NovelToon NovelToon
SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU

Status: tamat
Genre:Teen / Misteri / Horor / Contest / Eksplorasi-misteri dan gaib / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Junan

Imran adalah seorang remaja yang sejak kecil sering bersentuhan dengan hal ghaib. Nyawanya sering terancam akibat aktivitasnya yang senang mengungkap misteri-misteri di sekitarnya.

Untunglah ia memiliki teman-teman dan orang-orang yang selalu setia mendampinginya memecahkan misteri-misteri itu.

Kali ini Imran menjadi siswa baru di sebuah SMA favorit di kotanya. Dan lagi-lagi ia harus menghadapi keganjilan demi keganjilan di sekolahnya.

Mampukah Imran dan teman-teman barunya memecahkan misteri-misteri itu? Apakah misteri yang ia hadapi ada hubungannya dengan keluarganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Junan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 JALAN MAWAR

Aku dan ketiga temanku berjalan menyusuri jalan setapak di depan masjid jami'. Di ujung jalan kami menjumpai jalan raya beraspal yang bentuknya menikung tajam. Untuk menghindari tertabrak oleh kendaraan yang lalu lalang, kami berempat memilih berjalan di pinggir sebelah kiri. Di sepanjang jalan, kami menjumpai banyak sekali gerobak-gerobak pedagang. Sebagian tidak permanen dan sebagian yang lain semi permanen. Ada semacam warung di belakang gerobak-gerobak itu sebagai tempat pembeli untuk menikmati makanan yang dibeli.

"Im, kita ini mau kemana sih? Terus mulai tadi kalian bicara misi. Misi apa maksudnya, aku nggak paham," tanya Arini setelah kami jauh meninggalkan pedagang mie ayam tadi.

"Gini, Rin. Di perpustakaan sekolah kami ada teror hantu Satpam. Sekarang kami sedang berusaha memecahkan misteri penyebab munculnya hantu Satpam tersebut," jawabku singkat.

"Terus, kenapa kalian melakukan investigasinya di alun-alun? Terus kita ini mau ke mana?" tanya Arini penasaran.

"Hantu Satpam itu meneror kami bertiga. Kemudian ia memberikan pesan mistis kepada kami bertiga," jawab Indah.

"Apa pesan mistisnya, Kak?" tanya Arini lagi.

"Pesan mistisnya adalah kata, 'ALUN-ALUN', 'MAWAR', dan '13'," jawab Bondan serius.

"Oooooo ... jadi itu alasan kalian berkeliling di alun-alun? Terus, sekarang ini kita akan menuju ke-," ucap Arini.

"Ya benar. Kita akan menuju ke jalan mawar dan mencari nomer rumah 13 di sana," jawabku.

"Ya Tuhan! Untung tadi aku beli mie ayam, ya? Kalau tidak, kalian tidak akan mengetahui arti pesan 'MAWAR' tersebut, ya?" ucap Arini.

"Iya, Rin ... mungkin kita sudah ditakdirkan untuk dapat mengungkap misteri kemunculan hantu Satpam di sekolah," jawabku.

"Oke siap. Aku ikut gabung sama kalian, ya?" teriak Arini.

"Hus! Nggak usah rame-rame. Kami memang sengaja ingin mengajakmu, kok!" jawabku.

"Makasih ya, Im!" jawab Arini.

Kami pun melanjutkan berjalan menuju jalan Mawar.

"Teman-Teman, di depan sana ada warung es buah yang cukup terkenal di kota ini," cetus Arini mengawali pembicaraan.

"Wah, kamu ini hapal banget ya dengan tempat-tempat untuk membeli makanan di kota ini," sahut Bondan.

"Almarhum ayah dan ibu angkatku sering mengajakku jalan-jalan ke warung-warung makanan yang populer di kota ini," jawab Arini.

"Emangnya, es buah yang di depan itu rasanya beda dengan yang lain tah?" tanyaku penasaran.

"Hm ... kalau rasanya sih menurutku tidak jauh berbeda dengan es buah di tempat yang lain. Yang bikin terkenal adalah potongan buahnya sangat banyak dan harganya sangat murah," jawab Arini lagi.

"Panteeeeesan kalau begitu. Memang, orang-orang itu sukanya sama yang murah tapi enak," cetus Indah.

