😍Sedang dalam revisi, perbaikan tanda baca, narasi dan lainnya.😍
Season 1 & Season 2.
Warning!!!
kalau mau baca pliss dari episode awal karena kisah cinta Vino - Ran berawal dari Season 1.
Di season ke dua, author akan fokus pada kisah cinta Vino sang cassanova yang jatuh cinta pada saudara ipar sepupunya. Ran, begitu ia biasa memanggil gadis itu.
(Season 1 )
Adimas bramasta seorang duda kaya berumur 35 tahun,dia sudah dua kali gagal menikah dan kedua nya gagal di pertahankan karena ia selalu di selingkuhi. sehingga membuat nya trauma akan dunia percintaan.
setelah 8 tahun di luar Negeri, ia kembali ke Indonesia dan menggantikan posisi papa nya sebagai presdir perusahaan. lalu ia bertemu kembali dengan Fani yang dulu ia anggap sebagai keponakan nya,kini telah menjadi gadis dewasa berumur 20 tahun.
jangan luka like,vote, dan komennya ya beb😽💙 jangan lupa juga masukan nya.. biar lebih baik lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wulan_zai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 30 : Siaga 1.
Hari panjang dan melelah kan pun berlalu..
kini Fani tengah duduk di depan meja rias sembari membersihkan make up di wajah nya sambil melirik lirik kearah kamar mandi di mana Dimas sedang membersihkan diri nya.
Saat Fani sedang melihat ke arah pintu kamar mandi,tiba tiba Dimas keluar dengan jubah handuk yanh membungkus tubuh gagah nya.
deg..deg..deg...deg..
jantung Fani seperti akan meledak melihat ketampanan Dimas yang semakin terpancar dengan rambut basah nya.
"kamu nggak mandi??"
tanya Dimas.
Fani pun langsung membuyarkan pandangan nya,dan segera bergegas ke kamar mandi.
"apa yang harus kulakukan setelah mandi?? apa aku langsung tidur saja?? bagaimana kalau om Dimas ingin ++++++ ?? nggak.. nggak..om Dimas udah berjanji akan sabar menungguku siap menjadi istri nya,jadi jangan khawatir."
gumam Fani dengan wajah panik di balik pintu kamar mandi.
Sementara itu,.sesaat setelah Fani masuk kamar mandi Dimas langsung berlari ke ruangan pakaian nya.
ia mengenakan jubah tidur berbahan satin dengan dada yang sedikit terbuka, lalu ia juga sengaja menata baju tidur yang sedikit seksi dan tipis di bagian depan lemari agar Fani memakai nya nanti.
tak lupa ia menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh nya lalu ia juga menyemprotkan sedikit ke atas sprei.
"ahh..iyaa,, aku harus memastikan ini kuat."
ujar Dimas sambil menghentak hentakkan ranjang tidur nya.
"seperti nya ini cukup kuat... nggak sia sia aku beli ini dengan harga selangit.. hehhehe."
Dimas menyeringai puas.
Setelah semua persiapan di lakukan, Dimas pun berbaring santai di atas kasur sambil mengatur nafas nya yang terengah engah.
tak lama kemudian,Fani keluar dari kamar mandi dan berjalan lurus melewati Dimas yang sudah siaga 1 di atas kasur.
"zzhh.zhhh.... "
Fani mengenduskan hidung nya.
"perasaan tadi nggak sewangi ini di sini.."
ujar nya dalam hati.
Ia pun membuka lemari pakaian nya dan mata nya seketika mau keluar saat melihat baju Dinas malam tergantung berbaris di dalam lemari.
"kenapa isi nya begini semua???"
gerutu nya sambil bergidik.
Setelah 15 menit di ruang pakaian,Fani pun keluar.
Dimas langsung panas dingin saat mendengar langkah kaki Fani keluar dari sana, di dalam pikiran nya ia sudah membayangkan Fani memakai baju Dinas yang telah ia susun sebelum nya.
Dan.......
wakwawwwww....!
Fani keluar dengan mengenakan celana trening yang kedodoran di padukan dengan kaus berwarna kuning muda dengan gambar kucing yang menjulurkan lidah nya.
