NovelToon NovelToon
Tanah Luka Dan Persahabatan

Tanah Luka Dan Persahabatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Dini Sinaga

Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15 John dan Sari tiba, Kesaksian Memberatkan

Semua mata tiba-tiba tertuju ke arah John, Sari dan Junaedi. Pak kepala Kampung kemudian menyapa mereka.

"Mari, ke sini John. Kamu lebih baik mendekat kemari sebab itu kejadian yang sedikit aneh dan mungkin Kamu dan Sari mengetahui sesuatu?" Tanya Pak kepala Kampung.

John dan Sari serta Junaedi berjalan mendekati keberadaan Kepala Kampung dimana disana berada Slamet, Widuri, Harjo dan yang lainnya juga.

"Sebernarnya kemarin Kami berdua makan bersama Slamet di Rumah makan tepi sungai itu! Namun Kami segera pergi tanpa mengajak Slamet, sebab Dia telah membohongi kami dan Ibu Guru Wati sore itu." Sari segera menjelaskan, setelah mereka berada di dekat posisi Kepala Kampung dan yang lainnya.

Sari segera menceritakan hal itu, sebab tadinya beberapa warga sudah memberikan keterangannya mengenai kejadian di rumah makan, saat Slamet bersandiwara dan menyalahkan Harjo sebab tak mampu membayar makanan yang dipesannya.

"Oh, jadi kalian juga berada di rumah makan yang sama, bersama Slamet kemarin sore?" Tanya Kepala Kampung memastikan jawaban Sari.

"Benar sekali Pak. Kami dan Wati telah ditipunya. Sebab Slamet telah menjanjikan pertemuan antara Jo dan Wati, namun kakak saya John yang di undang kepertemuan itu." Sari menjelaskan lagi, dirinya sudah sangat tidak simpatik terhadap Slamet dan ingin sekali membongkar sifat buruk dari Slamet.

"Oh, begitu." Kepala Kampung mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil berpikir.

"Berarti, setelah kalian ditipu Slamet dan pergi meninggalkannya, Slamet kemudian bersandiwara seperti orang kerasukan karena tidak mampu membayar dan kemudian menuduh Harjo yang telah menjadi penyebabnya! Sungguh keterlaluan sekali kamu Slamet!" Kepala Kampung menyimpulkan semua keterangan yang telah diberikan beberapa orang beserta keterangan Sari, lalu menghadapkan wajahnya ke arah Slamet seraya ingin mendengarkan jawaban dari Slamet.

Slamet yang sudah semakin terpojok akibat keterangan dari Sari merasa malu dan bingung harus menjawab apa. Dirinya hanya bisa menundukkan kepala seraya merasa semakin marah di dalam hatinya terhadap Harjo.

"Semua ini gara-gara Kamu Harjo, Aku tidak akan pernah melupakan kejadian hari ini!" Slamet berkata dalam hatinya.

"Kamu mengapa diam saja Met? Coba kamu jelaskan kepada Saya, mengapa Kamu menyalahkan Harjo? Atau jangan-jangan Kamu merasa tersaingi oleh Harjo? Coba jelaskan kepada Kami." Kepala Kampung kembali meminta penjelasan dari Slamet.

"Sa.. Saya, sebenarnya tidak berbuat begitu Pak. Sa.. Saya, dapat menjelaskan semuanya." Jawab Slamet terbata-bata.

"Silakan Kamu jelaskan! Saya tidak ingin mendengarkan kebohongan, Saya ingin penjelasan yang jujur, tidak ingin dipermainkan oleh Kamu terutama." Kepala Kampung bertanya lagi kepada Slamet.

"Awalnya Saya dan Wati berjanji bertemu John di.." Slamet tidak dapat menyelesaikan ucapannya sebab Sari memotong ucapannya dengan mengatakan,

"Jo bukan John kakakku, sebab Kamu telah menipunya!" Sari meluruskan keterangan dari Slamet.

Slamet semakin terpojok dan kesulitan berkata-kata.

Harjo yang berada di ruangan itu merasa terkejut dirinya disebut juga.

"Mengapa seperti ini, ya? Namaku sampai dibawa-bawa. Ada apa sih, ini sebenarnya?" Harjo menjadi bertanya-tanya di dalam hatinya.

"Lihat, mereka menyebutkan nama Kamu, berarti benar, Ibu Wati memiliki perasaan kepadamu! Dia merasa cemburu kepada Kita, sehingga mengindahkan sapaan dariku." Widuri berbisik ketelinga Harjo, setelah mendengarkan perkataan Slamet dan Sari. Dirinya teringat kepada Wati yang lewat begitu saja di hadapanya dan Harjo, walaupun sudah disapa olehnya. Selama ini Wati adalah seorang gadis yang berprofesi sebagai guru terkenal ramah dan baik hati, berbeda dengan waktu itu.

"Hust.. Jangan menduga sembarangan, kalau kedengaran dirinya atau orang lain, bisa bahaya, bisa tambah marah nantinya Ibu Wati kepada Kita!" Tegur Harjo dengan sedikit berbisik agar tidak ada yang mendengarkannya kecuali Widuri.