"Warungnya buka mulai jam 8 pagi. Jam 3 sore sudah tutup. Dan itu sudah terjual bermangkuk-mangkuk porsi es buah," tambah Arini.

"Hebat, ya?" cetusku.

"Iya. Top abis. Kalau sudah dewasa aku ingin memiliki usaha kuliner seperti itu," ucap Arini.

"Sama. Aku juga ingin jadi pengusaha. Tapi bukan kuliner sih. Maunya yang lain saja," sahutku.

"Cie ... cie ... samaan kali ...," celetuk Bondan.

"Apaan kamu, Ndan?" protes kami berdua.

Tak terasa sampailah kami di depan warung yang kami perbincangkan tersebut.

"Sudah tutup warungnya, Rin," ujar Indah.

"Iya, Kak. Ini sudah jam berapa? Itu, pemiliknya sudah ringkes-ringkes," jawab Arini.

"Kira-Kira jalan mawarnya masih jauh nggak, ya?" tanyaku.

"Kayaknya sudah tidak jauh lagi, Im. Itu di sebelah kanan ada tulisan jalan Anggrek. Berarti jalan mawar sudah tidak jauh lagi," jawab Arini.

"Oke. Kita harus melihat dengan teliti setiap nama jalan yang kita lewati," ucapku.

"Oke," jawab ketiga temanku kompak.

Kami pun berjalan terus hingga akhirnya kami berempat pun sampai di depan jalan yang agak singup.

"Sepertinya di depan itu ada jalan ke kanan, teman-teman," teriak Indah.

"Semoga itulah jalan Mawar yang sedang kita cari," jawab Arini.

"Aamiiin," jawab Indah.

Bondan berjalan agak cepat dengan tujuan untuk memeriksa nama jalannya lebih dahulu dari seberang jalan.

"Iya, teman-teman. Ini jalan Mawar namanya!" teriak Bondan dari jarak tiga meteran di depan kami.

"Alhamdulillah ...," jawab kami semua.

Kami pun menyeberangi jalan menuju pintu gang yang agak gelap tersebut dibanding dengan gang-gang lainnya.

"Aku kok dredeg ya, rek?" ucap si mungil Indah.

"Tenang, Kak. Ada aku," jawab Arini.

"Emangnya kamu bisa apa, Rin?" cela Bondan.

"Kamu mau apa? Silat? Karate? Hayooo," tantang Arini.

"Sudah-Sudah! Lebih baik kita berdoa saja sebelum masuk ke gang ini. Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi nanti. Ingat! Jangan pernah meninggalkan yang lain. Berangkat bareng, pulang pun bareng. Paham?" ucapku.

"Siap, Im!" jawab mereka bertiga.

"Baiklah, sekarang kita berdoa dulu sebelum masuk ke gang agar Allah SWT senantiasa memberikan perlindungan kepada kita semuanya," ucapku.

Kami pun berdoa sejenak. Setelah itu kami secara bersama-sama memasuki jalan Mawar tersebut.

Perasaan dag-dig-dug tidak dapat kami hindari ketika memasuki gang tersebut. Ternyata gang tersebut semakin ke dalam semakin terasa sepi. Tak ada satu pun orang yang lalu lalang saat itu. Aku heran, padahal gang tersebut berada di pusat kota. Seharusnya jam-jam segini ada orang yang lalu lalang. Semua pintu rumah tertutup dengan rapat. Hanya suara televisi yang sayup-sayup terdengar dari dalam rumah mereka.

Mulai dari nomer rumah pertama sampai sekarang tak ada satu pun pintu rumah yang terbuka. Nomer rumah pertama sampai nomer rumah 10 semuanya rumahnya relatif berukuran sedang. Sedangkan nomer rumah 11 dan seterusnya ukurannya terlihat besar-besar dan cukup berjarak. Setiap rumah ada tanamannya yang cukup luas.

Tak terasa kami sudah sampai di rumah yang menurut perkiraan kami nomernya tiga belas. Rumah tersebut terlihat luas dengan pagar besi yang dipasang di sekelilingnya. Rumah tersebut nampak terawat dengan rapi. Aku bermaksud memencet bel yang terpasang di pinggir pintu pagar, tapi kuurungkan. Aku mundur selangkah.

