Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkau lah
Jawaban sgala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku
Sepasangan kekasih yang harus terpisah karena keadaan. Namun, dengan berbagai cobaan yang datang, akhirnya mereka di pertemukan kembali dan di satukan dengan keadaan yang berbeda pula.
Raditya Purnomo ♥️ Winda Wulandari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sementara itu, Adi melajukan mobilnya dengan perlahan menuju kontrakan Winda
"Mas, mas Radit kenapa sih kok tadi diam saja?" tanya Winda memecah kesunyian.
"Gak tau juga ya. Aku juga heran beberapa hari ini dia jadi pendiam begitu."
"Apa dia lagi ada masalah?"
"Masalah? Masalah apa? Dia gak pernah cerita."
"Terus kenapa ya kok mas Radit jadi pendiam begitu?"
Winda memandang lurus ke depan, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu. Adi melirik ke arah Winda sambil tersenyum jahil.
"Kenapa memangnya? Kamu kangen ya di ledekin sama Radit?"
Winda menoleh ke arah Adi. Di pikuknya lengan Adi dengan perlahan.
"Ih, mas Adi apaan sih."
"Pakai malu-malu segala. Itu wajah merah kayak kepiting rebus."
Winda tertawa kecil dan melihat ke luar jendela untuk menyembunyikan rasa malunya. Beberapa hari belakangan, Winda merasa jika ada perubahan sikap Radit. Biasanya, setiap mengantar kopi pesanan Radit, Radit mengajaknya berbicara walau sebentar. Tetapi beberapa hari ini tidak. Winda menarik nafasnya dalam-dalam. Tak terasa mobil sudah sampai di gang kontrakan Winda.
"Terimakasih ya mas udah mau anterin."
"Iya. Hati-hati ya."
"Mas Adi juga hati-hati ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumssalam."
Winda turun dari mobil dan berjalan menuju kontrkannya. Adi memutar balik mobilnya dan menuju kafe tempat di mana Radit masih menunggu. Ketika Adi sampai, Radit masih sibuk dengan ponselnya.
"Sibuk banget dari tadi." tegur Adi. Radit menoleh ke arah Adi yang telah duduk di sampingnya.
"Ada masalah apa sih?" tanya Adi.
"Ini ada beberapa email dari klien. Bukan masalah. Mereka hanya menyampaikan bahwa merasa puas bekerja sama dengan perusahaan kita."
"Wah, hebat dong."
Adi dan Radit membahas tentang pekerjaan. Tentang rencana proyek mereka yang baru.
"Eh iya loe lagi ada masalah sama Winda?" tanya Adi setelah pembahasan masalah pekerjaan itu selesai.
"Enggak. Kenapa?"
"Gak biasanya aja. Biasanya loe ketemu Winda tengil loe muncul. Tapi tadi..."
"Loe tau dari guee lagi fokus ke email yg di kirim oleh klien."
"Terus kenapa sebagai Gito, loe gak hubungi Winda?"
Radit meletakkan ponselnya dan menatap lurus ke depan.
"Sebagai Gito, gue pengen mengurangi interaksi dengan Winda."
Adi terkejut mendengar perkataan Radit.
"Lho kenapa? Loe udah gak cinta lagi sama Winda?"
"Bukan begitu. Justeru karena gue sangat mencintai, gue ingin segera mengakhiri sandiwara ini. Udah cukup gue ngebohongin dia."
"Maksud loe, loe mau ungkap jati diri Gito sebenarnya ke Winda? Kapan?"
"Gak tau. Mungkin setelah pernikahan kak Vika dan kak Arya selesai di laksanakan."
Radit tersenyum mendengar perkataan Radit.
"Gue dukung loe. Semoga semuanya lancar."
"Tapi gue takut Winda bakalan ninggalin gue jika dia tau yang sebenarnya.'
"Maksud loe?"
"Dulu Winda waktu gue tanya jika dia tau pacarnya udah bohong ke dia, apa yang akan dia lakukan. Winda jawab dia akan ninggalin pacarnya itu. Dan gue khawatir dia bakalan ninggalin gue beneran."
Adi menepuk bahu sahabatnya itu.
"Walaupun Winda bakalan ninggalin loe, kalau kalian sudah di jodohkan oleh Tuhan, Winda pasti bakalan balik lagi. Percaya sama gue."
Radit tersenyum dan mengangguk.
"Thanks bro. Loe memang sahabat yang baik. Udah malam. Kita pulang."
Kedua sahabat itu keluar kafe menuju parkiran mobil. Radit mengantar Adi ke kantor, karena Adi hendak mengambil motornya. Setelah mengantar Adi, Radit pun pulang ke rumahnya.
####
Hari terus berlalu. Tak terasa hari pernikahan Arya dan Vika pun tiba. Vika tampak cantik dengan balutan kebaya berwarna merah. Dia tampak gemetaran. Tante Ami menenangkan putrinya itu.
