Sedang Revisi...!!
Di mana letak hancurnya sebuah rumah tangga? semua bermula dari pihak ke tiga dari masa lalu juga tanpa restu dari mertua.
Kebodohan seorang suami juga sangat berpengaruh bagi rumah tangganya. Bahkan, banyak kesalahpahaman yang terjadi hingga membuat Arumi memutuskan dengan mantap untuk menceraikan Dirga.
Setelah bercerai dari Dirga, wanita itu kembali menikah dengan mantan kakak iparnya. Kembali menikah dengan laki-laki bodoh yang membuat Arumi harus kembali bercerai untuk yang kedua kalinya.
Pada akhirnya, Arumi memilih pergi jauh membawa anaknya hasil pernikahan dengan Dirga. Memutuskan semua komunikasi dengan mantan suaminya, ayah dari anaknya.
Penasaran?? yukk baca😊😊
Jangan lupa Rate Like, Vote and Coment ya😊😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29.Ayah
Malam berganti pagi, Arumi dan Dirga sudah di perbolehkan untuk melihat keadaan anak mereka. Ibu mana yang tidak tersayat hati nya, ketika melihat separuh jiwa nya tertidur lemah tak berdaya. Air mata nya kembali jatuh, Arumi menggenggam erat tangan anak nya. Ada beberapa luka bahkan terlihat di jahit.Perban yang membungkus kepala dan kaki juga lengan itu semakin membuat Arumi perih.
"Aidan bangun sayang. Bunda sudah bawa ayah mu pulang. Bangun sayang bunda..." lirih Arumi dengan isak tangis nya.
Dirga hanya bisa menatap penuh penyesalan, sungguh pria itu ingin memukul diri nya sendiri. Satu kata yang ia keluar kan dulu mampu mencabik-cabik hati Arumi.
"Bangun sayang, Aidan boleh ketemu sama ayah. Bangun nak, ada ayah di sini..." ucap Arumi kembali.
"Jangan ganggu dia Arumi. Biar kan Aidan istirahat." tegur Dirga lalu mengajak mantan istri nya untuk keluar.
Bergantian dengan Hendra dan Dina masuk. Mereka juga sudah tidak sabar melihat keadaan cucu semata wayang nya. Dina menarik diri kedalam pelukan suami nya karena tidak tega melihat tubuh penuh luka dan jahitan itu.
Di luar ruangan, bu Yuni dan Dirga masih mencoba menenangkan Arumi. Mata nya sudah sembab bahkan tiba-tiba Arumi tidak sadarkan diri karena lemas belum makan.
Dirga yang panik langsung menggendong tubuh mantan istri nya dan membawa wanita itu masuk ke dalam ruangan rawat Aidan dan di tidurkan di sofa.
Tak berapa lama Arumi sadar, wanita itu memegang kepala nya sakit. "Kau harus makan Arumi." ujar Dirga.
"Bagaimana aku bisa makan jika anak ku saja belum sadar!" lirih wanita itu.
"Kau terlalu egois Arumi. Jika kau sakit siapa yang akan merawat anak mu!" tukas Dirga membuat Arumi sadar.
Mau tidak mau wanita itu menerima suapan dari bu Yuni. Memang tak habis tapi cukuplah untuk mengganjal perut Arumi. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun Aidan belum juga sadar. Bocah itu masih betah dengan tidur nya. Mimpi indah kah diri mu Aidan? kenapa kau membiarkan yang bangun gundah menunggu mu?
"Kenapa anak saya belum sadar juga Dok?" tanya Dirga ketika Dokter selesai memeriksa Aidan.
"Aidan masih di bawah pengaruh obat bius. Kita tunggu saja,kondisi nya juga sudah sangat stabil." jawab Dokter tersebut.
Arumi hanya bisa menghela nafas dalam ketika mendengar ucapan dari Dokter. Wanita itu bahkan tak berniat meninggalkan anak nya walau sedetik pun. Begitu juga dengan Dirga, pria duduk di sebrang Arumi. Sesekali melirik ke arah mantan istri nya yang sejak tadi sudah memejamkan mata tidur.
Dirga menatap kearah anak nya, sungguh ini adalah anugerah terbesar dalam hidup Dirga. Anak yang dulu tidak pernah di inginkan nya kini tumbuh besar bahkan ketampanan nya saja mengalahkan diri nya. Dirga tersenyum tipis, bagaimana bisa wajah Aidan dan perawakan bocah itu sangat mirip dengan nya.
Sedangkan Hendra dan istri nya juga bu Yuni duduk menunggu di sofa yang telah di siapkan karena Dirga meminta ruangan terbaik dan terbagus yang ada di rumah sakit ini.
