana jangan merepotkan Walid dg masalah yg terjadi pada ana".
Arya Al-Qomari@AJK
Allahu Akbar 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Arya Al-Qomari@AJK
baca cerita ini malah teringat dengan cerita ttg aish dkk n ustadz Vano
Arya Al-Qomari@AJK
satu keluarga pada gk bener.
Arya Al-Qomari@AJK
mungkinkah habib Khalid sudah menikahi aish tapi tanpa sepengetahuannya aish? soalnya habib Khalid secara terang-terangan menemui aish walaupun dengan dalih patroli.
Arya Al-Qomari@AJK
munafik teriak munafik. dasar gadis betina aneh
Arya Al-Qomari@AJK
di novel season 1 q baca nangis terus. kasihan aish yg kehilangan kasih sayang orang tua dan dianggap selalu salah.
kuro: terimakasih ka😍
total 4 replies
Luluk Syrfh
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!