"Baiklah, tetapi bisa saja dugaanku benar, Ibu Wati menyimpan perasaan khusus kepadamu. Atau jangan-jangan kamu juga menyimpan rahasia dariku?" Bisik Widuri kembali ke telinga Harjo. Widuri semakin penasaran kepada Wati dan perasaannya kepada Harjo dan sebaliknya.

"Jangan berpikiran yang aneh-aneh, Aku sudah katakan, Aku tidak memiliki hubungan spesial dengan Ibu Wati, Kami hanya berkenalan di pertemuan Penyuluhan pertanian, selain itu Aku jarang mengobrol dengannya!" Harjo kembali berbisik kepada Widuri, lalu fokus memperhatikan tingkah-laku Slamet yang sedikit berbeda.

Slamet, mengaruk kepalanya yang tidak gatal.

"I.. Iya, waktu itu Aku salah dengar, Aku kira Wati mengatakan ingin bertemu dengan John, sehingga Aku bersemangat mengiyakan keinginannya." Slamet mencoba, membela diri dari perkataan Sari yang cukup memojokkan dirinya, sebab apa yang disampaikan oleh Sari adalah sebuah kebenaran. Namun Slamet tidak mau ketahuan telah berbohong tentunya.

"Kau.. Masih saja Kau berbohong, semua yang sudah dikatakan oleh Wati sudah cukup jelas bagiku. Dia sudah mengatakan bahwa dirinya ingin bertemu dengan Harjo yang kamu sebut namanya dengan nama kecilnya Jo, padahal Wati belum pernah mendengar Harjo dipanggil dengan sebutan itu." Sari tidak mau, Slamet bersikukuh dengan setiap kebohongan yang telah terbongkar kemarin di rumah makan tepi sungai.

"Baiklah, sabar sebentar." Kepala Kampung mencoba menenangkan Sari yang sudah terlihat mulai emosi, wajahnya yang putih mulai terlihat memerah, sehingga Kepala Kampung berinisiatif untuk mengambil alih dengan memberikan kesimpulan sementaranya.

"Saya mulai memahami masalah ini. Kamu Slamet tidak berhasil menipu Ibu Wati dengan mempertemukannya atau mengenakannya kepada John, sehingga kamu dipenuhi kemarahan yang mengarah ke dendam kepada Harjo yang tetap ingin ditemui oleh Ibu Wati." Kepala Kampung menggelengkan kepalanya.

"Aneh sekali Kamu ini! Orang ingin bertemu dengan Harjo, mengapa Kamu yang tidak suka dan marah, malahan mempertemukannya dengan orang yang berbeda. Kurang ajar Kamu itu namanya!" Kepala Kampung sedikit jengkel dengan tabiat dan juga pada apa yang telah dilakukan oleh Slamet.

"Sa.. Saya minta maaf.. Pak! Sa.. Saya hanya merasa itu hanya pertemuan biasa, sehingga Saya mencoba mengenalkannya dengan lelaki yang lebih baik, yaitu John Pak!" Slamet kembali memberikan alasan yang tidak masuk di akal, serta mencoba menarik simpati John agar membelanya. Sebab John dan Sari adalah anak mantan Kepala Kampung yang sangat disegani diKampung Surya Kencana.

Namun sayangnya John merasa risih dengan setiap ucapan dari Slamet, sebab dirinya menjadi terbawa-bawa karena kejadian ini.

"Sudah cukup! Saya tidak ingin nama saya dibawa-bawa dalam masalah ini. Saya merasa menyesal telah menuruti keinginanmu untuk bertemu dengan Wati." John akhirnya mengeluarkan pendapatnya. Dirinya sedikit merasa malu dengan perkataan Slamet yang menyinggung namanya itu.

"Kamulah yang mengatakan bahwa Wati berkeinginan bertemu denganku, waktu itu di warung Widuri. Aku saja masih belum berpikiran untuk menemuinya waktu itu." Tambah John dengan suara agak keras merasa kecewa akan perbuatan Slamet beberapa hari ini.

Widuri pun mengingat kembali pertemuan Slamet dan John di warung miliknya.

"Iya, benar sekali. Slamet lah yang pertama kali menyebutkan nama Ibu Wati, dan mengatakan kalau Ibu Wati berkeinginan untuk bertemu dengan John, sebelum..." Widuri mengingat-ingat kembali kejadian sore itu di seringnya.

"Ohya! Saya ingat, sebelum akhirnya Harjo lewat dan ikut bergabung di warung Saya sebab dipanggil olehmu, Slamet." Jawab Widuri menerangkan.

1
Dini
okey bagus
👍
Dini
💪baru setiap harinya

yuk diikutin dan di like
Dini
bagus, cara bercerita yang berbeda
tema yang baru
Zidan
GG bang bagus , saling folow yuk jangan lupa baca novel ku juga kalau boleh 🙏
Zidan
GG bang saling folow yuk bang
Dini: 🙏ok sudah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!