Peringatan!
Cerita ini hanya fiksi, jadi kalau tidak sesuai dengan apa yang terjadi disekitar kita. kembali lagi, ini hanyalah fiksi.
Jadi, tahan jarinya untuk tidak menghujat penulis, kalau tokoh yang di hujat, silahkan!
*******
Sebuah perselingkuhan terjadi bukan karena niat pelaku, tapi karena adanya kesempatan, ingat! Kesempatan, maka waspadalah!
Kehidupan Shakilah dan Jojo, yang belum di karuniai anak, semula berjalan dengan sangat manis.
Sampai akhirnya kedatangan Shopia, adiknya Shakila, mengubah apa yang semula semanis gula jawa, menjadi lebih pahit dari empedu.
Shakila yang kurang menghargai suaminya, membuat Jojo mulai melirik adik iparnya yang jauh lebih penurut seperti kelinci dibandingkan dengan Shakila yang pembangkang.
Dan akhirnya, hubungan terlarang itu terjadi di belakang Shakila.
Shopia hamil, anak siapa? Ikuti kisah rumah tangga Jojo dan Shakila selanjutnya.
Follow Ig rii.ena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30. Tetap tidak,
Tangis Shakila masih keras dan pecah, tubuhnya bergetar di lantai, dan ia masih memegangi lengan suaminya erat-erat seakan nyawanya ada di sana.
“Bang, jangan… jangan ceraikan aku! Aku mau dicerai, Bang! Aku janji akan berubah! Aku bakal putus komunikasi sama Hans dalam bentuk apapun, aku bakal jauhin dia selamanya, sumpah, Bang! Tolong… beri aku kesempatan.”
Bang Jojo menatap Shakila dengan rahang mengeras. Wajahnya penuh luka, tapi sorot matanya sudah tidak sama lagi.
“Kila… aku sudah kasih kesempatan terlalu banyak. Aku sudah diam, aku sudah telan semua sakitku. Tapi setiap kali aku aku menegurmu, kamu selalu membantah. Sedikitpun kamu tidak pernah hormat padaku. Padahal aku nggak meminta banyak, hormati aku sebagai suamimu. Tapi kamu selalu mengabaikan omonganku. Jadi untuk apa kamu nggak mau dicerai? Biar bisa mengulangi apa yang pernah kamu lakukan?”
Shakila menggeleng keras, air matanya mengalir deras. “Aku minta maaf, aku khilaf, Bang! Aku bener-bener khilaf!! Aku akan berubah, kasih aku kesempatan.”
Bang Jojo menarik napas panjang, lalu menunduk sedikit, menatap Shakila dengan mata merah yang penuh amarah tertahan. Suaranya pelan, tapi tajam menusuk.
“Khilaf? Kamu pikir aku nggak tahu apa yang kamu bilang sama Hans?”
Shakila mendongak, wajahnya pucat. “A… apa maksudmu?”
Bang Jojo menahan napas berat, lalu berkata tegas, kata-katanya keluar seperti palu godam.
“Bukannya kamu sendiri yang bilang sama Hans kalau kamu nggak pernah cinta sama aku? Terus, ngapain kamu mau bertahan padaku?”
Ruangan langsung sunyi.
Shakila terbelalak, wajahnya pucat pasi. Air matanya berhenti mengalir sesaat, tubuhnya gemetar hebat.
“B… bang…” suaranya tercekat.
Bang Jojo berdiri perlahan, melepaskan genggaman Shakila yang masih mencengkram lengannya. “Kalau memang aku nggak pernah kamu cintai, kenapa sekarang kamu histeris minta aku jangan pergi? Kenapa kamu nggak mau diceraikan?” ulang bang Jojo.
Kalimat itu menghantam dada Shakila lebih keras daripada bentakan apa pun. Ia jatuh terduduk, wajahnya terkubur di kedua tangannya. Tangisnya berubah jadi erangan panjang, penuh putus asa.
“Aku… aku salah, Bang… aku bohong waktu itu… aku…aku akan belajar mencintaimu, aku janji.”
Bang Jojo menatap Shakila lama. Luka di hatinya sudah terlalu dalam untuk percaya lagi. “Kamu bisa bohong sama aku, kamu bisa bohong sama orang tuamu, bahkan kamu tega lempar semua salahmu ke adikmu sendiri. Tapi sama hatimu sendiri… bisa nggak, Kila, kamu bohong?”
