Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.
Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.
Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.
"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Kekuatan yang Tak Bisa Dikendalikan
Hari-hari berikutnya terasa damai, namun ada sesuatu yang berubah — bukan lagi bayang-bayang musuh, melainkan sesuatu di dalam diriku sendiri. Arga semakin pulih, luka di tubuhnya sembuh, namun matanya sering kali menatapku dengan cemas, seakan ada hal lain yang sedang ia khawatirkan.
Dan memang, kekuatan itu di dalam diriku tak lagi tidur. Ia terbangun sepenuhnya, dan kini... ia tumbuh.
Suatu pagi, saat aku sedang menyiram bunga di taman, tanpa sengaja tanganku terangkat — dan bunga-bunga itu tiba-tiba mekar sekaligus, seketika, berwarna lebih cerah dari biasanya. Aku menarik tanganku dengan cepat, napasku memburu. Itu bukan keinginanku. Itu terjadi begitu saja.
"Freya?" Arga muncul di ambang pintu, melihat apa yang baru saja terjadi. Ia berjalan mendekat, wajahnya campur antara kagum dan khawatir. "Kau tak melakukannya dengan sengaja, bukan?"
Aku menggeleng pelan, air mata mulai menggenang. "Ia keluar begitu saja, Arga. Aku tak bisa menahannya. Semakin lama, semakin sering hal seperti ini terjadi. Saat aku sedih, udara di sekitarku mendingin. Saat aku bahagia, bunga bermekaran. Bahkan saat aku bermimpi, benda-benda di kamarku bergerak sendiri."
Arga menggenggam tanganku erat. "Itu bagian dari dirimu. Bukan kesalahanmu. Kita akan belajar mengendalikannya. Bersama-sama."
Namun belajar mengendalikan kekuatan yang lahir dari dua dunia ternyata jauh lebih sulit dari yang kubayangkan. Setiap malam, suara-suara mulai terdengar — lembut namun tak bisa diabaikan, memanggil namaku, bukan nama yang kukenal di sini, melainkan nama asliku. Suara itu datang dari kejauhan, semakin lama semakin jelas, seakan dunia asalku sedang berusaha menarikku kembali, sekarang setelah kekuatanku terbangun.
"Kau milik kami... kau milik dunia cahaya... kembalilah..." bisik suara itu setiap malam, saat aku terbaring di samping Arga.
Sering kali aku terbangun dengan keringat dingin, tubuhku terasa melayang sedikit di atas kasur — seakan ikatan yang menahanku di dunia ini mulai kembali meregang. Arga selalu terbangun bersamaku, memelukku erat, membisikkan kata-kata penenang, tapi aku bisa merasakan ketakutan di pelukannya.
Suatu sore, saat aku sedang duduk sendirian di perpustakaan keluarga, mencoba mencari cara untuk mengendalikan kekuatanku, aku menemukan bagian lain dari buku hitam itu — bagian yang belum pernah kubaca sebelumnya.
"Pewaris Cahaya memiliki kekuatan yang menyeimbangkan dua dunia. Namun saat kekuatan itu terbangun sepenuhnya, ia akan menarik perhatian bukan hanya dari dunia cahaya, tapi juga dari dunia bayangan. Dan saat panggilan pulang terdengar, sang Pewaris harus memilih — kembali ke dunia asalnya dan menutup gerbang selamanya, atau tetap tinggal di dunia ini dengan harga: kekuatan itu perlahan akan memakan jiwanya sendiri."
Tangan gemetar meletakkan buku itu. Jadi ada dua pilihan — dan keduanya sama beratnya. Kembali berarti meninggalkan Arga, Ibu, semua yang kucintai di sini. Tetap tinggal... berarti perlahan-lahan menghilang, dihancurkan oleh kekuatan yang tak bisa kutahan.
"Freya?"
Arga berdiri di pintu, melihatku memegang buku itu dengan wajah pucat. Ia berjalan mendekat, dan saat ia membaca baris yang baru saja kubaca, wajahnya ikut berubah pucat.
"Jadi itu..." bisiknya. "Itulah maksud peringatan Damar sebelumnya. Bukan dia yang akan menghancurkan kita — tapi kekuatanmu sendiri."
"Aku harus pergi, Arga," ucapku pelan, air mata jatuh tanpa bisa kutahan. "Kalau aku tetap tinggal, aku akan menghilang. Dan aku tak mau itu terjadi. Aku tak mau kau melihatku lenyap perlahan-lahan di hadapanmu."
