Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Penyelamatan dalam Dinginnya Malam
Aroma pekat dari rebusan akar manis dan daun mint liar menjadi hal pertama yang menyapa indra penciuman Shen Liya saat kesadarannya perlahan kembali ke permukaan.
Kelopak mata sang Dewi bergerak halus sebelum akhirnya terbuka perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit pondok yang terbuat dari susunan bambu tua yang rapi. Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah jendela kayu yang terbuka sedikit, memantulkan debu-debu kecil yang melayang di udara.
Untuk beberapa detik, otak Shen Liya terasa kosong. Namun, sedetik kemudian, memori mengerikan tentang malam sebelumnya menghantam kepalanya bak gada raksasa.
Pengkhianatan Ling Cang. Altar pengorbanan. Kejaran Panglima Gao. Dan... anak panah beracun.
"Ah!"
Shen Liya tersentak, mencoba langsung bangkit berdiri dari tempat tidur dengan insting waspada yang penuh. Namun, begitu ia menggerakkan tubuhnya, rasa lemas yang luar biasa dan nyeri samar di bagian inti spiritualnya membuat ia kehilangan keseimbangan. Pandangannya berputar sejenak, memaksanya kembali terduduk di tepi ranjang sembari memegangi kepalanya yang berdenyut pening.
Saat itulah, kesadarannya menangkap keanehan lain pada tubuhnya.
Baju zirah kain sutra langitnya yang robek dan berdarah telah lenyap. Ia kini mengenakan jubah tidur longgar berwarna putih polos yang terbuat dari kain katun kasar khas dunia manusia. Lebih mengejutkannya lagi, hawa panas membakar dari racun Jue Qing San yang semalam menggerogoti sukmanya telah hilang tanpa bekas.
Meridian tubuhnya yang sempat terputus kini mengalirkan energi spiritual dengan sangat tenang, bahkan luka tusuk di bahu kirinya telah menutup, menyisakan kulit mulus kemerahan yang baru tumbuh.
Bagaimana mungkin? batin Shen Liya terkesiap. Racun tingkat tinggi dari langit itu... tidak mungkin bisa sembuh dengan sendirinya.
Siapa yang menolongku?
Belum sempat ia menemukan jawaban, sudut matanya menangkap sesuatu di atas seprai putih tempatnya berbaring tadi. Sebuah noda merah pekat yang telah mengering berbentuk kelopak bunga yang patah.
Sebagai seorang dewi yang telah hidup ribuan tahun, Shen Liya seketika membeku. Wajahnya yang semula pucat langsung memerah, lalu berubah menjadi putih pucat karena syok yang teramat sangat.
Ia menyentuh dadanya sendiri, merasakan getaran spiritualnya yang aneh. Kesuciannya—lambang kehormatan tertinggi bagi seorang dewi langit—telah tiada.
Pintu kayu kamar tiba-tiba berderit pelan, terbuka dari luar.
Shen Liya secara insting langsung menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya, matanya berkilat penuh amarah dan kewaspadaan tingkat tinggi saat melihat seorang pria melangkah masuk.
Pria itu mengenakan jubah kain rami abu-abu gelap yang sederhana dengan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya tampak pahatan dewa perang yang sempurna namun beralur dingin, dengan sepasang mata sehitam malam yang seolah tidak bisa ditembus oleh apa pun.
Di tangannya, pria itu membawa sebuah mangkuk tanah liat kecil yang mengeluarkan asap tipis dan aroma herbal yang menyengat.
Gu Jue menghentikan langkahnya tepat tiga langkah dari tempat tidur. Tatapan matanya yang acuh tak acuh menyapu wajah Shen Liya yang kini menatapnya seolah ingin mencabik-cabiknya hidup-hidup.
"Kau sudah bangun," ujar Gu Jue, suaranya terdengar datar, rendah, dan sangat tenang. Sama sekali tidak mencerminkan rasa takut atau bersalah.
"Siapa kau?!" desis Shen Liya, suaranya parau namun sarat akan tekanan energi suci yang coba ia bangkitkan. Ia mengangkat tangan kanannya, memaksakan sekerat energi spiritual di ujung jarinya untuk membentuk jarum es tajam, lalu menodongkannya lurus ke arah tenggorokan Gu Jue.