Dimas pun seketika menjadi lemas,ia sudah bereskpetasi akan melakukan baku hantam yang amat sangat sengit malam ini, tapi ternyata ekspetasi nya tidak berjalan sesuai rencana.
"hhhhfff...dari mana kamu dapat baju itu??",
Dimas mengeryitkan dahi nya dengan raut wajah lesu.
"ini baju lama Fani om, kenapa??"
Fani terlihat gugup saat itu.
"nggak apa apa.. gambar nya bagus."
ujar Dimas berpura pura tenang, padahal dalam hati nya bergejolak ingin menerkam gadis mungil yang sudah menjadi istri nya itu.
"apaa..!? kau meledekku hah??! hisshhh dassr kucing sialan." batin Dimas geram sambil menatap sinis karakter kucing di baju nya Fani.
ia merasa kucing itu sedang meledeknya karena menjulurkan lidah.
"Dimas.. sadar lahh. kau sendiri yang bilang akan bersabar menunggu nya..
tapi mana bisa aku tahan jika terus melihat nya seperti ini." Dimas terus mengomeli diri nya sendiri dalam hati.
"selamat tidur om.." ucap Fani tersenyum tipis sambil menghempaskan diri nya di atas kasur.
ia berbaring sejauh mungkin di ujung kasur itu,ia juga menarik selimut nya hingga menutupi seluruh tubuh lalu berbalik membelakangi Dimas.
"malam..." sahut Dimas dengan wajah lesu,lalu ia mematikan lampu kamar nya.
30 menit....
1 jam...
1 setengah jam..
2 jam ....
"hiks..hikss..hikss.."
terdengar isakan tangis yang berusaha di sembunyikan oleh Fani, ia menangis karena semua ini masih seperti mimpi bagi nya.
Dari dulu Fani selalu berharap ayah nya kembali,ia masih berharap keluarga nya bisa utuh kembali.
tahun demi tahun ia lewati tanpa melewatkan 1 haripun dirinya berharap ayah nya akan kembali.
dan keinginam terbesar nya adalah ayah nya datang saat ia menikah,namun sampai kemarin Fani berusaha mencari ayah nya namun tak juga menemukan keberadaan nya.
di tambah ia harus kehilangan ibu nya secepat ini,rasa nya dunia tidak pernah berpihak pada nya. rasa rindu, penantian,kekecewaan,dan kehilangan itu lah yang membuat dia menangis terisak setiap mau tidur bahkan hingga hari ini.
Dimas yang ternyata juga belum tidur mendengar isakan Fani, ia menoleh dan memandangi punggung Fani.
ia bertanya tanya dalam hati sekaligus iba melihat Fani yang menahan tangis nya yang sesenggukan.
" kenapa kamu menangis Fani?? apa kamu menyesal karena menikah denganku? sebesar itu kah kesedihan mu karena menikah dengan ku?"
batin Dimas.
"Fani,," panggil Dimas lembut.
Fani pun terkejut lalu ia segera mengusap air mata nya, ia tidak tahu kalau Dimas ternyata juga belum tidur.
"iyaa.." jawab nya lirih dengan suara mengambang.
Dimas bergeser mendekati Fani,ia juga memegang lengan Fani yang masih membelakangi nya.
"kenapa kamu nangis??"
"nggak kok om.." sahut Fani lirih.
"kamu menyesal nikah dengan om??"
tanya Dimas lagi,ia merasa bersalah kepada Fani
"Fani kangen ibuk om.. hiks..hiks..."
air mata Fani pun mengucur deras lagi saat menyebutkan ibu nya.
"hei,,.. sini..sini.. lihat om."
Fani pun berbalik badan dan sekarang mereka berhadap hadapan.
Dimas mengusap lembut kepala Fani.
"tidur lah,,ini udah larut bisa sakit kepala nanti kamu."
Fani tak menjawab,ia masih menangis sesenggukan sambil menutupi wajah nya dengan kedua telapak tangan.
Dimas meraih tubuh Fani dan memeluk nya dengan hangat, ia juga mengusap usap punggung Fani agar lebih rileks.
Tak lama kemudian Fani pun tertidur di pelukan Dimas,namun senggukan nya masih terdengar beberapa kali.
" tidur lah sayang... " bisik Dimas lembut lalu ia mengecup mesra kepala Fani.
...********...