Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Hari ini ada berita tentang sosok "Tabib Ajaib" yang menyembuhkan Tuan Baskoro dan Pak Hendra menjadi topik.
Seorang pria paruh baya berkacamata tebal dengan jas dokter putih membanting cangkir kopinya ke meja.
Klak!
Pria itu adalah Dokter Broto, Ketua Asosiasi Kedokteran Modern Kota.
"Omong kosong! Ini benar-benar omong kosong! Siapa pemuda bau kencur bernama Mahardika ini?! Beraninya dia membuat opini publik bahwa obat-obatan tradisional dan jarum murahannya lebih hebat dari teknologi medis modern kita?!" bentak Dokter Broto seraya menunjuk layar monitor.
Di depannya, dua orang pria bersetelan dinas kesehatan menunduk takut.
Salah satu dari mereka, Inspektur Hery, mencoba memberi penjelasan.
"T-tapi Dokter Broto... Laporan dari Rumah Sakit Utama memang menyatakan Pak Hendra dan Tuan Baskoro pulih instan tanpa tindakan operasi. Masyarakat sekarang mulai berbondong-bondong mencari keberadaan pemuda itu. Nama baik rumah sakit kita terancam merosot tajam jika ini dibiarkan," kata Hery pelan.
"Justru karena itu harus dihancurkan sebelum bertambah besar! Jika semua orang percaya pada obat-obatan kampung dan dukun jarum seperti dia, di mana lagi gengsi dan keuntungan industri medis kita?! Industri farmasi bisa rugi miliaran!" potong Dokter Broto dengan nada tinggi dan dingin.
Dokter Broto menyandarkan tubuhnya di kursi kulit, memutar-mutar pena emas di jarinya dengan senyuman licik.
"Hery, ajak timmu sekarang juga. Datangi tempat tinggalnya di desa itu. Tuduh dia melakukan praktik medis tanpa izin dan membudidayakan tanaman herbal ilegal beracun yang tidak terdaftar di BPOM. Segel pekarangannya! Hancurkan seluruh tanamannya kalau perlu! Biar dia tahu, di kota ini, hukum medis ada di tanganku!" perintah Broto tajam.
"Siap, Dokter Broto! Kami laksanakan sekarang!" jawab Inspektur Hery penuh kepatuhan korup.
Sementara itu, di pekarangan rumah Mahardika, aroma harum dari tanaman herbal Ginseng Salju dan Bunga Akar Emas sangat segar.
Beberapa warga desa yang tadi berkunjung baru saja pamit pulang dengan wajah ceria dan tubuh yang jauh lebih bugar.
"Papa, bunga yang ini warnanya keemasan, cantik sekali!" seru Amel sambil menunjuk salah satu kuncup bunga yang baru mekar.
Mahardika berjongkok di samping Amel, mengusap kepala putrinya lembut. "Iya, Sayang. Itu namanya Bunga Akar Emas. Nanti kalau sudah makin mekar, aromanya bisa bikin orang yang sedang sedih jadi gembira."
"Wah, hebat! Kalau begitu Amel mau jaga bunga ini terus!" kata Amel girang.
Tiba-tiba tiga mobil dinas hitam berhenti tepat di depan gerbang kayu rumah.
Ckiiiiith!
Pintu mobil terbuka.
Enam orang petugas berseragam dinas kesehatan dengan garis segel kuning di tangan melangkah masuk dengan gaya yang sangat arogan.
Di barisan terdepan, Inspektur Hery berjalan membusungkan dada sambil membawa papan dada berisi berkas tuntutan.
"Siapa pemillik tempat ini?!" teriak Inspektur Hery dengan suara lantang
Pak RT yang masih berada tak jauh dari lokasi terperanjat dan langsung berlari mendekat.
"A-ada apa ini, Pak? Kenapa ramai-ramai masuk ke pekarangan orang tanpa permisi?" tanya pak RT penasaran
Inspektur Hery mengibaskan tangannya mengusir Pak RT. "Jangan ikut campur! Kami dari Asosiasi Kedokteran Modern dan Dinas Pengawasan Kesehatan Kota! Kami menerima laporan bahwa di tempat ini terjadi praktik kedokteran ilegal dan pembudidayaan tanaman herbal tak berijin!" kata Hery tegas.
Mahardika berdiri dengan tenang. Ia menuntun Amel ke belakang tubuhnya, lalu menatap keenam petugas itu dengan tatapan datar.
"Saya pemilik rumah ini. Praktik ilegal apa yang Anda maksud? Saya hanya menanam tanaman di pekarangan rumah saya sendiri," jawab Mahardika dengan nada suara santai tanpa sedikit pun ketakutan.
Inspektur Hery terkekeh mengejek sambil menunjuk herbal milik Andika.
"Jangan berakting bodoh, Mahardika! Kamu tidak punya lisensi dokter dari Asosiasi Kedokteran Modern! Kamu juga tidak punya izin edar farmasi untuk tanaman-tanaman aneh ini! Berdasarkan perintah Ketua Asosiasi, Dokter Broto, seluruh pekarangan ini harus dilarang, disegel, dan seluruh tanaman ini akan kami sita serta musnahkan!" gertak Hery tajam.