Shakila terisak keras, tubuhnya merosot sampai nyaris sujud di lantai.
Ayah Shakila menatap adegan itu dengan wajah tegang, matanya merah menahan emosi. Ibunya menutup mulut, menangis diam-diam, sementara dari kamar, suara tangis Sophia kembali terdengar, getir dan penuh luka.
Bang Jojo menarik napas dalam-dalam. Hatinya masih bergejolak, tapi keputusannya sudah bulat.
“Cinta yang mau dipaksa tumbuh karena takut ditinggalkan… bukan cinta yang bisa nyelamatin rumah tangga, Kila. Aku pamit. Urusan perceraian biar aku yang urus. Kamu bisa kembali sama orang tuamu.”
Shakila menjerit histeris, tangannya kembali mencoba meraih tangan bang Jojo. “Jangan, Bang! Jangan lakukan ini! Aku mohon!”
Tapi Bang Jojo hanya menundukkan kepala, menahan gejolak di dadanya, lalu melangkah pergi. Setiap langkahnya terdengar berat, tapi juga mantap. Sebuah langkah yang menutup satu bab, sekaligus membuka luka besar di keluarga Shakila.
Shakila tertinggal di lantai, terisak keras, wajahnya basah air mata, ia menjerit memanggil nama bang Jojo berulang-ulang. Tapi semua itu hanya menggema di ruang tamu yang sudah retak oleh kebenaran.
Shakila masih terisak di lantai, wajahnya basah air mata. Tapi tangisnya tiba-tiba berubah jadi tawa getir yang menusuk. Ia mendongak, matanya merah menyala, menatap wajah bang Jojo yang baru saja berbalik badan.
“Pantas…” suaranya terdengar parau, namun penuh tuduhan. “Pantas kamu tega banget sama aku, Bang. Semua ini… gara-gara Sophia, kan?”
Bang Jojo berhenti di ambang pintu. Tubuhnya menegang, tapi ia tidak langsung menoleh.
Shakila berdiri dengan susah payah, tubuhnya masih gemetar. Tangannya menunjuk ke arah kamar adiknya, suaranya meninggi.
“Jangan kira aku nggak tahu! Kamu pasti mau ceraikan aku biar bisa nikahin dia! Kamu kira aku buta, Bang? Kamu kira aku nggak lihat gimana dia manja ke kamu, gimana kamu selalu belain dia!”
“Shakila!” Ayahnya menegur keras, wajahnya memerah menahan emosi. “Kau bicara apa itu? Dia adikmu sendiri!”
Tapi Shakila seperti sudah kehilangan kendali. Tangisnya berubah jadi teriakan penuh histeria.
“Adikku? Hah! Adikku yang udah merebut suamiku sendiri! Semua orang di rumah ini buta! Dari dulu aku udah lihat tatapan dia ke bang Jojo, tatapan yang menjijikkan. Tapi aku aja yang disalahin terus! Sekarang buktinya jelas! Dia sakit, Bang Jojo yang repot-repot datang. Aku istrinya, aku malah diceraikan!”
Dari kamar, terdengar tangisan Sophia pecah lagi, jauh lebih keras. Ibunya berusaha menenangkan, tapi suaranya sendiri bergetar.
Bang Jojo akhirnya berbalik, wajahnya pucat tapi sorot matanya tajam menusuk. Suaranya berat, ditahan dari ledakan marah yang hampir meletus.
“Kila, cukup! Jangan seret Sophia lagi dalam tuduhanmu yang nggak berdasar!”
Shakila melangkah maju, wajahnya terlihat berantakan, ada air mata yang bercampur dengan keringat. “Kamu bisa tipu semua orang, Bang, tapi aku tahu! Aku tahu kamu punya rasa sama dia!”
Bang Jojo mendekat selangkah, tatapannya dingin, suaranya serak.
“Dengar baik-baik. Demi Allah, aku nggak pernah sekalipun menaruh perasaan apapun sama adikmu. Sophia hanya anak SMA, adik iparku. Satu-satunya yang aku cintai… seharusnya kamu. Tapi kamu sendiri yang mengkhianati cinta itu. Jadi jangan pernah tuduh aku lagi!”
Shakila tercekat, tubuhnya goyah, tapi matanya masih menyala. “Kalau gitu… kenapa kamu nggak bisa maafin aku, Bang? Kalau kamu cinta sama aku, harusnya kamu memberikan aku kesempatan?”