Arga menggeleng kuat, memelukku begitu erat hingga rasanya tak ada celah di antara kami. "Tidak. Tak ada yang harus pergi. Kita akan mencari jalan ketiga. Selalu ada jalan lain — selama kita bersama."
"Mana ada jalan ketiga di antara dua dunia, Arga?" tanyaku lirih, hatiku hancur berkeping-keping. "Ini bukan tentang pilihan — ini tentang hukum alam. Aku tak bisa menjadi milik dua tempat sekaligus selamanya."
Malam itu, kami berbaring berdampingan, tak ada yang tidur. Cahaya bulan purnama masuk ke dalam kamar, menyinari wajah Arga yang menatapku tanpa berkedip.
"Kalau kau harus pergi," bisiknya pelan, suaranya bergetar, "bawalah hatiku bersamamu. Dan aku akan menunggumu — di mana pun, kapan pun. Sampai ribu tahun pun berlalu, aku akan tetap menunggu."
"Dan aku akan selalu mencari jalan pulang kepadamu," jawabku, mencium keningnya lama. "Tak peduli seberapa jauh jarak di antara dua dunia — cinta kita akan menemukan jalan."
Namun di dalam hatiku, aku tahu — perpisahan itu semakin dekat. Suara panggilan itu semakin keras, tubuhku semakin sering terasa ringan, dan setiap kali aku menyentuh benda, kadang tanganku justru menembusnya seakan aku bukan lagi bagian dari dunia ini.
Tiga hari berlalu, dan pagi itu — saat aku bangun — aku melihat cahaya keemasan perlahan memancar dari tubuhku sendiri, lembut namun nyata. Arga terbangun dan melihatnya, dan untuk pertama kalinya, ia tak mencoba menahannya. Ia hanya tersenyum sedih, lalu menggenggam tanganku — tangannya bisa masih merasakanku, tapi tak lama lagi...
"Sudah waktunya, bukan?" tanyaku pelan.
Arga mengangguk pelan, air mata jatuh di pipinya. "Belum... belum sekarang. Masih ada waktu. Kita masih punya beberapa hari lagi. Mari kita habiskan bersama. Tanpa rasa takut. Tanpa rasa sedih."
Dan begitu pun kami lakukan. Hari-hari berikutnya kami habiskan dengan penuh kebahagiaan — berjalan-jalan di taman, makan bersama Ibu, tertawa seperti dulu, seakan tak ada perpisahan yang menanti. Tapi setiap malam, cahayaku semakin terang, dan suara panggilan itu semakin dekat.
Hingga satu malam, saat bulan purnama kembali bersinar terang — tepat sebulan sejak ikatan kami dibuat — aku terbangun karena tubuhku perlahan mulai terangkat ke atas kasur. Cahaya keemasan menyelimutiku sepenuhnya, dan suara itu kini terdengar begitu jelas, begitu dekat:
"Waktunya telah tiba, Pewaris Cahaya. Gerbang terbuka. Kembalilah..."
Aku menatap Arga yang sedang tidur di sampingku — wajahnya yang tenang, yang kucintai lebih dari apa pun di dua dunia ini. Air mata menetes, jatuh tepat di wajahnya. Ia terbangun, dan saat melihatku yang melayang perlahan ke udara, matanya membelalak — bukan karena takut, tapi karena kesedihan yang tak terlukiskan.
"Freya..." bisiknya, meraih tanganku. Tangannya masih bisa menggenggamku, tapi rasanya semakin tipis, semakin jauh.
"Aku harus pergi, Arga," ucapku lemah, suaraku mulai terdengar jauh, seakan datang dari tempat yang lain. "Tapi ingat — aku takkan pernah benar-benar pergi. Aku selalu di sini..." aku meletakkan tanganku di dadanya, tepat di jantungnya berdetak. "Dan di suatu tempat, di waktu yang lain... kita akan bertemu lagi. Aku berjanji."
"Jangan berjanji sesuatu yang sulit kau tepati," isaknya pelan, mencium tanganku yang mulai transparan. "Tapi aku akan menunggumu. Selamanya."
Cahaya itu semakin terang, menyilaukan. Aku merasakan tarikan yang kuat, bukan lagi keinginan — melainkan keharusan. Tubuhku perlahan terangkat lebih tinggi, menuju jendela yang terbuka sendiri, menuju bulan purnama yang bersinar terang di langit.
"Selamat tinggal, cintaku..." bisikku terakhir kali, sebelum cahaya itu menelan seluruh kesadaranku.