Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan
Galeri seni di jantung London malam itu dipenuhi cahaya keemasan dari lampu-lampu gantung yang memantul pada dinding putih bersih. Aroma sampanye, percakapan dalam berbagai bahasa, serta alunan musik klasik menciptakan suasana elegan yang menjadi ciri khas pameran seni eksklusif.
Nama Satoru tercetak besar pada papan di dekat pintu masuk.
SATORU — THE SILENCE BETWEEN COLORS
Pameran tunggal itu menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan kariernya. Sejumlah kolektor seni, kritikus, kurator, dan tamu undangan dari berbagai negara hadir untuk menyaksikan karya-karya terbarunya.
Tentu saja, keluarga Satoru tidak melewatkan kesempatan tersebut. Alaska berdiri bersama beberapa kerabat di dekat salah satu lukisan berukuran besar. Akito berbincang dengan seorang kolektor yang sejak lama mengagumi karya putranya, sementara anggota keluarga lainnya sibuk mengamati lukisan-lukisan yang dipajang.
Dan di tengah semua itu, Satoru berdiri dengan setelan hitam yang jatuh sempurna di tubuhnya. Dia tampak tenang, seperti biasa. Satu tangan memegang gelas minuman, sedangkan tangan lainnya sesekali menunjuk detail pada lukisan yang sedang dijelaskannya kepada para tamu.
“Lukisan ini saya buat setelah menghabiskan beberapa minggu di pedesaan Irlandia,” jelasnya kepada sekelompok pengunjung. “Saya ingin menangkap sesuatu yang sering kali tidak kita sadari ketika melihat sebuah pemandangan.”
Seorang kritikus seni mengangguk penuh minat. “Dan apa yang ingin Anda sampaikan melalui penggunaan warna yang begitu kontras?”
“Bahwa ketenangan tidak selalu berarti tidak ada kekacauan.” Jawaban itu mengundang beberapa anggukan kagum.
Satoru melanjutkan penjelasannya. Dia sedang menunjuk sapuan kuas berwarna merah gelap pada bagian sudut kanvas ketika terdengar suara seseorang memanggil namanya dari belakang.
“Satoru?”
Suara itu tidak keras. Bahkan nyaris tenggelam di antara percakapan para tamu. Namun, Satoru mengenalinya. Jemarinya berhenti bergerak.
Dia menoleh. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi tenang yang selama ini melekat pada wajahnya benar-benar menghilang.
Di belakangnya, seorang wanita berdiri dengan mantel panjang berwarna krem, gaun hitam sederhana, dan rambut yang ditata dengan santai. Sebuah tas kecil menggantung di bahunya. Ia tampak sedikit kelelahan, seolah baru saja menempuh perjalanan panjang, tetapi senyum tipis di bibirnya membuat seluruh wajahnya terlihat lebih cerah.
Satoru mengerjap-ngerjapkan matanya. Lalu dia menatap perempuan itu seakan sedang berusaha memastikan bahwa dirinya tidak sedang berhalusinasi akibat terlalu lama berdiri di depan lukisan.
“Alethea?” bisiknya tidak percaya.
Alethea itu menatap Satoru sambil tertawa. “Ini aku, Toru."
"Kukira aku melihat hantu," ucap Satoru polos hingga membuat beberapa tamu tertawa kecil mendengar jawabannya. Alethea mengerucutkan bibirnya.
Satoru meletakkan gelasnya di atas meja terdekat, lalu berjalan cepat menghampirinya. “Kapan kau tiba?” tanyanya sambil mencium pipi Alethea.
“Beberapa jam lalu.”
“Beberapa jam lalu?” Satoru mengulang dengan nada tidak percaya. “Dan kamu tidak memberitahuku?”
Alethea tersenyum polos. “Kalau aku memberitahumu, bukankah itu namanya bukan kejutan?”
Satoru memandangnya dari kepala hingga kaki, memastikan perempuan itu benar-benar ada di hadapannya. “Kamu datang sendirian?”
“Tidak. Aku membawa koper, paspor, dan tiket pesawat.”
“Alethea.”
“Apa?”
“Kamu tahu maksudku.”
Alethea tertawa pelan. “Aku datang dengan penerbangan komersial, Satoru. Aku baik-baik saja.”