"Anak mama kena,?"
"Vika tegang, ma."
"Tegang kenapa? Harusnya yang tegang Arya karena dia yang akan mengucapkan ijab kabul. Kok malah kamu."
"Iiiihhhh...mama."
Tante Ami mengelus bahu Vika. Dia memahami akan keteganga yang Vika rasakan karena ini adalah yang pertama buat Vika.
"Kak Vika jangan lupa berdoa ya. Supaya tenang."
kata Winda yang berdiri di sebelah Vika. Vika tersenyum,
"Makasih ya Win. Kamu selalu memberikan semangat buat kakak."
Winda tersenyum mengangguk. Tiba-tiba ponsel Winda yang berada di hand bag berbunyi. Telepon dari Radit. Winda segera mengangkat telepon itu.
"Ya mas..."
"Win, ajak kak Vika ke depan ya. Rombongan. mempelai pria dan penghulu sudah datang. Ijab kabul akan segera di mulai."
"Iya, mas."
Winda mematikan telefon dan menyimpan ponselnya ke dalam handbag yang dia bawa.
"Siapa, Win?" tanya Tante Ami.
"Mas Radit, Tante. Kita di suruh ke depan.. Mempelai pria dan penghulu sudah datang."
"Kalau begitu ayo ke depan."
Tante Ami berdiri dari duduknya. Tetapi tangannya di tarik oleh Vika.
"Maaa..."
Vika merengek seperti anak kecil. Tante Ami tersenyum.
"Kamu yang tenang ya."
Vika mengangguk. Tante Ami dan Winda berjalan di sebelah kanan kiri Vika, menuju ke tempat ijab kabul. Vika duduk di sebelah Arya, sedangkan Winda duduk di sebelah Radit. Wali nikah Vika adalah pamannya dari pihak ayah. Arya mengucapkan akad nikah dengan lancar. Semua yang hadir sangat bahagia karena acara ijab Kabul itu berjalan sesuai rencana. Vika menitikkan air matanya. Begitu juga dengan Winda. Dia ikut merasakan kebahagiaan Vika. Radit menyadari bahwa Winda menanggis. Dia mengambil saputangan dari saku jasnya dan di berikannya kepada Winda.
"Ini."
Radit memberikan saputangan itu kepada Winda. Winda tersenyum dan menerimanya.
"Terimakasih, mas."
Radit tersenyum. Mereka kembali fokus ke pengantin yang sedang menerima ucapan dari tetangga dan kerabat. Giliran Radit, Winda dan juga Adi memberikan ucapan selamat.
"Selamat ya kak." kata Radit sambil menjabat tangan Arya.
"Terimakasih, Dit. Setelah ini kamu nyusul ya." kata Arya. Radit tertawa mendengar perkataan Arya.
"Tenang aja, kak. Tinggal menunggu waktu yang tepat,"
Baik Radit maupun Arta sama-sama tertawa. Gantian Winda yang memberikan ucapan selamat.
"Selamat ya kak. Semoga langgeng sampai maut memisahkan."
Winda mencium punggung tangan Vika.
"Terimakasih ya Win. Cepat menyusul ya. Jangan kelamaan pacarannya nanti keburu di ambil orang."
Wajah Winda bersemu merah.
"Kakak bisa saja."
Vika tersenyum lebar melihat wajah Winda yang bersemu merah. Pagi itu hanya acara ijab kabul saja karena resepsi pernikahan akan di laksanakan pada malam harinya. Setelah acara selesai, Winda duduk istirahat di taman belakang rumah. Dalam kesendiriannya itu, Winda teringat akan Gito. Sudah sebulan lebih Gito tidak menghubunginya. Winda mencoba menelfon Gito. Tetapi lagi-lagi Winda kecewa karena nomor ponsel Gito tidak aktif. Winda menutup wajahnya sambil terisak. Rasa rindu, kesal dan juga marah menjadi satu.
"Kenapa menanggis?" tanya Radit yang sudah duduk di samping Winda. Tiba-tiba Winda menghambur ke dalam pelukan Radit dan menanggis di sana. Radit terkejut tapi membiarkan saja Winda menanggis, walaupun bajunya harus basah oleh air mata Winda. Setelah beberapa saat, Winda pun melepaskan pelukannya dan tersipu malu setelah sadar akan perbuatannya.
"Maaf ya mas. Baju mas Radit jadi basah."
"Gak apa-apa. Memangnya kamu kenapa? Lagi ada masalah ya?"
Winda menarik nafasnya dalam-dalam dan mengangguk.
"Pasti tentang pacar kamu itu ya?"
"Iya, mas."
"Kenapa?
Winda terdiam. Hatinya masih diliputi rasa gundah. Dia juga binggung hendak cerita ke Radit atau tidak.
meluncur ke cerita lainnya