NovelToon NovelToon
Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nila KingShop Wati

HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Bab 25 - KEDEKATAN INI

Aku berhasil memasangkan dasi itu dengan susah payah. Jari-jariku bahkan sempat beberapa kali salah melipat simpulnya karena terlalu gugup, hingga akhirnya butuh waktu lebih lama dari yang seharusnya untuk menyelesaikannya. Baru setelah simpul itu terlihat rapi dan pas di lehernya, aku menyadari satu hal penting yang selama ini luput dari perhatianku.

Sherkan masih memeluk pinggangku.

Tangannya yang besar dan hangat masih bertumpu kuat namun lembut di sana, menjaga posisi tubuhku agar tetap seimbang dan tidak tergelincir dari atas ujung sepatunya. Aku langsung membeku seketika. Ternyata sejak tadi, aku terlalu fokus pada gerakan tanganku dan memikirkan cara menyembunyikan rasa gugup hingga lupa sepenuhnya akan posisi kami yang begitu dekat.

Sangat dekat.

Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat dengan jelas setiap lekuk wajahnya—garis rahang yang tegas dan terukur sempurna, bulu matanya yang panjang dan rapi, serta sorot matanya yang gelap dan dalam. Sejak tadi, tatapan itu tidak pernah benar-benar meninggalkan wajahku. Aku tahu ia sedang memperhatikanku, mengamati setiap perubahan ekspresi yang tergambar di wajahku, bahkan gerakan kecil yang mungkin tidak aku sadari. Dan entah kenapa, perhatian yang intens itu justru membuat detak jantungku semakin tidak beraturan.

Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya saat ini, namun yang jelas, rasanya aku hampir pingsan hanya karena kedekatan fisik kami. Rasanya aneh, sangat aneh. Dulu, selama dua tahun menikah dengan Arga, aku tidak pernah merasakan sensasi seperti ini sama sekali. Padahal saat itu, aku yakin bahwa aku mencintainya. Kami berpacaran cukup lama, ia melamarku dengan cara yang sangat romantis, lalu kami menikah dengan harapan membangun masa depan bersama. Semua terlihat normal, terlihat sempurna di mata orang lain. Namun sekarang, saat aku mengingat kembali masa lalu itu, aku sadar betapa datarnya hubungan kami. Rasanya hambar, tanpa gejolak, tanpa perasaan yang membuat jantung berdebar kencang seperti yang kurasakan sekarang.

Mungkin karena sejak awal, hati Arga memang tidak pernah benar-benar untukku. Atau mungkin… aku juga tidak pernah benar-benar mencintainya secara tulus, melainkan hanya terbiasa dengan kehadirannya. Terbiasa melihatnya selalu ada di sisiku, terbiasa percaya bahwa ia adalah orang yang akan menemaniku selamanya. Dan sayangnya, aku baru menyadari perbedaan itu ketika semuanya sudah terlambat.

“Lalu katakan padaku.”

Suara rendah Sherkan tiba-tiba memotong lamunanku yang melayang jauh, membuatku terkejut dan langsung mengangkat kepala. Pandangan kami pun bertemu tepat.

“Eh?”

“Bisa disimpulkan maksud dari kata ‘tidak’ tadi?” tanyanya lagi, ternyata ia masih mengingat jawaban spontanku beberapa saat yang lalu.

Dasar! Gerutuku dalam hati. Padahal aku sudah berusaha keras mengalihkan pembicaraan agar tidak membahas hal itu lagi, tapi ia tetap mengembalikannya ke topik yang membuatku semakin salah tingkah.

“Apakah itu berarti kau tidak mengizinkanku tidur di sofa, atau justru tidak mengizinkanku tidur di kasur yang sama?” tanyanya lagi dengan nada tenang, seolah sedang membahas hal yang paling biasa saja.

Rasanya aku ingin sekali melarikan diri dari hadapannya saat itu juga, tapi apa daya—tugas memasangkan dasi belum selesai sepenuhnya, dan posisiku masih tergantung pada bantuannya agar tidak jatuh.

“Hmm… tidak usah tidur di sofa,” jawabku dengan susah payah, berusaha menahan napas sesekali agar ia tidak mendengar detak jantungku yang berpacu kencang. “Aku hanya belum terbiasa, itu saja. Mungkin butuh waktu beberapa hari untuk bisa menyesuaikan diri.”

