Cinta bisa membuat pertemanan, lalu mampu membuat ikatan itu hancur berantakan. Ketika dia diberi pilihan, ia harus memilih siapa? Kekasih atau teman? Pilihan berat, bukan?
Widya, Karin, dan Kartika bersahabat baik sejak duduk di bangku SMP. Kehadiran Harsa, Edo, dan Zakir mengenalkan mereka pada cinta. Bisakah cinta itu menguatkan tali persahabatan mereka? Atau justru karena cinta persahabatan mereka hancur berantakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eska'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Permintaan Maaf
...***...
Setelah semalam menginap di rumah Edo, pagi ini Harsa sudah berada di depan rumah Widya untuk menjemput gadis itu. Dia berniat untuk kembali meminta maaf pada Widya. Harsa begitu yakin jika Widya pasti sudah memaafkannya, karena Widya sangat mencintainya.
Harsa kembali melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah sepuluh menit ia menunggu Widya, tetapi yang ditunggu belum terlihat batang hidungnya. Hingga ia melihat sosok Arini yang sedang keluar rumah. Segera ia menghampiri wanita tersebut.
“Pagi, Bun,” sapa Harsa basa basi.
“Eh, Harsa. Nyari Widya?”
“Iya, Bun,” jawab Harsa dengan tersenyum menunduk.
“Loh, bukannya sudah berangkat sama Harsa? Tadi Widya buru-buru pamitnya, katanya Harsa sudah menunggu di depan, ada bimbel OSN,” Arini menatap Harsa bingung.
“Oh, mungkin tadi Widya kelamaan nungguin Harsa, Bun, jadi berangkat duluan,” kilah Harsa untuk menghindari pertanyaan lain dari Arini. Harsa segara pamit pada Arini dan langsung melajukan motornya.
“Jadi lo masih marah, Wid? Dan lo pakek alasan bimbel? Padahal lo jelas tau kalau bimbel hari ini libur.” Rentetan pertanyaan bermunculan dalam pikiran Harsa, membuatnya semakin bersalah. Ia berjanji akan mencobanya lagi nanti.
Setelah tadi ditinggal oleh Widya, sekarang dia harus bernasib sial karena gerbang sekolah sudah ditutup. Perbedaan arah antara rumah Edo dan Widya membuat dirinya harus menghabiskan waktu lebih banyak di perjalanan dan akhirnya datang terlambat.
“Ayolah, Pak. Bapak kan tau, saya baru pertama kali terlambat,” mohon Harsa pada satpam penjaga gerbang.
“Baiklah, bapak bukakan, karena hari ini kegiatan belajar juga dikosongkan sampai istirahat siang.”
Harsa mengernyit heran. “Kenapa, Pak?” tanya Harsa sambil menunggu satpam membukakan gerbangnya.
“Itu, Mas, alumni pengajar di sini ada yang meninggal, jadi hampir semua guru berangkat takziah,” terang satpam.
Setelah gerbang dibuka, Harsa segera menuntun motornya menuju tempat parkir. “Thank you, Pak.”
“Sami-sami, Mas.”
Saat Harsa sudah sampai di kelasnya, pandangannya tertuju pada bangku sebelah Cindy, tetapi tidak ada sosok Widya di sana. Ia juga melirik ke arah bangku Nathan yang kosong. “Kemana mereka?” tanya Harsa pada Cindy.
“Nggak tau, gue. Tadi sih udah datang,” jawab Cindy acuh, “Tuh, tasnya udah di sini,” tunjuk Cindy menggunakan dagunya.
Harsa langsung menuju tempat duduknya dan memainkan ponselnya.
Cindy yang sedang melihat aplikasi jual beli barang online, tiba-tiba melihat ada notifikasi pesan masuk dari ... Nathan? Kedua mata Cindy terbuka lebar. Setelah insiden ketahuannya waktu itu, ia sedikit takut dengan lelaki itu. Tangannya segera menggulirkan layar ponsel dan membuka pesan tersebut.
