NovelToon NovelToon
My Cold Husband

My Cold Husband

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:823.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dilara

Menikah dengan seseorang yang dicintainya.

Itu adalah mimpi dari Medisya Laluna. Namun sayangnya Medisya harus mengubur mimpinya dalam-dalam setelah seseorang merenggut kesuciannya secara paksa.

Namanya Alvian Sagara. Pria itu merupakan atasannya di perusahaan tempat Medisya bekerja.

Medisya tidak tau harus bersyukur atau menyalahkan takdir ketika Alvian mau menikahinya. Akankah ia bahagia dengan pernikahannya nanti? Apakah mereka bisa menjalani pernikahan itu layaknya orang yang saling mencintai?

###

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dilara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Memilih Pulang

Hari menjelang malam ketika Abraham kembali ke rumah sakit. Senyumnya terangkat melihat Lily tidur nyenyak di brankar rumah sakit. Sedangkan Melinda dan Medisya tertidur di sofa dengan tangan saling memeluk satu sama lain. Ah, sepertinya ia melewatkan obrolan manis antara istri dan menantunya itu.

Langkahnya mendekati ranjang rumah sakit. Dengan lembut ia mengusap wajah Lily. Rasa terpukulnya melihat Lily terbaring lemah seperti ini sedikit berkurang setelah melampiaskan emosinya pada Alvian.

Sama seperti Alvian memperlakukan Lily. Abraham juga menghukum Alvian dan mengurungnya sampai jam 5 sore tadi. Sekarang Alvian pasti sudab berada di apartemennya.

"Papah."

Panggilan itu membuat Abraham menghentikan tangannya di wajah Lily. Senyumnya semakin mengembang melihat Lily menatapnya sendu.

"Lily mau pulang," ucapnya serak.

"Nanti, ya? Setelah kondisi kamu membaik," balas Abraham sembari merapikan selimut yang dipakai Lily.

"Maunya sekarang! Aku nggak suka di sini," rengek Lily manja membuat Abraham tidak tega untuk mengabaikannya.

"Tunggu sebentar. Papah akan bicara dengan dokter," ucap Abraham kemudian mendekati istrinya.

"Sayang," panggilnya pelan dengan mengusap lengan Melinda lembut.

Wanita paruh baya itu mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya. Lalu menatap Abraham dengan netra lembutnya.

"Ada apa?" Tanya Melinda pelan tidak ingin membangunkan Medisya di pelukannya.

"Lily ingin pulang. Temani aku bicara dengan dokter ya?" Pinta Abraham. Sebenarnya alasan ia mengajak Melinda juga karena ingin membicarakan masalah antara anak-anak mereka dan menantunya itu. Melinda pasti belum mengetahui apa yang terjadi.

Mendengarnya membuat Melinda mengangguk pelan. Mau tidak mau ia harus mengguncang tubuh Medisya agar menantu cantiknya itu terbangun.

"Mamah mau ke ruangan dokter. Kamu jaga Lily, ya?" Ucap Melinda setelah Medisya terbangun.

Anggukan Medisya membuat Abraham segera menarik Melinda keluar dari ruangan itu. Meninggalkan menantu serta anak perempuan mereka di sana.

Tidak mau ada kecanggungan diantaranya dan sang adik ipar. Medisya memilih untuk duduk di sebelah Lily.

"Udah baikan?" Tanya Medisya.

Dapat Medisya lihat Lily mengangguk kecil kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sepertinya gadis itu masih enggan menatapnya.

"Maaf," liri Medisya, "gara-gara aku kamu jadi seperti ini."

Hembusan nafas Medisya terdengar jelas di telinga Lily. Membuatnya ingin sekali melihat raut wajah Medisya. Dan benar saja, kakak iparnya itu terlihat sangat merasa bersalah.

Lily juga merasakan hal yang sama. Setelah berpikir panjang, ia menyadari kesalahannya. Pantas saja jika Alvian memperlakukannya seperti ini. Ia paham bahwa kakaknya itu sedang berusaha menyadarkan Lily dari rasa sayang yang berlebihan.

