Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Detak Digital di Sela Jemari
Gawai di tangan Xavi mengeluarkan bunyi klik statis yang samar saat bocah itu mengeksekusi baris kode terakhirnya. Di layar kecil yang redup, deretan matriks biru yang semula menyusun data genetika dan riwayat medis asli mereka luruh, digantikan oleh jalinan angka acak baru yang tampak meyakinkan. Xavi mengembuskan napas pendek, lalu memasukkan kembali gawai kunonya ke dalam saku piama dengan gerakan yang teratur.
Olin perlahan melepaskan dekapan tangannya dari pundak sang putra. Dia berdiri tegak kembali, menatap bayangan kabut di luar jendela kaca yang kini semakin pekat menempel pada dinding luar paviliun. Rasa hangat dari cangkir jahe madu yang tadi sempat menenangkan jemarinya kini telah menguap sepenuhnya, menyisakan sensasi dingin yang kaku di ujung-ujung jarinya.
"Kau yakin data tiruan itu tidak akan memicu alarm di gerbang utama mereka, Jagoan?" Olin memastikan, suaranya diredam oleh deru mesin dari lantai bawah yang kini beralih menjadi ketukan ritmis pemasangan pelat baja.
"Peladen Azure Investigations menggunakan verifikasi berbasis kecocokan pola, Mommy," cicit Xavi sembari memutar kursi kerjanya hingga menghadap langsung ke arah ibunya. Kedua kaki kecilnya kembali menggantung bebas. "Selama struktur berkasnya tidak berubah, sistem otomatis mereka tidak memiliki cukup kecerdasan buatan untuk membedakan antara data rumah sakit pinggiran kota dan data laboratorium pusat. Tuan CEO terlalu percaya pada otomatisasi pertahanan sipilnya."
Olin berjalan mendekati meja, meraih buku sketsa hitam miliknya. Dia menutup benda itu dengan ketukan yang disengaja, seolah sedang menyegel kembali seluruh memori visual tentang rahang tegas Zayyan ke dalam lipatan kertas bertekstur kasar. Keputusan pria itu untuk menyusupkan skrip pelacak di balik manifes makanan adalah sebuah proklamasi bahwa lembaran kertas pemisahan aset yang baru saja ditandatanganinya hanyalah sebuah formalitas untuk menenangkan Olin. Di dunia nyata, Zayyan tidak pernah melepaskan kendali.
BZZZ.
Gawai portabel di atas meja kayu ek—bukan milik Xavi, melainkan gawai khusus interkom paviliun yang disediakan oleh Malikh—bergetar pendek, memamerkan pendar lampu LED hijau yang berkedip tiga kali.
Olin mengulurkan tangan, menekan tombol sensor sentuh di permukaannya. Suara bariton Zayyan langsung mengalun dari pengeras suara kecil berbalut krom tersebut, memecah kesunyian ruang tengah dengan ketajaman yang absolut.
"Aureline," panggil Zayyan tanpa pembukaan formal. Suaranya terdengar jernih, tanpa gangguan distorsi meskipun badai kabut di luar semakin tebal. "Tim instalasi siber di lantai bawahmu membutuhkan otorisasi biometrik tambahan untuk memasang gerbang enkripsi lapis kedua. Bawa Xavi turun kembali."
Olin tidak langsung menjawab. Dia membiarkan jeda tiga detik berlalu, membiarkan desis statis interkom mengisi ruang di antara mereka. "Kami baru saja membersihkan diri dari debu semen bangunanmu, Zayyan. Dan anakmu baru saja menyelesaikan sarapannya."
"Ini bukan permintaan kurasi seni, Nyonya El-Ghazali," sahut Zayyan, nadanya mendingin satu tingkat, memotong kalimat Olin dengan otoritas yang mutlak. "Gerbang lapis kedua ini adalah sistem hibrida. Jika Kakek Albert mencoba memutuskan aliran daya utama mansion malam ini, hanya sidik jari Xavi yang bisa mengaktifkan peladen mandiri paviliun barat. Aku tidak ingin ada celah sekecil apa pun sebelum kita menginjakkan kaki di kediaman utama besok malam."
Xavi mendongak, menatap Olin dengan binar mata yang kembali menyala di balik lensa kacamatanya. Bocah itu tidak menunggu perintah ibunya; dia langsung melompat turun dari kursi ek, pantofel rumahnya mengetuk lantai dengan bunyi kepuasan yang murni. Ide tentang 'sistem hibrida' tampaknya jauh lebih menarik bagi logikanya daripada perdebatan batasan privasi yang sedang dipertahankan Olin.
Olin mengembuskan napas panjang melalui hidung, menekan tombol pemutus interkom hingga lampu LED hijau itu padam sepenuhnya. Dia menatap punggung kecil putranya yang sudah berjalan lebih dulu menuju pintu besi tangga melingkar.
Papan catur ini semakin rumit, dan Zayyan terus memaksa mereka melangkah ke petak-petak yang telah dia siapkan. Olin merapikan blus katun kasualnya, memantapkan langkah kakinya untuk kembali turun ke dalam ruang beraroma semen dan besi, bersiap menghadapi sang CEO bukan lagi sebagai tawanan, melainkan sebagai sekutu yang diam-diam telah menanam ranjau digitalnya sendiri.