Satoru mengembuskan napas panjang. Dia ingin memarahinya karena tidak memberi kabar, tetapi kegembiraan yang memenuhi dadanya membuat semua kata-kata itu kehilangan kekuatan.
Sebaliknya, dia justru menarik Alethea ke dalam pelukan. Wanita itu sempat terkejut sebelum akhirnya membalas pelukannya.
“Kau seharusnya memberitahuku,” gumam Satoru di dekat telinganya.
“Supaya kamu menjemputku di bandara dan meninggalkan persiapan pameranmu?”
“Ya.”
Alethea mendongak, menatapnya dengan geli. “Setidaknya kamu jujur.”
Satoru mengusap lembut puncak kepalanya. Senyum yang muncul di wajahnya kali ini begitu berbeda dari senyum sopan yang ia berikan kepada para tamu sepanjang malam.
Senyum itu hangat. Spontan. Dan hanya untuk Alethea. Sayangnya, mereka tidak sedang berada di tempat yang sepi.
“Ahem.”
Suara seseorang membuat keduanya menoleh.
Alaska berdiri beberapa langkah dari mereka, diikuti Akito, Athrun dan Kayleen yang sejak tadi memperhatikan adegan itu dengan penuh minat.
“Jadi, ini yang membuatmu tampak tidak semangat?” goda Alaska.
Wajah Satoru langsung berubah. "Mom ...."
“Apa? Mommy hanya bertanya.” Alaska mengedikkan bahunya.
Alethea menutup mulutnya untuk menyembunyikan tawa. “Oh, benarkah begitu?”
“Jangan dengarkan dia,” ujar Satoru cepat.
“Terlambat,” balas Alethea.
Alaska terkekeh sebelum meraih kedua tangan Alethea dengan penuh keramahan. “Sayang, akhirnya kau datang juga! Satoru tidak pernah mengatakan bahwa kau akan hadir malam ini.”
“Memang karena aku ingin mengejutkannya, Mrs Shinoda.”
“Dan kamu berhasil.” Alaska melirik putranya. “Lihat wajahnya. Sepertinya dia baru saja melihat hantu.”
“Aku masih berdiri di sini, Mom,” balas Satoru.
“Ya, dan wajahmu masih terlihat seperti itu.”
Tawa kecil pecah di antara mereka. Akito menggeleng sambil tersenyum, sebelum bertanya ke Alethea. "Bagaimana perjalanan kamu, Thea?"
"Sejujurnya cukup lancar, dr Shinoda." Alethea memanggil formal kedua orang tua Satoru demi kesopanan apalagi ada dua orang asing yang dia belum kenal.
"Oh, Thea, perkenalkan ini sepupuku, Kayleen Moretti dan suaminya Athrun Wang. Kebetulan mereka sedang ada bisnis di London jadi kemari. Biasanya mereka tinggal di Paris atau Beijing," ucap Satoru.
Alethea terkejut. "Moretti? The Moretti?" Siapapun tahu brand silent luxury yang terkenal itu.
"Benar. Aku CEO Moretti dan suamiku pengusaha di China," jawab Kayleen. "Selamat datang di keluarga kami."
Alethea merasa gugup saat Kayleen mencium pipinya. Sungguh dia tidak menduga akan bertemu dengan CEO brand favoritnya yang untuk membeli harus menunggu celengan penuh.
Setelah basa basi sejenak, Satoru meminta izin untuk membawa Alethea berkeliling. “Kamu harus melihat lukisan-lukisan yang lain,” katanya.
“Aku datang untuk melihatnya. Apakah ada yang baru?" tanya Alethea.
“Kalau begitu, ikut aku.”
Satoru membawanya menuju bagian utama galeri. Dia tidak lagi berjalan dengan sikap seorang seniman yang sedang menjamu tamu penting. Sebaliknya, Satoru tampak seperti seseorang yang tidak sabar memperlihatkan sesuatu yang berharga kepada orang yang paling ingin dia buat terkesan.
Dia menjelaskan setiap lukisan kepada Alethea dengan cara yang berbeda. Tentang pemandangan laut yang mengingatkannya pada percakapan mereka di taman. Tentang potret seorang perempuan yang tidak pernah memperlihatkan wajahnya secara utuh. Tentang lukisan dengan warna-warna lembut yang ia kerjakan pada malam ketika Alethea pernah mengatakan bahwa seseorang tidak harus selalu kuat untuk bisa bertahan.