Suaraku terdengar sangat pelan, hampir seperti bisikan, karena rasanya semakin sulit untuk mengucapkan kalimat yang jelas saat berada sedekat ini dengannya.

Sherkan tetap menatapku dalam diam, membiarkan pandangan matanya menelisik setiap sudut wajahku seolah ingin membaca apa yang tersembunyi di dalam hatiku. Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, ia akhirnya mengalihkan topik pembicaraan secara tiba-tiba.

“Kau sudah memberitahu Arga tentang pernikahan kita ini?”

Aku terdiam sejenak, dan gerakan tanganku yang sedang merapikan ujung dasi pun terhenti. Nama itu kembali terucap, nama yang dulu pernah membuat hatiku berbunga-bunga dan penuh harapan, namun kini hanya meninggalkan rasa muak, kecewa, dan luka yang dalam.

Aku menatap kembali mata Sherkan selama beberapa saat, berusaha menjaga ketenangan dalam nada bicaraku. “Aku akan memberitahunya nanti saja, saat Papa sudah pulang ke kota.”

Setelah itu aku melanjutkan pekerjaanku, membenahi dasinya dengan gerakan yang lebih lambat dan hati-hati. “Begitu juga dengan semua orang yang perlu tahu. Aku tidak ingin menyebarkan berita ini tergesa-gesa sebelum Papa kembali.”

Saat ini, Papa memang sedang berada di Paris. Dalam ingatanku, jadwal perjalanannya sama persis seperti yang terjadi di kehidupan sebelumnya. Beliau sedang menemui beberapa investor asing untuk membahas sebuah proyek kerja sama besar yang nantinya akan menjadi tonggak penting bagi perkembangan perusahaan keluarga kami.

“Hm,” jawab Sherkan singkat, hanya mengangguk pelan seolah menyetujui keputusanku.

Aku kembali merapikan ujung dasinya yang terlihat sedikit miring, memastikan semuanya sudah rapi dan sempurna. Namun tepat saat aku selesai melakukannya, pria itu tiba-tiba berbicara lagi.

“Aku rasa besok adalah jadwal kepulangan ayahmu.”

Aku langsung mengernyitkan dahi, merasa sedikit terkejut mendengarnya. “Kamu tahu soal itu?”

Sherkan menatapku dengan tatapan yang tetap tenang dan datar, tanpa memberikan petunjuk apa pun soal perasaannya. Aku masih berdiri sangat dekat dengannya, dan sayangnya—aku baru sadar lagi bahwa tangannya belum juga melepaskan genggamannya di pinggangku.

Jujur saja, dalam hatiku aku ingin sekali memintanya melepaskan pelukan itu. Namun entah kenapa, lidahku terasa kelu dan tidak berani mengucapkannya. Bukan karena rasa takut, melainkan lebih karena tidak ingin membuat suasana menjadi semakin canggung. Dan di sisi lain, rasanya sentuhannya terasa begitu menenangkan. Dari cara ia menggenggam pinggangku dengan kekuatan yang cukup namun tetap lembut, aku bisa merasakan bahwa ia adalah tipe pria yang sangat bisa diandalkan dan siap melindungi orang yang ada di sisinya. Akhirnya, aku hanya menunggu dalam diam, berharap ia akan melepaskannya sendiri kapan saja ia merasa waktunya sudah tepat.

“Apa yang tidak aku ketahui tentang orang-orang di sekitarku?” jawabnya akhirnya, nada bicaranya tetap santai namun mengandung wibawa yang sulit diabaikan.

Aku terdiam, menatapnya dengan pandangan yang semakin bingung. Sorot matanya tetap terlihat tenang, namun kalimat itu seolah memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar penjelasan biasa.

“Bahkan soal dirimu sendiri,” lanjutnya perlahan, “atau soal Arga.”

Belum sempat aku bertanya lebih lanjut untuk memastikan apa maksud ucapannya, Sherkan akhirnya perlahan melepaskan tangannya dari pinggangku. Begitu lepas, aku langsung mengembuskan napas panjang yang sejak tadi kutahan dalam-dalam, meski rasa penasaranku justru semakin membara di hati.

“Maksudmu apa?” tanyaku dengan suara yang sedikit lebih tegas.

Namun Sherkan seolah tidak mendengar pertanyaanku itu. Ia hanya merapikan ujung jasnya yang sedikit berantakan, lalu menjawab dengan nada santai dan biasa saja.

“Kita berangkat ke perusahaan bersama.”

Aku berkedip beberapa kali, merasa bingung. “Hah?”

