NovelToon NovelToon
JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

​"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."

​Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".

​Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.

Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Labirin Paranoia dan Ciuman Beracun

​Ketakutan terbesar seorang penguasa bukanlah ketika dia diserang dari depan, melainkan saat dia menyadari bahwa fondasi tempatnya berdiri perlahan-lahan mulai runtuh tanpa suara. Itulah yang dirasakan Adrian sepanjang hari ini. Di dalam ruang kerja kantornya yang megah, udara sejuk dari pendingin ruangan sama sekali tidak mampu meredakan peluh dingin yang terus keluar dari pori-pori kulitnya.

​Adrian merasa seperti sedang diteror oleh bayang-bayang di dalam kepalanya sendiri. Pikirannya kacau, bercabang, dan dipenuhi paranoia yang melelahkan. Setiap kali dia menatap sudut ruangan, dia merasa seolah-olah ada lensa kamera tersembunyi yang sedang mengawasinya. Setiap kali dia mendengar dering telepon, jantungnya berdegup kencang, takut jika itu adalah panggilan dari Pak Bambang atau aparat kepolisian yang siap menjemputnya. Kata-kata Aruna kemarin tentang alat sadap dan rekam medis terus berdengung di telinganya bagai lebah yang beracun.

​Karena kekacauan pikiran itu, Adrian tidak bisa fokus pada pekerjaan. Bahkan, kehadiran Valerie yang sejak tadi duduk di sofa ruang kerjanya sambil memeriksa beberapa berkas operasional sama sekali tidak dia gubris. Adrian tenggelam dalam labirin dilema dan ketakutan.

​Dorongan paranoia itu begitu kuat hingga Adrian tidak bisa menahan diri lagi. Ia meraih ponselnya, mencari privasi di sudut ruangan dekat jendela besar yang menghadap pemandangan kota, lalu mendial nomor rumah. Ia harus memastikan sesuatu langsung dari Aruna.

​Panggilan diangkat. Suara Aruna terdengar sangat tenang, datar, dan tanpa beban di seberang sana. "Iya, Mas? Ada apa?"

​Adrian menelan ludah, mencoba mengatur intonasi suaranya agar tidak terdengar panik. "Aruna... aku ingin bertanya sesuatu kepadamu. Berkas rekam medis kita... rekam medis yang sempat kamu singgung secara aneh kemarin di meja makan. Apa kamu tahu di mana dokumen itu sekarang?"

​Di ujung telepon, Aruna menghentikan gerakannya yang sedang menyusun bantal di kamar utama. Sebuah senyuman dingin terukir di bibirnya, namun suaranya tetap terdengar polos dan penuh kepasrahan yang melankolis. "Memang Mas menyimpannya di mana? Bukankah selama ini semua dokumen penting keluarga selalu Mas sendiri yang memegang dan menyimpannya?"

​Adrian tertegun. Benar juga, batin Adrian membenarkan. Aku yang menyimpan berkas itu tadinya. Skenario awalnya kan berkas itu mau kujadikan senjata maut untuk menekan mental Aruna di pengadilan, agar hakim melihat bahwa dialah pihak yang cacat dalam pernikahan ini sehingga dia tidak bisa menuntut macam-macam dan terpaksa mau bercerai. Tapi sekarang... karena kita sepakat cerai baik-baik, aku tidak memerlukannya lagi.

​"Oh, iya... seingatku berkas itu ada di dalam kardus," ujar Adrian perlahan, mencoba mengingat-ingat. "Kardus besar yang ada di pojok gudang belakang, tempat kemarin kamu mencari berkas-berkas lama peninggalan almarhum ayahmu."

​Mendengar itu, Aruna berpura-pura menghela napas pendek, sebuah akting yang menyiratkan rasa bersalah yang diatur dengan sangat rapi. "Oh... jadi berkas medis itu disimpan di sana, Mas? Waduh... bukankah kemarin waktu aku beres-beres, Mas sendiri yang bilang kalau seluruh isi di dalam kardus-kardus itu adalah sampah yang sudah tidak berguna lagi? Mas menyuruhku untuk cepat-cepat membersihkannya."

​Jantung Adrian mendadak mencelos. "Lalu... lalu apa yang kamu lakukan pada kardus itu, Aruna?!"

​"Ya karena kata Mas itu sampah dan hanya akan menjadi sarang penyakit serta membuat banyak nyamuk di gudang... jadi kemarin sudah aku buang semuanya lewat orang-orang yang membersihkan halaman belakang, Mas. Semuanya sudah diangkut ke tempat pembuangan akhir," jawab Aruna dengan nada suara yang teramat polos, tanpa dosa.

​Adrian mencengkeram ponselnya erat-erat, matanya terpejam menahan frustrasi. Namun, dia tidak bisa memarahi Aruna. Sial, benar... aku sendiri yang menyuruhnya untuk membuang sampah-sampah itu kemarin, rutuk Adrian dalam hati, meratapi kebodohannya sendiri yang terlalu meremehkan barang-barang lama.

