[Area termehek-mehek, siapkan tisu untuk menyeka air mata]
George selalu memperlakukan Gabby dengan kasar, dingin, dan mereka berdua selalu berseteru. Hingga membuat Gabby sangat membenci George.
Suatu ketika, Geroge mengetahui siapa Gabby sesungguhnya. Orang yang ia cari selama ini. Ia hendak menepati janjinya untuk menikah dengan Gabby setelah mengetahui identitas wanita itu. Namun sayang, hati Gabby sudah terlanjur beku. Ia sudah membenci George.
Disaat George sedang mencoba mendekati Gabby, seorang pria bernama Marvel hadir dengan membawa pembuktian cinta untuk Gabby.
Hingga suatu hari, George dan Gabby terjebak dalam satu ruangan dan terjadilah malam yang membuat Gabby kehilangan kehormatannya.
“Aku akan bertanggung jawab dengan perbuatanku, aku akan menikahimu.” George.
“Jika kau ingin menikah denganku hanya karena ingin bertanggung jawab atas kejadian ini atau ingin memenuhi janjimu dulu. Maka lupakan, aku tak membutuhkannya.” Gabby.
“Aku tetap mencintaimu, walaupun bedebah itu sudah mengambil sesuatu yang berharga darimu.” Marvel.
Siapakah yang akan dipilih oleh Gabby? George yang sudah merenggut kehormatannya atau Marvel yang menunjukkan betapa besar cintanya pada Gabby?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
Langkah George terhenti ketika tubuhnya sudah dihadang oleh Davis.
“Minggir kau, aku tak ada urusan denganmu!” usirnya dengan sorot mata tajam menatap Davis.
Davis bergeming. “Mau pergi kemana kau?” Ia memilih bertanya pada George hingga istrinya sampai dengan nafas yang terengah-enggah.
“Bukan urusanmu, ada hal penting yang harus aku lakukan dengan wanita ini,” timpal George. Terdengar jelas bahwa pria itu tak ingin orang lain ikut campur dengan apa yang akan dia lakukan.
“Gabby, wanita itu namanya Gabby.” Diora yang baru sampai itu memberitahukan nama sahabatnya, tak suka jika George menyebut Gabby dengan wanita ini.
“Ya, terserah siapapun namanya, aku tak perduli.” George sudah tahu namanya, namun mulutnya enggan menyebut nama Gabby.
Gabby menghela nafasnya, ia tak ingin dikasihani jika Diora melihat lukanya. “Aku mau kembali ke penginapan, perutku melilit,” pamitnya disertai dengan alasan yang tak jujur.
Gabby segera menyentakkan tangannya agar terlepas dari cengkraman George yang sedang mengendur. “Kalian lanjutkan saja bulan madunya, selamat bersenang-senang.” Dia tepuk bahu Diora sebagai salam perpisahan di tempat itu. Lalu berlalu pergi sebelum lukanya dilihat oleh sahabatnya.
George tak berpamitan, tak ada alasan juga mengapa dia harus berpamitan dengan Davis ataupun Diora. Ia langsung menyusul Gabby yang sudah berjalan menuju tempat parkir.
George mencekal tangan Gabby lagi setelah ia berhasil menyusul. Menyeret paksa wanita itu lagi untuk menuju tempat dimana motor sewaannya berada.
“Naik!” titah George menunjuk vespa kuning.
Gabby langsung naik, dia sedang malas berdebat dengan George yang akan berujung dengan pemaksaan jika dirinya tak menurut. Bukan di jok belakang ia duduk, tapi di depan.
“Mundur!”
“Tidak, berikan kuncinya, aku yang akan mengemudi.” Gabby menengadahkan tangannya ke hadapan George.
Bukannya memberikan kunci, George malah mendekap tubuh Gabby dari belakang dan menarik tubuh itu agar mundur.
Sial! Kalah lagi!
George langsung duduk di depan sebelum Gabby berhasil merosot maju. Segera merogoh saku celananya untuk mengambil kunci, lalu memasukkan benda itu ke lubang kecil yang berada di motor.
Sebelum melajukan motornya, George nampak berselancar dengan ponselnya mencari jalan yang harus ia lalui untuk sampai ke tempat tujuannya.
Setelah menghafal rutenya, George menarik gas pertamanya dengan hati-hati agar tak menyendat dan menyebabkan seseorang di belakangnya terjatuh lagi.
“Ini bukan jalan kembali ke penginapan!” sentak Gabby ketika ia menyadari jalan yang kini dilalui berbeda dengan jalan ketika berangkat tadi.
“Siapa yang mengatakan kita akan ke penginapan?” timpal George.
“Turunkan aku! Aku ingin kembali ke penginapan!” protes Gabby.
“Tidak!” Nada suara George terdengar tegas tak ingin ada bantahan.
“Aku akan melompat dari sini jika kau tak memberhentikan motornya!” ancam Gabby.
George tak menanggapi ancaman itu, ia malah semakin kencang melajukan motornya hingga kecepatan seratus kilometer perjam. “Lompatlah jika kau berani,” tantangnya.
Gabby menimbang-nimbang untuk mengambil keputusan. Dengan kecepatan motor setinggi ini, kondisi jalanan yang kebetulan sedang sangat ramai, mobil box melaju sangat kencang. Jika dia melompat saat motor berada di tengah jalan seperti ini, maka kemungkinan ia akan tertabrak dan terseret kendaraan lain hingga akhirnya ia mati.
Tidak tidak, sesulit-sulitnya hidupku, aku bukanlah orang yang mudah menyerah dengan membunuh diriku sendiri.
Akhirnya Gabby memilih tetap diam di belakang. Entah mengapa ada sedikit rasa lega di hati George ketika ia berhasil mengurungkan niat Gabby yang ingin turun.
mending mati aja klo kyk gtu
huhuhu😭😭😭
sakit bngt jd gabby
*aku kalau diposisi George mana mau menunggu gabi, ditolak, melihat gabi bermesraan dengan pria lain, melihat gabi bercumbu dengan pria lain, dan hanya dibuat kayak boneka yang pasrah dan megiti gabi selesai dia harus ada
thor aku tanya pribadi padamu, apakah kau diposisi George dan dilakukan kayak gitu kau mau menerima begitu saja
thor jadi novelis netral, lihat lah semua disitu pandang jangan hanya melihat sudut pandang wanita saja
*sudut pandang gabi enak menolak Georg menikah dan bercumbu dengan pria lain didepan Georg setelah dia selesai dengan pria itu, Georgia harus ada untuknya, enak benar hidupnya
*yang kasian geoge, ditolak, harus pasah melihat gabi bermesraan dan bercumbu dengan pria lain, setelah gabi selesai dengan pria itu, George harus menerima begitu saja
thor pakai hati berkarya, kalau kau adil buat gabi berjuang juga untuk George, karena faktanya gabi telah melukai hati George, jangan semudah itu, kalian buat George kayak boneka yang tidak punya hati yang bisa terluka juga
pakai hati thor