Bang Jojo menahan napas panjang, lalu berkata dengan nada dingin yang membuat semua orang terdiam.
“Karena kamu sudah terlalu banyak mengkhianati kepercayaan yang aku kasih. Dan yang lebih parah, kamu tega menjadikan adikmu sendiri sebagai kambing hitam. Itu… yang nggak akan pernah bisa aku maafkan.”
Ayah Shakila menghantam meja dengan tangannya, membuat semua terlonjak kaget. Wajahnya merah padam, urat lehernya menegang.
“Cukup! Shakila, satu kata lagi kau menuduh adikmu, Ayah sendiri yang akan halau kau keluar dari rumah ini!”
Suasana rumah itu mendidih. Sophia di kamar menangis pilu, ibunya ikut menangis sambil memeluknya, sementara Shakila jatuh terduduk lagi di lantai, terisak namun masih terus menggeleng, seolah menolak kenyataan yang menelannya bulat-bulat.
Bang Jojo berdiri di sana, dadanya naik turun, hatinya penuh luka, tapi keputusannya sudah tak tergoyahkan. Ia tahu, apapun teriakan Shakila, apapun tuduhan yang keluar dari bibirnya, jalan pernikahan mereka sudah benar-benar sampai di ujung.
Menjelang siang, suasana rumah benar-benar menegang. Shakila yang masih berlinang air mata sudah kehilangan kendali. Tuduhan demi tuduhan meluncur begitu saja dari mulutnya, makin lama makin liar, seolah semua orang di ruangan itu adalah musuhnya.
“Pasti kau akan menikahi Sophia setelah menceraikan aku, kan?” pekiknya histeris mengulang tuduhan, sambil menunjuk adiknya sendiri. “Dari dulu aku sudah curiga! Kau sayang padanya lebih dari aku, lebih dari istrimu sendiri!”
Sophia hanya bisa menangis lebih keras, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tidak pernah membayangkan dirinya akan dituduh sedemikian rupa. Bang Jojo menatap Shakila lama, wajahnya muram tapi tetap dingin, seakan seluruh kasih sayangnya sudah terkuras habis.
“Cukup, Shakila.” Suara berat ayah Shakila memotong, membuat semua orang terdiam. Wajahnya keras, rahangnya menegang, matanya berkilat menahan amarah. “Ayah sudah mendengar cukup banyak dari mulutmu. Kau berani menuduh suamimu sembarangan, bahkan adikmu sendiri kau seret dalam tuduhan tak masuk akal.”
Shakila terisak, mencoba membela diri. “Tapi, Yah—”
“Diam!” bentak sang ayah. “Seorang istri yang tidak bisa menjaga martabat rumah tangga, yang tidak tahu menahan ucapan, apalagi masih main belakang dengan laki-laki lain, sudah kehilangan kelayakan sebagai seorang istri. Apa yang pantas dipertahankan dari rumah tangga seperti ini?”
Shakila tercekat, tubuhnya bergetar. Ia tidak menyangka ayahnya sendiri akan setega itu.
Bang Jojo menunduk, lalu dengan suara berat berkata, “Saya akan urus perceraian ini secara resmi, Yah. Saya tidak ingin ada lagi fitnah yang merusak nama keluarga. Maafkan saya kalau selama ini banyak salah.” ucap bang Jojo dengan suara pelan.
Shakila terperangah, wajahnya pucat. “Nggak, Bang! Jangan! Aku… aku masih mau jadi istrimu! Aku bisa berubah!” teriak Shakila, tangisnya pecah semakin keras. Ia mencoba meraih tangan bang Jojo, tapi bang Jojo menepisnya pelan, dengan tatapan penuh luka.
Ayah Shakila menghela napas berat, lalu berdiri tegak. “Ayah dukung keputusanmu, Jo. Segera urus perceraian ini secara resmi. Ayah tidak mau mendengar lagi ada keributan atau fitnah yang menodai nama keluarga.”
Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Shakila jatuh terduduk, menangis histeris, sementara Sophia hanya bisa memeluk dirinya sendiri. Bang Jojo berdiri tegak, meski wajahnya penuh luka, ia sudah mantap dengan langkahnya.
“Iya, Yah. jawab bang Jojo lalu pergi meninggalkan rumah orang tua Shakila.
********