"Kenapa nggak dipencet, Im?" tanya Indah.

"Sepertinya kita salah rumah, Ndah," jawabku gusar.

"Maksud kamu?" tanya Indah bingung.

"Coba lihat nomer yang terpasang di atas bel itu," ucapku sambil menunjuk nomer plakat rumah yang kumaksud.

"NOMER 14?" seru temanku bertiga dengan tak kalah bingungnya denganku.

"Loh, bukankah rumah yang tadi nomer 12? Berarti ini nomer 13 dong?" ujar Indah.

"Kupikir juga begitu, Ndah. Tapi kenyataannya tidak demikian, kan? Coba Ndan tengok nomer rumah yang berada di sebelah rumah ini!" ucapku meminta tolong kepada Bondan.

Bondan berjalan lurus ke salah satu rumah di sebelah rumah ini. Tak lama kemudian ia berjalan lagi ke posisi kami bertiga.

"Rumah yang di sana itu nomer 15, Im. Berarti rumah ini benar-benar nomer 14," ucap Bondan.

"Atau jangan-jangan tadi kita kelompatan satu nomer?" Aku bertanya kepada mereka.

"Entahlah. Apa coba kita lihat periksa lagi rumah yang sebelumnya?" usul Arini.

"Ayo, tidak ada salahnya kita memeriksanya kembali!" ucapku.

Kami pun berjalan kembali menuju ke arah mulut gang. Dari rumah nomer 14 ini kita harus melewati sebuah tegalan kosong dengan banyak pohon untuk menuju rumah dengan nomer yang lebih muda. Setelah sampai di depan pintu gerbang rumah yang kami temui, Arini yang berada di posisi paling depan tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Kenapa, Rin?" tanyaku yang berada di posisi paling belakang.

"I-i-itu, Im," jawab Arini terbata-bata sambil menunjuk sesuatu.

"Ada apa?" tanyaku dengan agak keras sambil melangkah mendekati Arini.

Setelah posisiku sejajar dengan anak perempuan tersebut, aku menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Arini dan aku terkesiap.

BERSAMBUNG

Jalan-jalan ketemu Umi Kulsum

Sudah puas belum?

1
fe
semangat thor
Junan: baca sampai tamat kak,,, dan baca karyaku yg terbaru
total 1 replies
Reyxxyz
bikin tegang
Reyxxyz
caerutanya bikin penasaran
Reyxxyz
Novelnya seru
Fadlan
Luar biasa
Ani Juwitasari
kok jadi 4 orang...bukanya sisa 5
Ani Juwitasari
mesakke imran...kok rekoso terus...hahhhh
Tantina Wyvaldia
agaknya petugas yang barusan datang itu jelmaan dari salah satu jenazah di kamar mayat ini
Tantina Wyvaldia
weeeh, makasih atas infonya tentang karya yg lain ya kak.
semangat terus berkarya, ya kakak, jangan bosan, karena bakat kakak berguna bagi pembaca.
siiiip
Tantina Wyvaldia
jalan datar yg dilalui tiba2 berganti dengan kondisi yang menakutkan
Tantina Wyvaldia
wuiiiii sereeeeem jg cerita nya, padahal masih di awal
Tantina Wyvaldia
makin panjang makin penasaran karena banyak pertanyaan yang membingungkan
Tantina Wyvaldia
menakutkan, mengejutkan, penasaran, nungguin kelanjutan
Tantina Wyvaldia
aneh tapi bagus dan penuh keheranan
Ani Juwitasari
tadi bukannya arini gak tau rumah sakit ya.. gak pernah kerumah sakit,kok hafal rumah sakit.
Tantina Wyvaldia: mungkin harus begitu karena pernah dikasih tahu bapaknya, kan?
total 1 replies
Ciciajadeh Ciciajadeh
pasti kunci gudang lantai 2 kan 😁😁😁😁
Ciciajadeh Ciciajadeh
Aamiin...
Ciciajadeh Ciciajadeh
diatas meja ada palu, eh ternyata satpamnya hantu 😲😲😲😲
todoroki
lnjuttt
Ciciajadeh Ciciajadeh
tegang, seru, serremmm tapi penasaran 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!