Ia mencintai Alvian. Tentu saja! Sejak dulu kakaknya selalu menjadi pahlawan saat ia kesusahan. Bahkan saat dirinya sakit dan orang tuanya tidak ada di rumah. Alvian dengan sabar merawatnya.

Tapi entah mengapa kehadiran Medisya membuatnya takut kehilangan perhatian Alvian. Berbeda saat Alvian berhubungan dengan Clara. Lily tidak merasakan apapun. Bahkan ia merasa bahwa Alvian masih lebih menyayanginya dibanding dengan Clara.

Lily cemburu pada Medisya karena Alvian akan lebih sering menjaga perempuan itu dan menomor duakan dirinya.

"Kamu mau membuatku terlihat semakin jahat dengan meminta maaf seperti ini?" Sarkas Lily persis sekali dengan nada bicara Alvian.

Medisya mengerut tidak mengerti dengan pertanyaan Lily. "Aku nggak ngerti," jujurnya.

"Kenapa kamu meminta maaf? Aku yang salah di sini! Seharusnya kamu menyuruhku melakukan itu," jelas Lily membuat Medisya tersenyum kecil.

"Kamu lucu deh," celetuk Medisya. Menyadari bahwa Lily ingin duduk, Medisya membantunya menata bantal dan menuntun perempuan itu.

"Aku nggak ngelawak," ucap Lily tidak suka.

"Ya lagian mau minta maaf nunggu disuruh dulu."

"Yaudah maaf--"

"Nggak!" Seru Medisya membuat Lily menatapnya bingung. Lagi, Medisya tersenyum pada Lily. "Nggak ada yang perlu dimaafkan. Sekarang lebih baik kamu jaga kondisi tubuh kamu biar cepat pulang."

Sudut bibir Lily terangkat mendengarnya. Melihat tatapan Medisya yang begitu tulus membuat beban dibenaknya sedikit terangkat.

"Tapi aku benar-benar minta maaf, kak. Kak Alvian benar. Aku salah karena terlalu berlebihan menyayanginya," ucap Lily.

"Sekarang Kak Alvian milik kamu, kak. Jadi tolong, jaga dia dengan baik," lanjutnya memohon pada Medisya.

"Aku tidak janji."

Balasan singkat itu membuat Lily mendengus tidak suka. "Kenapa?"

"Aku merasa kami nggak sebanding. Bagaimana bisa aku menjaganya sedangkan kedudukannya masih jauh di atasku?"

"Kak Alvian bukan tipe orang yang memandang status seseroang. Buktinya dia mau menikahimu dan bertanggung jawab dengan anak yang kamu kandung, kak," jelas Lily.

"Aku masih belum yakin," balas Medisya dengan senyum canggungnya.

Pembicaraan mereka terhenti saat pintu terbuka. Menunjukan sosok pria berjas putih dengan Abraham dan Melinda di belakangnya. Pria itu memeriksa tubuh Lily kemudian mencabut selang infus yang menempel di tangannya.

"Kondisinya sudah membaik. Tapi tolong diperhatikan lagi lingkungan sekitar. Jangan menyuruhnya berpikir terlalu keras atau tubuhnya akan drop lagi," pesan dokter sebelum meninggalkan ruangan itu.

"Jadi aku boleh pulang?" Tanya Lily berbinar.

Abraham bergumam pelan dan tersenyum lalu menatap Medisya. "Kamu ikut ke rumah kami ya, Sya?"  Ajak Abraham pada menantunya itu.

Medisya berpikir sejenak. Sejujurnya saat ini ia penasaran dengan keberadaan Alvian. Sejak tadi siang ia ingin bertemu dengan laki-laki itu. Namun Alvian tidak mengabarinya sama sekali.

"Mas Alvian di sana?" Tanyanya memberanikan diri.

"Tidak. Dia pulang ke apartemen. Sebaiknya kamu menginap di rumah kami. Biarkan Alvian merenungi kesalahannya dulu," balas Abraham tegas.

