Luna, seorang mahasiswi cantik, rajin dan energik memiliki masalah dengan dosen yang memberinya nilai D pada semester lalu, Edric.
Demi menolong bapaknya yang kurang biaya rumah sakit, Luna terpaksa menuruti keinginan seorang nyonya besar pemilik rumah sakit.
Nyonya besar tersebut memintanya untuk menikah dengan suaminya.
Saat Luna tahu, suami dari nyonya besar itu adalah, Edric Aderald, sang dosen kejam yang ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Ulsyah Musyarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta Izin
"Luna satu-satunya anak kami, Tuan. Sebenarnya kami tidak rela jika anak kami menikah karena paksaan. Tapi ia melakukannya dengan baik. Saya harap, meski Tuan tidak mencintak anak saya, jangan siksa dia. Bila dia melakukan kesalahan, cerita pada saya, agar saya yang memarahinya, jangan pukul dia. Ini semua gara-gara saya yang tak mampu membiayai hidup kita. Luna harus berkorban." Lilis kini menangis di depan Edric.
Pria tegap itu memeluk bahu Lilis dan mencoba menenangkan wanita paruh baya tersebut. Baginya, ini baru pertama kali memeluk dan menenangkan orang yang ia anggap sebagai ibu, selain ibu kandungnya.
"Maaf, Pak, Bu! Saya janji saya tidak akan kecewakan kalian." Edric menggenggam tangan Lilis yang mulai agak keriput.
Ia seakan merasa seperti seorang bujangan yang hendak melamar gadisnya.
Pasalnya, saat hendak menikah dengan Dita, bukan dengan lamaran romantis di hadapan orang tua Dita, karena ayah dan ibu dari wanita itu sudah lama meninggal.
Baru kali ini Edric merasa seperti akan menikah sungguhan, sensasi seorang pria meminta anak gadis dari orang tuanya dan orang tua terlihat berat memasrahkan anak gadisnya. Yang biasanya hanya ia dengar lewat teman-temannya, kini ia pun merasakannya.
Lilis memeluk Edric. Kemudian pria itu juga mencium tangan calon mertua laki-lakinya yang sedang berbaring.
"Assalamualaikum." Seorang gadis dengan dress putih berlengan pendek itu datang ke kamar rawat.
"Wa'alaikumsalam," jawab tiga orang yang berada di ruang tersebut.
"Bagaimana tes kesehatannya, sudah?" tanya Edric.
Luna mengangguk, ia merasa agak aneh ketika melihat Edric -Si Dekil- yang selalu membuat susah hidupnya, duduk berdampingan dengan damai bersama sang ibu.
"Pak Edric sudah dari tadi?" tanya Luna.
"Aku? Tidak. Ini juga baru ke mari," jawab Edric. "Justru kau yang terlalu cepat. Apa benar sudah tes kesehatan?" Edric bukannya tak percaya, ia hanya ingin mencairkan suasana.
"Aku sudah selesai, ternyata beberapa petugas sudah tau tentang aku yang menjadi suruhan nyonya Dita. Jadi, mereka mendahulukan aku, deh!" Luna mengambil duduk di samping ibunya.
Edric mengangguk-angguk setelah mendengar penjelasan itu.
"Nduk," sapa Lilis pada putrinya.
"Kenapa, Bu?"
"Kamu sebentar lagi akan jadi istri orang. Baik-baik ya, sama suamimu." Lilis menasehati putri semata wayangnya. Ada rasa berat dalam hatinya.
"Ini kalian abis ngomongin apa sih? Kok suasananya aneh banget ...?" bisik Luna pada ibunya.
Lilis hanya menjawab dengan senyuman.
"Oh, iya, Bu. Saya dan Luna akan menikah esok hari lagi, kalau tidak keberatan kita akan menikah di sini agar bapak bisa menyaksikan pernikahan kami." Edric menatap wajah Lilis dengan serius kembali.
"Iya, boleh. Karena Bapak tidak bisa menjadi wali Luna karena keadaan Bapak, setidaknya Bapak bisa melihat pernikahan putri Bapak." Anwar ikut berbicara.
Edric pun berpindah tempat, ia berlutut di samping ranjang Anwar dan memegangi tangan pria yang seumuran dengan istri pertamanya itu.
"Bapak jangan khawatir, setelah menikah, saya akan bertanggung jawab pada kehidupan Luna. Saya akan mencoba melindungi dan menjadi imam yang baik bagi Luna, saya juga akan berusaha untuk adil bagi kedua istri saya. Saya tau ini akan susah, tapi ... demi kebahagiaan semuanya, saya akan mencobanya. Semoga bapak lekas sembuh, ya!" Edric memandangi pria tersebut dengan tatapan haru.
Luna terkesiap mendengar penuturan Edric. Mengapa pria ini terlihat sangat serius saat meminta izin di depan orang tuanya?