​"Kenapa, Mas? Apa ada masalah dengan hasil pemeriksaan itu? Apa Mas mendadak ragu dengan hasilnya?" tanya Aruna lagi, memancing reaksi Adrian dengan nada suara yang sengaja dibuat agak cemas.

​"Bukan... bukan itu! Aku sama sekali tidak ragu! Aku sangat yakin kok dengan hasilnya!" sergah Adrian cepat, memotong kalimat Aruna demi menjaga sisa harga diri lelakinya yang tinggi. "Sudahlah kalau sudah dibuang, tidak apa-apa."

​Adrian langsung memutuskan panggilan sepihak. Ia bersandar pada dinding kaca, membiarkan ingatannya melayang mundur ke kejadian dua tahun lalu di dalam ruang praktik dokter spesialis kandungan. Saat itu, sang dokter menatap hasil lab mereka, menghela napas panjang, lalu berkata dengan nada yang sangat hati-hati:

​"Pak Adrian, Bu Aruna... yang sabar ya. Memiliki keturunan adalah keinginan setiap pasangan suami istri. Namun... mungkin Tuhan tidak bisa memberikan keturunan pada rahim Ibu... melalui Pak Adrian."

​Kalimat dokter yang sebenarnya mengandung makna ambigu yang sangat mendalam itu, di dalam otak Adrian yang penuh dengan bias dan rasa superioritas, langsung diterjemahkan secara sepihak. Karena kalimat "tidak bisa memberikan keturunan pada rahim Ibu," Adrian langsung mengunci kesimpulan bahwa rahim Arunalah yang bermasalah, bahwa Arunalah yang tidak subur. Dia hanya melihat sekilas lembar hasil laboratorium tanpa benar-benar membaca baris demi baris detail medis tertulis di bawahnya.

​Sementara Aruna, sebagai istri yang saat itu sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat harga diri Adrian hancur atau suaminya dirundung kesedihan mendalam, memilih untuk diam dan tidak pernah lagi membahas hasil lab tersebut. Namun, alih-alih menghargai kebungkaman suci istrinya, Adrian yang terlanjur kecewa justru mengadukan hal itu kepada ibunya dengan narasi yang berbalik: bahwa Aruna adalah wanita mandul yang tidak sehat dan rahimnya bermasalah. Kebohongan yang diulang-ulang itu akhirnya dipercayai Adrian sebagai kebenaran mutlak hingga detik ini.

​Di ruang kerja kantor, Adrian berjalan kembali menuju meja kerjanya dengan langkah gontai. Valerie yang sejak tadi mengamati ekspresi frustrasi kekasihnya itu langsung berdiri. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka dengan gerakan yang sangat anggun dan manipulatif.

​"Mas... ada apa? Kenapa wajahmu tegang sekali setelah menelepon wanita itu?" tanya Valerie, suaranya dibuat selembut mungkin, membelai pundak Adrian untuk memberikan ketenangan palsu. "Bagaimana kelanjutan rencana kita?"

​Adrian menghela napas panjang, menatap Valerie dengan pandangan yang sarat akan beban dilema. "Val... sepertinya aku akan tetap melanjutkan proses berpisah secara baik-baik dengan Aruna di pengadilan nanti. Cuma... ada satu hal yang terus membuatku khawatir. Aku takut dia diam-diam menyimpan berkas penting milik almarhum ayahnya yang bisa menyulitkan posisi kita."

​Valerie menyipitkan matanya, insting pemburunya langsung waspada. "Berkas apa yang kamu maksud, Mas?"

​"Aku juga tidak begitu yakin, Val," jawab Adrian sambil menyugar rambutnya yang frustrasi. "Dulu... seingatku, sesaat sebelum pak Arif—ayah Aruna—meninggal dunia, beliau pernah bilang bahwa seluruh perusahaan Adiwangsa Logistik ini dia berikan kepadaku sebagai hadiah pernikahan karena dia melihat dedikasiku. Beliau bahkan mengizinkan perusahaan ini diganti atas nama keluargaku agar mempermudah urusan legalitas korporasi."

​Valerie tersenyum manis, membelai rahang Adrian dengan lembut. "Ya bagus kalau begitu, Mas. Berarti secara hukum, perusahaan ini mutlak milikmu. Tidak ada yang perlu kamu takuti lagi dari Aruna."

​"Masalahnya bukan cuma itu, Val," tutur Adrian, suaranya mendadak melunak, dihinggapi rasa bersalah yang melankolis saat bayangan almarhum mantan bos sekaligus mertuanya melintas di benak. "Dulu, Pak Arif menitipkan Aruna kepadaku dengan sangat amat tulus. Beliau memohon agar aku menjaga putrinya dengan baik karena Aruna tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Dan kamu... kamu tahu sendiri kan bagaimana perlakuan aku dan ibuku kepada Aruna selama beberapa tahun terakhir ini?"