"Apa yang kau lakukan pada tubuhku, Manusia Kurang Ajar?!"
Gu Jue menatap jarum es spiritual yang melayang beberapa senti di depan jakunnya tanpa mengedipkan mata sedikit pun. Di dalam hatinya, ia merasa sedikit geli.
Energi suci wanita ini memang murni, tetapi dalam kondisi selemas ini, serangan seperti itu bahkan tidak akan bisa menggores kulit iblisnya.
Dengan gerakan yang sangat santai, Gu Jue berjalan melewati jarum es tersebut—membuat Shen Liya terpaksa menarik serangannya karena terkejut dengan keberanian pria ini—lalu meletakkan mangkuk obat di atas meja kayu kecil di samping ranjang.
"Jika aku jadi kau, aku tidak akan membuang sisa tenaga yang berharga untuk membuat mainan es seperti itu," kata Gu Jue, berbalik menghadap Shen Liya sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Aku adalah Gu Jue, seorang tabib di hutan ini. Dan jika kau bertanya apa yang kulakukan pada tubuhmu... jawabannya adalah menyelamatkan nyawamu yang hampir menjadi mayat gosong tadi malam."
"Selamatkan nyawaku?!" Suara Shen Liya bergetar menahan amarah dan kehinaan yang mendalam. Air mata samar mulai menggenang di sudut mata indahnya saat ia menunjuk ke arah noda darah di atas kasur.
"Lalu bagaimana kau menjelaskan ini? Kau memanfaatkanku saat aku tidak sadarkan diri! Kau menodai kesucian seorang de—"
Shen Liya menggigit bibir bawahnya, menahan kata "Dewi" agar tidak lolos dari mulutnya. Ia ingat ia sedang melarikan diri dan tidak boleh membongkar identitas aslinya kepada siapa pun, termasuk manusia fana di depannya.
Gu Jue menatap noda darah tersebut, lalu kembali menatap mata Shen Liya yang dipenuhi rasa penderitaan yang hebat. Sisi dingin di hatinya sedikit bergetar melihat harga diri sang Dewi yang runtuh, namun ia harus tetap menjaga penyamarannya sebagai manusia biasa yang "terpaksa" melakukan hal tabu demi alasan medis.
"Kau terkena racun supernatural tingkat tinggi," ujar Gu Jue dengan nada suara yang sengaja dibuat berat, seolah ia adalah korban yang direpotkan.
"Kulitmu membara, inti tubuhmu hampir meledak, dan kau terus memohon padaku untuk menghentikan rasa panas itu. Sebagai tabib, aku tahu tidak ada obat herbal di dunia ini yang bisa meredam racun itu selain metode penyatuan energi Yin dan Yang."
Gu Jue melangkah satu tindakan lebih dekat, membuat Shen Liya refleks mundur hingga punggungnya membentur dinding tempat tidur.
"Energi tubuhku adalah jenis dingin murni sejak lahir, sesuatu yang dicari oleh racun di tubuhmu. Semalam, kau yang kehilangan kendali dan menarikku ke atas ranjang ini, bukan sebaliknya," lanjut Gu Jue dengan dusta yang diucapkannya dengan begitu mulus dan meyakinkan.
"Aku harus membiarkan energiku mengalir ke dalam meridianmu semalaman untuk menjinakkan racun itu. Jika aku tidak melakukannya, kau sudah meledak bersama seluruh hutan ini, dan aku tidak ingin pondok obatku hancur hanya karena seorang wanita asing yang jatuh dari langit."
Mendengar penjelasan yang begitu logis dari sudut pandang medis fana, Shen Liya terpaku. Memorinya yang samar-samar tentang malam tadi mulai berputar kembali. Di balik rasa sakit yang membakar semalam, ia memang ingat ada sebuah sensasi dingin yang sangat nyaman yang ia kejar dengan putus asa. Ia ingat bagaimana jemari kokoh ini memegangnya, dan bagaimana ia sendiri yang meringkuk memeluk tubuh dingin pria ini demi mencari keselamatan.