Alethea mendengarkan dengan saksama. Ketika mereka tiba di depan sebuah kanvas besar berwarna biru dan emas, langkahnya terhenti.
Di tengah lukisan itu, terdapat siluet seorang perempuan yang berdiri di bawah cahaya matahari, sementara hamparan warna di sekelilingnya menyerupai langit yang baru saja selesai diguyur hujan.
“Ini indah sekali,” bisiknya.
Satoru berdiri di sampingnya. “Kau menyukainya?”
“Sangat.” Alethea suka komposisi warnanya.
“Aku menyelesaikannya di rumah London setelah dari Washington. Ini belum pernah aku publikasikan dan lukisan ini aku selesaikan hanya dalam waktu dua hari."
Alethea memiringkan kepala, memperhatikan detail pada kanvas. “Siapa perempuan ini?”
Satoru terdiam sejenak. “Kamu.”
Alethea menoleh begitu cepat hingga hampir menabrak bahunya. “Apa?”
“Aku melukismu berdasarkan ingatanku.”
“Tapi aku tidak pernah berdiri dengan posisi seperti itu.”
“Aku tahu.”
“Lalu bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa itu aku?”
Satoru menatap lukisan tersebut, kemudian menoleh kepadanya. “Karena aku tidak melukis seperti apa dirimu terlihat. Aku melukis seperti apa rasanya berada di dekatmu.”
Alethea kehilangan kata-kata. Untuk beberapa detik, dia hanya memandang Satoru, sementara pria itu justru terlihat santai setelah mengucapkan kalimat yang mampu membuat jantungnya berdebar lebih cepat.
“Kamu tidak boleh mengatakan hal-hal seperti itu di tempat umum,” gumamnya.
“Kenapa?”
“Karena aku tidak tahu kamu itu yang mana. Kaku menyebalkan atau romantis level berbeda.”
Satoru tertawa rendah. “Bagus. Berarti aku berhasil.”
“Berhasil melakukan apa?”
“Membuatmu berpikir laksana seorang detektif," cengir Satoru.
Alethea mencubit pelan lengannya. "Dasar!"
Satoru terkekeh, kemudian mengulurkan tangan untuk merapikan sehelai rambut yang jatuh di dekat wajahnya.
Dan saat itulah seorang pembawa acara mendekati mereka.
“Tuan Shinoda, maaf mengganggu. Kami akan segera memulai sesi perkenalan untuk beberapa karya utama. Apakah Anda bersedia memberikan sedikit penjelasan kepada para tamu?”
“Tentu.”
Pembawa acara itu melirik Alethea dengan sopan. “Apakah Nona ini juga seorang seniman?”
Satoru menatap Alethea. Senyum kecil muncul di bibirnya. “Bukan.”
Alethea menatap Satoru. Wajahnya tampak penasaran dengan jawabannya.
Satoru kemudian mengangkat tangan Alethea dan menggenggamnya erat. “Dia orang yang paling penting dalam hidup saya. Dan saya ingin memperkenalkannya kepada semua orang malam ini.”
Beberapa menit kemudian, para tamu berkumpul di area tengah galeri. Lampu diarahkan ke sebuah panggung kecil dengan tiga lukisan utama yang menjadi pusat pameran. Satoru berdiri di hadapan para undangan, sementara Alethea berada di sampingnya.
Wanita itu semula mengira dirinya hanya akan menjadi penonton. Dia bahkan belum sempat menyampaikan protes ketika Satoru menariknya untuk berdiri tepat di sisinya.
Di antara para tamu, Alaska terlihat tersenyum penuh arti. Akito melipat tangan di depan dada, jelas menikmati sesuatu yang tampaknya sudah ditunggu sejak lama.
Satoru mengambil mikrofon. “Terima kasih sudah hadir malam ini. Bagi saya, pameran ini bukan sekadar kesempatan untuk memperlihatkan karya-karya terbaru, tetapi juga kesempatan untuk berbagi cerita di baliknya.”
Dia berbicara dengan tenang, menjelaskan bagaimana setiap lukisan lahir dari pengalaman, perjalanan, dan orang-orang yang pernah meninggalkan kesan dalam hidupnya.
Lalu dia berhenti di depan lukisan berwarna biru dan emas. “Lukisan ini memiliki arti yang sedikit berbeda bagi saya.”
