(Sudah tersedia versi cetak)
Perjuangan Andreas mendapat maaf dan cinta dari wanita yang telah ia nodai.
Andreas yang Tuan Muda dan terbiasa hidup mewah dengan segala fasilitas terbaik, sampai merelakan semua itu hanya demi mengejar Marisa, yang sayangnya begitu benci padanya sejak kehormatannya direnggut Andreas secara paksa.
Marisa yang hamil, terpaksa mengubur semua impian dan cita-citanya, bahkan harus rela dibenci Ibu kandungnya sendiri karena menjadi penyebab kematian Ayahnya.
Apakah menurut kalian orang yang jahat akan selamanya menjadi jahat?
Bisakah Marisa memaafkan Andreas yang telah meluluh lantahkan hidupnya?
Konflik yang menguras emosi serta air mata bisa kalian baca di sini.
Halo... Ini novel pertama saya di Noveltoon, ayo ikut larut dalam perjalan cinta Andreas dan Marisa.
Semoga menghibur ❤
-🍀-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hijaudaun_birulangit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHAMILAN MARISA
Pagi menjelang, Marisa masih duduk diam di depan meja rias nya dengan rambut kusut, wajah nya terlihat sembab dengan mata yang bengkak dan lingkaran hitam di bawahnya. Di atas meja terdapat 20 butir lebih paracetamol, dari semalam Marisa tidak tidur. Berkali-kali ia ingin mèminumnya, ia langsung berpikir untuk menggurkannya ketika hasil tes pack menunjukan bahwa ia positif hamil.
Air mata Marisa kembali menetes, ia tidak berani melakukannya. Tapi memikirkan bagaimana seandainya keluarganya mengetahuinya membuat hatinya teriris.
Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk seseorang.
"Marisa,kau sudah bangun..?" suara Indira terdengar.
Marisa segera menghapus air matanya berkali-kali
"Iyaa..!" jawab Marisa dengan suara yang terdengar sewajarnya, ia memasukan semua paracetamol itu kembali ke dalam botolnya.
"Cepat sarapan..!" suara Indira terdengar lagi dari balik pintu.
"Iya,Bu..Aku mandi dulu..!"
Marisa baru saja akan masuk ke kamar mandi ketika ponselnya berdering. Ia mengurungkan niat nya, di ambilnya ponselnya. Di layar tertera nama "Bryan".
"Halo..?"
"Hai Marisa, kau sudah menemukan kartu akses masuk Apartemenku?" suara Bryan di seberang sana tersengar ceria.
"Ah, maaf kan aku. Aku lupa...." Marisa merasa bersalah.
"Bisakah hari ini kau memberikannya padaku?" tanya Bryan. "Ada barang yang harus aku ambil di dalam situ."
"Iya..aku akan mengusahakannya." jawab Marisa, matanya mulai beredar ke seluruh ruangan sambil menginggat-nginggat di mana ia meletakkan kartu itu.
"Gue tunggu,yaa..." suara Bryan masih terdengar ramah dan ceria.
"iyaah..." kata Marisa sebelum mematikan ponselnya.
Bryan yang sedang duduk di ranjang dengan hanya di tutupi selimut putih tebal tersenyum sambil memandangi layar ponsel.
"Kau kelihatan senang sekali.." kata wanita yang tidur tanpa baju di sebelahnya.
"hahahahaa...Gue hanya nggak nyangka jaman sekarang masih ada orang sepolos ini." Bryan berkata di sela tawanya. "Dia nggak berpikir kalau gue punya duplikatnya."
"Tapi kau suka yang polos-polos kan..??" wanita itu mengedipkan matanya nakal.
"Kalau itu sudah pasti kan..." Bryan tertawa senang, di bukanya selimut yang menutupi tubuh wanita itu, dengan segera mereka bergumul di atas tempat tidur.
Marisa telah duduk di meja makan, di perhatikannya satu per satu kedua orang tuanya, kemudian kepada Marvin yang sedang menyantap sarapannya dengan ponsel yang tidak lepas dari tangannya.
"Kenapa diam saja Nak..?" tanya Agung yang melihat piring Marisa masih kosong.
"iyaa, ini baru mau ambil." Marisa berusaha bersikap seperti biasa. Dia ambilnya nasi dengan sop sayur dan lauk tempe goreng. Marisa berusah memakanya walaupun tidak berselera.
"Sedikit sekali, apa kau sakit?" kali ini Indira yang bertanya.
"Aku cuma sedang diet." Marisa tersenyum lebar.
