Di hari yang seharusnya menjadi awal kehidupan barunya, CEO muda Adrian Mahendra justru ditinggalkan calon istrinya di depan altar. Dengan ribuan tamu undangan, sorotan media, dan kerja sama bisnis bernilai ratusan miliar yang terancam batal, Adrian hanya memiliki satu cara untuk menyelamatkan semuanya: menikah hari itu juga. Orang yang datang menolongnya adalah sahabat sekaligus saudara yang telah menemaninya sejak kecil, Rafa. Namun Rafa datang bersama adik perempuannya, Kayla. Sebuah tawaran tak masuk akal pun diberikan. Menjadi istri Adrian selama satu tahun melalui sebuah pernikahan kontrak. Tidak ada cinta. Tidak ada sentuhan. Tidak ada hak untuk saling memiliki. Setelah satu tahun, mereka harus bercerai dan kembali menjalani hidup masing-masing. Bagi semua orang, itu hanyalah kesepakatan bisnis. Namun tidak bagi Kayla. Selama delapan tahun, ia diam-diam menyimpan cinta untuk Adrian—cinta yang tak pernah berani ia ungkapkan demi menjaga persahabatan Adrian dan Rafa. Awalnya Kayla yakin ia mampu menjaga perasaannya. Hingga perlahan ia melihat sisi Adrian yang tidak pernah diketahui siapa pun. Pria dingin itu ternyata menyimpan luka, kesepian, dan kelembutan yang selama ini disembunyikan di balik wajah tanpa ekspresi. Di saat hati mereka mulai saling mendekat, masa lalu kembali menghancurkan segalanya. Mantan tunangan Adrian muncul sambil mengaku mengandung anaknya. Keluarga Adrian menuduh Kayla sebagai wanita perusak hubungan. Rafa merasa dikhianati oleh dua orang yang paling ia percaya. Sementara kontrak pernikahan mereka semakin mendekati hari terakhir. Saat semua orang mengira kisah mereka hanya akan berakhir dengan perceraian, sebuah rahasia yang telah disimpan selama puluhan tahun akhirnya terungkap. Ternyata, pernikahan kontrak itu bukanlah sebuah kebetulan. Seseorang telah merencanakannya sejak mereka masih kecil. Di antara cinta yang terlambat disadari, persahabatan yang hampir hancur, dan rahasia keluarga yang mengguncang segalanya... Mampukah Adrian dan Kayla mengubah pernikahan yang dimulai karena kontrak menjadi cinta yang bertahan seumur hidup? Atau justru mereka akan kehilangan orang yang paling berharga demi menepati sebuah janji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 - Pengkhianat di Dalam Lingkaran
Maya mundur selangkah.
Tangannya yang menggenggam flashdisk bergetar hebat hingga benda kecil itu hampir terjatuh.
"Ti... tidak mungkin..."
Suara Maya terdengar serak, nyaris seperti bisikan.
Adrian mengikuti arah pandangnya.
Sedan hitam itu masih menyala dengan lampu depan menerangi halaman gudang yang lembap. Seorang pria turun dengan langkah tenang, merapikan jas abu-abu yang dikenakannya sebelum menutup pintu mobil.
Pria itu bukan orang asing.
Namanya **Reza Pradana**.
Direktur Operasional Mahendra Group.
Selama tujuh tahun terakhir, Reza menjadi tangan kanan Adrian dalam mengelola perusahaan. Ia dikenal cerdas, disiplin, dan hampir tidak pernah melakukan kesalahan. Bahkan Armand Mahendra pernah menyebutnya sebagai salah satu aset terbaik perusahaan.
"Pak Adrian."
Reza menghentikan langkahnya sekitar lima meter dari mereka.
"Syukurlah Anda baik-baik saja."
Nada bicaranya terdengar biasa saja, seolah ia benar-benar baru tiba setelah mendengar kabar buruk.
Namun Adrian tidak menjawab.
Tatapannya justru berpindah pada Maya.
Perempuan itu tampak ketakutan.
Ketakutan yang berbeda dari sebelumnya.
Bukan takut pada orang-orang bertopeng yang mengejar mereka, melainkan takut pada seseorang yang berdiri tepat di depan mereka sekarang.
"Maya."
Suara Adrian pelan, tetapi tegas.
"Kenapa kamu seperti itu?"
Maya menggeleng cepat.
"A... aku..."
Reza tersenyum tipis.
"Sepertinya Nona Maya masih syok."
Ia melangkah mendekat, tetapi Adrian mengangkat tangan, menghentikannya.
"Cukup sampai di situ."
Reza berhenti.
Sorot matanya berubah sesaat, tetapi senyumnya tetap terpasang.
"Anda mencurigai saya?"
