Sebuah kecelakaan kapal pesiar terjadi dan membuat 7 orang terdampar di pulau kecil tidak berpenghuni. Mereka dipaksa untuk bertahan hidup sampai bantuan tiba. Ren, salah satu dari 7 orang yang terdampar memimpin mereka dengan pengetahuannya yang luas.
Dia menggunakan keterampilannya untuk bertahan hidup di pulau yang hanya berisikan dia dan 6 orang lainnya. Banyak masalah yang dia temui, namun siapa yang menduga jika dia akan menemukan jodohnya di pulau terpencil?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YatoNime Crack, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 —Perubahan
Ren terus mengejar lebah yang tampaknya pergi menuju ke sarangnya. Dia mulai merasa lelah mengejar lebah, meskipun pergerakan lebah tersebut tidak begitu cepat. Namun cukup sulit untuk tetap tidak kehilangan serangga sekecil lebah.
“Aku harap mereka benar-benar menghasilkan madu. Namun sulit dipercaya bahwa mereka mampu membuat sarang di pepohonan, mengingat angin laut dapat menghempaskannya,” gumam Ren.
Selain angin, lebah juga membuat sarang di tempat yang khusus dan tidak sembarang. Ren tidak memahami kriteria khusus untuk lebah membuat sarang, tetapi pastinya membuat sarang di sekitar pulau ini bukan hal biasa.
Ren juga sudah mengingat hal-hal yang harus dilakukan untuk mengambil sarang lebah. Dia tahu sangat berbahaya mengambilnya tanpa peralatan lengkap, bahkan yang terburuk bisa menyebabkan kematian.
Namun Ren tidak teramat bodoh untuk tidak memiliki cara mengatasinya, tetapi tetap saja hal itu tidak menutup kemungkinan untuk tersengatlengkap
“Aku dan Zain mungkin tidak apa. Mirai juga sepertinya akan baik-baik saja jika tersengat dua atau tiga lebah, tetapi ...”
Ren meragukan Laura dan Theresia mampu menahannya, mereka jelas bukan pria ataupun gadis yang sedikit tomboi seperti Mirai. Jika mereka panik saat memanennya, tidak diragukan mereka akan menjadi sasaran lebah.
Mungkinkah jauh lebih baik tidak membawa Theresia dan Laura? Tetapi itu akan tidak adil bagi Mirai. Bahkan jika hanya Ren dan Zain yang melakukannya, mereka tetap akan kesulitan dan membutuhkan tenaga tambahan lain.
“Jika hanya Zain yang bersedia membantu, kemungkinan besar aku harus mencoba negosiasi dengan Clarissa dan meminjam Anastasia.”
Ren tahu bahwa Anastasia berbeda dari yang lainnya, dia mungkin jauh dan memiliki pengetahuan lebih luas dari yang diketahui Ren. Lagipula Clarissa telah mengakui bahwa sebagai pelayannya, Anastasia sudah mendapatkan pelatihan khusus, termasuk bertahan hidup.
Jika harus meminjam Anastasia, kemungkinan mereka harus membagi hasil 50:50 antara Ren dengan kelompok Clarissa, maka itu hasil terbaik. Namun Ren tidak yakin Clarissa mau menerima hasil seperti itu.
“Seseorang dari keluarga konglomerat pasti sangat lihai dalam berbisnis. Hal yang tidak memberikan mereka untung lebih, mana mungkin dia akan menerimanya.”
Pemikiran orang ekonomi ke atas mungkin hampir semuanya sama, mereka cukup mudah ditebak oleh siapapun yang mau memahaminya.
“Hm?” Ren mendengar sesuatu yang cukup berisik.
Seperti halnya lalat yang berkumpul, suaranya tidak berbeda jauh. Ren yakin dia telah mencapai tempat tujuannya, tidak salah lagi. Namun anehnya, dia tidak menemukan sarang lebah di manapun.
Dari satu pohon ke pohon lain, tidak ada tanda-tanda lebah membuat sarang.
“Apa mungkin aku salah dengar atau salah menyangka bahwa lebah itu sebenarnya tawon?” Ren bergumam dan memiringkan kepalanya.
Ren tidak berpikir dirinya salah melihat, suara yang dia dengar juga tidak mungkin salah. Apakah mungkin para lebah membuat sarang di tempat berbeda dari yang dia pikirkan?
“Ingat kata kakak, jika tidak bisa berpikir dengan kepala, gunakanlah kaki!” Ren mengulangi perkataan yang diajarkan kakak perempuan angkatnya dengan bangga.
Ren tidak pernah mengerti maksud perkataannya. Pernah sekali dia menanyakannya, tetapi jawaban yang didapat hanya, “Lakukan saja!”
Karena itulah, mungkin arti perkataan tersebut adalah untuk melakukannya saja tanpa memikirkan bagaimana dan mengapa.