"Kau sudah kurus Nak, mau diet yang bagaimana lagi?" tanya Ayahnya.
"Biasa lah Ayah...cewe yaa gini..hahahaa.." jawab Marisa sambil tertawa. Ia menyendokkan makanan ke mulutnya, ia mengerjap-gerjapkan matanya. "Ibu, kenapa rasanya hambar gini..??" protes nya.
"Hambar..? Apa iyaa..??" Indira menyendokkan sop ke mulutnya.
"Enak sop nya." kata Agung. "Marisa hanya sedang ingin makanan yang lain." Agung tertawa.
"Lidahmu sedang bermasalah Mbak." Marvin ikut berkomentar tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
Kening Marisa berkerut. Tapi rasa sop itu benar-benar hambar di lidahnya, ia melanjutkan makan dengan enggan.
Seperti biasa, jika hari Minggu maka Marvin yang mengantar Marisa berangkat bekerja. Seperti hari ini, ia telah bersiap memanaskan motornya sambil menunggu Marisa yang mengambil tas nya.
Beberapa saat kemudian Marisa telah keluar dari rumah, ia mencanglongkan tas dan membawa helm. Ia bersiap untuk berangkat ketika di lihatnya motor Marvin.
"Itu motor yang di berikan gratis itu...?" tanya Marisa.
"Iya, keren kan..?" Marvin tersenyum bangga.
"Lebih baik kau kembalikan saja Dek." Wajah Marisa kelihatan tak suka.
"Aku nggak mau. Mbak kan tau sendiri, motor yang lama sering mogok." tolak Marvin. "Lagian kenapa baru ngomongnya sekarang, nomor ponsel orangnya kan aku juga nggak tau."
Kening Marisa semakin berkerut mendengar kata-kata Marvin.
"Ayo, mau aku antar enggak..?" tanya Marvin bersiap menjalankan motornya.
Dengan sangat terpaksa Marisa naik ke atas motor. Marisa baru ingat, kalau motor yang di kendarai Marvin adalah motor pemberian dari Andreas.
Motor mulai melaju ke jalan raya, Marisa memeluk Marvin dan menyandarkan kepalanya di punggung adiknya.
Pagi itu jalanan begitu ramai, mata Marisa memandang kosong ke arah kendaraan yang saling susul menyusul di jalan raya. Ia menginggat pertemuan pertamanya dengan Andreas, laki-laki berkemeja putih dan berkacamata hitam yang membuat pipi Marisa langsung merona karena ketampanan wajahnya.
Bibir Marisa tersungging senyum ketika ia menginggat bagaimana dengan gampangnya Andreas mengeluarkan uang lima juta dan sebuah motor baru untuk hal yang sepele.
Marisa juga menginggat cek dua puluh miliar yang Andreas berikan untuknya setelah tragedi itu terjadi.
Marisa memejamkan matanya, menginggat tragedi itu membuat hati Marisa sesak. Di rabanya perutnya yang masih rata.
"Apa kah jika aku menggugurkannya, aku akan jadi pembunuh...??" tanya nya dalam hati.
Motor yang mereka naiki berhenti di lampu merah. Marisa merapatkan jaketnya dan kembali memeluk Marvin lalu menyandarkan kepalanya di punggungnya. Karena memasuki musim hujan, pagi itu udara memang terasa lebih dingin walaupun matahari sudah di atas.
Mobil Alphart 3.5 Q A/T warna silver itu berhenti tepat di samping motor yang di naiki Marisa dan Marvin. Di balik kaca Mobil, Andreas melihat Marisa yang di bonceng motor dan sedang menyandarkan kepalanya di punggung seorang laki-laki. Andreas tidak tahu kalau itu Marvin adik Marisa, karena ia mengenakan jaket model Varsity dan helm yang tertutup rapat.
Lampu menjadi hijau dan motor itu melaju kencang mendahului Mobil yang di naiki Andreas.
" Andre, kau mendengarku..??" suara Adnan yang duduk di sebelahnya mengagetkannya yang sedang memandangi motor yang telah hilang di depan sana.
" ...Aku mendengarkan." kata Andreas mengalihkan pandangannya dari luar.
Rendy yang duduk di depan mereka, memperhatikan dengan pandangan cemas.
"Aku dan Rendy sedang membahas strategi pasar dan kau melamun...?"
Andreas tak berniat membantah, ia hanya diam sambil menyandarkan punggungnya pada jog mobil.
