"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"
_________________
Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.
Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.
Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?
꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
꧁ঔৣ [Chapter 29] ঔৣ꧂
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...
Langkah kaki Miya Heimans tertahan di tengah riuh koridor Fakultas Ekonomi. Hari ini hari kek 3 kuliah yang harusnya jadi ajang fresh start pasca-OSPEK, justru berubah jadi ajang uji nyali. Pita merah yang mengikat rapi rambut terurainya serta setelan kasualnya yang manis tak cukup jadi perisai dari ratusan pasang mata yang menatapnya penuh benci.
"Eh, itu maba FE yang sok kecantikan kemarin, kan?"
"Iya, jirr! Muka pas-pasan aja gaya nolak Kating FE. Sok suci banget, kayak jijik gitu sama cowok se-tulus Kakak itu!"
"Aneh banget sumpah... Dikasih yang ganteng malah jual mahal. Cringe bgt!"
Suara bisik-bisik tetangga beracun itu langsung menyengat telinga Miya. Seminggu lalu, Miya cuma nolak ajakan date ketua panitia OSPEK secara halus karena mau fokus kuliah. Tapi kating cowok itu malah main perang opini, curhat colongan di medsos sampai bikin circle cewek-cewek penggemarnya murka.
TikTok dan IG Story dipenuhi sindiran tajam: "Ada ya orang dikasih emas malah milih batu kerikil. Selera maba zaman sekarang emang agak... unik ya."
Akibatnya? Akun IG Miya diserbu stalker berniat jahat, dan sesama maba yang tadinya mau temenan mendadak kabur ketakutan karena takut di-blacklist kating. Miya benar-benar sendirian, terkucilkan di tengah lautan manusia.
"Woy! Telinga lu dipajang doang?"
Miya tersentak kaget. Di depannya, berdiri Wilgard—mahasiswa Fakultas Hukum bertubuh jangkung dengan paras tajam nan simetris bagai model papan atas.
"Dipanggil dari tadi nggak nyaut. Nih, pulpen pink lu jatuh," celetuk Wilgard dingin sambil menyodorkan pulpen itu.
"Ma... makasih Kak, aku lagi pakai earphone tadi," kilat Miya gugup, berusaha menyembunyikan dadanya yang bergemuruh ketakutan.
Wilgard menatapnya datar, tidak peduli alasan itu. "Lain kali, jangan teledor. Kalau pas jam dosen killer pulpen lu hilang, nggak bakal ada yang sudi minjemin di kelas lu."
"I-iya Kak, makasih..."
Wilgard berbalik pergi meninggalkan Miya yang juga berjalan pergi keara berlawanan,Namun di balik dinding koridor yang remang, seseorang mengawasi interaksi itu dengan pandangan membeku.
Begitu jam kuliah usai, ponsel Miya bergetar pendek memperlihatkan pesan singkat dari seseorang yang begitu ia kenal baru ini.
..._____________________________________...
[Bibi bilang kamu belum sarapan? Jam istirahat ini ke Kantin Barat ya, aku traktir makan]
...Awal nya Miya bingung bagaimana harus menolak nya namun akhir-akhir ini pemuda tersebut begitu baik terhadap nya dan rasanya tidak sopan jika Miya terang terangan menolak...
^^^[Baik kak]^^^
...______________________________________...
Dengan perut keroncongan dan mental yang keropos, Miya terpaksa menyanggupi.Sebenanya semuanya bermula ketika pernikahan paksaan hasil perjodohan pamannya dengan keluarga Tahes yang berjalan memang cukup rumit. Tapi setidaknya, Rachel pemuda 24 tahun ini cukup dewasa untuk menjaga rahasia ini lewat kesepakatan sederhana Kedua nya yaitu menempatkan cincin nikah mereka sengaja dipasang di jari tengah agar publik mengira itu cuma cincin tunangan biasa.
Di saat sesampainya menuju Kantin Barat, Rachel sudah menunggu dengan kaos hitam polos dan jeans santai. Di atas meja, sajian makanan lengkap sudah mengepul.
"Kakak... pesen sebanyak ini?" tanya Miya canggung.
"Iya, buruan makan nanti dingin," senyum Rachel manis sambil menarik duduk tepat di sebelah Miya, sengaja memasang badan dari tatapan tajam kating-kating di meja itu yang seangkatan dengan Rachel cowok maupun cewek.
"Eh, ini maba yang lagi viral dibantai circle-nya Bela, kan?" cetus Ambar tanpa nada emosi.
"Iya..." bisik Tiana pelan.
"Mereka tunangan." potong Rosa tajam. Kating tomboi dengan visual cantik-gotik itu langsung memotong pembicaraan tanpa basa-basi.
"hah!?"
Ambar melotot kaget. Rachel pun langsung menimpali tegas, "Dia tunangan gue, dan bakal jadi istri gue. Wajar kan dia nolak cowok lain demi jaga perasaan gue?"
Kata-kata Rachel bak tamparan keras. Rosa sampai membanting sendoknya ke piring hingga berdenting nyaring.
