Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.
Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.
"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Setelah selesai memasak, Azalea kembali ke ruang makan dan menyantap hidangan yang terasa sangat lezat baginya. Namun tiba‑tiba teringatlah ia pada Bi Inah; ia sama sekali tak tahu bagaimana keadaan wanita itu. Di tengah lamunannya, terlihat sekilas bayangan melintas di balik jendela yang gordennya tak tertutup rapat.
“Siapa di sana? Mungkinkah orang… atau jangan‑jangan…”
“Jangan‑jangan apa?” terdengar suara berat dan dingin seorang pria—bukan suara Aldric.
Azalea menoleh dan mendapati Daxon berjalan santai menuju tempat minum. Ia bingung. Azalea yang melihat Daxon, ia pun terdiam sejenak haruskan ia menceritakan bayangan itu?.
“Kalau kuceritakan, nanti dia menganggapku berkhayal saja, ” gumamnya dalam hati.
“Tadi… aku sempat berpikir kekasihku mungkin mencariku. Aku mencoba menelepon, tapi dia tidak mengangkatnya. Mungkin dia sudah tertidur,” ucap Azalea mengganti topik.
Mendengar ucapan itu, Daxon tampak menahan amarah yang meluap. Entah mengapa, menyebut soal kekasih membuat darahnya mendidih seketika. Tanpa banyak bicara, ia pergi membawa gelasnya.
“Ada apa dengannya? ” gumam Azalea bingung melihat sikap Daxon yang berubah drastis.
Azalea hanya mengangkat bahu lalu kembali menyantap makanannya. Sementara itu, Daxon masuk ke dalam kamarnya, namun ucapan Azalea terus terngiang di kepalanya hingga ia tak sanggup lagi menahan amarah. Gelas di tangannya seketika pecah berkeping‑keping.
Pyarr!
Segera ia mengambil ponsel dan memanggil Aldric untuk datang ke kamarnya. Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," ucap Daxon dengan nada sangat dingin.
Aldric masuk dan terkejut melihat pecahan kaca serta tangan Daxon yang berdarah. "Ada apa denganmu?" tanyanya bingung.
Daxon menatap tajam sahabat sekaligus tangan kanannya itu. "Cari tahu siapa kekasih Azalea," perintahnya datar.
"Kenapa harus dia? Bukankah lebih baik begitu saja? Nanti setelah dia melahirkan anakmu, dia akan pergi bersama kekasihnya," jawab Aldric tak mengerti.
Kalimat itu kembali memicu amarah Daxon. Ia menatap tajam. "Apakah aku harus bertanya apa alasannya, menyuruhmu mencari tahu tentang kekasihnya?"
"Hm... Kau mau bertemu pria itu? Menyelesaikan rencana kita? Agar setelah melahirkan Azalea bebas pergi ke mana saja dengannya?" duga Aldric masih belum mengerti.
"Aldric, sejak kapan kau jadi banyak bicara?" potong Daxon ketus.
"Baiklah, baiklah. Aku akan cari tahu siapa kekasih dia," jawab Aldric mengalah.
Daxon lalu mengambil kotak obat untuk merawat lukanya. Aldric pun bergegas pergi, merasa ada sesuatu yang berubah pada sahabatnya itu.
Setelah kepergian Aldric, Daxon duduk di tepi ranjang sambil membalut tangannya sendiri. Di dalam dadanya, rasa yang tak ingin ia akui terus menggerogoti—ia tak terima ada pria lain yang disebut‑sebut oleh Azalea, apalagi dengan nada yang terdengar penuh rindu.
Sementara itu, Aldric berjalan keluar dengan wajah masih penuh tanya. Ia sudah lama mengenal Daxon, namun belum pernah melihat sahabatnya itu bereaksi sehebat ini hanya karena soal kekasih wanita yang seharusnya hanya dianggap sebagai wadah keturunan. Di benaknya mulai tumbuh dugaan, mungkin Daxon mulai menganggap Azalea lebih dari sekadar wadah pewarisnya.
Di ruang makan, Azalea kini sudah selesai makan. Ia membereskan piring‑piring sambil sesekali melirik ke arah jendela yang tadi sempat membuatnya curiga. Keadaan terlihat tenang kembali, namun rasa gelisah masih tersisa di dada. Ia pun memutuskan untuk segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu dengan rapat.
Di dalam kamarnya, Azalea duduk di tepi ranjang. Hatinya masih berdebar mengingat bayangan yang tadi terlihat sekilas—dan sikap Daxon yang berubah drastis tanpa sebab jelas. Ia tak berani bergerak sembarangan, matanya terus mengawasi setiap sudut ruangan.