Adnan terkejut dengan sikap Andreas, tapi ia memilih mengabaikannya dan kembali berdiskusi dengan Rendy. Mereka membicarakan tentang divisi perumahan yang akhir-akhir ini sedang lesu, dan proyek batu bara yang ternyata tidak provite karena mendapat gangguan dari Pemerintah sana. Andreas hanya diam mendengarkan.
Mobil itu terus melaju membelah jalan raya, mereka dalam perjalanan menemui seorang investor penting yang baru saja datang dari Malaysia.
"Mbak, bensin." kata Marvin begitu Marisa turun dari motor. Ia menegadahkan tangannya ke arah Marisa.
"Kau ini.." Marisa bersunggut-sunggut. Di keluarkan dompetnya dari tas nya. Di ambilnya uang lima puluh ribu rupiah kemudian di berikan nya kepada Marvin.
" Makasiih Mbak!" Marvin tersenyum lebar sebelum menjalankan motor nya melaju ke jalan raya.
Marisa baru akan menyimpan dompetnya, ketika ia melihat kartu akses masuk Apartemen milik Bryan yang akhirnya tadi ia temukan berada di kantong tas nya.
Ia segera memencet-mencet layar ponselnya.
"Halo Marisa.." suara Bryan terdengar dari dalam ponselnya, ceria dan ramah seperti biasa.
"Kartu nya sudah aku temukan.Dimana kita bisa ketemu..? Aku ingin mengembalikannya." kata Marisa sambil berjalan masuk ke dalam Restoran lewat pintu belakang.
Di Apartemen yang sama dengan Apartemen di mana Kamar Andreas berada, Bryan yang masih di atas tempat tidur tersenyum lebar mendengar kata-kata Marisa. Di tutup nya ponselnya, dan di teguknya segelas tequila.
semua bab berkesan, aku pilih yg bisa buat aku terharu ini bab yg judulnya KEINGINANMU TERKABUL bab penuh bawang , POV Rendi yg bikin terenyuh siapa aja yg baca dan kebesaran hatinya Andre menerima Dave secara hukum sebagai anaknya
kak author mengalir deras ya rejekimu.
yang bilang novelmu membosankan, hempaskan... dia maunya sat set Marisa dan Andre ketemu, tragedi p3m3rk*saan , terus nikah paksa , bahagia selama² nya.
abaikan kak abaikan...buatlah novel sesuai maumu bukan mau pembaca. karena novel yg bagus gk akan ditinggalkan pembaca justru banyak pembaca baru yg langsung jatuh cinta sama karya mu... sama kayak aku baca di tahun 2025 langsung terlope lope sama novel ini
semangat🥰
GK kuat😭😭😭😭😭tapi penasaran
galau
poor Rendi semasa hidup hanya ingin sama terlihat sempurna seperti Andreas tapi selalu dihina Eva...
untung disini Spil tipis²
tentang kamu yg mendesak Marisa segera menikah dg Andreas karena kamu cemburu dg Erwin agar melupakan Marisa itu juga benar , kamu berusaha mempertahankan pernikahanmu ... tapi sekali kali teflon di rumah diberdayakan ... kalau Erwin sok sok ingat Marisa lagi geplak aja pake teflon
KENAPA KALIAN HARUS BACA NOVEL INI⁉️
1. Banyak novel dg genre yg sama , tentang p3m3rk*saan dan berakhir nikah dg pelaku. disini beda , banyak pertimbangan sampai akhirnya Marisa mau menikah dg Andreas... gak mudah gaeesss perjuangan Andreas untuk mendapatkan hati Marisa , menguras emosi pembaca.
2. jempol buat author nya , keren banget dia buat karakter tokoh . di novel ini dijelaskan sifat baik buruk nya setiap tokoh... jadi pembaca gk akan jomplang dukung satu tokoh aja.
3. ceritanya bikin nagih, sekali baca gk akan bosen . aku nyesel baru ketemu novel ini dan semoga semakin banyak yg baca meskipun novel ini udah lama tamat nya
ya ini lah namanya TRAUMA
bisa pulih tapi perlahan, bisa kambuh jika ada pemicunya dan Erwin disaat Marisa berdamai dengan traumanya kamu mengungkitnya kembali
semua manusia ada sifat baik dan jelek nya.
di novel ini juga sama dijelaskan detail lewat cerita yg epic karakter tiap tokohnya baik sifat baik dan jeleknya
ibunya andreass
mau jadi karyawan biasa??? yg biasanya nyuruh² terus disuruh... anakmu mau dikasih makan apa Andre
seberapa gilanya
sek Yo Andreas, aku melipir ke kisahnya Johan dulu 🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️