"Makanya, Lu jangan melihara bego!kayak circle-nya si Bela!" amuk Rosa murka. "Kena manipulate sama cowok mokondo! Sekalinya tuh cowok tersakiti gara-gara ditolak, langsung ngemis iba ke fans-fans ceweknya. Feat bikin caption sampah di IG, najis banget!"
"Ros, pelanin suara lu! Malu-maluin dilihat orang satu kantin!" bisik Tiana panik sambil menyikut pinggang Rosa.
"Buset!, bacot amat! Gimana gue nggak naik darah coba?!" gertak Rosa tak terkontrol. "Pas OSPEK jelas-jelas Miya udah pakai cincin tunangan di jari tengah! Dasar cowoknya aja pura-pura buta demi bisa play victim!"
"Woy anjing! Berisik banget mulut lu! Sekali lagi ngoceh, gue lempar mangkok bakso ini ke muka lu!" bentak kating cewek di meja sebelah yang merasa terganggu.
Atmospere kantin mendadak mendidih. Rosa cuma terkekeh sinis, lalu mengalihkan pandangannya ke Miya. Sorot matanya melunak instan. "Heh Maba. Lu kalau diintimidasi lagi, langsung cari gue. Nggak usah takut sama cewek-cewek pick me kurang gizi itu. Kita sahabatnya Rachel di sini."
"I... iya Kak, terima kasih," cicit Miya. Genggaman tangan Rachel di lengannya mengerat, menyalurkan kehangatan yang tenang.
“KYAAAAA! KAK NAZMI!”
Teriakan histeris ratusan mahasiswi mendadak pecah. Rombongan geng pangeran Fakultas Hukum—enam cowok idaman kampus yang dipimpin Wilgard—melangkah masuk ke Kantin Barat. Sosok yang kemarin sempat membantai anak Teknik dalam keributan kantin itu kini berjalan angkuh.
Miya refleks menengadah. Untuk sepersekian detik, manik matanya beradu tepat dengan tatapan tajam Wilgard yang membunuh. Visual Wilgard yang begitu memesona sempat membuat Miya terpana beberapa saat.
Namun, cengkeraman tangan Rachel di lengan Miya mendadak berubah keras hingga terasa agak menyakitkan.
Rachel sadar istrinya masih sangat muda dan wajar kalau kagum melihat cowok setampan Wilgard. Tapi melihat Miya menatap pria lain dengan binar terpesona seperti itu... dada Rachel mendadak bergemuruh panas.
Ada rasa cemburu yang membakar hebat di dadanya.
Cengkeraman tangan Rachel di lengan Miya mendadak berubah keras hingga terasa agak menyakitkan. Ada gejolak panas yang membakar dadanya saat melihat istrinya menatap pria lain dengan binar terpesona seperti itu.
"Kak... sakit," cicit Miya pelan, tersentak dari lamunannya.
Usapan lembut di tangannya menggantikan cengkeraman tadi. Rachel menghela napas panjang, meredam gejolak di dadanya agar tak melukai Miya. Ia menarik napas dalam, berusaha kembali mengontrol emosi khasnya yang hangat.
"Maaf ya... Kakak nggak sengaja," bisik Rachel lembut, suaranya sarat akan rasa bersalah. Ia mengusap bekas cengkeramannya tadi dengan jempolnya.
Rachel lalu berbalik menatap langsung ke arah kating-kating FE dan teman-temannya yang masih berada di meja ujung sebrang. Tatapan matanya yang tadi lembut mendadak berubah sangat dingin dan penuh wibawa.
"Soal kating FE yang bikin gosip dan circle-nya Bela..." kata Rachel tegas, suaranya cukup terdengar oleh orang-orang di sekitar meja mereka. "Gue yang bakal beresin secara personal hari ini. Kalau ada yang berani nyentuh atau bikin Miya nggak nyaman lagi di fakultas ini, berurusan langsung sama gue."
Rosa tertawa puas mendengar ketegasan Rachel, sementara Ambar, Tiana dan kating cowok hanya mengangguk paham
Miya terpaku melihat sosok Rachel. Di balik senyum manis dan pembawaannya yang santai selama ini, ternyata ada sisi protektif yang begitu kuat.
Rachel lalu kembali menatap Miya, memasangkan kembali earphone yang sempat terlepas ke telinga Miya dengan gerakan sangat hati-hati. Tangannya mengusap puncak kepala Miya dengan lembut.
"Jangan dipikirin omongan orang ya? Kamu ke sini buat belajar," ucap Rachel manis, mengabaikan tatapan mata dari area kantin yang masih memperhatikan mereka. "Sebanyak apa pun orang yang nyoba mojokin kamu, ingat kalau Kakak selalu ada di depan kamu."
Di sudut kantin, Wilgard hanya melirik dingin sebentar ke arah dinamika pasangan itu sebelum kembali meminum kopinya, tak berminat ikut campur. Sementara itu, perasaan Miya yang tadinya hancur dan kesepian akibat cyberbullying mendadak hangat.
Usaha Rachel untuk pasang badan dan melindunginya di depan umum secara terang-terangan mulai meretakkan dinding tebal yang selama ini Miya bangun di hatinya.
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...