Jadi... aku yang menariknya? pikir Shen Liya dengan hati yang hancur.
Rasa bersalah, malu, dan kemarahan kini bercampur aduk di dalam dadanya. Ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pria ini jika situasinya adalah darurat medis demi menyelamatkan nyawa mereka berdua. Namun, tetap saja, kenyataan bahwa dirinya kini telah terikat secara spiritual dan fisik dengan seorang pria fana biasa membuatnya merasa terasing dari dunianya sendiri.
"Minum obatmu," potong Gu Jue, memecah keheningan yang menyesakkan itu sembari menunjuk mangkuk tanah liat. "Itu hanya herbal biasa untuk memulihkan otot-otot manusiamu yang kaku. Setelah kau bisa berjalan, silakan tinggalkan tempat ini. Aku tidak suka tamunya membawa terlalu banyak masalah."
Shen Liya menatap mangkuk obat itu dengan pandangan kosong. Kebanggaan dewinya menolak untuk menerima bantuan lagi dari pria ini. "Aku tidak butuh obatmu. Dan aku akan pergi sekarang juga."
Dengan keras kepala, Shen Liya menyibakkan selimutnya. Ia mencoba menurunkan kakinya ke lantai batu yang dingin. Namun, begitu seluruh berat badannya bertumpu pada kakinya, sisa efek samping dari racun Jue Qing San yang baru saja dinetralkan membuat seluruh ototnya mati rasa.
"Ah—"
Tubuh rapuh Shen Liya limbung ke depan. Ia bersiap untuk menghantam lantai dengan keras, namun sebuah lengan yang kokoh dan hangat dengan cepat menyusup di bawah ketiaknya, menangkap tubuhnya sebelum sempat terjatuh.
Wajah Shen Liya menghantam dada bidang Gu Jue. Aroma tubuh pria itu—perpaduan antara wangi kayu bambu yang basah, tanaman obat kering, dan secercah hawa dingin yang misterius—kembali menyerbu indra penciumannya, memicu debaran aneh di jantungnya yang berpacu liar karena memori keintiman semalam.
Gu Jue menatap ke bawah, melihat kepala wanita itu yang bersandar di dadanya. Rambut halus Shen Liya menggelitik lehernya. Detak jantung sang Dewi yang tidak beraturan terdengar jelas di telinganya.
"Sudah kubilang, jangan keras kepala," bisik Gu Jue tepat di dekat telinga Shen Liya, suaranya terdengar sedikit lebih tajam namun entah mengapa mengandung rasa aman yang pekat.
Dengan satu gerakan mudah yang tidak terbantahkan, Gu Jue kembali mengangkat tubuh Shen Liya dan membaringkannya di atas kasur. Kali ini, ia memastikan menyelimuti tubuh sang Dewi hingga sebatas dada.
Shen Liya menatap langit-langit pondok dengan mata yang mulai berkaca-kaca, membiarkan dirinya pasrah karena tubuhnya yang mengkhianati tekadnya. Ia merasa sangat lemah, sangat tidak berdaya, tidak seperti seorang dewi agung yang biasanya dipuja di langit sembilan tingkat.
"Aku akan berada di halaman depan untuk memotong kayu," kata Gu Jue sembari berbalik menuju pintu, membawa kembali mangkuk obat yang sengaja tidak diminum oleh Shen Liya agar tidak memaksanya terlalu jauh di awal.
"Jika kau butuh sesuatu, panggil saja. Tapi jangan coba-coba melarikan diri dalam kondisi kaki yang bahkan tidak bisa menopang tubuhmu sendiri."
Pintu kayu itu kembali tertutup, menyisakan kesunyian di dalam kamar. Shen Liya memiringkan tubuhnya, meringkuk di bawah selimut hangat yang masih menyisakan aroma tubuh sang "tabib fana".
Air matanya akhirnya luruh, membasahi bantal kayu yang keras. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa mulai hari ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia telah terikat dengan dunia fana ini, dengan perisai tak kasat mata yang diam-diam telah mengurung auranya, dan dengan pria dingin bernama Gu Jue yang tanpa ia sadari... adalah sosok paling ditakuti di seluruh Alam Kegelapan.