Baru saja Arumi terlelap, wanita itu terbangun karena mimpi nya kembali mengulang detik-detik bagaimana anak nya mengalami kecelakaan.
"Kau kenapa?" tanya Dirga kaget.
Arumi mengusap wajah nya kasar. "Tidak! aku tidak kenapa-kenapa." gumam wanita itu.
Dirga menyodorkan sebotol minuman mineral pada mantan istri nya. "Minumlah..." ujar Dirga lalu Arumi menerima botol tersebut.
"Kenapa mereka tidak pulang saja. Mamah mu terlihat sangat lelah." ujar Arumi.
"Mamah tidak mau pulang. Kata nya ingin menunggu Aidan sadar." jawab Dirga.
"Di mana kakak mu? kenapa tidak ikut?" tanya Arumi membuat Dirga mendongakkan wajah nya.
"Sejak kejadian hari itu, kak Rasya tidak pernah pulang. Sudah delapan tahun kami tidak pernah melihat nya." jawab Dirga membuat Arumi mengerutkan kening nya dalam.
Apa pun yang terjadi, Arumi benar-benar tidak tahu masalah apa yang mereka alami sepeninggal nya. "Ke mana dia?" tanya Arumi penasaran.
"Kak Rasya memilih keluar dari rumah dan memutuskan untuk menikah dengan Nisya. Mamah dan papah tidak pernah merestui pernikahan mereka karena Nisya.....!" ucapan Dirga terhenti lalu pria itu melirik ke arah orang tua nya yang sedang terlelap tidur.
"Karena apa?" tanya Arumi semakin penasaran.
"Karena Nisya adalah wanita penjaja diri." jawab Dirga pelan agar tak di dengar oleh orang tua nya.
"Jangan bercanda mas. Masa kakak mu menikah dengan wanita seperti itu? Mas Rasya sangat baik, tidak mungkin dia melakukan hal seperti itu...!" seloroh Arumi.
"Sejak kau pergi, aku dan kakak menyimpan penyesalan dengan sangat dalam. Kak Rasya bahkan tidak akan pulang jika ia tidak dapat maaf dari mu." ujar Dirga membuat Arumi terdiam.
Masih marah kah hati mu Arumi? tidak bisa kah kau memaafkan mereka? ini sudah delapan tahun, maafkan saja lalu berdamai dengan hati mu itu jauh lebih baik.
Tiba-tiba Aidan mulai menunjukkan tanda-tanda kesadaran. "Bundaaa......." panggil nya pelan membuat Arumi dan Dirga langsung merahap ke arah anak nya.
"Sayang, ini bunda nak..." ucap Arumi sambil menggenggam tangan anak nya.
"Papah...pah...Aidan sadar. Tolong panggilkan Dokter..." ujar Dirga membuat Hendra terkejut begitu juga dengan Dina dan bu Yuni.
Tak berapa lama Dokter masuk dan langsung memeriksa Aidan. Semua orang bisa bernafas lega ketika Dokter menyatakan Aidan sudah sadar dan stabil.
"Bunda....sakit....." lirih bocah itu dengan sudut mata yang berair.
"Iya sayang...maafkan bunda nak, nanti sakit nya hilang."
Aidan belum sepenuhnya sadar dan bocah itu hanya mengenali bunda nya saja. "Kaki Aidan tidak bisa bergerak. Kaki Aidan kenapa bunda?" tanya bocah itu pelan.
"Kaki Aidan sedang sakit sayang. Aidan jangan banyak bergerak, biar cepat sembuh." ujar Arumi membuat hati wanita itu bagai di tusuk pedang tajam.
Aidan menggerakkan kepala nya pelan lalu melirik ke arah Dirga. "Siapa?" tanya nya singkat tanpa mengalihkan pandangan nya.
Arumi juga menoleh ke arah mantan suami nya, "Dia ayah yang selama ini Aidan rindu kan nak..." jawab Arumi dengan satu kali tarikan nafas.
"Ayah....!" bocah ini mengulang kata-kata bunda nya.
"Iya, ini ayah nak...." ucap Dirga sambil mengusap pelan punggung tangan anak nya. Air mata pria itu sudah tidak tertahan lagi untuk keluar.
Hendra dan Dina juga Yuni hanya menahan tangis mereka melihat pertemuan antara anak dan ayah itu. Tak henti nya bu Yuni mengucapkan rasa syukur ketika melihat Aidan bisa bertemu dengan ayah nya. Arumi bahkan sudah tidak bisa menahan tangis nya, wanita itu memilih masuk ke dalam toilet lalu menangis di sana.
semangat Arumi
cerai dari adik nya lalu kawin dengan Kaka nya mantan suaminya
harusnya ganti judul ' Arumi sang maniak kawin