Nathan : CUKUP KEMARIN AJA LO BUAT WIDYA HANCUR!
Nathan : WIDYA EMANG BELUM TAU TENTANG JAHATNYA ELO, KARENA GUE NGGAK MAU DIA SAMPEK KECEWA SAMA LO!
Nathan : KALO SAMPEK GUE TAHU LO BIKIN ULAH LAGI, AWAS, LO! GUE BAKAL BILANG KE SEMUA ORANG TENTANG KEJAHATAN LO!
Cindy semakin membelalakkan matanya begitu melihat isi pesan Nathan. “Sialan!” umpat Cindy menahan amarahnya. Gadis itu terlihat kesal, tidak ada sedikit pun rasa menyesal.
***
Hari ini kegiatan belajar dibebaskan sampai istirahat siang, membuat Widya begitu malas melakukan apa pun. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk memperhatikan teman-temannya. Cindy sedang memainkan ponselnya, Zakir dan Edo sejak tadi asik tertawa membahas tentang game online. Ia juga sempat melihat Nathan pergi ke luar kelas, entah ke mana perginya anak itu.
Harsa? Ia belum terlihat sama sekali. Tadi Edo sempat bilang jika Harsa menjemputnya, mungkin itu yang membuatnya telat hari ini. Lalu, apa yang akan ia lakukan saat bertemu Harsa? Ia masih marah dengan kejadian kemarin dan belum siap bertemu lelaki itu.
Widya memutuskan beranjak dari tempat duduknya. Pergi ke mana pun asalkan tidak bertemu dengan Harsa jika sosok tersebut datang. Akhirnya Widya memilih ruang UKS sebagai tempat persembunyiannya, menghindari teman-temannya terutama Harsa. Ia membaringkan tubuhnya di salah satu bilik UKS yang terbuka.
“Di sini aja, deh,” gumam Widya. Baru saja Widya akan mengambil ponsel di sakunya, tiba-tiba kain penutup bilik di sebelahnya terbuka. Membuat Widya begitu terkejut dan hampir terjatuh dari ranjangnya. “Astaga!”
“Lo ngapain, Wid?” tanya Nathan begitu melihat Widya ada di depannya.
“Nathan?” Widya melotot ke arah Nathan. “Lo bikin gue kaget tau, nggak?” Widya menghembuskan napas lega.
“Gue penasaran waktu denger suara lo, tadi. Gue cuma memastikan aja, bener atau enggak.” Nathan memposisikan dirinya berbaring miring dan menatap Widya serius. “Lo sakit?”
“Enggak, gue males aja nanti ketemu Harsa.”
“Ya, gue ngerti posisi lo,” tutur Nathan, lalu berbaring telentang lagi sembari memainkan ponselnya. Di sanalah dia mengirim pesan pada Cindy.
"Lo sendiri ngapain di sini?" tanya Widya dengan kening mengernyit heran.
"Sama kayak lo, gue nggak mau ketemu Harsa."
"Hah?" Widya semakin tidak mengerti, tetapi ia tidak mau membahas lebih jauh dengan lelaki konyol itu.
***
Sepulang sekolah, Widya kembali menghindari Harsa. Ia memilih pulang bersama Nathan setelah Nathan menawarinya tumpangan. Harsa kembali mendesah pasrah dengan perlakuan Widya padanya. Ia kembali mengingat kejadian tadi siang saat kegiatan belajar kembali normal, dirinya diminta untuk menyelesaikan soal Fisika di depan, ia sempat mencuri pandang ke arah Widya, tetapi gadis itu menghindari tatapannya.
***
Sudah dua hari Harsa tidak bertemu dengan Widya di sekolah, dari keterangan yang tertulis di surat ijin, Widya beralasan sakit. Hal itu membuat Harsa berniat untuk berkunjung ke rumah Widya nanti malam untuk menjenguk gadis tersebut.
