Bercerita tentang lika-liku kehidupan Barista cantik, Bulan Aisyah Permana. Kehidupannya yang semula bahagia dan baik-baik saja mendadak seperti dihantam badai besar, Ayahnya selingkuh lalu meninggalkan Bulan dan Ibunya hingga kini Bulan harus menghidupi dirinya dengan Ibunya karena ulah Ayahnya, kini Ibunya menderita struk. Bulan yang memang anak tunggal merasa bertanggung jawab atas kehidupan Ibunya.
Tidak hanya tentang kisah keluarganya saja yang begitu memprihatinkan, namun kisah cintanya juga sama pahitnya. Kekasih yang selama ini diharapkan bisa menghibur dan menyemangatinya, malah berhianat juga. Bulan dan Ibunya merasa mendapatkan nasih yang sama.
Bulan menyemangati dirinya sendiri, bahwa pasti akan ada pelangi setelah hujan badai.
Bagaimanakah kisah perjalanan keluarga Bulan beserta kisah percintaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santy puji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Bintang mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan, tanpa sengaja ia melihat Bulan yang tengah berbalik arah menuju bagian pengambilan obat. Bintang curiga jika Bulan melihatnya bersama Sintia. Bintang lalu memberikan formulir yang sudah ia isi agar dilanjutkan mengurusnya di bagian administrasi. Bintang lalu mengejar Bulan yang kini tengah duduk di sebelah Bu Widya, wajahnya nampak di tekuk. Bibirnya manyun, ah tapi membuat Bintang semakin gemas.
Bintang langsung saja menghampiri Bulan, Bulan terkejut ketika melihat Bintang sudah ada di sebelahnya.
"Maaf yah, Mas telat," ucap Bintang dengan wajah yang begitu mengharapkan sebuah maaf. Bulan masih saja terdiam, tidak merespon permintaan maaf Bintang. Ya lah telat, kan urus anak mantan pacar dulu. Pegangan tangan lagi. Hati Bulan mendadak nyeri, apa ini yang namanya cemburu. Kesel sama Bintang, baru saja kemarin melamarnya untuk menjadikan Bulan istrinya, tapi pagi ini sudah terlihat mesra dengan mantan. Dasar pemilik burung, suka plin-plan.
"Bulan, kok nggak jawab Mas sih?"Sepertinya tebakan Bintang benar, Bulan melihat ia dan Sintia tadi.
"Mas kalau lagi sibuk, lanjutin aja gih, Bulan sama Ibu nggak apa-apa kok." Ekspresi Bulan masih terlihat ketus.
"Engga, Mas nggak sibuk Lan, maaf yah Mas telat, tadi itu Mas nolongin anak Sintia, pas banget tadi tuh ketemu diparkiran, Mas juga nggak nyangka bakal ketemu, anaknya demam tinggi, Mas cuma kasihan sama anaknya." Bintang berusaha memberikan klarifikasi pada Bulan agar Bulan bisa memaklumi akan situasi yang terjadi tadi.
"Mentang-mentang anak mantan, sampai di khawatirkan banget." Nah loh kena kan Mas Bintang. Mau jawab apa coba.
Bintang mengusap wajahnya dengan kasar, "Nggak sayang, sekalipun itu anak orang lain juga pasti Mas tolong, maafin Mas yah." Wajah Bintang sudah terlihat begitu memelas. Ingin sekali Bulan tersenyum melihat wajah Bintang, tapi gengsi dong, lagi cemburu kok senyum.
"Tapi tadi sampai pegangan tangan." Lagi-lagi Bulan mengucapkannya dengan nada begitu ketus. Nyaho kan Mas Bintang, makanya nggak usah lagi deh ribet-ribet ngurusin urusan yang berhubungan dengan mantan. Berabeh urusannya kan.
"Dia tadi mau ngasih KTP, tapi Mas tolak, Mas ...." Belum selesai bicara, nama Bu Widya sudah dipanggil, Bulan segera maju ke depan. Bintang juga ikut sigap maju ke depan, ia memberikan debit card nya pada petugas. Bulan melotot.
"Mas aku aja ih, masa sepagi ini kamu sudah banyak keluarin uang, tadi kan udah buat bayarin anak mantan, jadi nggak perlu bayarin Ibu segala," Sindir Bulan yang membuat Bintang menghembuskan nafasnya secara kasar. Bintang berusaha bersabar, umur sudah tua, malu dong kalau nggak bisa sabar.
"Kalau nggak mau, Mas cium kamu di sini," Ancamnya. Bulan akhirnya menyerah dan membiarkan Bintang membayar semua obat Ibu. Kan nggak lucu yah, sepagi ini mau mengumbar adegan mesum. Dasar Mas Bin.