Sementara itu di kamar Daxon, selesai membalut lukanya. Ia berdiri mendekati jendela, menatap ke arah halaman yang gelap. Pikirannya tak lepas dari ucapan Azalea tadi, rasa cemburu yang tak diundang terus menggerogoti, membuatnya sadar bahwa ia tak lagi bisa menganggap wanita itu sekadar alat pewaris semata.
Di luar pagar, sosok yang tadi mengintai masih berdiri diam di balik pepohonan, matanya tak lepas dari jendela kamar Azalea. Sosok itu mengamati segalanya dengan tenang, seolah menyusun rencana.
Daxon menyadari ada sosok yang bersembunyi di balik pepohonan. Di saat yang sama, orang itu pun tahu dirinya telah ketahuan, lalu segera melarikan diri sebelum sempat ditangkap anak buah Daxon.
“Benar saja ada seseorang di sana, ” batin Daxon.
“Apakah sudah banyak mata‑mata yang mengintai di sekeliling kediaman ini? Apakah mereka sudah tahu keberadaan Azalea di sini? Aku harus memperketat penjaga di sekeliling kediaman, ” pikirnya tegas.
Tanpa menunda, ia bergegas keluar kamar untuk memberi perintah kepada anak buahnya.
...****************...
Keesokan harinya, terlihat Azalea berdiri di depan kamar Daxon, meski ia sedikit berkeringat karena harus menaiki tangga hingga sampai ke lantai empat. Daxon yang baru saja keluar dari kamarnya terkejut melihat Azalea berdiri di sana dengan keringat di pelipisnya.
“Apa yang kau lakukan di sini? Dan kenapa kau berkeringat banyak? Apakah AC yang ada di kamarmu rusak?” tanya Daxon sambil menatap heran.
“Aku jawab satu‑satu ya... Aku ingin meminta izin keluar untuk membeli cimol. Keringat ini karena aku naik tangga sampai ke lantai empat. Dan AC di kamarku tidak rusak,” jawab Azalea.
“Aku akan menyuruh seseorang membelikan apa yang kau inginkan,” ucap Daxon sambil hendak mengambil ponselnya.
“Aku tidak mau dibelikan, aku ingin beli sendiri. Selama ini aku hanya di dalam kamar, bahkan berjalan‑jalan di halaman saja dilarang… aku jadi bosan,” protes Azalea dengan berani.
Tiba‑tiba Aldric datang mendekat. “Rapat penting di kantor sepuluh menit lagi,” katanya.
Daxon hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap Azalea. “Baiklah, kau boleh keluar. Tapi kau harus bersamaku. Nanti setelah rapat selesai, aku akan menemanimu.” ucap Daxon.
“Tapi aku ingin sen—”
“Kalau tidak mau, aku terpaksa menyuruh orang membelikan makanan yang kamu inginkan,” potong Daxon.
Azalea menghela napas panjang. “Baiklah, aku ikut denganmu.” ucap Azalea terpaksa.
Daxon dan Aldric berjalan lebih dulu menuju lift, diikuti Azalea yang masuk ke dalam lift.
“Lisa sempat bilang kalau mau ke lantai empat sebaiknya naik lift, tapi tadi aku sama sekali tidak menemukannya. Akhirnya terpaksa naik tangga, apa mataku buram ya?” ucap Azalea dengan nada berbisik, ia juga kesal sebab tidak melihat lift sama sekali saat ia mencari lift.
Daxon yang mendengar hanya tersenyum tipis, sedangkan Aldric memperhatikan dengan rasa heran—jarang sekali ia melihat sahabatnya tersenyum seperti itu.
...****************...
Sesampainya di perusahaan, Azalea tertegun melihat betapa megah dan besarnya gedung perusahaan. Ia segera mengikuti di belakang Daxon dan Aldric saat mereka berjalan masuk.
“Aku cuma ingin beli cimol saja, kok rasanya sulit sekali begini, ” batinnya kesal.
Di sepanjang jalan, para karyawan yang melihat kehadirannya saling berbisik dan memandangnya dengan pandangan meremehkan. Azalea hanya membalas dengan tatapan bingung, tak mengerti apa yang mereka perbincangkan.
“Pasti mereka membicarakanku. Dasar suka menggosip… Padahal aku juga sering mengibah dengan Sari, tapi rasanya berbeda. Mengibah atau menggosip, ” pikirnya dalam hati.
Sesampainya di ruang kerja Daxon, ia dipersilakan duduk di atas sofa.
“Tunggulah di sini, aku harus menghadiri rapat penting,” ucap Daxon.
Azalea mengangguk tanda mengerti. Daxon dan Aldric pun bergegas menuju ruang rapat, meninggalkannya sendirian. Azalea menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, wajahnya tampak jelas menyiratkan rasa bosan yang mendalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
aldric paling penakut iiih🤣
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
lanjut thor😄