Tepat jam tujuh malam, sepulang dari mabar bersama Edo dan Zakir, Harsa melajukan motornya menuju rumah Widya. Ia segera mengetuk pintu rumah Widya begitu sampai di depan rumahnya. Tidak lama, ia melihat pintunya terbuka dan menampilkan sosok Arini.
“Harsa? Masuk dulu, Sa! Bunda panggilkan Widya sebentar, ya.”
“Baik, Bun, makasih.”
Widya yang sudah tahu akan kedatangan Harsa saat mendengar suara mesin motornya, langsung menutup semua bukunya dan berjalan menuju tempat tidurnya. Sayangnya, belum sempat Widya menarik selimutnya, pintu kamar sudah terbuka dan terlihat Arini mengintip dari balik pintu.
“Dijenguk sama Harsa, tuh! Masih marah?” Widya menganggukan kepalanya.
Arini berjalan ke arah Widya, mendudukkan diri di tepi kasur dan memperhatikan wajah putrinya. “Kalau ada masalah, jangan menghindar! Dihadapin, diselesaikan, biar nggak berlarut-larut.” Widya hanya menunduk lesu sambil memegang erat ujung selimutnya.
Arini tersenyum. “Temuin dulu, gih!” pinta Arini dan hanya dijawab dengan menggelengkan kepala, membuat Arini terkekeh pelan.
“Kenapa? Kasian, loh, udah jauh-jauh datang ke sini. Tadi bunda lihat dia bersin-bersin gitu, sakit kayaknya.” Mendengar kata sakit, Widya langsung bangun. Widya memang masih marah, tetapi ia belum bisa melupakan perasaannya. Jadi, ketika mendengar Harsa sakit, cukup membuatnya khawatir dengan keadaan lelaki itu.
“Widya sayang ... jangan biarkan emosi menguasai diri kamu, Nak! Di setiap jalan, pasti ada tantangan di depannya dan setap jalan yang kita pilih nggak semua berakhir dengan yang kita harapkan. Ada yang berakhir dengan sebuah penyesalan, ada juga yang berakhir dengan kebahagiaan. Namun, kita mesti ingat, jika kita sudah membuat keputusan, berarti harus siap menanggung segala resikonya,” tutur Arini lembut.
Penjelasan Arini membuat Widya cukup bimbang, ia masih marah dengan sosok Harsa, tetapi masalah ini harus segera diselesaikan. Ya, dia harus membuat keputusan yang tepat kali ini. Mungkin pilihan kemarin membawanya dalam penyesalan, tetapi kali ini ia harus bisa membuat keputusan untuk kebaikan semuanya.
Widya menggenggam tangan Arini meminta kekuatan. “Bun, doakan Widya!”
“Pasti, Nak. Pasti Bunda doakan Widya,” jawab Arini.
Widya segera beranjak dari tempat tidurnya, mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian santai. Ia melangkah menghampiri Harsa yang masih duduk dengan menundukkan kepalanya.
“Sa?” sapa Widya dengan pelan, barangkali Harsa tertidur karena terlalu lama menunggu.
“Eh, Wid!” Harsa langsung berdiri begitu melihat Widya. “Gue─”
“Kita ke taman dekat rumahku, yuk!”
Widya langsung berjalan mendahului Harsa, mengajak lelaki itu ke sebuah taman yang tidak jauh dari rumahnya. Saat sampai di taman, Widya memilih duduk di depan sebuah danau, membuat Harsa ikut mendudukkan dirinya di samping Wiyda.
Mereka sudah menghabiskan sepuluh menit dengan saling diam, menyelami pikiran masing-masing. Widya masih bingung untuk merangkai kata-katanya agar tidak menimbulkan masalah baru.
“Sa.” “Wid.” ucap mereka bersamaan.
“Lo duluan, Wid.”
“Kita putus aja ya, Sa,” ucap Widya langsung pada intinya.