Melinda yang sadar bahwa Medisya ingin bertemu Alvian membuatnya mengusap lengan Abraham lembut. "Biarkan dia bertemu suaminya."

Abraham menghela nafasnya lalu mengangguk kecil. "Ya sudah, pulanglah. Papah akan menyuruh Pak Surya mengantarmu."

Medisya tersenyum kecil kemudian menyalami Abraham dan Melinda. Netranya beralih pada Lily yang juga menatapnya dengan senyum kecil.

"Aku pamit mah, pah, Lily," pamit Medisya meninggalkan keluarga mertuanya.

Medisya bergegas menuju parkiran rumah sakit. Melihat Pak Surya sedang menunggunya di depan mobil membuat Medisya mempercepat langkahnya menuju pria tua itu.

"Silahkan, non," ucap Pak Surya setelah membuka pintu mobil. Mempersilahkan Medisya untuk masuk. Kemudian melajukan mobilnya ke apartemen Alvian.

Entah kenapa Medisya merasa sangat ingin menatap wajah suaminya. Apalagi mengingat perkataan Melinda saat ia ingin mengikuti Abraham yang menemui Alvian dengan kemarahan yang besar. Melinda bilang bahwa Abraham pasti akan memberikan hukuman untuk Alvian.

Tepat saat Pak Surya menghentikan mobilnya di parkiran apartemen, Medisya segera berucap terima kasih dan bergegas menuju lantai apartemennya.

Ia menekan beberapa angka di pintu apartemen guna membukanya. Tanpa menunggu waktu lagi ia menuju kamar Alvian.

Kegelapan di ruangan itu membuat Medisya meremang. Tangannya terjulur untuk menekan saklar lampu. Begitu lampu menyala, Medisya dapat melihat jelas Alvian sedang berdiri di sisi jendela besar yang tertutup tirai dengan hanya menggunakan celana bahan pendek. Membuat punggung lebarnya yang dipenuhi bekas kemerahan terlihat jelas di mata Medisya.

"Mas Alvian," ucap Medisya dengan suara bergetar.

Sungguh, Medisya sendiri tidak tau mengapa ia sangat mengkhawatirkan kondisi Alvian. Hatinya terasa sakit melihat luka-luka di punggung kekar itu.

"Kenapa pulang?" Suara dingin itu berhasil mengalihkan perhatian Medisya.

Dengan pelan Medisya melangkah, berdiri tepat di belakang pria itu.

"Suami aku ada di sini. Bagaimana bisa aku tidur di tempat lain?"

###

1
Thie Adeck Rhina
walaupun dadakan tp CEO org kaya masa ksih mahar cm 10gr. stidak nya 100gr donk wkwkwkwk
@ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠Nur Elza
bgus bngt dr awl itu bnr mencengkam tp bgus alurnya
Norparida Ariyani
Aku tidak suka dengan cara Alvian memperlakukan Medisya.
Mesri Simarmata
lebay medisya
Rindi Yuliani
ok bagus
⸙ᵍᵏoᷡuͦbᷡliͣer༄༅⃟𝐐
up lg thor udh setahun fakum😒😒
Rinada Eka
udah mau 1 thn ngga ada kbrnya??
Hayah18😉
lanjut dong Thor 😊
Sunsun Sun
menyebalkan🙏🙏
Sriyeni
lanjut thor
Fika Azizah
next kaklp
Delaa Mohd
lnjutyy
Nitha Sulistia
Jijik ih..
⸙ᵍᵏoᷡuͦbᷡliͣer༄༅⃟𝐐
ini novel bagus ceritanya menarik sayang uthor nya kayanya kurang semangan ngelanjutinya😢😢😢
Kadek Ariani
sudah tamat atau belum sih ceritanya??? kok lama banget gak upnya?
Desii Endang Wangi
up secepat nya dongs thor
Ludia Seni
koq blom d up jg y thor?
Ludia Seni
koq blom d up jg sch thor
Nitha Sulistia
Nyimak..
Ludia Seni
koq blom d up jg y thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!