"Bukannya seharusnya kau berada di rapat investor malam ini?"
"Saya membatalkannya."
"Kenapa?"
"Dimas menelepon saya. Katanya Anda pergi sendirian."
Adrian melirik Dimas yang baru saja berlari memasuki gudang bersama dua petugas keamanan.
Dimas langsung menggeleng.
"Saya tidak menghubungi Pak Reza."
Suasana mendadak sunyi.
Reza masih tersenyum, tetapi senyum itu kini terasa dipaksakan.
"Mungkin ada kesalahpahaman."
"Tidak."
Dimas mengeluarkan ponselnya.
"Riwayat panggilan saya tidak ada ke nomor Bapak."
Reza terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak datang, wajahnya kehilangan ketenangan.
Adrian memperhatikan perubahan kecil itu.
Tidak banyak orang yang mampu menyembunyikan ekspresi ketika kebohongannya mulai terbongkar.
Reza termasuk salah satunya.
---
Di sisi lain gudang, Maya menggenggam lengan Adrian pelan.
"Aku ingin pulang."
"Sebentar."
"Aku tidak mau di sini."
Nada suaranya semakin gemetar.
Adrian menoleh.
"Maya."
"Apa?"
"Apakah Reza orang yang kamu maksud?"
Pertanyaan itu membuat Maya membeku.
Ia tidak langsung menjawab.
Matanya justru berkaca-kaca.
"Aku..."
Belum sempat kalimatnya selesai, Reza menyela dengan suara tenang.
"Pak Adrian."
"Silakan."
"Saya rasa lebih baik kita membawa Nona Maya ke rumah sakit dulu."
"Kenapa buru-buru?"
"Dia terlihat tidak stabil."
Adrian tersenyum tipis.
"Baru saja kau datang."
"Lalu langsung menyimpulkan kondisi seseorang?"
Reza terdiam.
Ia sadar setiap ucapannya mulai dipertanyakan.
---
Polisi akhirnya tiba di lokasi setelah menerima laporan dari Dimas.
Mereka memeriksa area gudang dan menemukan beberapa jejak ban mobil yang terburu-buru meninggalkan lokasi.
Sayangnya, pelat nomor kendaraan tidak terlihat jelas di kamera jalan.
Seorang polisi menghampiri Adrian.
"Kami akan membawa semua bukti ke laboratorium forensik."
"Terima kasih."
"Sementara itu, kami menyarankan Bapak dan Nona Maya memberikan keterangan resmi besok pagi."
Adrian mengangguk.
Setelah polisi pergi, ia menoleh kepada Maya.
"Kamu ikut denganku."
Maya tampak ragu.
"Aku..."
"Kamu tidak aman sendirian."
Maya memejamkan mata beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Namun ketika ia hendak menyerahkan flashdisk yang sejak tadi digenggamnya, benda itu tiba-tiba terjatuh ke lantai.
Reza bergerak cepat seolah ingin membantu mengambilnya.
Akan tetapi, Adrian lebih dulu membungkuk.
Ia mengambil flashdisk itu, lalu memasukkannya ke dalam saku jasnya.
Tatapan Reza berubah tajam sesaat.
Hanya sesaat.
Tetapi cukup untuk membuat Adrian semakin yakin.
Flashdisk itu menyimpan sesuatu yang sangat penting.
---
Perjalanan kembali ke rumah berlangsung dalam keheningan.
Maya duduk di kursi belakang bersama Dimas, sementara Adrian menyetir sendiri.
Bahu kirinya masih terasa nyeri akibat pukulan balok kayu.
Namun rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.
Mengapa Maya mengatakan pelaku berasal dari Mahendra Group?
Apa isi flashdisk itu?
Dan...
Kenapa Reza bisa mengetahui lokasi gudang?
Sesampainya di rumah keluarga Mahendra, Adrian meminta Pak Surya menyiapkan kamar tamu untuk Maya.
"Aku tidak akan tinggal lama," ucap Maya pelan.
"Tinggallah sampai keadaan aman."
Maya hanya mengangguk.
Saat semua orang mulai masuk ke dalam rumah, Adrian sengaja tertinggal di teras.
Ia mengeluarkan flashdisk hitam itu dari saku.
Benda kecil itu tampak biasa.
Namun entah mengapa, ia merasa jawabannya ada di sana.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari nomor tak dikenal kembali masuk.
> **"Kalau kau membuka isi flashdisk itu malam ini..."**
> **"...bersiaplah kehilangan orang yang paling kau percaya."**
Adrian menatap pesan itu lama.
Lalu perlahan menggenggam flashdisk tersebut lebih erat.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Ia merasa musuhnya selalu selangkah lebih dulu.
**Bersambung ke Episode 7**