Tatapan para tamu beralih ke kanvas tersebut.
“Saya membuatnya ketika mulai memahami bahwa ada orang-orang yang mampu mengubah cara kita melihat dunia. Mereka tidak selalu hadir dengan cara yang dramatis. Terkadang, mereka hanya datang, duduk di samping kita, lalu membuat hari yang biasa terasa jauh lebih berarti.”
Alethea menatapnya dengan mata membesar. Dia mulai menyadari ke mana arah pembicaraan itu.
Satoru berbalik menghadapnya. “Dan malam ini, orang yang menjadi inspirasi di balik lukisan tersebut hadir di sini.”
Bisikan-bisikan kecil terdengar di antara para tamu.
Satoru mengulurkan tangan, menggenggam jemari Alethea, lalu membawanya selangkah lebih dekat.
“Perkenalkan, ini Alethea.”
Dia berhenti sebentar, menatap perempuan di sampingnya dengan kelembutan yang tidak berusaha ia sembunyikan. “Dia bukan hanya inspirasi saya. Dia adalah tunangan saya.”
Hening. Hanya sesaat, tetapi cukup untuk membuat Alethea merasa seolah seluruh ruangan berhenti bernapas.
Kemudian terdengar tepuk tangan. Seseorang berseru memberikan ucapan selamat. Beberapa tamu tersenyum dan ikut bertepuk tangan, sementara para fotografer yang berada di sisi ruangan segera mengangkat kamera mereka.
Alethea sendiri masih membeku. Dia perlahan menoleh kepada Satoru.
Satoru tersenyum kepadanya dengan ekspresi yang sama sekali tidak menunjukkan penyesalan. Sebaliknya, dia terlihat sangat puas.
“Kamu baru saja mengatakan apa?” bisik Alethea, masih berusaha tersenyum di depan publik.
Satoru mendekatkan mikrofon ke dadanya agar suaranya tidak terdengar oleh para tamu. “Aku memperkenalkan tunanganku.”
“Aku mendengarnya!”
“Kalau begitu, mengapa kau bertanya?”
Alethea mencengkeram tangannya sedikit lebih kuat. “Satoru!”
Pria itu menahan tawa. “Apa?”
“Kamu tidak bisa begitu saja mengumumkannya kepada semua orang!”
“Kenapa tidak? Kan aku sudah melamar kamu di museum tempat kamu bekerja," jawab Satoru santai.
“Karena kamu bahkan tidak memberitahuku bahwa kamu akan melakukannya!”
Satoru menatapnya sejenak. Senyumnya melunak. “Kedua orang tuaku tahu."
“Lalu?” Alethea merasa tidak enak.
“Lalu aku melihatmu masuk ke galeri dan aku merasa ini waktu yang tepat. Setidaknya menurutku," jawab Satoru.
Alethea terdiam. Pria ini membuatnya semacam naik rollercoaster.
Satoru mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. “Aku ingin orang-orang tahu bahwa kau bersamaku. Bukan karena aku ingin mengumumkan sesuatu yang menjadi milikku, tetapi karena aku bangga memiliki kesempatan untuk berjalan di sampingmu.”
Tatapannya menetap pada Alethea. “Dan aku ingin semua orang tahu bahwa ketika aku melukis tentang kebahagiaan, aku tidak sedang membayangkannya.”
Senyum Alethea perlahan mengembang. Sial. Pria itu selalu punya cara untuk membuatnya kehilangan kemampuan membantah.
“Baiklah,” bisiknya. “Tapi kamu berutang penjelasan panjang kepadaku setelah acara ini selesai.”
Satoru mengangguk serius. “Tentu.”
“Dan makan malam.”
“Tentu.”
“Dan kamu harus membantuku mencari hotel karena aku belum mengatakan kepadamu di mana aku menginap.”
Senyum Satoru langsung menghilang. “Kamu belum memesan hotel?”
***
Yuhuuuu up pagi Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
Thea bukan tipe perempuan sat set sat set ,terlalu banyak pemikirannya
nantinya Thea bisa bekerja di museum yang sama dengan tante Elle kan😊😊
walaupun antimainstream tapi tetep asikk kan😅😅😅
Kuatkan mentalmu aja Thea kalau sudah kumpul keluarga Satoru mode bully 😄😄