Ren mulai mencari diberbagai tempat berbeda. Dimulai dari bebatuan, tanah, semak-semak sampai akhirnya sebuah pohon yang sudah lama rubuh.
Ren melihat beberapa lebah masuk dan keluar melalui batangnya yang berongga. Ketika dia sedikit mengintipnya, jackpot! Sesuatu yang dicari dia temukan.
“Aku mengerti, batang kayu ini memang tempat yang bagus untuk membuat sarang.” Ren berdecak kagum kepada para lebah.
Di pulau ini angin terbilang cukup kencang dan bila mana lebah membangun sarang di sekitar pepohonan, besar kemungkinan sarang mereka akan hancur.
Namun jika itu berada di dalam pohon yang perlahan membusuk, mungkin untuk mempertahankan sarang. Tidak ada banyak predator yang akan menyerang mereka juga, dan bahkan melindungi mereka dari hujan.
“Sarangnya juga cukup besar, tetapi yang mengerikan tetap saja lebahnya.”
Banyak, jumlah lebahnya sangat banyak seperti yang diharapkan. Akan sulit untuk mengatasinya, Ren mungkin harus siap pasang badan untuk menerima beberapa sengatan lebah.
“Mencemaskan, aku tidak yakin Zain ataupun yang lainnya mau mengambil risiko hanya untuk madu yang entah banyak atau tidak. Sangat sulit jika aku melakukan semuanya sendiri.” Ren mulai berkeringat, bukan takut melainkan cemas.
Ide gila untuk mengambil madu tanpa perlengkapan khusus, siapapun jelas akan menentangnya. Namun mau bagaimana lagi? Keadaan mereka cukup sulit saat ini, tidak memungkinkan mengabaikan sesuatu yang membantu mereka bertahan hidup.
Memang benar bahwa mereka masih mendapatkan asupan gula dari blueberry dan apel, tetapi sampai berapa lama mereka bisa mengandalkan sumber daya terbatas seperti itu?
“Jauh lebih baik memikirkannya nanti, sekarang sebaiknya aku kembali ke yang lainnya.” Ren memilih kembali ke perkemahan.
Dia tidak lupa untuk menandai jalannya karena khawatir melupakannya, meskipun mungkin hampir mustahil. Namun tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga.
Tidak butuh waktu terlalu lama baginya menempuh perjalanan menuju perkemahan. Seperti yang diharapkan, Ren dan Mirai telah menyiapkan hal yang diminta Ren, tetapi entah mengapa wajah mereka tidak terlihat senang.
“Ada apa? Wajah kalian seperti orang yang baru saja ditolak,” tanya Ren yang memiringkan kepalanya.
“Tidak apa. Ini hanya tentang mengambil madu, apa kita sungguhan akan melakukannya, Ren?” tanya Laura dengan khawatir.
“Sebelum itu, apa memangnya ada sarang lebah di pulau seperti ini? Aku sangat meragukannya.” Theresia tampak berada di pihak yang sama dengan Laura.
Ren sudah tahu apa yang mereka ingin sampaikan, ya sudah dia duga. Mereka takut akan sengatan lebah yang sangat sakit bila kena. Rasanya cukup mengecewakan meskipun dia sudah tahu akan begini jadinya.
“Itu memang ada, aku baru saja menemukannya dan karena itu aku kembali. Meskipun kalian mungkin takut akan sengatannya, tetapi kita tidak dapat menyia-nyiakan sumber daya apapun yang dapat ditemukan.” Ren berusaha membujuk mereka.
Jujur saja bahwa Ren tidak terlalu pintar dalam membujuk seseorang, hal itu bukan bidangnya. Namun, meskipun begitu dia tetap harus mencobanya.
“Tidak mau, aku tidak mau ikut! Kamu ingin kami memanen madu tanpa peralatan lengkap? Apa kamu ingin membunuh kami?!” bentak Laura dengan keras.
Ini kali pertama Ren melihat Laura bertindak demikian, sebuah kesegaran yang baru. Dilain sisi, Theresia tampak sependapat sementara Zain dan Mirai tidak tahu harus memihak siapa.
“Laura benar, Ren. Satu atau dua sengatan mungkin tidak membahayakan, tetapi bagaimana jika satu koloni menyengat kita? Kematian tidak akan terhindari!” ujar Theresia.
“Tenang saja, kalian tidak perlu khawatir. Aku akan mengemban tugas memotong sarangnya, kalian hanya perlu memindahkannya dengan cara estafet.” Ren memasang wajah percaya diri.
Namun hal itu tidak berarti banyak, penolakan Laura dan Theresia tidaklah berubah.
“Tidak mau! Namanya tidak ya tidak, kamu tidak berhak memaksa!” Laura kembali membentak.
Dia akhirnya tersadarkan bahwa semuanya tidak akan berjalan sama seperti hari-hari sebelumnya. Melihat satu persatu semua orang, Ren sadar bahwa mereka bukan teman-temannya yang dulu lagi.