​Valerie tertawa kecil, sebuah tawa meremehkan yang dibungkus dengan nada menenangkan. "Kamu jangan ketakutan begitu, Sayang. Kan Pak Arif sudah meninggal dunia. Perusahaan juga sudah sepenuhnya aman di dalam tanganmu sekarang. Lagipula... kalau kupikir-pikir, kamu licik juga ya, Mas? Menikahi perempuan dekil itu hanya demi mendapatkan warisan perusahaannya."

​Mendengar kata "licik", ego Adrian sedikit terusik. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk membela diri dari rasa bersalahnya. "Sebenarnya dulu tidak begitu, Val. Aku... aku memang menyukai Aruna saat pertama kali bertemu. Malah dulu Aruna yang selalu menghindar dan menjaga jarak dariku. Tapi karena dedikasi dan kerja kerasku di perusahaan, Pak Arif menjadi sangat percaya kepadaku dan menjodohkan kami. Setelah dua tahun pernikahan dan kami tidak kunjung punya anak, Ibuku terus menekanku setiap hari. Dan akhirnya... setelah kami periksa ke dokter dan tahu bahwa dia tidak sehat secara reproduksi, aku merasa... aku merasa pantas jika Pak Arif memberikan perusahaan ini kepadaku sebagai kompensasi. Tapi tetap saja... terkadang aku merasa sangat bersalah pada almarhum."

​Valerie mendengarkan cerita itu dengan senyuman kelam yang tersembunyi. Di dalam otaknya yang manipulatif, dia tahu betul bahwa rasa bersalah Adrian adalah celah terbaik untuk menekan pria itu agar segera menyerahkan perusahaan kepadanya sebagai mahar, sesuai rencana suaminya di luar sana.

​"Gak usah merasa bersalah begitu, Sayang," hasut Valerie, suaranya merayu bagai hembusan angin malam yang membuai logika. "Kamu sudah sangat lama bekerja dan mengabdi pada Pak Arif sebelum dia meninggal, bukan? Kamu bahkan juga sudah berusaha melindungi Aruna dengan membiarkannya tinggal di rumah mewahmu selama ini secara gratis. Kalau sekarang kamu ingin memiliki anak kandung sebagai penerus, ya sangat wajar dong! Salah siapa dulu Pak Arif atau Aruna tidak jujur dari awal kalau kesehatan rahimnya bermasalah? Anggap saja seluruh perusahaan ini adalah kompensasi yang sangat layak atas seluruh dedikasi dan masa mudamu yang habis untuk mereka."

​Mendengar hasutan manis dari Valerie, dilema di hati Adrian seketika menguap. Rasa bersalahnya terkubur oleh pembenaran palsu yang disuapkan selingkuhannya. "Benar... kamu benar sekali, Val. Itu adalah kompensasi untukku."

​Adrian menatap wajah cantik Valerie yang berada tepat di hadapannya. Tatapan matanya berubah penuh gairah dan harapan baru. "Nanti... setelah semua urusan cerai ini selesai dan kita menikah secara resmi... kamu mau kan memberikan anak dan keturunan dariku, Val?"

​Valerie menatap Adrian dengan pandangan mata yang sangat menggoda. "Mas... Sayang... kamu masih meragukan kesetiaan dan cintaku padamu?"

​Dengan gerakan yang sangat sensual dan manipulatif, Valerie melingkarkan kedua lengan bajunya yang pas di leher Adrian. Ia merapatkan tubuhnya, mengangkat dagu Adrian dengan ujung jarinya, lalu tanpa membuang waktu, ia melumat bibir Adrian dengan ciuman yang dalam dan penuh gairah—sebuah ciuman beracun yang mengunci seluruh logika dan akal sehat pria itu.

​Jantung Adrian seketika berdegup dengan sangat kencang. Sentuhan kulit dan kehangatan Valerie membuat darahnya berdesir hebat. Sesuatu yang tegang dan mengeras mendadak bangkit di balik celana panjangnya, menghancurkan seluruh sisa ketakutan dan paranoia tentang Komnas HAM yang menghantuinya sejak pagi.

​"Kita... kita main di sini saja yuk, Mas?" bisik Valerie dengan napas yang memburu tepat di depan bibir Adrian, matanya melirik ke arah pintu kerja yang sudah dikunci rapat.

​Adrian tidak lagi mampu berpikir jernih. Di bawah kendali penuh manipulasi Valerie, pria itu merengkuh pinggang selingkuhannya dengan liar, sama sekali tidak menyadari bahwa di kediamannya saat ini, Aruna sedang menyusun lembar demi lembar draf hukum bersama Paman Aldo untuk merenggut kembali seluruh eksistensi yang telah dia curi.

1
Katumbiri Lazuardi
berikan saran dan kritiknya ya teman-teman
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!