NovelToon NovelToon
THE TAURUS

THE TAURUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: DOLPIN

Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7. KENANGAN LAMA

Arka masih berdiri di depan rumah Sara.

Phat sudah berjalan beberapa langkah menjauh ketika Arka akhirnya menyusul.

"Kak Phat."

Phat tetap diam.

"Jawab, kak."

Phat akhirnya menoleh.

"Apa lagi!"

"Aku hanya ingin tau, kenapa kau marah saat melihatku dengan Sara?"

Wajah Phat langsung berubah.

"Aku tidak suka kau berada di dekatnya! Paham!"

Phat mengepalkan tangannya.

"Kau tidak perlu tau alasannya!"

"Kenapa?"

"Karena itu bukan urusanmu!"

Suara Phat meninggi.

Sara yang masih berdiri di depan pintu rumah akhirnya keluar.

"Sudah kalian berdua!"

Kedua saudara kembar itu langsung menoleh.

Sara berjalan mendekati mereka dengan wajah kesal.

"Kalian berdua kenapa selalu seperti ini!"

Arka terdiam.

Phat memalingkan wajahnya.

Sara berdiri diantara mereka.

"Kalian sama sekali tidak berubah. Sejak kecil kalian selalu tidak pernah akur."

Ia menatap Arka, kemudian Phat.

"Padahal wajah kalian mirip."

Sara menunjuk keduanya.

"Tapi pikiran kalian selalu bertolak belakang."

Phat menghela napas.

"Ini bukan waktunya membicarakan masa kecil."

"Justru karena kalian selalu melupakan masa kecil kalian, kalian jadi seperti ini."

Sara menatap mereka dengan kesal.

"Kalian masih ingat waktu aku tersandung di dekat sungai?"

Arka terdiam.

Phat juga tidak menjawab.

Sara tersenyum kecil.

"Waktu itu lututku sampai berdarah."

Arka perlahan mengingat kejadian tersebut.

"Waktu itu aku mau menggendong mu pulang dan memberi tau Paman Braun."

Phat langsung menyahut.

"Kemudian aku datang dan langsung mendorong Arka, untuk menggantikannya menggendong Sara."

Arka menatap kakaknya.

"Kau bahkan memukuli ku dulu sebelum mendorong."

"Karena kau tidak cocok menggendong nya! Hanya yang aku bisa! Aku lebih kuat daripada kau!"

"Kalian akhirnya malah bertengkar, " lanjut Sara.

Sara tertawa kecil ketika mengingatnya.

"Aku yang lutut nya berdarah, tapi kalian berdua malah bertengkar tentang siapa yang boleh menggendong ku."

Arka tersenyum tipis.

"Tapi...pada akhirnya, kak Phat yang menggendong mu ke Paman Braun."

Untuk beberapa saat, suasana menjadi lebih tenang.

Namun Phat justru memalingkan wajahnya.

Sara memperhatikan perubahan ekspresinya.

"Kak Phat?" tanya Sara.

"Aku tidak ingin membicarakan ini, buang-buang waktu saja."

"Kamu kenapa?"

"Tidak ada apa-apa."

Sara mengerutkan keningnya.

"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kau selalu marah kepada Arka saat dia bersama ku?"

Phat diam.

"Dari dulu kamu selalu seperti ini, kak Phat, " lanjut Sara. "Setiap kali Arka bermain denganku, kak Phat selalu marah."

Arka ikut menatap Phat.

Phat menatap mereka berdua.

Rahangnya mengeras.

"Cukup!"

Sara terkejut.

Phat menarik napas.

"Aku ada alasan untuk itu."

"Alasan?" tanya Arka.

Phat tidak menjawab.

"Apa hubungannya dengan ku?" tanya Sara.

"TENTU SAJA ADA!" Phat berteriak.

Phat menatap Sara sesaat.

Kemudian ia segera mengalihkan pandangannya.

"Apa, maksudmu?"

Phat berbalik.

"Aku tidak ingin membicarakan ini lagi!"

"Kak Phat!" tunggu!"

Sara memanggilnya.

Namun Phat terus berjalan menjauh.

Arka hanya bisa menatap punggung kakaknya yang semakin jauh.

Sara berdiri disamping Arka.

"Kak Phat, kenapa ya?"

Arka menghela napas.

"Aku tidak tau..."

Sara memandang ke arah Phat yang semakin jauh.

"Tapi tadi..."

"Hmm?"

Sara terdiam.

"Entahlah. Wajahnya terlihat berbeda."

Arka ikut memperhatikan.

Phat berjalan semakin jauh dari mereka.

Namun beberapa meter kemudian, Phat tanpa sadar menoleh ke belakang.

Tatapannya berhenti pada Sara.

Wajahnya perlahan memerah.

Phat segera memalingkan wajahnya.

"Sial...! "

Ia mempercepat langkah nya.

"Kenapa aku masih memikirkannya sampai sekarang."

Tangan nya mengepal.

Bukan marah kepada Arka.

Melainkan ada alasan lain yang selama ini tidak ia ceritakan kepada siapa pun.

Namun jauh di dalam hati, Sara mulai mengingat sesuatu yang pernah terjadi bertahun-tahun lalu.

Sesuatu yang mungkin menjadi alasan mengapa Phat selalu berubah saat di dekatnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!