Setelah menebus obatnya, Bintang mengantarkan Bu Widya juga Bulan ke kontrakannya. Sesampainya di kontrakan, Bulan memanggil Bi Ani untuk menjaga Ibunya karena Bulan akan langsung berangkat kerja. Bintang mengantarkan Bulan ke cafe. Di dalam mobil Bulan masih saja terdiam.
"Sayang, ngambeknya lama banget sih." Bintang masih berusaha meminta maaf pada Bulan. Bintang tahu, Bulan yang memiliki masa lalu menyakitkan pasti begitu tidak suka dengan kejadian yang barusan terjadi.
"Mas lagi nyetir, fokus aja sih," Celetuk Bulan.
Bintang lalu menepikan mobilnya. Bulan mengernyitkan dahinya.
"Mas, kenapa berhenti, aku mau kerja?"
"Nggak usah kerja, Mas bisa gaji kamu tanpa bekerja."
"Mas..."
"Bulan, maafin Mas dong, udah cemburunya, Mas janji nggak bakal terlibat apapun yang berhubungan dengan mantan, di hati Mas, cuma ada kamu, Mas orangnya setia kok, dan nggak ada dalam kamus Mas, balikan lagi dengan mantan, karena itu sama saja dengan membaca buku yang sama, endingnya akan sama nantinya. Sekarang di hati Mas cuma ada kamu, hanya kamu sayang," ucap Bintang sambil memegangi dadanya, ia menunjukan bahwa di dalam hatinya hanya ada Bulan.
Dalam hati bulan sudah seperti ditaburi bunga sekebon. Sweet banget nih bujang lapuk. Nggak kalah manis sama ABG. Apalagi ekspresi minta maafnya, manis gemas lucu jadi satu. Tapi Bulan tetap bersikap cuek, Bulan hanya trauma jika terlalu percaya dan baik pada lelaki. Lelaki ganteng kadang suka belagu, nggak bisa bersikap tegas soalnya.
"Maafin Mas yah. Tadi itu beneran nggak sengaja." Entah sudah berapa kali Bintang memohon maaf pada Bulan.
"Nggak sengaja sampai bayarin semuanya juga, sampai ada nama kamu yang bertanggung jawab dipengobatan anaknya, itu mah niat banget, bukan nggak sengaja."
Bintang terkekeh. Bulan melirik Bintang, sialan emang laki-laki yang gantengnya di atas rata-rata ini, masih sempatnya terkekeh.
"Sekalipun orang lain, Mas akan seperti itu."
Bulan berfikir sejenak, benar sih, buktinya menolong Bu Widya saja, Bintang tidak tanggung-tanggung saat menolong. Yah hati Bulan mulai meleleh deh.
"Aku takut orang salah faham dengan kebaikan Mas. Aku nggak mau nanti mantan pacar Mas itu minta balikan lagi, terus kalian bersatu lagi, nanti aku patah hati dong." Wajah Bulan terlihat khawatir.
Bintang mengusap kepala Bulan, " Bulan, Mas ini setia, Mas tipe laki-laki setia, Mas nggak akan kaya gitu, maafin Mas yah."
Melihat perlakuan Bintang yang begitu manis, akhirnya Bulan luluh lantah, Bulan mengangguk, tanda memaafkan calon suaminya yang begitu baik hati. Eh belum resmi melamar juga, sudah ngaku-ngaku calon suami.😆
"Sudah yah cemburunya, Mas sudah tua Sayang, Mas sudah nggak mau main-main dalam menjalin hubungan."
"Iya Mas, Bulan ngerti."
"Kamu lucu kalau cemburu, susah dibujuknya ternyata, bocah, bocah."
"Ih, kok bocah sih Mas, Bulan sudah 20 tahun lebih lhoo, Mas aja yang ketuaan."
Bintang tergelak, "Bocah yang bisa bikin bocah sama Mas nanti."
Bulan langsung memukul lengan Bintang dengan keras hingga si empunya mengaduk. Masih pagi sudah bahas bikin bocah, kan jadi panas dingin.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
( Ciat ciat, yg baca sambil senyum nih, siapa yang kalau cemburu suka alot dibujuknya, alot kaya kerupuk kemarin nggak di tutup toplesnya?😆😆
Maaf yah baru up lagi, kemarin habis jelong-jelong, dapet vocer gratis dari tempat kerja suami, ada matahari sama Carrefour, belum di belanjain sama sekali, jadi sekali2 emak jelong2 dong, refreshing, gretongan lagi😆😆 klo hbis pergi2 pasti kan cape bgt, jd otak ga bsa mkir bt nulis😆)
Jangan lupa, like komen dan vote.
Ditunggu 150 komentarnya.
salam sayang
santypuji
ceritanya seru bagus banget 👍👍👍
semangat mba ya dgn karya selanjutnya 💪💪
tengah malam pula di kirain cekikikan neng kun Kun lagi,,