Bagaimana jadinya kalau kau yang menjadi pelampiasan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lee Junhee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaket sialan
Rayhan termenung di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar dan kipas angin yang berputar di atasnya. Kata-kata pedas Lisa masih terngiang-ngiang di benaknya.
Seenaknya saja wanita itu mengatakan kalau anak yang di dalam perutnya adalah anak Yitian. Rayhan mendengkus, lalu tertawa kecil. Ia duduk dari posisi tidurnya, lalu tertawa semakin keras. Pria itu memukul-mukul bantal dengan gemas.
"Aish, wanita itu konyol sekali! Dengan mengatakan kalau anak di dalam perutnya sebagai anak Yitian, secara tidak langsung dia mengakui kalau dirinya adalah wanita yang suka tidur dengan banyak pria. Astaga, kenapa kau bodoh sekali, Lisa? Kau tidak bakat berbohong."
Rayhan terus tertawa, lalu turun dari tempat tidurnya. Pria itu menatap langit yang kembali mendung siang itu. Sepertinya akan hujan lagi.
Rayhan tersenyum. Jika hujan seperti ini, Lisa tidak akan keluar rumah untuk menjual tanaman dan bunga. Ia mempunyai kesempatan untuk menemani Lisa dan bertanya lebih jauh tentang Yitian. Rayhan cukup bersabar dengan pria itu yang ternyata selama ini tahu keberadaan Lisa.
Namun, Rayhan tidak bisa menyalahkan Yitian sepenuhnya, karena Rayhan juga tidak bertanya padanya. Lagi pula, Lisa pasti mempunyai alasan mengapa hanya Yitian yang tahu keberadaannya.
Rayhan bertanya-tanya, siapa lagi yang tahu di mana Lisa tinggal.
Rayhan keluar dari pondok batunya yang sempit, lalu sedikit berlari ke rumah Lisa. Ketika melintasi pondok tanaman, Rayhan melihat tanaman yang dicabutnya kemarin telah layu. Pria itu berdecak sambil mengucapkan duka untuk tanaman itu di dalam hati. Ia tahu pasti Lisa belum melihatnya.
Sampai di teras rumah, Rayhan tersenyum lebar ketika melihat pintu dan jendela yang terbuka. Lalu, tanpa mengucapkan salam sepatah kata pun, Rayhan masuk. Pria itu tidak peduli kalau Lisa akan berteriak di depan wajahnya lagi. Ia hanya ingin Lisa jatuh cinta padanya dan ia telah berjanji akan membahagiakan wanita itu.
Pria itu benar-benar terfokus pada Lisa. Wanita itu telah membuatnya kehilangan pikiran akan masalah lain termasuk perusahaannya. Namun, ia mempunyai sahabat-sahabat ayahnya yang bisa mengatasi segalanya, bahkan lebih hebat dari dirinya. Tujuan Rayhan saat ini adalah membawa Lisa kembali padanya, ke rumahnya.
Langkah pria itu berhenti ketika melihat Lisa yang ternyata beristirahat di kursi panjangnya yang nyaman. Matanya yang indah tertutup dan angin memainkan anak rambut yang ada di keningnya.
Rayhan termangu melihat Lisa. Tidak ada yang lebih menawan dari wanita itu menurutnya. Pria itu berjalan mendekat dan berlutut di dekat kursi tersebut, membuat wajahnya sejajar dengan kepala Lisa.
Wanita hamil membutuhkan tidur siang yang nyaman.
Ia baru menyadari kalau Lisa telah menghabiskan makan siangnya juga. Terlihat dari piring-piring kosong di atas meja, kulit apel serta pisang. Semuanya habis tidak bersisa. Rayhan tersenyum haru. Ia senang Lisa mencukupi nutrisi makanannya.
Tangan Rayhan terangkat untuk merapikan rambut yang menutupi wajah Lisa. Wanita itu pasti tidur sangat pulas karena kekenyangan. Ditambah lagi dengan angin yang sedikit dingin.
Pria itu tidak bosan melihat wajah cantik di depannya. Bulu mata yang bergerak-gerak karena matanya yang berkedut, bibirnya yang terkadang mengerut, lalu dengkuran halus yang terdengar merdu di telinga Rayhan.
Mata Rayhan berkaca-kaca. Ternyata rasanya sangat membahagiakan jika kita sungguh-sungguh merasakan cinta. Pria itu sangat mencintai Lisa dan ia sangat beruntung bisa menemukannya lagi. Apa pun akan dikorbankannya, ia tidak akan melepaskan Lisa lagi.
Tiba-tiba sudut bibir Lisa bergerak-gerak pelan. Rayhan menahan napas, waspada. Lisa pasti akan sangat terkejut jika dia membuka mata dan orang yang pertama dilihatnya adalah Rayhan. Namun, ternyata Lisa tidak bangun.
Apa dia sedang bermimpi?
"Ngh ... aku mohon pergilah."
Rayhan tertegun, kepala Lisa bergerak-gerak pelan.
"Aku ... ingin kau pergi, Rayhan ... aku tidak ingin ... jatuh cinta padamu."
Rayhan tidak tahu harus bahagia atau sedih mendengarnya. Lisa mengigau tentang dirinya, tetapi sepertinya wanita itu takut jatuh cinta padanya. Rayhan sudah bisa menyimpulkan hal itu. Jadi, Lisa takut jika Rayhan lebih lama di sini bersamanya, wanita itu akan jatuh cinta dengan perubahannya. Pria itu yakin akan kesimpulan tersebut.
Rayhan pun tersenyum manis. “Terima kasih, Cintaku. Kau telah membantuku untuk mencari cara agar akhirnya kau bisa jatuh cinta padaku.”