Harsa masih diam saat mendengar keputusan Widya, mencerna setiap kata yang Widya keluarkan. Aneh, ada rasa tidak rela melepas Widya begitu saja, tetapi ia juga tidak bisa memberikan kepastian tentang perasaannya saat ini. Bukan maksud munafik, alangkah baiknya jika semua memang kembali ke awal mereka berjumpa, menjadi seorang sahabat yang saling mendukung satu sama lain.
Harsa mengakui jika dirinya memang salah pada Widya dengan menjadikannya pelampiasan atas rasa sakit yang Karin berikan. Ia juga menyadari tidak seharusnya melakukan balas dendam, karena cinta memang tidak bisa dipaksa. Dirinya yang terlalu sibuk saat itu, sampai melupakan kehadiran Karin yang dulu ia perjuangkan cintanya, hingga membuat gadis itu berpaling.
“Wid,” panggil Harsa lagi.
“Hem?”
“Sebelumnya, gue bener-bener minta maaf sama lo, gue emang salah, gue─”
“Sa ...,” potong Widya, “Udah, nggak usah dibahas lagi, gue udah maafin lo.”
“Gue mohon, hubungan persahabatan kita jangan putus, ya? Inget, kita masih ada lomba, Wid.”
“Iya, Sa. Gue juga harus ngejelasin semuanya ke Karin, Kartika dan Nathan.”
“Ah, cowok itu lagi. Kemarin gue dibikin bonyok sama tuh anak!” keluh Harsa sambil memegang bekas pukulan Nathan di wajahnya.
Widya menahan tawanya. “Seharusnya Nathan bikin lo lebih bonyok lagi.”
“Parah banget sih, Wid, dia.Cocoknya lo angkat jadi bodyguard lo, deh.”
“Sepertinya perlu dipikirkan.” Mereka tergelak bersama. “Pulang, yuk!” ajak Widya.
Selama perjalanan pulang, tidak ada lagi rasa canggung di antara mereka, bahkan mereka sering tertawa di sela-sela obrolan mereka. Saat berada di depan rumah, Widya melihat motor Nathan sudah terparkir di halaman rumahnya.
“Gue pulang dulu, ya, Wid. Salam buat Bunda Arini!” pamit Harsa.
“Iya, Sa, Hati-hati!”
Harsa segera mengambil motornya dan melajukan motornya ke luar dari halaman rumah Widya. Belum sempat Widya kembali ke dalam rumah, Ia melihat Nathan berlari menghampirinya.
“Lo nggak apa-apa, ‘kan?” tanya Nathan memperhatikan seluruh tubuh Widya.
“Apa sih, Nath? Gue Nggak apa-apa, gue sehat,” jawab Widya dengan tertawa melihat kelakuan Nathan. Apa Nathan pikir Harsa bakal gebukin dia?
Nathan menghela napas lega. Sekejap suasana menjadi hening. Widya melangkah lebih mendekat ke arah Nathan. Tangannya terulur ke pinggang Nathan, Widya memeluknya.
“Makasih, Nath. Lo udah jadi sahabat terbaik gue. Makasih, karena lo udah mau jadi bahu saat gue emang butuh sandaran. Makasih, banget, Nath,” ucap Widya.
Nathan diam membeku menerima perlakuan Widya. Jantungnya mulai bekerja tidak seperti biasanya. Sialan! Jantungnya memang tidak bisa diajak kompromi di saat seperti ini. “Wid, apa pun buat lo. Gue udah pernah bilang, gue bakal berdiri paling depan kalau sampai tuh curut nyakitin lo,” jelas Nathan mencoba menormalkan kerja jantungnya.
Widya mengurai pelukannya. “Besok anterin gue buat minta maaf sama Karin dan Kartika, ya?” mohon Widya pada Nathan.
“Anything for you,” jawab Nathan sambil mengacak-acak rambut Widya.
“Nathan!”
...***...
Next last episode 👉
Tinggalkan jejak like dan komentar dulu, ya
aku dari awal curiga ama cindy terus
tamu tdk akan masuk kalau tuan rumah tdk buka pintu
dasar buaya betina