Lagi-lagi ia berhasil mengalihkan pembicaraan begitu saja. Sepertinya Sherkan selalu bisa mengendalikan situasi dengan caranya sendiri, membuat orang lain lupa akan apa yang baru saja dibahas dan langsung teralihkan pada topik baru yang sama sekali tidak terduga. Dan kalimat “berangkat bersama ke perusahaan” itu terdengar bukan sebagai pertanyaan atau usulan, melainkan keputusan yang sudah ditetapkan dan tidak bisa ditawar lagi.

“Aku masih punya sopir sendiri,” bantahku dengan hati-hati, mencoba memberikan alasan. “Dan aku juga…”

Aku sendiri tidak yakin apakah saat ini aku sedang merasa keberatan atau justru gugup membayangkan harus menghabiskan waktu lebih lama lagi berdua dengannya di dalam mobil.

Sherkan menatapku selama beberapa detik, lalu menjawab dengan nada yang tetap tenang namun tegas. “Aku adalah tipe suami yang tidak suka melihat istrinya pergi bepergian bersama laki-laki lain.”

Aku langsung membeku di tempat.

Ia melanjutkan kalimatnya seolah itu adalah hal yang paling wajar untuk dikatakan. “Apalagi sampai membuat orang lain melirik istrinya terlalu lama dengan pandangan yang tidak pantas.”

Apa?

Aku benar-benar terkejut mendengar kalimat itu. Jantungku mendadak berdetak kembali lebih cepat dari sebelumnya. Sementara itu, pria itu tetap terlihat begitu tenang dan santai, seolah ucapannya itu tidak mampu membuat pikiranku menjadi kacau balau seperti ini.

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu, aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa, tidak tahu harus bereaksi bagaimana menghadapi pernyataan yang tiba-tiba dan penuh makna itu.

1
Miss Typo
aku suka aku suka
aku padamu Sherkan ♥️🫰

apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
Maria Kibtiyah
kayakmya sherkan tau apa yg di alamin violet di masa lalu
Miss Typo
ku pikir Sherkan mau duduk di meja rias trs menarik pinggang Violet untuk memakaikan dasinya itu 🤣
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
Ayudya
sherkan suami yg terbalk
Ayudya
lanjut kak
Amidah Anhar
Maaak aku belum move-on dengan nama sherkan nya Elf 🤭🤭🤭🤭
Evve Miss Plot twist: yang ini bakal bikin jauh lebih ga bisa bikin move on makkk😍🤭
total 1 replies
Maria Kibtiyah
sherkan gak ketebak kira2 apa rencana dia
Maria Kibtiyah
semangat mak semakin menarik😍
Maria Kibtiyah: 😍😍😍😍😍
total 2 replies
Silvia
lagi Thor semangat💪💪
Evve Miss Plot twist: ok mak😍
total 1 replies
Nana Colen
semangat thooooor.... lanjut up lagi dan kalau bisa tolong dong lanjutin cerita nya dalam cengkraman badai
Evve Miss Plot twist: siap makkk sudah update lagi 1 bab, tunggu review yah
total 2 replies
Nana Colen
aaah orang kaya mah pasti udah diselidiki duluan ath neng violet... dari makanan favorit hobinya apa dan sebagainya 😁😁😁😁
Nana Colen
thor aku mau tanya... apakah ayahnya violet saat ini sudah berada drumah sakit atau gimana aku kurang nggeuh
Nana Colen
aku ucapkan Terima kasih thor mau berkarya lagi di NT.... aku kangen banget dengan cara dan gaya mu dalam membuat novel selalu banyak kejutan dan takateki 😍😍😍😍😍
Miss Typo
kalian berdua ngegemesin deh 😍

semangat Mak Eva 💪🥰
wiliss
alhamdulilllah saahh? saaahhhhh🥰🙏
Nana Colen
balaslah dengan elegan violet... kamu bukan cewek lemah dan bodoh 💪💪💪💪
Nana Colen
jadi ikutan deh deg an ya... ini violet beda cerita lagi sama violet sherkan ya
Evve Miss Plot twist: beda mak, lagi malas nyari nama pemeran 🤭
total 1 replies
Nana Colen
buanglah suami benalu itu violet
Nana Colen
akhirnya netes juga karya baru nya... semangat thor aku pendukung karya karyamu
vj'z tri
ingat malam ini ....malam malam selanjutnya ya gak tahu 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!