Perlahan, Rayhan maju untuk mendekati wajah Lisa. Matanya terpaku pada bibir Lisa yang sedikit terbuka. Pria itu memejamkan matanya, lalu mendaratkan kecupan hangat dan lembut di bibir Lisa. Seketika itu aliran hangat mengalir di seluruh tubuhnya. Rayhan merinding betapa dirinya merindukan ciuman mereka.
Rayhan menahan diri untuk tidak ******* mulut itu lebih lama. Ia segera menarik tubuhnya dengan perlahan, takut Lisa terbangun. Namun, sepertinya wanita itu benar-benar pulas sehingga tidak menyadari kalau Rayhan baru saja menciumnya.
Rayhan menahan tawa.
Pria itu bangkit dan berjalan ke arah jendela. Rayhan menutupnya lambat-lambat. Udara semakin dingin karena gerimis telah turun ke bumi dan udara seperti itu tidak baik untuk Lisa. Pria itu bergerak serba pelan seperti seorang perampok ketika mengambil ember untuk menampung air hujan dari atap yang bocor. Ia tahu rumah Lisa dalam kondisi yang tidak baik jika hujan turun.
Rayhan teringat akan pakaian yang dicucinya kemarin. Ternyata masih di jemuran. Ia mempercepat langkahnya menuju belakang rumah, lalu mengangkat pakaian-pakaian yang telah kering tersebut. Pria itu ingat betapa murkanya Lisa ketika melihat dirinya mencuci pakaiannya.
Rayhan meletakkan pakaian bersih itu di kursi ruang tengah, tidak jauh dari tempat Lisa tidur. Lalu ketika dia masih melihat jaket Yitian tergantung di sana, Rayhan langsung mengambilnya dan melemparkannya ke lantai untuk kemudian diinjak-injak.
"Aish, aku akan membakar jaket sialan ini!"
Mendengar suara Rayhan yang sedikit keras, Lisa pun terbangun. Ia membuka matanya perlahan. Wanita itu mendapatkan mimpi yang sangat tidak disukainya. Bagaimana bisa ia bermimpi dicium oleh seorang pria yang tidak lain adalah Rayhan?! Ia tidak mengerti mengapa memimpikan pria itu. Apa karena akhir-akhir ini selalu memikirkan bagaimana benci dirinya kepada pria tersebut?
Masa bodoh dengan itu, tetapi entah mengapa Lisa senang mendapati bibirnya yang masih terasa hangat. Mimpi yang aneh.
Mata Lisa telah terbuka sempurna dan pandangannya jatuh pada seorang pria yang tinggi menjulang tidak jauh darinya, sedang menginjak-injak sesuatu di lantai.
Lisa mengernyit bingung. Meskipun matanya telah terbuka, tetapi kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Kenapa Rayhan terus memenuhi pandangannya. Apa dirinya masih bermimpi? Namun, setelah mendengar Rayhan mengumpat lagi, Lisa yakin kalau dirinya telah terbangun.
"Aku ingin tahu kenapa dia tidak memberitahu tentang keberadaan Lisa. Aish!"
"Rayhan? Kenapa kau di sini?!" seru Lisa serak.
Rayhan menghentikan kakinya, lalu menoleh kepada Lisa. Senyum lebar dan konyol langsung terlihat di wajahnya. Lisa berdiri dengan susah payah, sehingga membuat pria itu berlari menghampirinya. Wanita itu menepis tangan Rayhan dengan kasar.
"Aku tidak sudi jika kau menyentuhku!" bentak Lisa.
Rayhan terpaku.
"Ternyata kau masih tidak mempunyai tata krama. Bahkan, gelandangan pun lebih sopan darimu! Keluar dari rumahku sekarang!"
Rayhan tercekat. Padahal ia masih ingin menemani Lisa di tengah-tengah hujan yang mungkin akan datang nanti. Namun, tidak ada pilihan lain. Ia tidak ingin memancing emosi wanita itu lebih jauh karena bisa berdampak pada kandungannya.
Rayhan pun berjalan mundur.
"Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik. Sebentar lagi akan hujan lebat , jadi aku telah mengangkat pakaian bersihmu. Eum ... dan aku senang kau menjaga kandunganmu dengan baik."
Lisa diam saja. Ia heran kenapa Rayhan masih bisa tersenyum tanpa beban seperti itu.
"Aku pergi. Panggil saja jika kau membutuhkanku. Aku akan siap membantumu."
Rayhan pun keluar dari rumah, lalu menutup pintu dari luar. Lisa merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Kenapa Rayhan mulai menyiksa batinnya lagi? Akan tetapi, bukan dalam arti buruk. Pria itu telah membuatnya bimbang, meskipun sedikit demi sedikit.
Kemudian, Lisa tidak ingin ucapan Linda terbukti benar.
BERSAMBUNG ....
tetaplah sesuai jalur Allah, pastinya kebahagian akan selalu menghampiri kita, sekalipun badai tozan menhpaskan n mengombang ambingkan jiwa.. tp pastinya Allah, memberikan reqard atas ujian yg telah kt jalani, baik d dunia n d akhirat, ada balasanya.
ttp semangat k.. storymu spt realita kt dunia, ini penuh dg fatamorgana bila kita tidaj kuat iman.
ttp bersyukur dg apa yg kt puny, jaga diri..
cha yo.. 😘😍😘😍😘😍😍😘😍😘😍
wis ga paham, terlalu saintis, yg ku tau air ketuban.. krn q ngalami pas anak ke 2.wkkwkwkw🤣😂😆😅😄😃😁😁